Cerita Pendek: Sahabat Lama

Femina Dipublikasikan 09.49, 13/07 • Rina Susanti

“Beneran, mau ke rumahku? Enggak takut nyasar?” Mita tertawa di antara pertanyaan yang dilontarkannya dengan nada antusias. Itulah penggalan teleponku dengan Mita tiga hari yang lalu. Aku mengabarkan bahwa akan mampir ke rumahnya karena kebetulan aku ada training selama seminggu di Bandung.

“Kamu makin cantik aja. Sudah jadi manajer sekarang? Hebat!” Mita sedikit mengguncang lenganku, setelah kami saling berpelukan dan menempelkan pipi kanan dan kiri.

Ditatapnya aku dari ujung kaki sampai ujung rambut dengan tatapan kagum, membuat aku risi dan jengah. Mungkin tatapan itu sama dengan tatapanku padanya 15 tahun lalu, saat aku terkagum-kagum pada Mita yang cantik, modis, pintar, supel, dan aktif.

“Kamu juga Mit, awet muda. Sudah punya dua anak masih langsing saja. Aku kalah langsing,” aku mencolek pinggangnya.

“Lihat pinggangku.” Aku menyubit sendiri lipatan lemak yang mulai tumbuh di pinggangku lalu tawa kami berderai, memecah suasana sore yang tenang.

“Saking enggak sempat ke gym?”

“Ke gym, tapi pulang dari gym makan semangkuk mi ayam.” Aku menyebutkan makanan yang juga digemari Mita.

“Duh, jadi kangen mi ayam belakang kampus. Eh, tapi menurutku kamu seksi dengan sedikit berisi.”

“Oh, ya?” Aku teringat pujian Mas Aditya tempo hari. Saat aku mengeluhkan berat badanku yang terus naik dalam tiga bulan terakhir ini, ia malah melontarkan pujian persis seperti yang dikatakan Mita.

Kami berjalan bersisian melintasi pekarangan rumah Mita yang asri dan cukup luas. Di pojok pekarangan ada sebatang pohon mangga cangkokan yang ranum dengan bentuk buahnya yang menyerupai apel. Rumputnya tercukur rapi. Pohon kemboja berbunga kuning di samping kanan sebuah kamar, di bawahnya tumbuh rumpun mawar yang dipapas rapi. Kontras dengan pekarangan rumahku yang hampir tak tersentuh tangan.

Bunga-bunga yang ditanam Ibu tiap kali berkunjung ke rumah selalu berakhir tragis, kering lalu mati. Terlebih sejak dua bulan lalu aku menempati apartemen yang dibeli berdua bersama Mas Aditya.

Lalu kami menaiki tiga undakan tangga untuk mencapai teras berkeramik krem. Pot-pot berbahan tanah liat dan plastik dengan ukuran dan bunga yang beragam, berderet. Beberapa di antaranya adenium dengan bunga berwarna-warni. Aku mengenal beberapa jenis adenium karena ibuku menanamnya. Selebihnya tanaman tanpa bunga. Daun dengan beragam warna dan corak yang aku tak tahu namanya. Ada daun hijau dengan bintik-bintik putih kekuningan, daun hijau dengan salur merah, pokoknya beragam warna dan bentuk daun. Beberapa bunga anggrek di gantung di plafon.

Langkahku terhenti, memandang berkeliling dan mengagumi deretan pot itu. “Aku baru tahu kamu suka bercocok tanam, Mit.”

“Waktu luangku banyak setelah anak-anak masuk sekolah.”

Aku menjangkau salah satu adenium dengan bunganya yang berwarna putih

berpinggiran merah.

“Dijual juga, Mit?”

“Enggak, ini hanya hobi. Tapi, jika ada teman yang minat dan menawar dengan harga oke, aku lepas.”

Tangan Mita menjangkau sebuah pot dan memetik daun-daun yang sudah kekuningan di sana. Mita berpindah ke pot berikutnya, melakukan hal yang sama atau sekadar menggeser letak pot, menyentuh bunga atau daun dengan mata seperti memeriksa. Mataku sendiri berpindah dari satu pot ke pot lain.

