Cerita Pendek: Rumah Perahu Part 4

Femina Dipublikasikan 07.53, 13/08 • Erni Aladjai

Bagian 4 (Tamat)

Kisah Sebelumnya:

Karena putus cinta, Yarima meninggalkan Makassar, dan melarikan diri ke Pulau Kalupapi, di Teluk Banggai, Sulawesi Tengah. Di sana, ia mengajar anak-anak suku Bajo, suku yang tinggal di laut dan memupuk cita-citanya sebagai penulis. 

Kemudian, datang Toby, pria kulit putih yang beberapa kali datang dalam mimpi Yarima. Yarima pun merasakan ada yang berbeda dalam hatinya.

Yarima pasrah. Siha lebih punya pengalaman di pulau ini ketimbang dirinya. Siha lebih tahu. Mbo Nuni tiba diantar Siha dan Tonio. Ia meminta segelas air putih. Memperbaiki peci hitamnya. 

Ia komat-kamit membaca sesuatu, setiap kali mantra itu selesai, Mbo Nuni seolah-olah mengembuskan napas ke dalam gelas, begitu selalu hingga tiga kali.

Mbo Nuni meminta Mr. Toby membasuh wajahnya dengan air itu, lalu sisanya diminum. Mbo Nuni bercerita, di hutan bakau tempat Toby menias perahu, ada rumah jin, mereka sudah beranak-pinak di situ. 

Jin itu tak suka karena suara kapak Mr. Toby telah mengganggu ketenangan mereka.

“Besok jangan dulu melanjutkan menias perahu, kita baca doa dulu di sana, minta izin sama mereka, baru kita lanjutkan pekerjaaan kita. Maaf Mister, saya lupa sebelumnya kasih tahu Mister!” Mereka yang dimaksud Mbo Nuni adalah keluarga jin yang terusik itu.

Satu jam sepeninggal Mbo Nuni, Yarima melongo memandang bentol-bentol di wajah Toby berangsur mengempis. Toby merasa kepalanya menjadi ringan dan suhu badannya pun tak lagi membara.

“Incredible!” Mr. Toby serupa merasakan kekuatan mantra dalam gelas itu.

“Orang Bajo menjadikan medium untuk mengobati orang dengan air dan makhluk laut, keduanya mempunyai hubungan emosional yang kuat dengan orang Bajo. Air adalah tempat mereka tinggal, dan makhluk laut adalah sumber kehidupan mereka!” Tonio mencoba memberi penjelasan pada Toby. Makin lama, kondisi Toby makin membaik. Toby pamit pada Yarima dan Siha sembari mengucapkan terima kasih berkali-kali.

 “Mbak Rima, besok kita ketemu di sekolah kolong pukul 7 pagi, ada yang sa ingin bicarakan dengan Mbak Rima!”

“Kebetulan sekali Tonio, saya juga punya gagasan baru untuk sekolah Mata Tujuh, sa pikir ini bagus untuk perkembangan sekolah itu ke depan.”

“Sampai ketemu besok, Mbak Rima.”

Yarima masih berdiri di ambang pintu ketika Toby dan Tonio meninggalkan beranda. Yarima menatap punggung Toby, diam-diam ia berdoa agar orang itu tak menemui hambatan lagi, agar ekspedisinya berhasil.

Toby menoleh ke belakang. Ia tersenyum melihat Yarima masih di ambang pintu. Toby melambai, Yarima tersenyum, manis sekali senyumnya petang itu. 

Entah mengapa, ada kebahagiaan tersendiri yang menyeruak dari hati perempuan itu, ada semangat menjalani kehidupan di pulau ini lebih lama.

***

Matahari pagi mengilaukan laut, lantas menyilaukan mata. Sudah pukul sembilan pagi, anak-anak belum ada yang nongol satu pun. Biasanya, pukul tujuh pagi anak-anak sudah datang semua. Sesekali Yarima menoleh ke titian kayu, tak ada satu pun siswa yang berjalan di sana. Yarima mulai cemas. 

Ia mengisi buku-bukunya kembali ke dalam tas, lalu berniat keluar, mengunjungi anak-anak itu di rumahnya masing-masing. Baru saja Yarima bangkit dari tempat duduknya. Tonio sudah berjalan menapaki titian kayu. Yarima memilih menunggu.

“Pagi, Mbak Rima!”

“Pagi, Tonio! Kenapa anak-anak sudah jam begini belum ada yang datang?”

     “Begini Mbak Rima, semoga Mbak Rima tidak kaget!”

“Iya ada apa, jangan bikin sa cemas?”

