Cerita Pendek: Nyentana Part 4

Femina Dipublikasikan 06.28, 11/08 • Komang Adnyana

"Kenapa baru sekarang kau menyesal? Bukankah dulu kau sendiri yang begitu kukuh memperjuangkan pernikahan kita?"

Bagian IV

Kisah Sebelumnya:

Sepeninggal ayahnya, hidup Suarsiki, ibu, dan adik laki-lakinya sangat terpuruk. Secara adat, mereka tidak memiliki lagi figur kepala rumah tangga. 

Karena itu, Wisnawa, suami Suarsiki, rela nyentana (menikah dan ikut keluarga pihak istri). 

Tapi, di saat Suarsiki tengah menikmati rasa bahagia, Wisnawa berubah pikiran dan menuntut perpisahan. Tentu saja, keadaan itu menjadi bahan omongan di lingkungannya.

"Makanya, jadi mertua jangan macam-macam. Jangan membuat menantu tak betah."

"Jadinya begitu, kabur, minta cerai."

"Sentana mana yang tahan terus diomeli?"

"Apalagi tidak dikasih apa-apa. Punya sentana, tapi hanya disuruh jadi pengayah, pelayan."

"Laki-laki juga punya harga diri, Me. Mereka juga perlu kesenangan. Perlu menyalurkan hobi. Perlu lain-lain."

"Maksudnya?"

"Seperti anak laki-laki sendiri. Mereka juga perlu dimanjakan."

"Meme harusnya lebih tahu."

"Pernah punya suami, ‘kan?"

"Eh… maaf."

Ibu-ibu itu terus menceracau. Ketut Darsih tak tahan. Dia mengambil sayur sekenanya, bumbu sedapat yang dijangkau tangannya, membayar, lalu buru-buru menyingkir dari tempat itu. Bila sudah begini, bagaimana mungkin hidup tanpa mendengar pendapat orang lain? 

Ini desa, Suarsiki, desa. Bukan perceraian di ibu kota seperti yang sering terlihat di teve-teve. Jumlah pasangan yang berpisah nyaris bisa dihitung dengan jari. 

Bahkan, hampir tidak ada. Kalaupun terjadi, itu karena sebab yang sangat serius. Selingkuh misalnya, itu juga hanya menimpa yang perempuan. Karena, bila yang lelaki selingkuh, si istri masih bisa memaafkan.

***

    Empat hari di desa seperti setahun bagi Suarsiki. Dia putuskan kembali ke kota, memulai lagi rutinitasnya sebagai dosen. Putu yang baru dua tahun tetap tinggal bersama ibunya. 

Kebetulan pangeran kecilnya itu memang sangat dekat dengan sang nenek. Begitu masalahnya dengan Wisnawa selesai, baru dia akan memutuskan langkah selanjutnya. 

Sebelum pergi, Suarsiki berkali-kali berpesan agar ibunya tak begitu memedulikan apa kata orang. Mencoba menjadi tuli untuk pendapat yang tak penting. Satu lagi, mulai sekarang, dia tanamkan kepada sang ibu, tanpa lelaki pun mereka masih sanggup hidup. 

"Perempuan tak selalu membutuhkan laki-laki, Me," katanya.

Ibunya mungkin tak terlalu sepakat. Dahinya berkerut mendengar kata-kata Suarsiki.

    Di Denpasar, rumahnya tampak lengang. Pintu terkunci rapat. Jendela tak terbuka. Gorden tertutup penuh. Sampai ke dalam, Suarsiki disambut bau pengap. 

Seperti rumah yang lama tak terurus. Ke mana Wisnawa? Bahkan, selama dirinya di desa, dia tidak tinggal di rumahnya. Rumah hadiah pernikahan mereka dari Meme. Seyakin itukah dia akan keputusannya?

Suarsiki bertanya-tanya. Panggilan ponselnya tak dijawab. Pesan singkatnya tak dibalas. Suarsiki hanya ingin bertemu sesaat. Bicara untuk terakhir kalinya mungkin. 