Mita selalu berhasil membuat aku iri. Saat masih kuliah, aku mengamati cara Mita memadupadankan pakaian, modis tapi tidak mencolok perhatian atau terkesan glamor. Aku meniru cara Mita berinteraksi dengan teman-temannya, luwes tapi disegani. Aku belajar darinya bagaimana berorganisasi. Dan aku melakukannya dengan diam-diam karena merasa minder jika berdekatan dengan Mita.

Baru setelah bekerja kami akrab, malah bisa dibilang bersahabat, karena kantor kami terletak dalam satu gedung, hanya beda lantai. Sesekali kami janjian makan siang bareng, ngopi bareng, shopping bareng setelah gajian atau saat ada event sale di mal, dan tentu saja saling curhat dari urusan kantor sama pacar. Kalau soal curhat kekasih lebih didominasi Mita yang saat itu baru saja putus dari pacarnya yang tak lain adalah kakak tingkat kami saat masih kuliah.

Kedekatan kami berlangsung selama dua tahun, karena tahun berikutnya aku mendapatkan penawaran kerja lebih bagus di kota lain. Sejak itu, perlahan komunikasi dengan Mita berkurang. Dua tahun berikutnya Mita mengabari dengan sebuah undangan pernikahan. Sayang aku tidak bisa hadir karena aku sedang di Thailand untuk meeting. Sejak itu aku kehilangan kontak dengan Mita. Dari teman-teman kuliah yang lain, aku dengar ternyata Mita ikut suaminya ke Australia.

Dua tahun lalu jejaring sosial mempertemukan kami dan ternyata Mita sudah kembali ke Indonesia, tepatnya di Bandung. Aku bukan pengguna aktif jejaring sosial, hanya membukanya jika ada keperluan tertentu, salah satunya mencari-cari teman lama.  

“Kalau kamu suka, ambil saja.” Mita membuyarkan lamunanku. Tanganku yang tengah menyentuh bunga anggrek yang tergantung di plafon, spontan turun.

“Mau, sih, tapi kemungkinan tiga hari mati karena aku lupa menyiram.”

“Kalau anggrek susah-susah gampang. Nah, ini aja. Tahan berhari-hari tanpa disiram, tapi harus kena paparan matahari biar bunganya sering tumbuh dan bagus.” Mita menyodorkan adenium dengan bunga berwarna ungu dalam pot berukuran sedang.

“Serius, nih.”

“Iyalah. Simpan di sini aja dulu, ya.” Mita meletakkan pot itu di sisi tangga ke luar teras. “Yuk, masuk.”

“Kayaknya di sini lebih enak, Mit, adem.” Aku menunjuk dua kursi yang tersandar di dinding dan dipisahkan sebuah meja. Lalu mendahului langkah Mita duduk di salah satu kursinya.

“Oke, aku ambil minum dulu, ya.”

Mita masuk ke dalam rumah. Aku menyandarkan punggung ke kursi dan meluruskan kaki. Melemaskan otot-otot yang pegal seraya menikmati keasrian dan keindahan taman di depanku. Mita selalu selangkah lebih maju dariku. Kupikir adalah langkah mundur saat kudengar Mita memutuskan resign setelah melahirkan anak kedua.

Aku sempat menyayangkan keputusannya. Tapi ternyata, Mita profesional dengan ‘karier’ barunya. Lihat saja rumahnya yang asri dan terawat, bukankah itu cerminan dari pemiliknya? Walaupun Mita dibantu tukang kebun untuk mengurus pekarangan dan bunga-bunganya, tanpa manajerial dan selera seni yang baik tidak akan secantik ini.

    Sayup-sayup terdengar langkah Mita, beberapa menit kemudian muncul dengan nampan berisi dua cangkir teh, sepiring potongan cake dengan hiasan cokelat dan krim putih, serta kotak tisu. Mita meletakkannya di meja sambil memintaku minum. Tanpa diminta dua kali aku langsung mengangkat cangkir dan menyeruput teh hangat manis berlahan. Aku memang kehausan.

