Cerita Pendek: Rinjani

Femina Dipublikasikan 06.47, 07/07 • Adeste Adipriyanti

“Lihat anak-anak zaman sekarang, mereka begitu malas menggunakan kakinya,” bisik Dibyo, sambil memelototi tiga anak yang nyaris menubruknya. Tapi, mereka tampak tak peduli, malah makin asyik meluncur dan berteriak-teriak. “Jangan belikan anak-anak kita sepatu beroda semacam itu. Aneh-aneh saja.”

Galuh, istrinya, hanya menoleh sekilas tanpa minat.

“Kita harus mengajarkan anak-anak kita olahraga. Terserah, kamu mau memasukkan anak perempuan kita ke sekolah balet atau tari tradisional, yang pasti kita harus membiasakan mereka bergerak. Kita harus ajak mereka naik gunung, main ke pantai atau ke kebun binatang. Kita perlu memperkenalkan mereka kepada alam. Ya, seperti kita sewaktu muda,” Dibyo kembali bersabda.

“Kamu, kok, tidak bilang sebelumnya mau menjenguk Susan?” tanya Galuh, tidak merespons reaksi suaminya.

    “Lho, memangnya kamu tidak mau menengok dia?” Dibyo balas bertanya.

    “Bukan begitu maksudku. Aku kan bisa mempersiapkan segala sesuatu terlebih dulu. Kalau begini, semuanya jadi serba mendadak,” jawab istrinya.

    “Aku sudah membeli ini, beres, ‘kan?” Dibyo nyengir sambil mengangkat sekeranjang penuh aneka buah.

    “Kamu pikir kita hendak menjenguk orang sakit? Kita seharusnya mampir ke toko peralatan bayi, bukannya dikasih buah-buahan.”

    “Ya, sudah, nanti kita susulkan saja kadonya. Kamu jangan tegang begitu, dong.” Dibyo mengawasi gerak-gerik istrinya sambil menyenggol siku sang istri.

Koridor terang benderang itu dipenuhi bau minyak telon dan wangi bedak bayi. Rengekan dan tangisan berpadu jadi satu. Anak-anak berkejaran liar, ada juga yang diam meringkuk, tenggelam dalam mainan elektronik. Terlihat jelas ada dua kubu manusia di sini, orang tua yang cemas dan orang tua yang semringah.

    “Luh, lihat itu lebih aneh lagi!” Dibyo nyaris berteriak. Ia menginstruksi sang istri untuk mengikuti arah kepalanya. “Keterlaluan! Macam anjing saja.”

    Mereka melihat seorang pria muda melenggang sambil menarik anaknya dengan tali pengikat yang terkait di punggung. Anaknya menggeliat lincah ke sana kemari, tapi tak bisa terlalu jauh.   

 “Kamu masih kesal, ya, karena aku tidak memberi tahu kamu lebih dulu kalau kita mau ke sini?” 

Mereka sudah tiba di depan ruangan yang hendak dituju. Galuh hanya menunduk. Ada satu kekhawatiran yang menggelayut di hatinya. Tapi, bagaimana cara menyampaikannya kepada Dibyo?

Belum juga buka suara, seorang wanita paruh baya dengan rambut disasak tinggi menjulang menghampiri dan menggiring mereka masuk.

“Lho, kalian, kok, di luar saja. Ayo, masuk ke dalam. Susan, tebak siapa yang datang?” Suara wanita itu terdengar nyaring dan melengking. 

Mereka berdua tampak kikuk. Aktivitas dalam kamar itu jadi kian sibuk. Kerabat Susan yang datang lebih dulu kini mulai berebut menyediakan bangku, meletakkan bingkisan mereka di atas tumpukan kado lain, menawarkan kue kering dan buah, atau sekadar menyingkir memberi ruang. Kamar itu begitu semarak dengan balon, hiasan dinding warna-warni, hingga buket-buket bunga berukuran besar.

    Wajah Susan, seperti ibu baru lainnya, meski terlihat kelelahan, tampak begitu bercahaya. Tidaklah berlebihan sebenarnya ungkapan itu. Wajahnya memang dua hingga tiga tingkat di atas bahagia. Paras seorang ibu yang baru saja melahirkan bayi yang cantik dan sehat.

