Cerita Pendek: Rumah Perahu Part 3

Femina Dipublikasikan 07.48, 13/08 • Erni Aladjai

Bagian 3

Kisah Sebelumnya:

Karena putus cinta, Yarima meninggalkan Makassar, dan melarikan diri ke Pulau Kalupapi, di Teluk Banggai, Sulawesi Tengah. Di sana, ia mengajar anak-anak suku Bajo, suku yang tinggal di laut dan memupuk cita-citanya sebagai penulis. Kemudian, datang Toby, pria kulit putih yang anehnya, beberapa kali datang dalam mimpi Yarima.

Pagi ini rencananya Yarima akan berangkat ke kota kabupaten, mengambil honor tulisannya yang ditransfer pekan lalu. Yarima menyesap teh buatan Siha, sekadar ‘memanaskan’ perutnya. Ia lalu bergegas ke belakang, mandi di sebuah ruang kecil tak berdinding. 

Yarima memakai kain hingga melewati dadanya dan ia mulai menciduk air di dalam gumbang, lalu mengguyur tubuhnya. Segarnya air di pagi hari membuat pening dan kantuknya menghilang.

Baru saja Yarima usai berpakaian, seseorang terdengar memberi salam. Yarima mengintip dari sela lubang dinding kamarnya. Di sana, di beranda, Toby berdiri sendirian. 

Lelaki itu memakai celana panjang kargo hijau muda dengan kemeja putih, lengan kemejanya digelung. Di lehernya tergantung sebuah kamera SLR. Nama Toby sungguh tak cocok dengan penampilannya. “Itu seperti nama boneka!” batin Yarima. Yarima mengutuki pemandangan itu. 

Entah mengapa, ketika melihat penampilan Toby, yang berkelabat di pikirannya adalah Saul.

“Maaf mengganggu Yarima!”

“Jangan khawatir Mister Toby, saya sama sekali tak terganggu. Apakah ada yang bisa saya bantu?”

“Begini Yarima, Tonio tak bisa menemani saya ke leppa Pak Nuni. Katanya, di perkampungan ini, hanya Pak Nuni yang masih berumah di dalam leppa. Saya rencana ingin mengambil foto dan berbincang-bincang dengan Pak Nuni. Yarima kenal Pak Nuni?”

“Mbo (kakek) Nuni maksudnya? Kalau Mbo Nuni saya kenal, biasanya leppa-nya ditambatkan di dekat hutan bakau. Maaf kalau bisa tahu Tonio ke mana, ya?” Yarima merasa Mister Toby telah salah memilih guide, bukankah lebih baik kalau ia pergi dengan Tonio.

“Tonio kemarin malam buru-buru ke kota kabupaten, katanya ia harus mendampingi pamannya berkampanye!” Orang-orang Bagai (Bajo Darat) kebanyakan sudah banyak yang menempuh pendidikan hingga jenjang S-2, mereka ini juga banyak yang ikut berpolitik di Banggai. Beberapa di antara mereka menjadi anggota dewan di Palu. 

“Ohhh begitu, baiklah Mister Toby,” hanya itu yang keluar dari mulut Yarima, ia pasrah.

“Panggil saya, Toby saja. Tak perlu ditambah mister, ya!”

Yarima terdiam beberapa saat. Setelah itu, ia masuk ke dalam, mengambil tas selempang eceng gondok kesayangannya. Lantas mereka pun berperahu. 

Yarima tercengang melihat cara Toby mendayung perahu. Ia tak menyangka lelaki asing di hadapannya itu bisa mengemudikan sampan kecil mereka. Yarima sendiri sudah setahun di pulau ini, tapi ia sama sekali tak bisa mendayung.

“Toby pernah kursus mendayung?” tak tahan, pertanyaan itu akhirnya melompat dari bibir mungil Yarima. Ia amat penasaran dengan kemampuan lelaki asing ini mendayung.

“Tak pernah Yarima. Hanya saja waktu saya mahasiswa dulu, saya ikut klub arung jeram!”

Yarima tersenyum. Hutan bakau hanya berjarak lima kilometer dari perkampungan. Kuntul dan cangak abu terbang seliweran di atas kepala mereka. Sesekali burung-burung itu terbang rendah ke hamparan laut, mematok ikan di permukaan, lalu kembali terbang membubung. 

Yarima melongok ke sisi perahu, laut berwarna kehijauan. Perahu mereka memasuki hol-hol hutan bakau. Suara burung ribut di dahan-dahan bakau. Punai gading, srigunting, dan burung madu bakau. Toby mulai memotret.

