Cerita Pendek: Rumah Impian

Femina Dipublikasikan 08.42, 03/08 • Yustine Ari

Ukurannya persis 420 meter persegi, menghadap ke timur, makin ke belakang tanahnya makin melandai turun berjenjang. Tepat di ujungnya, ada sungai kecil mengalir tenang.

“Bukankah ini keajaiban?” Mataku membesar, bibirku menyungging indah. 

“Kutulis rumah impianku ini lima tahun lalu. Dan, tap! Semua terwujud sama persis dengan yang aku tulis.”

Sebuah buku dengan halaman terbuka kusorongkan ke wajah Miranda. Bukan buku karya penulis ternama. Ini hanya buku tulis tipis yang kubeli seharga dua ribu perak pada tahun 2007 silam. 

 Kusebut ini dreams book, buku impian, di mana aku menulis semua yang aku inginkan untuk masa depanku. Miranda mengernyit. Tangannya yang halus membuka-buka buku impianku.

“Jujur saja, kudapat ilmu ini sewaktu aku ikut bisnis multilevel marketing. Yah, walaupun bisnis itu pernah membuat keuanganku hancur lebur, minimal masih ada ilmu berguna yang bisa kupetik…. Mau kupinjamkan bukunya?”

“Buku ini? Buat apa?”

“Bukan buku ini, tapi buku The Secret, karya Rhonda Byrne. Buku itu mengajarkan kita bagaimana cara mendatangkan impian menjadi kenyataan dengan cara ajaib….”

“Seperti rumah impian hadiah mertua?” Intan menyeruduk masuk dengan senyum aneh.

“Justru di situ ilmunya. Kita hanya perlu menuliskan, memvisualisasikan mimpi kita. Tak perlu memikirkan datangnya dari mana, dari siapa, atau seperti apa,” sigap aku menangkis serangan tiba-tiba Intan.

Intan menyeringai, “Anggap saja ini keberuntunganmu, Han! Dan jujur saja, aku iri dengan keberuntunganmu itu.”

Miranda melirikku.

“Ada banyak mimpiku di buku itu. Aku tidak pernah memikirkan bagaimana datangnya. Yang penting aku mendapatkan yang aku mau,” tuturku, sambil menebar senyum lebar.

“Termasuk mimpimu punya mertua berada, yang sangat peduli dan sayang sama kamu?” Miranda nyaris memekik. Telunjuk lentiknya menunjuk satu halaman di bukuku.

“O’ooo… tidak seharusnya kamu melihat semua.” Cepat kurebut buku di tangan Miranda.

“Ayo, arisannya bubar, Ibu-Ibu… saatnya bekerja!” Intan menepuk tangan tiga kali, kebiasaannya tiap kami mulai keasyikan bergosip.

Miranda dan aku segera menuju meja masing-masing.

“Han, kupinjam bukumu. Besok kau bawa, ya?” Intan berkata dengan mimik datar. 

“The Secret….”

“Hei, Hannah meminjamkan padaku terlebih dulu!” Miranda langsung protes.

“Mengalah sedikit, Nyonya Hendri. Kasihan perawan tua ini, sudah merindukan jodoh impian,” Intan mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada.

“Kamu sudah bertunangan dengan Deni.”

“Tapi, ibunya Deni tidak sebaik mertua Hannah, yang sudi membelikan rumah impian….”

Aku mengulum senyum. Entah Intan benar-benar iri padaku atau hanya menyindir teoriku. Siapa peduli? Katakan saja aku orang beruntung. Tapi, tentang rumah ini, aku sendiri sungguh dibuat takjub. 

 Pertama kali Mas Wisnu menunjukkan lokasi calon rumah kami, bulu kudukku meremang seketika. Aku serasa masuk ke dalam mimpi yang kubuat sendiri. Terbata-bata kuhamburkan ucapan terima kasih kepada suamiku itu.

Lalu kutunjukkan lagi hasil goresan tanganku. Tak peduli sudah berapa ratus kali kujelaskan pada Mas Wisnu. Rumah mungil bercat warna kayu dengan banyak pohon buah: durian, mangga, kelengkeng, dan yang paling penting, melon dengan kulit halus oranye, serta kolam bujur sangkar tempat gurami dan ikan nila berenang pelan-pelan.