“Sekolah kolong ini akan ditutup, anak-anak yang belajar di sini akan dipindahkan ke sekolah negeri, mereka akan bersekolah di sekolah tetangga!”

“Kenapa sa baru dikasih Tonio, kenapa juga mendadak begini?”

     “Iya, sa tahu, bagi Mbak Rima itu berat, tapi kasihan juga Mbak Rima harus mengajarkan semua mata pelajaran pada anak-anak! Orang tua anak-anak itu juga menginginkan anak mereka lulus dan punya ijazah.”

Yarima terdiam, pikirannya menerawang, mengapa selama ini tak ada orang tua yang mengeluhkan sekolah kolong kepadanya, tapi tiba-tiba sekolah ini mesti ditutup? Sepasang mata perempuan itu berkaca-kaca. Tak ada gunanya lagi gagasan-gagasan yang ia pikirkan kemarin malam untuk disampaikan pada Tonio.

***

Di ambang jendela, Yarima menatap sekolah kolong yang lengang. Sudah sebulan sekolah itu ditutup. Sepanjang hari Yarima mengurung diri dalam rumah, Yarima kecewa. Kenapa Tonio tak mencoba mempertahankan sekolah itu? Perempuan itu berpikir jangan-jangan caranya mengajar tak lagi disukai anak-anak? Ataukah ada penyebab lain? Yarima mengisak. 

Betapa ia sudah mencintai sekolah kolong itu, ia bahkan merencanakan menahan Toby lebih lama untuk mengajarkan anak-anak itu bahasa Inggris.

Suara pukulan terdengar di pintu daun sagu, Yarima beranjak dari tempatnya duduk. Toby berdiri di mulut pintu. Lelaki itu tampak kurus.

“Sudah sebulan saya tak melihatmu, saya mencemaskanmu!”

“Terima kasih, Toby!” hanya dua kata itu yang meluncur dari bibir Yarima.

“Kau kenapa? Kau baik-baik saja, ‘kan?” Toby mengamati wajah Yarima, mata perempuan itu berkaca-kaca.

“Sebetulnya aku tak baik-baik saja, Toby!”

“Oh ya, akan aku perlihatkan sesuatu padamu sore ini, cepatlah naik ke perahu, tapi sebelumnya pejamkan matamu!”

“Tapi Toby, aku….” Belum selesai Yarima menyelesaikan kalimatnya, Toby telah menarik lengan perempuan itu, menyuruhnya naik ke perahu dan mengambil scarf hitam di kantong celananya, lalu menutup mata Yarima. Dari jauh ada sepasang mata yang tak suka pada pemandangan itu.

Yarima tak bisa melihat apa-apa. Ia hanya bisa mendengar suara kecipak dayung. Nyaris satu jam barulah Yarima merasa perahu itu tak bergerak.

“Aku akan membuka kain penutup matamu, tapi matamu jangan dibuka dulu. Nanti aku bilang buka, barulah kau membukanya!”

“Ada apa, Toby?”

“Sekarang buka matamu!”

Di depan Yarima, tampak leppa yang Toby namakan ‘Rumah Perahu’ berlabuh dengan gagahnya. Leppa itu beratap daun sagu yang masih hijau dengan jahitan yang rapi. Dinding-dinding leppa dicat warna biru. 

Yarima masuk ke dalam leppa itu, ia merasa ini jauh lebih baik, sebab ia tak mesti merunduk dan lututnya tak tertekuk. Toby membuat leppa dengan gaya baru. 

Di dalam leppa itu ada sebuah kabin dan satu kamar kecil. Sebelah kiri ada sebuah jendela kaca bundar, jendela itu menggunakan gerendel warna kuning emas. 

“Ya Tuhan, bagus sekali. Rumah perahumu cepat sekali selesai, jangan-jangan kau mengundang jin untuk membantumu?”.

“He…he…he… ada-ada saja! Aku mengupah beberapa pemuda desa untuk membantuku mengerjakan ini. Kau tahu mengapa aku menyelesaikannya lebih cepat?”

Yarima menggeleng. “Agar kita bisa bepergian dengan ‘Rumah Perahu’ ini secepatnya, kita bisa menjelajah, dan kau akan menulis buku, menulis buku di atas rumah perahu kita, kita akan menjelajah pulau-pulau di Indonesia dengan leppa ini!”

     “Maksudmu dengan kita?”

“Saya dan kau, Yarima. Kau tak keberatan kan melakukan perjalanan denganku?”

Yarima diam, baru selesai satu kejutan yang menyedihkan, kini muncul kejutan lain. Ia tak tahu apakah permintaan Toby adalah kejutan yang menyenangkan atau kejutan menyedihkan.

