Cerita Pendek: Pilihan

Femina Dipublikasikan 07.35, 05/08/2020 • Marisa Agustina

”Apa Ibu mendengar perdebatan kita? Apa ia ingin meringankan beban kita dengan

meminta Tuhan mengambil rohnya?”

Suasana hening dan senyap menyelimuti udara di antara ketiga anak manusia yang duduk dengan pasrah. Pikiran mereka melanglang jauh. Tak begitu peduli wajah-wajah yang lalu-lalang. 

Tak sadar dengan bau obat-obatan, suara bising pengunjung lain, tangisan anak, dan suster-suster yang sibuk hilir mudik, keluar masuk satu kamar ke kamar pasien lain.

Satu wajah tertunduk, wajah lain sedang berpikir keras, melirik ke segala arah dengan tatapan kosong dan hampa. Sekadar jiwa yang tak sedang berada di tempatnya. 

Dahi manusia satu lagi berkerut-kerut, sesekali tangannya menyentuh pipi, memejamkan mata, lalu memutuskan untuk berjalan mondar-mandir seolah sedang mencari inspirasi.

”Kau sudah lihat tagihan terakhir?” tanya Widya, anak kedua keluarga Sastro.

”Tiga puluh juta…. Empat hari dan sudah 30 juta,” kata Wanda, anak sulung.

”Terakhir kuingat masih sekian belas juta. Kenapa? Kenapa sudah 30 juta?” tanya Wisam, anak bungsu yang sifatnya emosional.

”Karena obat penahan itu, satu jam 180 ribu. Kau kalikan saja 24 jam selama 4 hari,” ujar Wanda dengan mimik pasrah, memegang tagihan terakhir biaya perawatan ibu mereka di rumah sakit itu.

Ketiganya kembali tertegun. Di dalam hati, mereka terus berharap dan berdoa akan kesembuhan orang tua mereka yang hanya tinggal seorang itu. 

Sudah 10 tahun ayah mereka meninggal karena sakit paru-paru. Saat itu, ketiganya belum bekerja. Ibu mereka hanya bisa pasrah dengan kondisi terburuk.

Kini saat ketiganya sudah mapan, mereka kembali dihadapkan pada situasi yang hampir sama seperti dulu.

”Aku mulai memikirkan kata-kata dokter tadi malam,” ucap Wanda, pelan.

”Wanda, hentikan! Apa kau tega melepaskan ventilator yang membantu Ibu bertahan hidup?” sergah Wisam, dengan marah.

”Hidup? Kau sebut itu hidup? Ibu makan dan bernapas melalui selang. Jantungnya bahkan dipompa dengan bantuan mesin. Untuk berapa lama? Sepuluh hari? Sebulan? Setahun? Sekarang kau tanya dirimu sendiri, apakah kau sudah memikirkan biaya perawatan Ibu selama 10 hari saja? Berapa puluh juta? Berapa ratus juta? Bagaimana kita akan membayar biaya rumah sakit? Asuransi Ibu tidak bisa membayari tagihan sebesar itu,” jawab Wanda, tak kalah emosi.

”Jadi kita akan menyerah? Hanya karena uang? Apa kau sadar atas ucapanmu? Demi Tuhan, ia ibumu juga!” Wisam berteriak.

”Benar! Ia ibuku, orang yang melahirkan dan membesarkan aku. Tapi, kita harus memikirkan kemungkinan paling realistis. Aku hanya ingin bertanya, apa kau sudah memikirkan kemungkinan jika Ibu sembuh? Apa kau yakin Ibu akan sembuh? Apa kau yakin seseorang yang kondisi tubuhnya semasa hidup saja sudah payah, ditambah lagi sekarang koma, kemudian akan kembali sehat dan normal? Kemungkinan Ibu sembuh tak sampai 10 persen….”

"Mengapa kau begitu pesimistis?” tanya Wisam lagi.

”Sudah, sudah. Sekarang duduk dan dinginkan kepala. Kita memang harus memikirkan segala kemungkinan. Wisam, rasanya kita tak bisa memungkiri kemungkinan terburuk. Daripada kau tambah pusing, lebih baik kau berpikir dengan tenang dulu,” Widya melerai perdebatan kakak dan adiknya.

”Tapi….”

