Cerita Pendek: Rumah Perahu Part 1

Femina Dipublikasikan 07.35, 13/08/2020 • Erni Aladjai

Makassar, September 2011

Perempuan itu, sejak pertama kali aku mengenalnya, selalu saja bertanya pada semua orang yang ia temui, pada orang asing, pada kawan baru, atau kawan-kawan lama, selalu ia ulang-ulang pertanyaan ini: “Apakah menurutmu suatu hari kelak aku bisa menjadi penulis?”

Ada yang menjawab iya, ada yang memberinya nasihat, ada yang mengatakan pasti bisa, dan semua jawaban itu ia terima dengan wajah ceria. Perempuan itu terobsesi menjadi penulis novel. “Kau tahu, Saul, suatu hari, aku pasti menerbitkan buku!”

“Aku tidak yakin suatu hari kau bisa jadi penulis. Aku malah membayangkan kau akan berakhir di sudut kantor dengan setumpuk kertas, kau akan berakhir menjadi seorang pegawai negeri sipil!” kataku dulu, ketika aku sudah bosan mendengar perihal impiannya menjadi penulis.

“Yaaah, seharusnya kau mendukungku, kau kan kekasihku!” perempuan itu selalu merajuk, menunjukkan mimik memelas, lalu menghadiahi aku sebuah ciuman di pipi tiba-tiba.

“Ya, aku pasti mendukungmu, aku nanti yang akan mendesain sampul bukumu!”

Yarima nama perempuan itu. Ia selalu bahagia ketika aku mengatakan akan memberi dukungan untuk impiannya. Meski aku tak terlalu menyukai obsesinya menjadi penulis, aku sangat menyukai bagian dirinya yang lain. 

Perempuan itu, sering tak sengaja membuat orang-orang di sekitarnya terharu. Suatu hari ia bertemu dengan seorang perempuan di pete-pete (angkutan kota di Makassar). Perempuan itu menampakkan wajah sedih, rupanya ia baru saja patah hati.

Yarima langsung menyapanya dan menceritakan hal-hal lucu pada perempuan yang baru dikenalnya itu. Ia mentraktir perempuan itu es krim cokelat, menawarinya tisu dan menyemangati perempuan itu agar bangkit dari kesedihannya. 

Lalu, si perempuan yang patah hati itu mengucapkan terima kasih berkali-kali dan mengatakan perasaannya yang terharu.

Lain waktu, ia berangkat sendirian ke Gunung Bawakareng. Di sana ia menemani seorang lelaki tua berkebun sawi. Lelaki tua itu panggil Tata Mandong. “Dengan berbuat baik pada banyak orang, kelak pemakamanku akan ramai!” begitu katanya.

Mencintai perempuan itu yang ada hanyalah rasa sakit yang absurd. Mula-mula aku ingin melihatnya menjadi kekasih yang paling bahagia di dunia dengan memilihku. Belakangan aku ingin melihatnya terus menangis, menderita dengan berkali-kali aku menyakitinya. 

Lalu pada akhirnya, perempuan itu memilih pergi, ia tak tahan. Kabar yang terakhir kudengar tentangnya, ia pergi ke pulau terpencil di Sulawesi Tengah, entah di mana. Sebelum berangkat, ia mengirimiku surat. Suratnya begini:

Kau benar-benar berubah setelah menemukan dunia baru yang ranum dan penuh godaan. Aku berhenti mencintaimu, aku berhenti mencari tahu kabarmu, aku berhenti untuk peduli moralmu. Aku benar-benar berhenti. 

Kau tahu kenapa? Karena kau yang sekarang tak sama dengan kau yang dulu. Aku hanya mencintai kau yang di masa lalu, bukan kau yang di masa sekarang.

Aku mencintai kesederhanaanmu di masa lalu, hubungan kita di masa lalu. Dulu, aku begitu menikmati kencan kita dengan jalan kaki, menikmati menjadi sepasang kekasih aktivis yang kere sehingga untuk makan, kadang kita berutang di kantin kampus, aku jatuh cinta pada kemeja birumu yang berkantong dua di depan, tampangmu ketika baju itu berada di tubuhmu, kau seperti sopir taksi, tapi itulah yang membuat aku jatuh cinta berkali-kali padamu.

Dan kau yang sekarang, tak ubahnya seperti orang kaya baru, di mana-mana kau selalu berbicara soal uang, kau malah memilih perempuan kaya itu. Kau tahu, aku benci perempuan pilihanmu itu. 

Kau bilang kau mencintai perempuan itu, kukatakan : “go ahead”, aku tak bisa mengendalikan seleramu soal perempuan. Nikmati hubunganmu, aku memilih pergi.