“Seperti ini. Inilah rumah impianku, surga duniaku, Mas.”

Langsung terbang hatiku ke langit jingga, saat kepala Mas Wisnu mengangguk setuju. Seakan-akan aku bisa melihat melon-melon bergelantungan di atas pot hitam, dan ikan-ikan berkecipak riang. Di situlah nanti tempat Tifanny kecil tumbuh, juga adik-adiknya yang segera kuhadirkan ke dunia.

***

“Kejutan!” ibu mertuaku membentangkan tangan. 

“Anggap saja sekaligus kado pernikahan kalian yang ketiga.”

Bukan rumah mungil berwarna senada kayu, apalagi tempat pohon durian tumbuh. Yang ada di hadapanku adalah rumah besar, dengan hamparan garasi menghadang mata. Tanah lapang yang kudamba telah ditindih semen dan keramik licin.

“Ibu beri sedikit bocoran, Han, mulailah belajar menyetir.” Beliau tertawa lepas sambil menunjuk garasi.

Aku melirik Mas Wisnu yang tampak lebih gembira dibanding ibunya. Kecewa tak mungkin lagi kucegah memapar rautku. Tak sedikit pun goresanku terwujud di sana. Surgaku….

“Inilah istana kita, Han.” Mas Wisnu memelukku kegirangan.

“Itu taman, ‘kan?” Aku menunjuk tanah kosong tak tersentuh bangunan. 

“Paling tidak aku masih bisa memetik melonku sendiri. Memakan sesuatu yang tumbuh dari tanah kita, pasti rasanya nikmat sekali.”

Mas Wisnu mengangguk cepat. Hanya saja, ibu mertuaku bergerak lebih cepat. Ia membayar tukang cat mahal untuk menutup rumahku dengan cat yang sama persis dengan rumahnya. Memasang gorden-gorden megah, perabot berkelas ditata sesak di tiap ruangan.

Baru kusadari, rumahku adalah replika rumah mertua.

Kugigit bibirku sampai sakit, ketika tempat melonku sudah penuh dengan anggrek-anggrek kesayangan ibu mertua. Air mataku meleleh, makin deras saja ketika Mas Wisnu mendekat dan mengecup keningku seraya berucap, “Kalau masih ingin melon, nanti kubelikan tiap hari.”

***

“Kamu tidak bersyukur, Han!”

Aku menggeleng. Tak kujawab, aku sibuk dengan air mataku. Ini bukan tentang makan melon tiap hari. Ini tentang impian yang batal terwujud.

“Kalau aku, sih, tersenyum lebar sampai ke kuping kanan kiri. Rumah bagus cuma-cuma.”

“Aku mencicil.”

“Apa?” Miranda dan Intan memekik berbarengan. Bersama-sama pula mereka menutup mulut ketika rekan yang lain melotot tak suka.

“Tanah dan rumah itu kredit dari mertuaku. Aku dan Mas Wisnu mencicil tiap bulan semampu kami,” terisak-isak aku berkata.

Miranda saling melirik dengan Intan. Lalu Miranda terbatuk palsu sambil menyorong bahunya ke badan Intan.

“Yah, Han… kurasa, ehm…kamu tetap harus bersyukur.” Intan tersenyum tipis.

“Betul, Han, coba kalau kamu dapat kredit dari bank, pasti cicilannya banyak, tuh. Kalau mertuamu, mungkin kamu absen mencicil sesekali juga mereka tidak mengirim debt collector ke rumahmu.”

“Iya….”

Dua sahabatku itu tertawa tak merdu.

Aku benar-benar tak bisa tertawa. Pohon-pohonku kering di pojok garasi, ikan-ikan yang kupesan tak pernah bisa kuambil. Dan hatiku perlahan ciut diimpit ruangan luas dengan perabot serba besar, yang bentuk dan warnanya hanya sebelas dua belas dengan milik ibu mertuaku.