“Apakah kau mau mencoba memotret, Yarima?”

Yarima menggeleng, ia tak ingin tubuhnya terjun ke laut jika ia lengah. Dulu, Yarima sering menemani Saul berburu foto, ke hutan batu Maros, ke Bulukumba, Toraja dan Selayar. Di sela-sela rehat, Saul akan mengajarkannya komposisi foto kepadanya.

“Itu dia leppa Mbo Nuni!” tunjuk Yarima, girang. Nyaris dua jam mereka melewati hol-hol hutan bakau, barulah mereka menemukan leppa Mbo Nuni. Mbo Nuni terlahir di atas perahu. 

Di usianya yang menginjak 70, dia masih berumah di dalam perahu. Ia enggan ke darat setelah istri dan anak-anaknya meninggal. Kalaupun terlihat di daratan, itu pasti karena perahu Mbo Nuni sedang didempul.

Keringat bermunculan di wajah Yarima bagai bij-biji jagung. Kulit Yarima berubah menjadi cokelat kemerahan. Yarima mengeluarkan ikat rambut dari dalam tasnya. Ia lantas menggelung rambutnya tinggi-tinggi. Toby meminta Yarima turun lebih dulu ke leppa Mbo Nuni. 

“Mbo, anginei (Kakek, sedang apa)?!” Yarima berteriak di depan leppa Mbo Nuni. Karena menghabiskan hidupnya dengan menyelam, pendengaran Mbo Nuni kurang baik. Dua tahun tinggal di pulau ini, pelan-pelan Yarima merekam ungkapan-ungkapan tertentu dalam bahasa Bajo.

“Sedang memotong-motong sirip ikan gorango (ikan hiu), Nak!”

Toby melompat ke dalam leppa Mbo Nuni, rumah perahu itu menjadi oleng. Ia mengabadikan momen itu di kamera SLR-nya. Leppa Mbo Nuni dua kali lipat besarnya dari perahu-perahu biasa. Di sudut perahu ada sebuah loyang yang sudah karatan, loyang itu berisi pasir. Di atas pasir itu berdiri tiga batu kuala. 

Mbo Nuni memasak di dapur loyang itu. Di pinggir loyang bersandar tiga tandan pisang mentah. Mbo Nuni biasanya mendapatkan makanan itu dari orang-orang darat yang hendak menukar dengan ikan tangkapannya. 

Biasanya, orang-orang darat juga membawa seloyang keladi untuk ditukar dengan kima dan dendeng ikan duyung buatannya.

“Yarima, bisa bantu saya, tolong kamu catat semua percakapan saya dengan Mbo Nuni, ya!” Yarima mengangguk, meskipun ia dongkol. Betapa pria asing ini amat merepotkan dirinya. Yarima berpikir, mestinya hari ini ia berangkat ke kota kabupaten, uang di dompetnya makin menipis. 

Toby menyerahkan notes dan pulpennya. Yarima mulai mencatat. Sesekali Toby berhenti bertanya, memberikan jeda agar ibu jari dan telunjuk Yarima tak pegal.

Yarima melirik arloji di tangannya. Jarum pendek sudah di angka 10. Yarima menghela napas, betapa kakinya sudah keram lantaran terlalu lama tertekuk di dalam leppa. Toby tersenyum, ia tahu Yarima mulai jengkel.

“Mbo, wawancara saya hari ini sudah cukup, besok saya ke sini lagi! Oh, ya, kapan-kapan kalau Mbo tak keberatan, saya ikut melaut, bisa, toh?” Toby mulai ber- “Mbo-Mbo.”

“Boleh, boleh Mister, asal Mister bisa tahan tinggal di dalam leppa selama seminggu!”

“Pasti bisa!”

Mbo Nuni tertawa, mulutnya telah kehilangan gigi. Yarima dan Toby menyalami Mbo Nuni, lalu mereka turun ke sampan. Air laut sudah naik, Toby mendayung perlahan. 

Ia menatap wajah Yarima yang berkeringat. Yarima tak menyadari. Pandangan wanita itu terarah ke akar-akar bakau yang saling mengait.

Dada pria asing itu berdesir. Sejak pertama kali menemui Yarima, ia sudah tahu, wanita di depannya ini menarik. Betapa Toby ingin tinggal lebih lama di pulau ini. 

