Cerita Pendek: Ritual Petang

Femina Dipublikasikan 10.37, 19/05 • Ruwi Meita

Saat aroma wedang uwuh tercium pada rembang petang yang dingin, Kabut melipat selimutnya dengan takzim. Seperti sebuah ritual yang sangat penting, dia melakukannya dengan hati-hati sekaligus ragu-ragu. Setelah terlipat rapi dengan lebar lipatan dua jengkal tangannya dia meletakkan selimut itu di atas bantal. Matanya yang luruh dalam kabut tipis, meneliti hasil lipatan selimut itu. Wajahnya bergerak janggal, seakan patah. Ada yang salah pikirnya.

           

Sudah sembilan belas tahun Kabut tak bisa mengingat nama aslinya. Hanya saja saat Bapak memanggilnya Kabut, dia menoleh. Entah karena merasa dipanggil atau karena gerak refleks, tak ada yang tahu. Nama itu cocok untuknya. Sesuatu di dalam bola matanya seperti kabut, rambutnya sewarna kabut, gerakan tubuhnya selalu ragu-ragu dan dingin seperti kabut. Hanya saja Kabut yang ini tidak akan pernah bisa diretas oleh matahari sebab dia berjalan menuju lubang hitam. Pelan namun pasti, Kabut sedang menuju kenihilannya sendiri.

Mayang menyandarkan kepalanya pada ambang pintu. Sudah sepuluh menit Mayang memperhatikannya. Pada saat seperti itu Mayang harus menahan diri untuk masuk, meskipun Mayang sangat ingin menutup jendela. Nyamuk-nyamuk kebun sudah beterbangan di dalam kamar. Seekor nyamuk yang paling gemuk hinggap pada dahi Kabut. Dia sama sekali tidak terganggu. Dia tidak sadar jika posisi diamnya sangat menguntungkan nyamuk-nyamuk kelaparan itu. Namun, tiba-tiba dia meraup selimut itu dengan kedua tangannya lalu membuyarkan lipatannya. Ujung selimut luruh menyentuh ujung jari kakinya. Nyamuk itu terkejut dan terbang menjauh. Kabut melipat selimut itu dari awal kembali.

           

“Wedangnya, Nduk,” kata Bu Darni dengan setengah berbisik. Seorang perempuan sepuh membawa baki berisi cangkir bening. Onggokan daun kering berjejalan di dalam wedang itu. Mayang mengernyitkan dahinya, lalu menunjuk ke sebuah meja di dekat pintu.

           

“Sekalian jendelanya ditutup. Tapi pelan-pelan,” jawab Mayang juga dengan setengah berbisik. Bu Darni mengangguk. Perempuan tua itu melangkah hati-hati menuju jendela setelah meletakkan wedang uwuh. Mayang beringsut pelan ke kursi di dekat meja dan duduk. Kabut melirik Bu Darni dengan curiga. Gerakan melipat selimut tertahan sebentar. Bu Darni tersenyum lalu menunjuk jendela. Kabut memiringkan wajahnya dengan gerakan patah. Bu Darni menunggu dengan sabar. Saat Kabut sudah mulai tak acuh dan menyibukkan diri dengan tangannya, Bu Darni baru menutup jendela lalu keluar tanpa mengucapkan sepatah kata.

           

Kabut meletakkan lagi selimut yang sudah dilipatnya. Aroma wedang uwuh yang memenuhi kamar membuatnya menengok pada Mayang. Dia menatap dengan tatapan bertanya, meneliti tiap detail wajah Mayang. Atas bawah, bawah atas seperti alat pemindai. Ini saatnya Mayang harus meminum wedang uwuh yang dulu sangat dibencinya. Bapak pernah berkata pada Mayang, ”Mayang, kau harus belajar menyukai wedang uwuh. Ini penting.” Dulu Mayang selalu protes namun pada akhirnya Mayang menyadari jika dia harus meletakkan semua mimpinya demi ritual wedang uwuh ini. Setahun lalu Bapak meninggalkan sebuah catatan kepada Mayang kenapa dia harus belajar menyukai wedang uwuh. Mayang harus menjadi penerus ritual ini demi Kabut. Kuliah seni di Prancis ditunda untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. Mayang harus menerima kenyataan jika mimpinya hanya sebatas kota yang ditinggalinya ini. Dan keahliannya melukis harus dipakainya untuk mencari tambahan uang kuliah.