    Sebaliknya, tubuh Galuh seolah menciut. Raut mukanya kusut. Bukannya tidak gembira menyambut kehadiran anak sahabatnya itu, tapi ada semacam kegelisahan yang membebani dirinya. Tebersit pula rasa iri, namun coba ia singkirkan sesegera mungkin. Ia pandangi suaminya yang juga begitu ‘bercahaya’ melihat bayi merah yang tengah tidur di pangkuan Susan.

“Ah, manis sekali anakmu, San. Hidungnya persis kamu, tapi mukanya mirip suamimu.” Dibyo memain-mainkan jari sang bayi yang masih keriput sambil pasang muka tertawa.

    “Sudah lama, ya, kita tidak bertemu. Kalian sudah punya berapa anak?” tanya Tante Mieke, ibu Susan, yang tadi menggiring mereka masuk, sambil memasukkan beberapa sendok gula untuk tiga cangkir teh hangat.

    Mengagetkan. Tanpa peringatan.

    “Kami belum dikaruniai anak, Tante. Doakan saja segera,” Dibyo dengan tangkas menjawab.

    “Kalian sudah berapa lama menikah?”

    “Tujuh tahun.”

    “Sudah lama juga, ya. Jangan-jangan kalian sempat menunda?”

    “Kami memang tidak mau terburu-buru. Mau menikmati kebersamaan berdua dulu.”

    “Kenapa, sih, anak zaman sekarang sukanya menunda-nunda. Menunggu mapan baru mau menikah. Setelah menikah, sibuk sendiri-sendiri. Lebih betah di kantor daripada di rumah sendiri.”

     Susan mendelik, memberi kode pada ibunya untuk berhenti bicara. 

     “Sudah periksa ke dokter kandungan, belum? Kalau memang tidak ada hasilnya, cobalah kalian ke pengobatan alternatif.” Tante Mieke tak peduli, ia terus nyerocos.

    “Sudah banyaklah, Tante. Tapi, mau bagaimana lagi, memang belum dikasih.” Dibyo kelihatan gusar, tapi nada suaranya tetap tenang.

Galuh diam saja, ia biarkan suaminya menjawab.

“Kalian berkejaran dengan waktu, lho. Tidak mau mengadopsi saja?”

    “Kami masih berharap bisa punya anak kandung. Soal adopsi belum kami pikirkan.”

    “Maaf, lho, ya, tapi terkadang anak pancingan itu perlu. Banyak pasangan yang setelah mengadopsi dikaruniai anak kandung.”

     Susan mengelus tangan Galuh yang sedari tadi diam saja. “Maaf, ibuku memang suka begitu. Heboh mengurusi masalah orang lain,” bisik Susan. Galuh hanya menyunggingkan senyum terpaksa. 

     “Tapi, kesannya, kok, kejam, mengadopsi anak hanya sebagai pancingan,” balas Dibyo, dengan nada meninggi. 

     “Ya, bukan begitu maksud Tante. Toh, banyak yang berhasil.”

          

      Tante Mieke menyodorkan cangkir teh yang masih mengepulkan uap panas untuk Dibyo dan Galuh. Kehangatan teh tersebut rupanya mampu meredam sejenak ketegangan di antara mereka.

      “Sudah, sudah, sudah tidak perlu dibahas lagi. Sekarang kan ada Rinjani. Tante Galuh dan Om Dibyo bersedia kan jadi bapak dan ibu baptisnya?” Susan berupaya memecah kecanggungan yang terjadi. Tapi, kali ini gantian wajah Galuh yang menegang. Sekujur tubuhnya mendadak dingin.

     “Kamu bilang siapa nama anakmu tadi?” Raut muka Dibyo berubah.

     “Rinjani. Kami memang belum sempat mengumumkan nama sang bayi, habis kami kebingungan memilih nama yang tepat.”

     Dibyo tertegun. Tak percaya dengan jawaban yang baru saja ia dengar.

“Akhirnya, kami pilih nama pemberian Galuh. Terima kasih Tante Galuh, namanya bagus sekali,” ujar Susan, sambil mengangkat tangan anaknya yang mulai mengerjap bangun.

     Galuh melengos. Ia tak berani melihat tatapan Dibyo. Cepat atau lambat suaminya akan tahu.