Kalau mau sedikit ‘nakal’, ia ingin Yarima ikut ia berlayar dengannya. Toby berencana akan menias leppa sendiri, lalu mengarungi lautan Indonesia dengan leppa yang ia namakan rumah perahu. Perjalanan itu sudah lama ia impikan.

            Toby melompat ke dermaga lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya pada Yarima. Bermaksud membantu Yarima naik ke dermaga. Untuk beberapa saat Yarima diam di tempatnya.

“Come on!” suara Toby membuat Yarima tersadar dan meraih uluran tangan lelaki asing itu.

“Aku sebetulnya bisa naik sendiri ke dermaga. Sepertinya ada yang lain hari ini, apakah…? Ahhh, tak mungkin, tak mungkin lelaki menarik dan pengembara seperti dirinya menyukaiku, geer sekali aku, kenapa juga baru dua kali bertemu aku langsung berpikir begitu, oh, kasihan sekali diriku,” batin Yarima. Ia berusaha membuang pikiran yang baru saja melintas itu.

Yarima merasa dirinya menjadi lain setelah perjalanan pertama mereka ke leppa Mbo Nuni. Mengapa ia sampai berpikir Toby menyukainya? Kenapa pula ia jengkel-jengkel senang dengan perjalanan itu?

Yarima masuk ke rumah dan langsung disambut Siha dengan godaan. Siha tahu, selama Yarima di pulau ini, ia belum punya kekasih. 

Bagi perempuan Bajo seperti Siha, umur Yarima yang sudah menginjak angka 27, mestinya sudah punya tiga anak. Perempuan Bajo rata-rata menikah di usia 15 tahun.

“Rima skali-skali carilah kekasih dari kalangan manusia, jangan buku turus (melulu)!”.

“Kekasih tak mesti dicari Siha, ia akan datang dengan sendirinya!”

“Kekasih mesti dicari. Seperti rezeki, sudah tersedia, tetapi tetap saja harus dicari! Eh, kalau Mister Toby suka sama Rima, Rima mau?”

“Siha ngomong apa, mana mau dia sama aku!” Yarima cuek, lalu melenggang ke dapur. Ingin rasanya ia makan sebanyak-banyaknya. Kedongkolan Yarima belum selesai, karena Toby meminta ia membuat laporan perjalanan. Ia tahu Yarima seorang penulis. Tonio memberitahukan kepadanya. Laporan itu ia akan kirim ke perusahaan sponsor yang telah memberinya dana.

“Siha, kau tahu, aku jengkel sekali, dia itu perintah aku ini itu, dia pikir aku asisten pribadinya. Ohhh, mestinya hari ini aku berangkat ke kabupaten!”

“Tak bisa begitu Rima, dia itu musafir, harus ditolong, harus diperlakukan dengan baik, begitu! Jangan marah-marah, nanti Rima lekas tua!”

Yarima terkekeh. Menjadi tua? Seperti apakah dirinya nanti di usia 30 tahun? Masih lajangkah? Sudah punya kekasihkah atau sudah menikahkah? Yarima senang menerka-nerka masa depan. Hari dan bulan-bulan berikutnya bagi Yarima selalu punya kejutan yang berbeda.

***

Kampung menjadi ribut. Dari hulu ke hilir, gosip itu menyebar secepat angin. Kabarnya, Tonio akan menikah dengan seorang bidan, kemenakan jauh Ua Bahrun dari Pulau Togean. 

Ada yang bilang, Tonio menolak perjodohan itu. Kabar yang tak mengenakkan justru datang dari Mama Haena, sepupu Ua Bahrun. Mama Haena bilang, Tonio menolak perjodohan itu lantaran Tonio menyukai Yarima.

“Tak betul itu, Ma’. Tonio itu menganggap sa kakak! Penglihatan orang-orang saja yang salah sangka!” Yarima menanggapi cerita Mama Haena dengan cemas. Ia takut kabar itu didengar calon istri Tonio. 

Orang Bajo punya samauda (ilmu guna-guna yang disyaratkan pada laut). Jangan sampai menyakiti hati orang Bajo, bisa-bisa besok tanpa penyebab apa-apa, kita langsung jatuh sakit.

“Oh, begitukah? Ma dengar dari adik Tonio katanya begitu!”

“Jangan sampai berita ini menyebar, sa ndak enak, Ma’!”