           

“Suatu hari nanti kamu akan meraih mimpimu. Aku tidak menyuruhmu untuk melupakannya. Aku hanya ingin kamu menundanya,” kata Bapak. Mayang bisa menunda mimpinya, meski dia belum sepenuhnya menyukai wedang uwuh. Dulu melihat warna wedang itu saja sudah membuat Mayang bergidik. Jika saja bukan karena dia menghormati Bapak, Mayang tidak akan menyentuh wedang itu.

           

“Kenapa tidak menyaring ampasnya?”

“Maka namanya bukan lagi wedang uwuh. Artinya memang sampah, tapi sebetulnya dulu minuman ini hanya boleh diminum oleh para priayi keraton.”

“Seharusnya dinamai wedang ningrat.”

“Ya, kamu bisa menamainya apa saja, namun wedang ini tetap terlihat seperti sampah daun kering.”

“Jika wedang itu disaring, penampakannya seperti air sirop merah. Aku bisa berpura-pura sedang minum sirop,” kilah Mayang.

           

“Kamu tak mengerti, Mayang. Wedang ini seperti ingatan. Sepanjang hidupmu kamu menumpuk semua ingatan di dalam kepalamu. Ini seperti memasukkan satu per satu rempah dalam wedang ini. Jahe, cengkih, secang, daun serai, akar serai, kapulaga, pala, daun pala, dan jangan lupa gula batunya. Ingatan pahit, manis, pedas, ataupun pengar berbaur jadi satu. Saat kamu mencoba mengenangnya kamu bisa memilahnya dengan cara membagi rasa. Saat semua itu bercampur aduk, kamu hanya bisa merasakan satu hal.”

           

“Apa?”

         

Bapak memilih tidak mengatakan jawabannya pada Mayang sebelum Mayang mencobanya. Memang pada akhirnya Mayang harus meminum wedang uwuh tiap sore selama setahun belakangan ini. Namun, sampai sekarang Mayang masih belum menemukan jawabnya kecuali rasa pedas manis.

           

Kabut yang duduk di ranjang itu menatap Mayang curiga saat Mayang hanya mengangkat cangkir wedang uwuh, tanpa meminumnya. Wajahnya yang tadinya curiga berubah gelisah. Dia mencengkeram selimut yang sudah rapi. Mayang tersenyum padanya.

           

“Aku sudah pulang. Terima kasih wedangnya,” kata Mayang, lalu menyeruput wedang itu. Pelan-pelan perempuan itu mengendurkan cengkeraman tangannya. Dia masih mengawasi Mayang, sementara tangannya meratakan kembali tekukan selimut yang sudah dibuatnya.

Rasa hangat menyentuh kerongkongan Mayang. Gadis itu mengernyitkan hidungnya. Sampai sekarang Mayang belum bisa menerima rasa wedang ini. Sejak dulu Mayang memang tidak suka minuman rasa pedas. Dia menghindari permen rasa pedas dan beraroma mint. Mayang masih ingat betul saat kecil dia harus dipaksa minum obat batuk. Lebih baik merasakan pahit daripada pedas. Saat rasa hangat menghilang, Mayang teringat kembali pada wajah Bu Darni ketika Mayang pulang. Pembantu rumah tangga itu tampak kalut.

“Tadi sewaktu saya hendak menyikat giginya, dia menjerit. Dia mengira saya hendak merontokkan giginya.”

“Dia takut pada sikat gigi?”