    “Kue buatanmu, Mit?”

    “Ya, ayo cicipi. Seperti aku bilang tadi, waktu luang ini aku coba-coba praktik resep dari majalah, eh ketagihan. Awalnya enggak seenak ini. Ini karena sudah ikut kursus,” ungkapnya.

    Aku meletakkan cangkir, mencomot sekerat kue dan menggigitnya. Lembut dan rasanya pas sesuai seleraku, tidak terlalu manis. Aku tak menyangka untuk urusan dapur ternyata Mita juga andal. Kubayangkan suaminya yang selalu terburu-buru pulang ke rumah setelah bekerja dan anak-anak mereka yang manis, ceria dan cerdas karena tumbuh dalam keluarga yang harmonis.

Tapi, ada perubahan yang mencolok pada penampilan Mita. Dengan ujung mata kuamati Mita yang mengenakan celana jeans selutut dan kemeja santai berbahan katun berwarna dasar putih dengan corak bunga kecil berwarna kuning. Rambut sebahunya yang hitam --seingatku dulu selalu dicat cokelat-- diikat dengan karet ke belakang. Tak kutemukan sorot mata gairah dan ambisi seperti yang kerap aku lihat saat masih kuliah dulu. Wajah cantik beralas bedak dan bibir dipulas lipstik tipis berwana peach itu tak bisa menyembunyikan kesenduan.

“Oh, ya, kudengar dari Astrid, katanya kamu punya bisnis bakso dan sosis, ya?”

“Ya, kecil-kecilan. Pembelinya baru ibu-ibu kompleks sini sama orang tua teman anak-anak. Niat awal untuk makan anakku yang kecil karena dia alergi makanan berpengawet. Lama-kelamaan tetangga tahu, terus banyak yang pesan.”

“Anak-anakmu ke mana? Kok, sepi. “

“Weekend sama ayahnya.”

“Duh, jadi enggak enak, kamu pasti batal pergi gara-gara aku datang, ya.”

“Enggak… hari Minggu memang jatah mereka sama ayahnya.”

           Aku mengerutkan kening tak mengerti. Mita menghela napas. Ekspresi wajahnya berubah tegang.

“Kami dalam proses berpisah.“

“Why?” tanyaku spontan. “Maaf, aku tidak berniat mencampuri urusan rumah tanggamu, Mit, tapi ini pasti berat untukmu dan anak-anak.” Aku menjulurkan tangan, menggenggam erat tangan Mita.

“Makasih.” Mita menoleh ke arahku sambil tersenyum. “Masa-masa sakit hatiku sudah lewat. Tapi, bagi anak-anak mungkin inilah awal yang berat.” Mita melemparkan pandangannya, menerawang.

“Dia jatuh cinta pada perempuan lain dan aku memintanya memilih.“

          Aku meraih cangkir dan meneguk isinya. Mencecap tiap rasa manisnya perlahan dengan harapan rasa kesat dan getir yang tiba-tiba terasa di mulutku larut dan tertelan.

“Tahun lalu suamiku ditempatkan di kantor pusat di Jakarta. Dengan pertimbangan sekolah anak-anak dan kenyamanan, aku dan anak-anak tetap tinggal di sini dan dia pulang tiap Minggu. Perlahan perangainya mulai berubah. Aku curiga, tapi berusaha sabar. Kecurigaanku terbukti, dia mengakui kalau selama ini berselingkuh dan ingin menikahi perempuan itu, tapi tidak mau menceraikan aku, katanya karena dia mencintaiku. Lucu, ‘kan?”

Mita tertawa getir. Gurat marah, kecewa dan kesedihan terlihat di wajahnya. Akh, siapakah yang salah? Suami Mita yang jatuh cinta lagi atau perempuan kedua yang hadir pada waktu yang tidak tepat?