“Iya, beres itu, ehh, Ma’ mau bikin kue ongol-ongol, nanti kalo bale ka rumah, bawa kue, ya! Apa di rumahmu ada rica (lombok) dan bawang putih? Kalo ada, Ma’ baminta, Ma’ kehabisan rampa (bumbu dapur)!”

“Ada Ma’, saya ambilkan dulu, ya!”

Salah satu dari banyak hal yang disukai Yarima dengan kekerabatan di pulau ini adalah jika orang-orang kekurangan makanan di rumahnya, ia bisa minta ke tetangga. Begitu juga sebaliknya. Jika ada makanan lebih di rumah mereka, mereka dengan senang hati berbagi.

Baru saja Yarima masuk di ambang pintu, Ma’ Rafiah memanggil-manggil dirinya.

“Rima punya minyak kelapa?”

“Punya, Ma’.”

“Ma’ baminta (minta) satu gelas!”

“Iya, Ma’, nanti saya antarkan!”

Yarima memeriksa keranjang nifah, tempat Siha menyimpan rempah-rempah. Ia membungkus segenggam lombok dan bawang putih di koran bekas. Lalu ia menuangkan minyak kelapa dalam gelas. 

Yarima mengantarkan permintaan Ma’ Rafiah dan Mama Haena. Rumah kontrakan Yarima, Ma’ Rafiah, dan Mama Haena saling terhubung titian kayu. Kembali dari rumah Mama Haena, Yarima mendapati Toby dan Siha sedang mengobrol di beranda.

“Rima, Mister Toby sudah menunggu dari tad!”

“Maaf, Mister Toby, saya baru saja dari rumah tetangga!”

“Oh, tidak apa-apa Rima, saya hanya minta tolong, temani saya lagi ke leppa Mbo Nuni. Ini hari saya akan menias kayu di sana, saya akan akan lanjutkan bikin rumah perahu!”

“Rumah perahu?”

“Ya, saya namakan leppa yang saya buat dengan nama Rumah Perahu.“

“Saya minta maaf sekali, Mister Toby, saat ini saya sedang sibuk. Saya mau persiapkan bahan ajar untuk besok. Saya harus mengajar besok di sekolah kolong!”

“Ohh, tidak apa-apa, saya semestinya yang minta maaf. Kalau begitu, saya pamit dulu Yarima, maaf sudah mengganggu!”

Wajah Mister Toby tampak kecewa, ia mengutuki dirinya dalam hati. Sebetulnya ia bisa pergi sendirian, sebab Mbo Nuni bukanlah orang yang tak paham bahasa Indonesia. Tapi, jika Yarima ikut, selalu ada kesenangan tersendiri yang menyelinap di hatinya. Ada semangat yang lain, jika Yarima di dekatnya.

“Ahhh, mengapa menjadi serba melankolis setelah aku tiba di pulau ini. Bukankah perjalananku selama ini selalu sendiri!” Toby membatin.

“Hati-hati berperahu, Mister!” kata Yarima sambil melambaikan tangan, ketika Toby meninggalkan beranda rumahnya.

Sore ini air laut sedang mati. Kemarin Toby membeli kayu mangga kepada seorang pemuda Bajo, lalu minta diikatkan pada pohon bakau dekat leppa Mbo Nuni. 

Hari ini, dibantu Mbo Nuni, Toby akan mulai menias kayu. Keringat terus bercucuran dari wajahnya, rambut sebahunya ia kucir.

“Mister, ada dua bekal yang harus dibawa orang Bajo kalau melaut. Bekal pertama itu perahu yang bagus dan cara melaut yang baik, sedang bekal kedua yaitu mantra!” Mbo Nuni memberi wejangan pada Toby. Toby melepaskan kapaknya. Ia memandang Mbo Nuni sejenak.

“Mantra?”

“Ya, orang Bajo bertahan di lautan karena memiliki banyak mantra. Mantra meredakan badai, mantra supaya ikan mendekati kail kita, mantra membuang pukat hingga mantra menyembuhkan sengatan ubur-ubur! Semua ada mantranya!” Toby menyimak dengan baik setiap kata yang terlontar dari mulut Mbo Nuni.

“Mbo ajarkan saya, bisa?”

“Banyak syaratnya Mister! Mister tidak akan sanggup!”

“Hmm… begitukah?”

Mbo Nuni mengangguk. Ia menghapus keringat yang bercucuran di dahinya. Toby merasa kasihan. Meski ia sudah mengupah lelaki itu, ia tak tega melihat tubuh tua lelaki itu bekerja keras hari ini.