Tiap ujung ruangan aku melihat ibu mertua berdiri di sana. Aku tak santai di depan televisiku, aku tak enak makan di meja makanku, aku tak bisa bernyanyi di kamar mandiku. Bahkan, aku tak bergairah lagi bercinta di dalam kamarku sendiri.

“Bagaimana bisa bermesraan jika aku merasa selalu satu ruangan dengan ibu mertuaku?” aku memekik.

Miranda terkikik.

“Tulangku jadi kaku semua jika mertuaku ada di rumahku. Ja’im, kikuk, takut salah. Bisa kubayangkan kamu seperti mayat hidup karena tiap hari merasa di rumah mertuamu.”

“Ah, kalian lebay,” tukas Intan.

“Kamu masih calon, In, semua masih manis. Kalau sudah jadi menantu sungguhan, kamu pasti rasa apa yang kurasa…,” jawab Miranda, sambil mengutip sepenggal lagu milik Kotak.

Mereka berdua tertawa lagi. Aku masih ingin meneruskan tangis kecewaku.

***

Pulang ke rumah. Di hari ke-52 setelah pindah ke tanah impian --yang terkubur bangunan besar-- ambisi orang tua Mas Wisnu.

Masih bisakah aku menyebutnya rumahku? Seumur hidup aku tak pernah menginginkan rumah dengan ruangan luas dan perabot yang hanya berjejer mematung tanpa fungsi apa-apa.

Aku menginginkan ruang-ruang yang sedang di dalam rumah mungilku, hingga di bilik mana pun aku berada masih dapat kurasakan degup jantung Tifanny atau embus napas hangat suamiku.

“Turun di sini?” Sopir taksi mengernyit ketika aku meminta turun di dekat jembatan.

Aku hanya tersenyum menjawab keheranannya. 

Tak guna kujelaskan kepadanya, aku cuma ingin sedikit membuang penat.

“Ibu baik-baik saja? Sungguh ingin turun di sini?” sopir taksi bertanya sekali lagi, ketika kubuka pintu, dan kakiku baru keluar sebelah.

Aku tersenyum tipis. Mungkin karena penampilanku yang sangat menunjukkan kegalauan. Rambut kusut, mata sembap… dan wajahku entah seperti apa sekarang. Sudah beberapa kali kulewatkan rutinitas facial di salon langganan.

Tepat di ujung jembatan, langkah gontaiku berhenti. Memandang deretan perumahan kumuh di bawahnya.

“Bayangkan jika kita membelinya sendiri, harus berapa tahun menabung? Kamu tidak bersyukur. Di luar sana banyak orang kerja keras mati-matian untuk mendapatkan rumah seperti milik kita.”

Suara keras Mas Wisnu dengan wajah berang merah, masih saja terpatri di telinga. 

Benarkah aku kurang bersyukur?

Salahkah jika aku menginginkan istana versiku sendiri, bukan versi orang lain, bukan versi mertuaku? Kukira dulu Mas Wisnu mengerti dan setuju.

Memandang rumah-rumah kardus lagi yang terhampar seperti jamur di atas jerami basah. Wajah-wajah kumal menyembul dari rongga yang berfungsi jendela. Atau pintu?

Aku mendesah. Mungkin Mas Wisnu benar, aku tidak bersyukur. Intan juga tidak salah jika iri dengan keberuntunganku. Dan kenapa aku marah jika ibu mertuaku berusaha membuat hidupku sama dengan hidupnya? Mungkin saja karena beliau teramat sayang pada menantu satu-satunya.

Tapi, bagaimana dengan aku? Aku tidak mungkin salah dengan impianku. Rumah mungil dengan kebun penuh melon bergelantungan….

Aku memejamkan mata. Sebutir air meluruh pelan.

Mas Wisnu bahagia dengan istana itu. Tifanny menyukai kamarnya yang dicat ungu muda, dan ibu kandungku berbinar bangga aku tinggal di rumah bagus. Semua bahagia dengan rumah itu, kecuali aku… jadi aku yang salah?