“Ayolah Rima, kau akan bisa menulis buku yang bagus, jika kau mau melakukan perjalanan ini bersamaku!” Toby terus membujuk.

“Bagaimana jika di perjalanan rumah perahu ini diterjang badai? Bagaimana jika kita ditelan hiu? Bagaimana jika kita kehabisan bekal dalam perjalanan?”

“Berhentilah memikirkan risiko itu, hidup selalu penuh keajaiban, jangan berburuk sangka pada Tuhan!”

“Toby, Apakah nanti kita akan menjelajah ke Lamalera, ke Pulau Rote dan Papua?”

Toby mengangguk. Yarima menjatuhkan tubuhnya dalam pelukan lelaki itu, Beberapa hal yang membuatnya sedih adalah ia harus meninggalkan Siha dan pulau ini. 

Meninggalkan Ma’ Rafiah, meninggalkan Mama Haena, Mama Agusno, juga siswa-siswanya di sekolah kolong. Yarima kembali ke rumah kontrakannya, memberitahukan pada Siha, sebab besok ia akan pergi berlayar bersama Toby.

                        ******

“Apakah ini gara-gara Tonio sampai kau pergi?” Siha menatap mata Yarima dan mencari kesungguhan di sana.

“Bukan, bukan sama sekali Siha. Kenapa kepergianku ada hubungannya dengan Tonio? Ahhh, sa pergi karena diajak Toby, sa akan menulis tentang pelayaran kami!”

“Jadi kau belum dengar, ya, cerita itu?”

“Maksudmu cerita apa?”

“Ahhh, tidak ada apa-apa!” Siha memeluk Yarima erat sekali. Selama ini ia sudah terbiasa dengan keberadaan Yarima. Dulu Siha tak mau Yarima membayar ongkos tinggalnya di rumah ini, tapi Yarima terus memaksa, sehingga Siha mengontrakkannya pada Yarima.

Besok adalah kepergian Yarima. Siha tak mau menambah kesedihan gadis itu dengan cerita yang sebenarnya. Itu akan lebih menyakitkan. Siha menyimpan cerita itu rapat-rapat. 

Sekolah kolong ditutup hanyalah kemauan sepihak Tonio. Ia marah pada Yarima karena perempuan itu dekat dengan Toby. Tonio tak suka. Tonio memang menemani Siha mencari Mbo Nuni di malam itu, tapi sepanjang jalan Tonio memaki-maki Yarima dan Toby.

Leppa dengan tulisan ‘Rumah Perahu’ di bagian kiri dinding kapal itu pelan-pelan meninggalkan bibir dermaga. Sebelumnya Siha sudah pamit pada tetangganya. 

Ibu-ibu berdiri berjejer di bibir dermaga, melambaikan tangan. Yarima pamit pada Tonio, tapi tak melihat lelaki itu pagi ini. Ia hanya menitipkan sepucuk surat pada Siha.

“Selamat jalan, Rima, semoga laut memberkahimu!” Siha berteriak kencang. Yarima tersenyum dan melambai.

Makassar Januari 2012

Kantor yang diam tanpa percakapan. Banyak orang, tetapi semua sibuk berada di depan layar komputer masing-masing, semua sibuk dengan jam deadline sebentar lagi. Hanya bunyi jari dan tuts komputer yang beradu.

Di ruanganku, seorang diri memeriksa berpuluh-puluh foto yang layak naik cetak. Di luar hujan menimpa atap seng kantorku, mengetuk jendela kaca di dekatku. 

Aku beranjak mencari-cari remote AC dan menekan tombol off. Asistenku datang membawakan aku secangkir kopi panas dan duduk di ruanganku tanpa kuminta.

“Pak Saul, dengar-dengar Yarima Sparks adalah mantan kekasih Bapak? Bukunya bagus Pak, saya sudah membacanya, tentang ekspedisi ke pulau-pulau terpencil. Wah, pasti dia perempuan yang amat menarik, ya, Pak?”

Aku hanya mengangguk tanpa kekuatan, lalu kembali melihat layar komputer. Barangkali karena hanya melihatku mengangguk, asistenku itu keluar, kembali meninggalkan aku dengan kesendirian dan kesepian. 

Sudah berbulan-bulan aku tak lagi bercinta dengan istriku, sudah berbulan-bulan kami saling berdiam diri. Kami tidur di kamar terpisah. Ia tidur dengan anaknya, aku tidur sendirian.

Beberapa bulan lalu, kudengar ia punya kekasih. Istriku punya kekasih, seorang pengusaha kain sutra dari Sengkang. Aku marah, tak terima dengan perlakuannya. 