Salam

Yarima

*****

Semenjak kepergiannya, yang ada hanyalah rasa sesal. Di sudut kafe ini, aku duduk memandang istriku dan putri kecilnya –yang bukan anak kandungku. 

Setiap perempuan yang masuk di dalam kafe dengan baju warna abu-abu, aku selalu mengira itu dirinya. Aku benar-benar menyesal setelah kesempatan untuk balik dengannya benar-benar tertutup.

Semenjak perempuan itu pergi, hatiku seperti disemayamkan dalam katakomba Tuna el-Gebel – tempat hewan yang mati disemayamkan. Hatiku mati, seperti mumi.

Rasa rindu pada perempuan itu hingga berbulan-bulan setelah kepergiannya masih juga tak berubah. Saat aku berada di dark room untuk mencuci berpuluh-puluh wajah perempuan dengan berbagai ekspresi, seolah-olah perempuan-perempuan yang ada dalam gambar itu adalah wajahnya.

Kehidupanku yang sekarang betul-betul tak bisa kurasakan, tepatnya tak bisa kunikmati. Istri terkenal, karier fotograferku menanjak, foto-fotoku memperoleh banyak penghargaan, punya materi berlebih. 

Tapi, semua betul-betul tak bisa kurasakan dengan rasa senang yang alamiah.

Terkadang aku ingin tahu kabar perempuan itu, ia berada di mana? Telah bersuamikah? Telah memiliki anakkah? Atau telah menjadi penulis seperti yang ia impi-impikan? Dulu aku tak suka ke toko buku. 

Tapi, semenjak kepergiannya, aku teramat sering bertandang ke toko buku, berharap aku menemukan bukunya.

Setiap kali aku mengakses internet, aku selalu membuka blog-nya, berharap ada kabar baru yang ia posting di sana. Jika istriku tak di sampingku, diam-diam aku membuka Facebook mantan kekasihku itu, tapi status di dinding Facebook-nya tak berubah, masih tetap status yang dulu: Benar-benar ingin pergi dari masa lalu, melakukan perjalanan, menulis, dan menghormati orang lain.

Kadang-kadang air mataku menetes dengan sendirinya. Memandang fotonya yang berwarna sephia berlama-lama.

Perempuan itu benar-benar hilang, pikiran buruk melandaku. Jangan-jangan, dalam perjalanannya perempuan itu telah mati, Aku benar-benar lelah menanti kabarnya.

Pulau Kalupapi September 2011

Yarima berlari di atas hamparan laut, seorang lelaki berambut sebahu ikut berlari di sampingnya. Rambutnya meriap-riap diempas angin. Yarima mendongak ke langit, bulan hendak luruh. 

Perempuan itu mengangsurkan gaun bawahnya. Bulan jatuh di lengkungan gaunnya. Yarima menoleh lelaki di sampingnya, lelaki itu bukan Saul, bukan juga lelaki-lelaki lain yang pernah dikenalnya. Yarima sama sekali belum pernah bertemu lelaki itu.

Ah, mimpi itu lagi, mimpi menangkap bulan itu telah berkali-kali bertandang dalam tidurnya. Yarima melihat kedua telapak tangannya. Tentu saja tak ada bulan di sana. 

Ia membuka daun jendela, langit gelap. Siapa lelaki itu? Mengapa bukan Saul yang masuk ke dalam mimpinya, padahal setiap jelang tidur, Yarima hanya memikirkan satu lelaki, Saul.

Sudah setahun Yarima di Pulau Kalupapi ini, sebuah pulau terpencil di Kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah, namun bayangan Saul tak juga ia bisa halau. Kadang-kadang ia berpikir seandainya perasaan itu hanya serupa membuang sebotol kaleng bekas minuman ke dalam tong sampah. 

Sungguh, ia akan melakukannya setiap ingatan itu bertandang. Yarima menyesal, menyesali tindakannya yang kekanak-kanakan. Sebelum pergi, ia tak pamit pada Saul, hanya sebuah surat penuh emosi yang ia titip di kantor lelaki itu.

September menjadi dingin dan berkabut. Pulau ini serupa diselubungi asap tebal. Hujan tahun ini memang turun lebih ganas. Ombak mengempas keras. Jalanan kayu yang menghubungkan rumah-rumah orang Bajo menjadi licin. 

Cuaca seperti ini tak memungkinkan Yarima keluar rumah, mengunjungi Mama Haena untuk melihat pembuatan kue bagea, kue yang terbuat dari tepung sagu.

Tak ada pilihan lain, selain duduk di pinggir jendela, secangkir teh hangat dan menamatkan Garis Batas karya Agustinus Wibowo. 

Perempuan berkulit cokelat matang itu melongok ke bawah jendela, kaki-kaki hujan begitu besar, membentuk kristal-kristal di permukaan laut, pecah lalu membentuk lingkaran.