Kejujuran Mita ini mengejutkanku. Padahal, jauh-jauh aku datang ke sini untuk membagi kabar gembira dengannya. Aku sudah menemukan Mr. Right setelah penantian yang lama, dan akan segera menikah. Apa reaksi Mita jika tahu situasiku saat ini?

Mita meraih cangkir teh dan menyeruputnya. Aku tahu rasanya tanpa kepastian. Bedanya, aku begitu lama ‘digantung’ hubungan dengan Mas Aditya. Meski kami saling mencintai, aku tak tahu apa yang membuatnya gamang untuk melanjutkan hubungan kami ke pernikahan.

“Tapi jangan berpikiran semua lelaki seperti suamiku. Buktinya mama dan papaku harmonis sampai kini. Tak usah takut menikah.”

Aku mengangguk-angguk dengan pandangan menekuri lantai. Aku mengurungkan niat mengabari Mita tentang rencana pernikahanku yang akan digelar akhir tahun ini. Waktunya tidak tepat. 

Tiba-tiba aku merasa gerah.

“Bagaimana anak-anak?” Aku melirik Mita, tangan kiriku meraih tisu dan mengelap dahi yang terasa basah.

“Mereka semua ikut aku. Mas Adi yang akan keluar dari rumah ini.”

          Lalu kami sama-sama diam. Sebenarnya aku ingin tahu banyak dan bertanya, apakah kamu kenal perempuan itu? Apakah kamu pernah melabraknya? Tapi bibirku kelu, bukan karena rasa sungkan. Pada beberapa hal kita harus mengambil sikap tak peduli dan tak mau tahu atau perasaan kita lebih tercabik-cabik. Seperti yang aku alami.

Semilir angin sore meruapkan keringat di tengkukku. Dan kami masih diam, tenggelam dengan pikiran masing-masing. Aku teringat Mas Aditya dan merindukannya. Tapi, ia tak pernah memberikan waktu akhir pekannya untukku. Ia selalu bilang, ada keluarga besarnya di Bandung yang harus ia urus.

Bunyi klakson mobil membuat kami sama-sama mengangkat wajah dan melihat ke arah pintu pagar setinggi satu meter di depan.

“Anak-anak sudah datang. Sebentar, aku buka pagar dulu, ya.” Mita meletakkan cangkir minumnya lalu dengan langkah tergopoh-gopoh menuju pintu pagar dan membukanya.

Aku memperhatikan sambil menyeruput sisa teh. Sebuah SUV berwarna hitam masuk. Kendaraan serupa dimiliki Mas Aditya dengan warna yang sama pula. Bedanya…. Aku tertegun dan melafal ulang dalam hati pelat nomor yang tertera di sana. Sama dengan milik Mas Aditya! Ehm, apakah Mas Aditya sudah mengganti mobil seperti keinginannya sebulan lalu dan menjual mobil lamanya?

Seorang anak lelaki yang kutaksir umurnya sekitar 10 tahun turun dari pintu kiri. Bercelana selutut dengan motif kotak-kotak, kausnya berwarna putih dengan tulisan sebuah brand fashion. Mengenakan sepatu sport berwarna biru. Menghampiri Mita yang tengah membuka pintu belakang dan membantu turun seorang anak perempuan berusia sekitar 5 tahun yang kemudian digendong dan diciumnya. Anak perempuan itu berambut lurus sebahu, mengenakan terusan berwarna merah dengan pita di dada.

Lelaki di balik kemudi yang kuduga pasti suami Mita membuka pintu dan keluar. Aku tersentak, kurasakan jantungku berdetak sangat keras. Cangkir di tanganku meluncur tak terkendali disusul bunyi nyaring. Mita menoleh ke arahku, begitu juga kedua anak dan suaminya. Dan saat itulah pandangan mataku dan suami Mita yang tak lain adalah Mas Aditya, beradu. “Ini tak mungkin!” teriakku dalam hati.(f)

***

Baca Cerita Pendek Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Tentang Dia

Cerita Pendek: Pernikahan Emas

Cerita Pendek: Jakarta Malam Ini

Cerita Pendek: Aroma Kesedihan

Artikel Asli