“Ya, padahal kemarin dia masih tenang saat saya menyikat dan memandikannya.”

Saat kecil Mayang melihat sikat gigi seperti ulat bulu sehingga dia malas menyikat giginya. Apalagi rasa pasta gigi yang pedas makin memperparah kemalasannya. Mungkin Kabut juga melihat sikat gigi sebagai hal yang berbeda. Mungkin juga jauh mengerikan dari apa yang dilihat Mayang. Hal-hal yang biasa akan berubah seperti monster saat seseorang tak lagi mengenalnya. Sesuatu yang terputus adalah sebuah ketidaktahuan. Seperti lubang hitam. Tidak ada yang tahu apa yang ada di baliknya sebab tak seorang pun mengenalnya. Namun, siapa pun akan gentar terisap dalam gelap dan kenihilan. Bagi Kabut, sikat gigi adalah lubang hitamnya.

           

Kabut memang tidak pernah bisa mengingat lagi. Dia mengalami penurunan daya ingat setelah melahirkan anak pertamanya. Perempuan itu baru hamil saat dirinya berumur 43 tahun, padahal dia sudah menikah saat dia berumur 27 tahun. Alzheimer yang datang terlalu pagi seperti hidup dalam kematian. Dia tidak ingat siapa suaminya, tidak pernah tahu bayi yang dilahirkannya sudah dewasa.

Uniknya ada dua ingatan yang masih tersisa. Dua hal itu seperti dua pilar yang berdiri di tanah rapuh. Sedapat mungkin Kabut memeluknya sebagai cadangan nyawa terakhirnya. Dia hanya bisa mengingat aroma wedang uwuh dan momen saat Kabut mengepak baju bayinya ke dalam tas sebelum Kabut pergi ke rumah sakit, 19 tahun yang lalu. Mayang tidak mengerti kenapa dua hal yang sepele itu justru selalu diingatnya. Bapak memperlakukan Kabut dengan telaten. Baginya, Kabut adalah guci rapuh yang tinggal menunggu waktu pecahnya. Sedapat mungkin Bapak menundanya dengan aroma wedang uwuh. Hal yang selama ini dimintanya kepada Mayang. Ritual wedang uwuh.

Sebelum Kabut melahirkan, dia selalu membuatkan wedang uwuh tiap sore sebagai minuman selamat datang untuk suaminya yang baru pulang bekerja. Selama bertahun-tahun dia memilih rempah terbaik yang dikeringkan dengan hati-hati. Kabut memasukkan semua rempah itu dengan takaran yang pas sehingga aromanya selalu sama. Mayang memahaminya dari sudut pandang jiwa seninya. Ini sama halnya dengan mencampur warna. Ada puluhan jenis warna biru. Mayang harus mengetahui takaran yang tepat untuk sebuah warna biru tosca. Jangan sampai warna biru terlalu mendominasi atau warna kuning terlalu menyala. Sama halnya dengan aroma wedang uwuh. Jika terlalu banyak jahe, aromanya terasa pedas. Jika terlalu banyak serai, aromanya terlalu wangi. Aroma yang pas hanya bisa diciptakan oleh Kabut. Bapak harus melakukan percobaan selama tiga tahun demi mendapatkan aroma yang semirip mungkin dengan buatan Kabut.

Bagi Mayang, semua ini sangat rumit. Dia harus pulang sebelum jam lima, lalu membuat wedang uwuh dengan bantuan Bu Darni. Dia harus menyeruput wedang uwuh-nya tepat jam lima di samping Kabut supaya Kabut merasa tenang. Jauh di dalam ingatannya, Kabut merasa ingat seseorang yang sangat istimewa dan sangat mencintai wedang uwuh. Meski dia tidak pernah ingat siapa orang itu. Mayang membutuhkan banyak sekali cadangan ketegaran untuk melakukannya secara monoton tiap hari, hal yang sama seperti yang dilakukan Bapak. Dan setelah ritual ini selesai, Mayang harus memelihara ingatan yang kedua, yaitu membantu Kabut membereskan baju bayi ke dalam tas.