Di pekan pertama ia menginjakkan kakinya di pulau ini, kulitnya masih sewarna langsat. Uap laut telah membuat kulit Yarima kecokelatan. Sebetulnya Yarima tak peduli dengan perubahan warna kulitnya. 

Lagi pula, ia perempuan yang tak pernah tersentuh kosmetik dan perawatan salon. Beberapa kosmetik yang dipakainya hanyalah bedak bayi dan lotion beraroma buah avokad.

Yarima tak suka berdandan, ia selalu merasa wajahnya menjadi aneh dengan sentuhan make up. Pernah sekali ia mencoba berdandan dengan mengoleskan lipstik, pensil alis, dan blush on di pipinya, lantas ia menatap wajahnya di cermin. 

Yang ada ketika itu hanyalah perasaan lain. Ia merasa wajahnya tak cocok dengan polesan-polesan kosmetik. Semenjak itu Yarima menjauhkan peralatan kosmetik dari meja riasnya. Perempuan itu juga selalu pusing dengan bau parfum. Itu sebabnya, Yarima juga tak suka pakai wewangian.

******

Yarima menutup bukunya. Ia menghela napas panjang. Hujan jatuh berisik di atas atap. “Ahh, ke mana Siha? Sudah tengah hari begini ia belum juga pulang,” Yarima bergumam.

Di rumah kolong ini, Yarima ditemani Siha. Gadis suku Bajo itu pernah kehilangan yang lebih dari Yarima rasakan. Siha kehilangan orang tuanya di usia enam tahun. 

Leppa, perahu beratap khas suku Bajo, yang dipakai ayah-ibunya melaut, tak muncul-muncul. Berbulan-bulan, Siha kecil menunggu ibu dan ayahnya pulang di ambang jendela, sampai suatu hari, Ua Ruis, paman Siha, datang membawa kabar menyedihkan itu. Gadis kecil itu paham, laut adalah sukma orang Bajo. Laut lebih mencintai ayah dan ibunya.

Yarima duduk memeluk lutut di kursi rotan. Sudah menikahkah Saul dengan perempuan itu? Rindukah dia pada Yarima? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul kembali di benak Yarima. 

Mendadak segala ingatan tentang impian di masa lalu itu muncul kembali, menyeruak satu per satu. Dulu Yarima ingin sekali menjadi penulis. Ia ingin sehebat Pram, Tolstoy, Marquez, Hemingway, Linda Christanty.

Papua, Pulau Rote, dan Pulau Lamalera adalah impiannya. Ia ingin mendatangi ketiga tempat itu bersama Saul. Ia ingin menulis dengan setting ketiga tempat itu. 

Ia ingin menulis sensasi perburuan paus di Lamalera dan menginginkan Saul mendapat foto jurnalistik yang baik di sana. Percakapan-percakapan bergairah di antara mereka, masih diingat jelas perempuan itu. Memantul-mantul di sudut pikirannya, menggedor- gedor hatinya.

“Kau tahu Saul, Lamalera yang kudengar tak hanya eksostis, tetapi dramatis. Di sana orang berburu paus secara kolektif. Daging ikan paus mereka sumbangkan kepada janda dan anak yatim. Berburu paus bagi orang Lamalera adalah mengalahkan ego dan mencari kedamaian. Dan kau tahu, hal yang paling seksi dari perburuan paus di Lamalera, sang penikam paus sebelum turun ke laut tak bisa berhubungan seks selama enam bulan! Ah, aku benar-benar ingin menulis di sana!” Mata Yarima terpejam mengucapkan rangkaian kalimat itu, seolah-olah ia telah berada bersama orang-orang Lamalera.

Alam, budaya, kehidupan manusia yang tak biasa-biasa adalah sesuatu yang membuat Yarima mengembuskan napas dan bercerita dengan penuh semangat.

Yarima dan Saul pernah bermimpi untuk melakukan perjalanan bersama lantas membuat buku catatan perjalanan yang berisi tulisannya dan foto-foto Saul. 

Sayang, karena lelaki itu juga, impiannya lepas. Impian itu menguap begitu saja setelah tahu Saul selingkuh. Lelaki yang ia pacari selama 1.800 hari, lebih memilih perempuan lain, perempuan yang baru dikenalnya di sebuah konser peliputan musik. 

Perempuan itu cantik, seorang pembaca berita di saluran televisi lokal. Dalam pikiran Yarima, jika lelaki yang meninggalkan, maka tak ada harapan untuk kembali.

Dulu Yarima menginginkan bermukim di Makassar dan kalau boleh ia minta pada Tuhan untuk berjodoh dengan Saul, supaya ia menetap di sana. Tetapi, impian hanya bisa direncanakan. Akhir ceritanya tak ada yang tahu.