”Aku tahu. Tapi, pada satu titik kita harus memutuskan. Aku mengerti kau tak ingin kehilangan Ibu. Kau tak berpikir kami mau kehilangan Ibu, ’kan? Tentu saja aku dan Wanda ingin Ibu sembuh, ingin Ibu keluar dari rumah sakit. Tapi, kau lihat sendiri kenyataannya, apakah mungkin besok, lusa, atau minggu depan Ibu akan membuka mata, makan, bahkan bernapas seperti biasa? Kau juga harus membandingkan keadaanmu sendiri yang harus menghadapi semua ini,” ujar Widya lagi.

”Apa maksudmu? Keadaanku?”

”Wanda punya 2 anak yang akan mulai sekolah. Butuh biaya besar. Aku sedang banyak tagihan untuk rumah. Kau sendiri sedang menabung untuk masa depanmu. Apa kau pikir mampu menanggung beban biaya rumah sakit Ibu yang minggu depan mungkin sudah ratusan juta besarnya?”

”Aku tak segan untuk berutang demi Ibu!” jawab Wisam, ketus.

”Kau benar, kita semua pasti berpikir begitu,” kata Widya lagi.

Semua kembali terdiam. Terlalu banyak hal yang dipikirkan. Wanda sendiri mulai bangkit untuk menghubungi suami dan kedua anaknya. Sudah 2 hari ia menginap di rumah sakit. Kurang tidur dan lelah berpikir.

”Kalau sudah begini, aku jadi iri kepada orang-orang kaya yang bisa dengan mudah membawa orang terkasih mereka untuk dirawat di rumah sakit tanpa peduli besarnya biaya,” Wisam bergumam sendiri.

”Aku tak ingin berandai-andai. Ini sudah takdir Tuhan,” jawab Widya.

Wisam kemudian mondar-mandir di depan ruang ICU, tempat ibunya dirawat. Dalam benaknya, ia sendiri tak punya keyakinan bahwa ibunya akan bertahan, bahkan dengan bantuan mesin canggih buatan Jerman itu. 

Hanya saja, ia tak ingin menyerah. Ia percaya akan kekuatan doa. Setidaknya doa pada Tuhan bisa memudahkan jalan baginya untuk mengambil keputusan.

Widya sendiri memutuskan tidur di atas sofa rumah sakit. Ia tak begitu terganggu oleh riuh suara-suara pengunjung rumah sakit. Kantuknya sudah tak bisa ditahan-tahan lagi.

Wanda baru saja kembali dari restoran di luar rumah sakit, membawa tiga bungkus nasi rames untuk adik-adiknya.

Sambil makan malam, ketiganya saling bertanya kabar keponakan mereka. Bertukar foto dan bercerita kelucuan-kelucuan anak balita, sampai soal sulitnya mencari pembantu yang bisa dipercaya.

Saat mereka selesai makan, dokter tiba-tiba keluar dari ruang ICU dan mendatangi mereka. Ia menyampaikan bahwa obat penahan sakit sebentar lagi akan habis. Dan akan ada tambahan selang lain. Yang artinya, perlu tambahan biaya lain dalam tagihan rumah sakit.

Wanda menatap dua adiknya yang sama-sama tak memberi respons apa pun. Wisam hanya tertegun. Kemarin-kemarin ia tak sebingung hari ini. Biasanya ia akan langsung mengiyakan. Semua demi kebaikan Ibu.

Wanda menarik napas dalam-dalam, lalu menatap dokter dengan tatapan tegar yang dibuat-buat. Ia harus memutuskan dan mengangguk tanda setuju pada penambahan obat dan selang.

Setelah dokter masuk kembali ke ruang ICU, ketiga wanita berusia tiga puluhan itu hanya duduk membisu. Tanpa pernah bersepakat, ketiganya sama-sama menatap layar televisi di ruang tunggu itu. 

Namun, mereka tak benar-benar menonton. Yang ada dalam pikiran mereka hanya Ibu, rumah sakit, biaya, dan… kematian.

”Biaya perawatan ruang ICU per hari lima juta rupiah, wufff… dan itu akan terlihat lagi di tagihan besok pagi,” Wanda bergumam pelan, lalu membuang muka, pergi ke toilet.

Widya dan Wisam masih tertegun dan sudah tak bisa lagi mengunyah roti yang masih tersisa di depan mereka.    

Widya sendiri sudah bicara dengan banyak orang hari ini. Suami, mertua, kakak ipar, sahabat, teman di kantor. Tak banyak yang bisa memberikan cerita baik tentang kondisi yang sedang ia alami. 