     “Iya, Om Dibyo dan Tante Galuh bertemu pertama kali saat hiking di Gunung Rinjani. Iya, ‘kan?” Susan memainkan suaranya jadi suara anak kecil dan kembali memainkan jari anaknya, seolah-olah Rinjani yang bicara.

     Tangis Rinjani pecah. Susan mencoba menenangkan putri pertamanya itu sembari mengayun-ngayun pelan. Tante Mieke ikut sibuk mengelus-elus cucunya itu, sembari meniup-niupkan angin lewat bibirnya. Suara tangisnya malah makin membahana.

     Semua orang ikut ribut dan menghibur si kecil, kecuali Dibyo. Dan tentunya Galuh yang salah tingkah.

     “Mengapa Rinjani?” Dibyo memandangi si jabang bayi keheranan.

     “Kami sebaiknya pulang.” Galuh angkat bicara.

     “Dibyo tak apa-apa, ‘kan? Dia, kok, tampak aneh. Semoga bukan karena ibuku. Maaf, ya, Luh.”

      Galuh menarik lengan suaminya dan dengan sangat tergesa lenyap dari pandangan.

     

***

     Keheningan ini berjalan dalam kemurungan. Sepanjang perjalanan menuju mobil, Dibyo diam saja. Galuh pun tak berani memulai pembicaraan. Ia tahu suaminya marah besar.

     “Kamu keterlaluan. Rinjani kan nama anak kita kelak, kenapa kau berikan pada Susan?” Dibyo akhirnya angkat bicara. Ia banting pintu mobil.

     “Itu yang sebenarnya mau aku bicarakan tadi,” jawab Galuh, takut-takut.

     “Kenapa kamu tidak bilang? Itu nama anak kita.” Ada penekanan pada kalimat terakhir yang membuat Galuh makin nelangsa.

     “Aku capek menunggu sesuatu yang tidak akan terjadi.” Galuh nyaris memekik.

     Dibyo hendak memotong perkataan istrinya, tapi Galuh terus berbicara.

     “Maaf. Aku sudah memberikan nama anak kita untuk Susan. Aku hanya merasa, jangan-jangan aku memang tidak pantas menjadi ibu. Kita mungkin tidak ditakdirkan jadi orang tua.” Galuh menutup mukanya dengan kedua tangannya. Ia mulai terisak. “Kita tak perlu menunggu lagi lebih lama. Kita relakan saja.”

     “Apa-apaan kamu bicara seperti itu! Siapa bilang kita tidak bisa jadi orang tua. Kamu akan jadi ibu terbaik. Bersabarlah. Rinjani akan datang. Rinjani adalah doa yang belum terjawab.”

     “Rinjani adalah sebuah kerinduan yang tidak akan pernah datang,” balas Galuh lirih, nyaris tak terdengar.

     “Kita harus optimistis, kita pasti jadi orang tua. Aku masih percaya kita akan dikaruniai banyak anak.” Dibyo meraih tangan istrinya. Membimbing Galuh masuk dalam pelukannya.

      Mendengar kata-kata itu, air mata Galuh kian deras mengucur. Badannya terbungkuk-bungkuk, napasnya tersengal-sengal.

     “Maaf, tak seharusnya aku berikan untuk orang lain. Tapi, kita harus belajar menerima kenyataan,” pekik Galuh.

     “Ssshh… ya, sudah. Semua sudah terjadi. Tenang saja, ada jutaan nama lain selain Rinjani. Kita akan menemukannya.” Dibyo menepuk-nepuk pundak sang istri.

      Galuh dihadang gelisah. Haruskah ia berterus terang, bahwa baru seminggu lalu ia mengetahui kalau rahimnya bermasalah. Haruskah ia beberkan bahwa yang tumbuh di dalam rahimnya bukanlah janin melainkan kista? Ia pandangi hiasan berbentuk bintang yang menggelayut di antara kaca spion dan bergoyang mengikuti laju mobil. Ia ubah posisinya hingga memantul sebaris tulisan, “Mama, Papa, Rinjani.” Galuh bergidik ngeri. 

      “Kamu pasti jadi ibu. Aku sangat yakin,” bisik Dibyo. 

      Tangis istrinya malah makin menjadi-jadi.

***

Baca Cerita Pendek Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Melamun

Cerita Pendek: Senja di Saigon

Cerita Pendek: Memori Yang Hilang

Cerita Pendek: Semangkuk Kenangan

Artikel Asli