Yarima tak sanggup melihat Saul selalu berganti-ganti perempuan. Ia memilih pergi diam-diam meninggalkan kota itu. Membawa luka dan kekecewaan.

“Siapa yang mesti kau pilih, aku atau dia, Saul?” rintih Yarima, pada suatu malam.

“Aku lebih suka dia, dia lebih matang darimu, dia bisa membuatku tertawa, dan aku lebih nyaman dengannya!”

Hati Yarima perih mendengar pengakuan terang-terangan Saul. Inikah lelaki yang sudah ia pacari selama lima tahun? Lelaki pertama yang meninggalkan banyak jejak di tubuhnya. Hanya beginikah jalannya?

Ah, tak ada gunanya marah, bukan? Marah hanya akan menyisakan rasa malu seperti yang dikatakan Benjamin Franklin. Beberapa barang yang ia bawa hanyalah setumpuk novel terjemahan dan beberapa buku catatan perjalanan.

Yarima memilih mengubur kenangan di Makassar. Menjauh dari kota yang terlalu banyak menawarkan luka. 

Ia mengabdikan diri menjadi guru sukarela di Pulau Kalupapi, tanpa sinyal, tanpa internet, listrik yang hanya menyala selama 6 jam, tanpa rental film-film Barat. Sedangkan Saul, tetap di Makassar, menjadi fotografer sebuah koran nasional di sana.

Selama lima tahun hubungan mereka, perpisahan sudah berpuluh-puluh kali terjadi, setiap Saul punya perempuan baru. Kadang-kadang dua kali putus dalam setahun seperti siklus musim, kemudian mereka memutuskan balik lagi, lalu kembali putus pada awal tahun kedua. 

Terkadang juga baru sebulan kembali, tiba-tiba mereka memutuskan berpisah lagi. Yang terkonyol, baru seminggu berbaikan dan sempat bercinta, minggu depannya bertengkar, saling menolak, berdiam diri dan akhirnya putus.

Berpisah, kembali, bercinta, bertengkar, saling menolak, saling berdiam diri itulah yang mereka jalani selama lima tahun. Meski berpuluh-puluh kali berpisah, pada akhirnya di antara mereka selalu ada yang saling mencari. 

Sampai akhirnya, Yarima tak tahan lagi. Ia ingin berpisah yang sesungguhnya, tanpa kembali. Rumah-rumah di atas laut yang berderak-derak seperti musik yang ganjil. terumbu karang yang indah, hamparan padang lamun, adalah obat yang ia harapkan menyembuhkan jiwanya. 

***

Suara kerosak pintu daun sagu dibuka terdengar dari arah depan. Lamunan Yarima buyar. Siha berdiri di ambang pintu dengan tubuh menggigil. Wajahnya pucat.

“Agusno… Agusno meninggal, dadanya disabet ikan pari!” Gemetar Siha menyampaikan kabar duka itu. Yarima menyambar sweater abu-abunya di jemuran beranda. Dua perempuan itu berlari ke dermaga.

Mama Agusno menangis keras, memeluk dan menciumi anaknya. Di sana tubuh bocah kurus itu terbaring kaku di atas papan dermaga. 

Melihat Yarima, mama Agusno menubrukkan tubuhnya dalam pelukan Yarima. “Ia murid yang pandai!” pelan Yarima bersuara. Yarima mengelus-elus punggung mama Agusno.

Rumah mama Agusno dipenuhi orang-orang yang datang melayat. Ada yang membawa kayu bakar, gula, minyak kelapa, kopi, dan beras. 

Semuanya untuk keluarga yang berduka. Mama Agusno menceritakan tanda-tanda yang dititipkan anaknya sebelum meninggal.

“Kemarin itu, Agusno ada tanya saya, ‘Mama, kalau sa (saya) ka laut, terus tidak bale (kembali), Mama marahkah? Rupanya, dia memang so te pernah bale (tidak kembali),” Mama Agusno terisak lagi.

Orang-orang yang mendengar ceritanya ikut terisak. Yarima meninggalkan kerumunan pelayat. Ia meminta Siha tetap tinggal, membantu keluarga mama Agusno memasak di dapur, untuk makan orang-orang yang datang mengaji dan baca doa nanti malam.

Yarima meniti titian kayu menuju rumah kolongnya dengan lemas. Ia ingat, anak itu selalu antusias belajar. Kadang-kadang ia datang ke rumah Yarima di tengah malam buta, hanya untuk satu soal matematika yang ia tak mengerti. Kematian selalu tak kenal usia. Kepala Yarima rasanya berat, betapa ia ingin berbaring.

Baca Cerita Pendek Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Lelaki dari Masa Lalu

Cerita Pendek: Rumah Impian

Cerita Pendek: Facebook Bapak

Artikel Asli