Mereka hanya bisa ikut mendoakan. Tapi, semua nada suara seolah menekankan bahwa pada akhirnya ia hanya harus ikhlas. Wisam benar, ingin sekali ia marah.

Ia ingin seseorang mengatakan bahwa ibunya akan bangkit dan sehat kembali. Bahwa ada satu cerita yang mengisahkan teman atau ibu seseorang pernah mengalami sakit yang sama, dirawat di ICU, dibantu mesin untuk bernapas dan akhirnya hidup kembali. Happily ever after.

Namun, tak ada.

Wisam sendiri sepertinya sudah tak punya energi bahkan untuk menyemangati dirinya sendiri. Perempuan itu memilih untuk merebahkan tubuh di atas sofa.

Widya bersandar di sofa panjang yang sama. Ia tak ingin berpikir. Walau ia sadar, tak mungkin membiarkan Wanda memutuskan masalah ini seorang diri.

”Aku tak tahu apa itu kebenaran Illahi, semua itu adalah rahasiaNya. Tapi, kalau kau yang berbaring di tempat Ibu sekarang, apa kau tidak sedih mengetahui anak-anakmu sudah menyerah dan tidak memperjuangkan kehidupanmu. Tidak menginginkanmu lagi?” akhirnya Wisam bicara setelah satu jam diam.

Wanda menoleh pada Wisam, tapi tak menjawab.

”Apa kau bisa melanjutkan hidup dengan perasaan bersalah seumur hidupmu?” tanya Wisam lagi, memunggungi kedua kakaknya.

”Kau tidak salah sama sekali, Wis. Tapi, apa menurutmu aku salah?” tanya Wanda.

”Kau memang tak salah. Tapi, apa kau tahu bahwa ini tak adil untuk Ibu?” tanya Wisam lagi.

”Ini juga tak adil untuk kita. Ibu akan menderita. Kita pun ikut menderita jika kondisi ini berlangsung terus-menerus tiada akhir. Apa aku jahat jika berpikir seperti itu?” Wanda masih berargumen.

”Tak adil… seseorang tak berhak untuk terus hidup hanya karena masalah biaya? Menjijikkan!” jawab Wisam.

”Ini bukan tentang uang. Tapi, lebih pada fakta akan kesehatan Ibu yang 90 persen tak mungkin kembali pulih lagi…,” jawab Widya. Ia tak bermaksud membela Wanda. Ia hanya sedang ikut berpikir.

”Pada akhirnya ini memang tentang uang. Dan siapa yang akan kau salahkan? Rumah sakit? Dokter? Pemerintah? Ibu? Kita? Tuhan?” Wanda memotong kata-kata Widya.

”Aku tak menyalahkan siapa-siapa, aku hanya jijik dengan keadaan ini. Aku benci dengan pembicaraan untuk memutuskan apakah Ibu harus terus hidup atau tidak. Sudah gila!” Wisam membalikkan badan, emosi.

”Hentikan kalian berdua! Malam ini kita istirahat dan berdoa. Tenangkan pikiran. Kita ambil keputusan besok pagi… dan menghadap dokter!” jawab Widya, dengan suara tegas.

Suasana hening kembali. Lampu-lampu masih menyala. Tiap lorong di rumah sakit ini sudah tampak sepi. Hanya satu dua perawat yang masih berjalan masuk ke ruangan, memenuhi panggilan pasien yang lagi-lagi mengeluh.

Wisam membenamkan kepala dalam bantal rumah yang ia bawa. Ia terisak seperti anak kecil, masih tak dapat memejamkan mata.

”Ia ibu yang memperjuangkan diriku selama sembilan bulan di dalam kandungan. Ia yang melahirkanku dengan susah payah, membesarkanku dengan kasih sayang tanpa minta balasan apa pun. Dan, di sini aku memikirkan untuk mengakhiri kehidupannya,” bisiknya lirih.

Wanda dan Widya tak bicara, keduanya ikut menitikkan air mata. Mengenang masa-masa ibu mereka masih sehat dan selalu menanti kehadiran mereka saat Lebaran tiba. 

Mengingat Ibu yang duduk di luar kelas menanti jam sekolah usai untuk mengantar mereka pulang.

”Bukan mengakhiri hidup, tapi mengakhiri penderitaannya,” jawab Widya, pelan. Ia sendiri tak percaya telah mengatakan itu tanpa merasa bersalah. Kini ia hanya bisa menggigit bibir. Seolah telah salah ucap. Ia seperti meminta Tuhan untuk mengampuninya. Ia berharap Tuhan membawa keajaiban pada jiwa-jiwa yang sedang gelisah dan meringkuk kedinginan di malam gelap ini.