Kabut masih terdiam. Mayang melirik jamnya. Seharusnya Kabut akan berjalan menuju keranjang pakaian dan memasukkannya ke dalam tas yang tergeletak di bawah. Mayang mulai gelisah. Dia berdiri dengan hati-hati dan berjalan ke arah Kabut. Perempuan itu mengambil sikap siaga. Mayang tersenyum menenangkan.

“Bukankah kau harus mengepak baju-baju bayi itu?”

Kabut menaikkan alisnya. Kabut di matanya makin pekat.

“Untuk apa?”

Kaki Mayang mundur beberapa langkah. Sebelumnya Kabut tidak pernah bertanya kenapa dia mengepak baju. Semua dilakukannya dengan otomatis, seakan ingatannya berhenti pada saat dia mengepak baju bayi. Kegundahan menyeruak di wajah Mayang.

“Aku akan membantumu mengepak baju-baju itu,” kata Mayang sambil berusaha menutupi kecemasannya. Dia meraih bahu Kabut, membantunya berdiri. Namun tubuh Kabut kaku. Matanya bergerak bingung. Otot-otot kakinya tegang. Dia tak bisa mengikuti instruksi Mayang untuk berdiri. Hati Mayang luruh dan hancur. Kabut tidak ingat bagaimana cara berdiri. Mayang tidak bisa memaksanya atau Kabut akan menjadi histeris. Pelan-pelan Mayang mengelus punggung Kabut. Saat tubuh itu mulai melemas Mayang merebahkan Kabut ke ranjang. Perempuan itu masih memutar matanya dengan gelisah. Mayang menggenggam erat tangannya. Pada saat itu dia sadar tas dan semua baju bayi itu telah terisap ke lubang hitam, sama halnya dengan sikat gigi. Satu pilar telah hancur.

“Pejamkan matamu. Tidurlah.” Suara Mayang bergetar. Jari-jari Mayang membantu mata tua itu terpejam. Kabut baru bisa terlelap setelah seperempat jam. Mayang menunggunya dengan sabar, sama tabahnya dengan air mata yang menggantung di ujung matanya.

Mayang memalingkan wajahnya ke arah cangkir wedang uwuh di meja.                                     

Tangannya meraih wedang itu dan menatapnya dengan tatapan yang telah menghujan. Air mata tak selamanya tabah. Kali ini wedang uwuh hanya satu-satunya pilar ingatan yang masih berdiri. Mayang tak tahu akan berapa lama lagi dia melakukan ritual wedang uwuh. Bapak tidak bisa lagi melakukannya. Setahun lalu dia telah meninggal dunia. Itulah kenapa dia meninggalkan catatan panjang kepada Mayang tentang ritual wedang uwuh dan kenapa Mayang harus melakukannya.

“Ingatan pahit, manis, pedas, ataupun pengar berbaur jadi satu. Saat kamu mencoba mengenangnya kamu bisa memilahnya dengan cara membagi rasa. Saat semua itu bercampur aduk, kamu hanya bisa merasakan satu hal.”

“Apa?” gumam Mayang. Dia menyeruput wedangnya. Kali ini dia tidak langsung menelannya. Dia menahannya selama sepuluh detik. Air matanya mengalir lebih deras. Mayang sadar hidup adalah jawabannya. Dia merasa hidup sebab dia masih bisa mengingat dan membagi rasa. Sama halnya dia merasa hidup dalam kesedihan yang pekat ini, sebab dia masih bisa mengingat Kabut sebagai ibu yang telah melahirkannya 19 tahun yang lalu. Seorang ibu yang tidak pernah mengenalnya sampai detik ini.(f)

 ***

Baca Cerita Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Cupcake Untuk Kaka

Cerita Pendek: Utuh

Cerita Pendek: Aroma Dapur Tetangga

Cerita Pendek: Karena Rindu

Artikel Asli