Tapi, pada akhirnya aku sadar, bukankah hal itu penah kulakukan pada perempuan lain, pada Yarima? Maafkan aku, Yarima. “Maafkan aku, jika pernah menyakiti dan menyia-nyiakanmu. Aku benar-benar kalah. Kau selalu punya ruang tersendiri dalam pikiran dan hatiku!”

Yarima, sedang apa dirimu? Di hujan-hujan begini apa kau sedang bercinta dengan suamimu? Ataukah kau sedang duduk pula di depan komputer sembari menulis segala hal yang ada dalam pikiranmu? Ataukah kau sedang berada di tengah lautan? Di sebuah pulau terpencil? Dulu, ketika musim hujan tiba dan kita sedang bersama. 

 kau selalu menanyakan pertanyaan konyol padaku: “Saul, jika malam dengan hujan deras begini, kira-kira ada berapa pasang kekasih yang sedang berdekapan di kota ini?”

“Entahlah, mungkin seratus pasang kekasih, mungkin juga seribu!”

***

Dalam hidup ini, kadang-kadang kita tak siap dengan segala kejutan yang datang, tetapi kejutan selalu saja tiba pada waktu yang kita tidak duga. Undangan pemotretan, istri tidak setia, rasa kesepian yang muncul belakangan, mantan kekasih yang bangkit dari kesedihan lantas menciptakan kesedihan baru untukku, tiba-tiba saja muncul di kepalaku. Ruangan ini dipenuhi gas beracun dan aku sendirilah yang menaruh gas itu dalam ruangan ini.

Udara dingin, secangkir kopi yang telah dingin, melewatkan hari-hari dengan rutinitas yang terasa mulai membosankan, melihat foto-foto mahasiswa tawuran sejak pertama kali menjadi fotografer hingga aku berubah posisi menjadi redaktur foto.

Aku bersandar di kursi, memandangi orang-orang yang sibuk dengan jam deadline dari dinding kaca ruanganku. Sudah tujuh tahun aku menjadi budak di kantor ini. 

Aku ingin pergi meninggalkan kota ini sejenak, meninggalkan setumpuk koran, dark room, komputer, kantor, rumah, dan istri.

Asistenku kembali datang menjengukku.

“Pak Saul, maaf aku hampir lupa, tadi siang ada pak pos menitipkan ini untuk Bapak! Aku membuka amplop cokelat itu, di dalamnya sebuah pesan pendek di kertas yang beraroma cinnamomum burmani.

Saul, ini aku Yarima. Masih ingat, kan? Oh ya, bagaimana kabarmu sekarang ini? Pasti kau sudah punya anak yang lucu-lucu, pasti menyenangkan, ya! Aku selalu berdoa semoga foto-fotomu kelak mendapat penghargaan internasional! Itu masih impianmu, bukan? Aku juga minta maaf, minta maaf yang setulus-tulusnya, telah meninggalkan surat padamu tempo hari yang kekanak-kanakan.

Oh ya, aku baru saja menulis satu buku, buku perjalanan aku dan suamiku mengarungi lautan Indonesia. Untuk sementara kami belum bisa menetap di satu kota, ekspedisi kami belum tuntas, waktu ‘Rumah Perahu’ kami mampir di Lamalera dan Pulau Rote, aku ingat betapa itu impianku sejak lama. 

Saat ini kami sedang dalam perjalanan ke Kepulauan Raja Ampat. Oh ya, ‘Rumah Perahu’ yang aku maksud adalah perahu beratap, perahu khas suku Bajo. Namanya leppa. Orang Gypsi laut sejak dulu mengarungi lautan dengan leppa.

Bagaimana kabar keluargamu? Semoga kelak kita bisa berjumpa, ya! Anak-anak kita pasti bisa menjadi teman, anakku sekarang sudah berusia dua bulan, masih mungil. Namanya Namira Sparks. Sparks diambil dari nama belakang ayahnya. Ia lahir di dalam perahu – di ‘Rumah Perahu’ kami.

Sampai di sini dulu suratku, semoga kebaikan tercurah padamu. Titip salam untuk keluargamu.

NB: Aku sudah memaafkanmu sejak lama, semoga kau juga sudah memaafkan aku.

Aku menghela napas panjang. Perempuan itu, meski sudah ada telepon genggam, ia tetap saja bertanya kabar lewat surat.(TAMAT)

Baca Cerita Pendek Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Garang Asem

Cerita Pendek: Prambanan Ekspres

Cerita Pendek: Pada Secangkir Teh

Artikel Asli