Salah satu dari mereka masih terkenang pada masa-masa saat sang ibu masih bisa memeluk ketiga anaknya dan tertawa di saat sulit. 

Yang lain memikirkan esok hari tagihan akan mendekati angka fantastis. Entah bagaimana dan siapa yang akan membayari tagihan itu. 

Anak yang satu lagi terus memanjatkan doa dengan semua kekuatan yang dimiliki. Doa untuk Ibu dan doa untuk mereka bertiga.

Widya bangun lebih cepat dan segera sembahyang di musala rumah sakit. Tadi malam ia sendiri yang mengatakan bahwa pagi hari ini mereka harus sudah membuat keputusan. Tapi, sampai selesai sembahyang pun, ia masih tak punya keputusan.

Seharusnya mempertahankan kehidupan seseorang, siapa pun itu, bukanlah sebuah pilihan, namun merupakan sebuah keharusan. 

Tak perlu ada keraguan untuk itu. Namun, Wanda juga benar, akan berapa lama dan berapa banyak beban yang harus mereka pikul. Sementara di kehidupan lain masing-masing memiliki cita-cita dan harapan yang harus dikejar.

Ahh… andai bosnya mau mengangkatnya menjadi general manager pada pertengahan tahun lalu, andai ia mau ikut berbisnis dengan temannya tanpa khawatir, mungkin keadaan hari ini akan sedikit berbeda.

Tapi, itu hanya andai-andai, sama sekali tak diperlukan di saat seperti ini. Ini masalah hidup dan mati!

"Widya!! Wid… Widyaa!” Wisam berteriak-teriak.

Widya cepat-cepat bangkit dari duduk bersimpuh. Wisam kini memeluk Widya erat-erat dan menangis sejadi-jadinya.

Widya masih tak tahu akan apa yang terjadi, tapi ia sudah menduga satu hal. Hanya saja, ia ingin memastikan dan meminta Wisam untuk tenang. 

Ia memegangi Wisam, dan memapahnya untuk berjalan menuju ruang ICU. Di sana ia melihat Wanda sedang berdiri gelisah. sementara dokter dan beberapa perawat sedang sibuk memacu jantung Ibu dengan defribilator. 

Setelah beberapa menit berupaya, tak tampak tanda-tanda napas dan detak jantung Ibu. Monitor memperlihatkan garis horizontal yang datar.

Tak berapa lama dokter mendatangi mereka bertiga. Wisam makin menangis, Widya sendiri menitikkan air mata, Wanda hanya bisa tertunduk tak tenang. Si sulung itu akhirnya lemas, dan hampir terjatuh kalau beberapa perawat tak menahan tubuhnya.

Wanda tak pernah benar-benar merelakan kepergian Ibu. Widya sendiri masih tak percaya bahwa Tuhan begitu cepat memberikan jawaban. 

Namun ia bersyukur, bukan mereka yang harus membuat keputusan untuk kehidupan Ibu yang mereka sayangi. Mereka tak perlu merasa terbebani dengan perasaan bersalah sepanjang hidup mereka.

”Apa Ibu mendengar perdebatan kita? Apa jiwanya berjalan-jalan dan menelisik di antara air mata kita? Apa ia mengerti dilema dan kegalauan hati kita bertiga? Apa ia ingin meringankan beban kita dengan meminta Tuhan mengambil rohnya?” tanya Wisam.

”Apa Ibu akan memaafkan kita?” Wanda menutup wajah dengan kedua tangannya.

”Entah… yang kutahu ini hanya masalah waktu yang sudah ditetapkan oleh Tuhan, dan kita hanya perlu bersyukur karena Tuhan sudah memberikan keputusan terbaik-Nya.”

Selesai bicara, Widya langsung bertanya pada dokter apakah waktu dua jam untuk menentukan kepergian orang tua mereka itu sudah pasti. 

Dokter mengangguk pasti, lalu menutup wajah tersenyum Ibu dengan kain. Ibu telah beristirahat, dan lepas dari semua beban dunia.

Baca Cerita Pendek Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Teh dan Kopi

Cerita Pendek: Rahasia Sabia

Cerita Pendek: Sepotong Harapan Dini Hari

Artikel Asli