Aku menghela napas. Panjang… pelan. Masih ada sedikit perih di hati. Bentakan Mas Wisnu semalam. Ternyata dia lebih sayang pada ibunya daripada aku.. Ah… ah… tidak, tidak, jangan melebarkan masalah. Ini hanya tentang rumah. 

Mungkin aku memang harus berdamai dengan mimpiku. 

Kukeluarkan buku impianku. Bergetar, kubuka satu-satu. Ada banyak impianku sudah terkabul. Jika hanya beberapa yang tidak terwujud, bukankah itu wajar? Aku mengangguk untuk meyakinkan hatiku sendiri.

Tetapi, kenapa harus rumah impian itu? Bisakah kutukar saja dengan impian lain, misalnya tiga anak saja dari empat yang kudamba? Atau berlibur ke Swiss di usia empat puluh? Apa saja, asal jangan rumah yang akan kutempati sampai aku mati nanti. 

Hatiku kembali melepuh. Perih….

Oh, sudah berapa lama aku berada di sini? Hari telah gelap dan bertambah dingin. Telepon genggamku mati sedari tadi. Pasti Mas Wisnu cemas. 

“Hai rumah mewah, ehm… rumahku, aku akan pulang kepadamu,” lirih kubisikkan. 

Aku tak ingin sampai mataku mendengar. Aku sudah terlalu banyak menangis.

Kubalikkan badan untuk bergegas pulang. 

Sial, hak sepatuku yang runcing terimpit aspal retak. Kutarik sekuat tenaga. Ugh! Tubuhku oleng. Refleks kugapai badan jembatan di sampingku yang ternyata sangat licin. Aku merasa seperti ada yang mendorong hingga hampir terpelanting menuju ke bawah.

“Hannaaah!!!”

Tiba-tiba Mas Wisnu sudah memelukku.

“Jangan, jangan lakukan ini… Tolong, Han, pikirkan Tifanny!” lelaki tinggi itu berseru dan menangis.

“Hannah… aku tidak menyangka kamu senekat ini,” ada suara Miranda di belakang Mas Wisnu. Dia juga menangis. 

Intan, Deni, Hendri, ibu mertuaku…. Semua berdiri dengan muka pucat.

“Jangan lakukan ini padaku, aku mencintaimu. Maafkan aku,” Mas Wisnu menyusut isaknya. Tangannya masih memelukku erat. Makin erat. Bibirnya bertubi-tubi mendarat di seluruh wajahku yang melompong kebingungan.

“Sudah kuceritakan semua kepada Wisnu, Han. Bahwa selama ini kamu sering nangis di kantor, stres memikirkan rumah impianmu…. Semua masih bisa dibicarakan, ‘kan, Nu?” Miranda berkata lagi dengan nada sengau.

“Iya, iya, tentu,” suamiku menjawab buru-buru.

“Jangan lakukan hal konyol ini lagi, Han. Kamu pikir dengan mati semua beres apa?” Intan dengan sifat galaknya tetap tak bisa menyembunyikan air mata dan kecemasannya terhadapku. Jadi, mereka berpikir aku akan….

“Awas kalau ini terjadi lagi, Nu!” tambah Intan.

“Aku janji, In.”

“Jangan janji denganku, Bodoh…,” ujar Intan.

“Eh, iy-iya, iya, iya, iya.” Semua tertawa mendengar jawaban gagap Mas Wisnu. Meski tawa yang terkesan dipaksakan, tapi, entah mengapa, napas lega menyeruak di sekitar kami.

***

Aku masih mau punya empat anak. Dan berlibur ke Swiss di ulang tahunku keempat puluh nanti. Memanen buah-buahan dari kebunku sendiri satu tahun lagi. Membuka toko buah organik yang sehat….

Aku hanya perlu merevisi satu dua tulisan di buku impianku dan berdamai dengan kenyataan yang tak selalu sama persis dengan yang tertulis di sana. Biar impian itu datang menghampiri aku, entah dengan cara apa dan bagaimana.

Baca Cerita Pendek Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Ini Bukan Impian Zahra

Cerita Pendek: Pertemuan Tanpa Nama

Cerita Pendek: Kertas Terbang

Artikel Asli