“Mbo, istirahat saja dulu! Biar saja saya sendiri yang menias!”

Toby melanjutkan pekerjaannya sendirian. Panas matahari makin menyengat. Nyamuk-nyamuk bakau menggerogoti kulitnya. Ahh, kalau ia tahu begini, ia pasti akan mengoleskan lotion antinyamuk terlebih dahulu. 

Leher, tangan, dan kakinya dipenuhi bentol-bentol kemerahan. Toby tak tahan. Ia menghentikan pekerjaannya, lalu pamit pada Mbo Nuni. Besok hari, ia akan mempersiapkan segalanya dengan baik.

                                                                      ****

Yarima bolak-balik, berjalan ke beranda, masuk kembali ke dalam rumah, lalu keluar lagi. Ia resah. Sebetulnya Yarima tak enak hati. Betul kata Siha, harusnya Yarima memperlakukan Toby dengan baik. 

Bukankah waktu pertama kali ke pulau ini, ia juga ditemani ke mana-mana. Bahkan, membeli pembalut wanita pun, ditemani. Yarima merasa bersalah yang ganjil karena menolak permintaan Mister Toby untuk menemaninya menias leppa.

Yarima bernapas lega, dari jauh ia lihat Toby berjalan pulang. Sesekali ia menggaruk lengan dan kakinya yang gatal. Toby sudah pernah menjelajah ke pedalaman Kamboja, ke pulau-pulau kecil di Thailand. 

Tetapi, keteledoran hal kecil saja, membuatnya tampak konyol. Ia terlihat seperti orang yang baru saja melakukan perjalanan ke pedalaman.

“Mister Toby, Mister Toby! Singgah sebentar,” Yarima melambai dari beranda rumahnya. Toby sebetulnya enggan mampir, mengingat penampilannya hari ini tak keruan. Tapi, sekali lagi bertemu Yarima, punya rasa senang tersendiri.

     “Lihatlah wajah dan tanganku!” Jarak wajah Toby dan Yarima hanya dua inci.

“Ya, Tuhan, wajah Mister Toby penuh bentol!”

“Ya, apa yang harus saya lakukan? Wajah saya rasanya gatal sekali! Tapi, jika saya garuk, bentolnya makin gatal dan membesar!”

“Mister masuk saja ke dalam!”

“Yarima, bisakah kau tak pakai ‘mister’ setiap kali memanggil namaku? Kita seolah-olah terus berjarak jika kau panggil aku seperti tadi!”

Bagai seorang dokter dan pasien. Yarima meneteskan minyak tawon di atas sobekan kapas. Lalu ia mulai mengoleskan bentol-bentol yang ada di wajah Toby, satu per satu hingga ke lengannya. 

Toby menatap wajah Yarima yang hanya beberapa senti dari wajahnya. Jantung lelaki itu berdegup kencang.

Badan Toby menggigil. Dahinya panas sekali. Siha mengangkat kasur kapuk ke ruang tamu, lalu melapisinya dengan tikar. Ia juga menyiapkan bantal. Toby berbaring, badannya menggigil, giginya gemeletuk. 

Yarima mengangkat loyang dan mengambil serbet yang belum pernah dipakai. Ia duduk di dekat Toby, mencelupkan serbet itu ke dalam loyang, meremasnya, lalu ia tempelkan ke dahi Toby. 

Bentol-bentol di wajah dan lengan Toby juga bertambah besar.

Yarima kebingungan. Siha membisiki Yarima.

“Jangan-jangan Mister Toby ketegoran?”

“Maksud Siha?”

“Ya, siapa tahu tadi Mister Toby tak permisi waktu menias perahu, siapa tahu ia menias di dekat rumah setan. Setan tak suka, makanya ia langsung sakit!”

“Ahhh, yang benar, Siha?”

“Orang Bajo setiap melakukan sesuatu itu ada doanya. Mister Toby pasti tak tahu itu!”

“Lantas, apa yang harus kita lakukan?”

“Sa akan cari Tonio dulu, baru sa pigi (pergi) dengan dia ka rumah Mbo Nuni. Mbo Nuni pasti bisa mengobati Mister Toby. Mbo Nuni banyak menguasai mantra, ia bahkan bisa berbahasa dengan Raja Laut!”

Baca Cerita Pendek Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Menunggu Jumat Pagi

Cerita Pendek: Perempuan yang Patut Kusayangi

Cerita Pendek: Pulang

Artikel Asli