Memastikan semua tak bisa diperbaiki lagi atau mesti dimulai lagi dari awal. Menata negosiasi seperti masa-masa mereka berpacaran dulu. Negosiasi yang selalu berhasil. 

Setengah jam kemudian, Wisnawa baru muncul. Wajahnya merah seperti makhluk dari hutan terbakar. Di belakangnya Suarsiki melihat pohon-pohon bertumbangan dalam keadaan membara. Ranting-ranting hangus sekali kobaran. 

Satu per satu luluh jadi abu. Meninggalkan tanah yang tandus, penuh puing. Tak ada kata-kata serupa puisi, apalagi petikan kakawin.

    "Tolong bicara ke pokok permasalahan, waktuku tidak banyak."

    Wisnawa benar-benar menjadi makhluk asing. Suarsiki melihat api meleleh dari mulutnya. Kata-katanya panas menyengat.

    "Aku minta penjelasan. Kau tidak bisa memperlakukanku dengan tidak adil begini."

    "Sudah kujelaskan semua. Apa lagi?"

    "Tak bisakah kau jelaskan dengan lebih gamblang?"

    "Aku bosan nyentana. Aku muak mengabdi untuk keluargamu."

    "Bukankah kami tetap memberimu kesempatan mengurus keluargamu?. Tak pernah ada batasan."

    "Tapi, mereka telah membuangku. Seisi desa telah menganggapku tidak ada."

    "Kenapa baru sekarang kau menyesal? Bukankah dulu kau sendiri yang begitu kukuh memperjuangkan pernikahan kita?"

    "Mungkin aku terlalu mabuk. Terlalu berharap tinggi pada hubungan kita."

    "Lalu kenyataannya kau tak mendapatkan apa yang kau harapkan, begitu?"

    "Bukan aku, tapi kedua orang tuaku. Aku tak bisa mengatakannya."

    "Bukankah mereka dulu setuju? Kau berhasil meyakinkan mereka."

    "Ya, tapi dengan syarat."

    "Syarat?"

    Suarsiki menggelengkan kepalanya. Syarat? Setelah dua setengah tahun pernikahan, Wisnawa baru mengatakan ada syarat yang diajukan kedua orang tuanya. Syarat macam apa? Bahkan dia sendiri tidak tahu. Seberat apakah syarat itu sampai membuat Wisnawa meminta cerai?

    "Orang tuaku berharap hidup mereka lebih baik."

    "Maksudmu?"

    Suarsiki mulai menangkap sedikit arah pembicaraan Wisnawa. Tapi, mungkinkah?

    "Setidaknya setengah dari aset-aset keluargamu harus pindah tangan atas namaku. Lalu atas nama mereka."

    Suarsiki membelalakkan matanya. Tak pelak, dia terkejut. Normalkah pendengarannya? Atau suara lirih rindik selama empat hari empat malam di desa juga membuat pendengarannya tak kuat menangkap suara-suara kencang?

    "Kau pasti bergurau, Wisnawa. Kau tak serius."

"Aku sungguh-sungguh, Suarsiki."

    Suarsiki menahan napas. Gunjingan itu, muslihat itu. 

    "Aku mengenalmu, Wisnawa. Sangat. Kau tak mungkin memiliki pikiran seperti itu."    

"Apanya yang tidak mungkin, Suarsiki?"

Suarsiki makin tak mengerti. Wisnawa benar-benar berbeda. 

"Tak ada yang gratis di dunia ini, Suarsiki. Bahkan, untuk cinta sekalipun."

    Suarsiki masih belum percaya. Lelaki yang mengucapkan kata-kata indah itu, yang menghujaninya dengan rangkaian kata-kata puitis, petikan-petikan kakawin, melimpahi keluarganya dengan perhatian, kini benar-benar menjadi lain. Lelaki yang bahkan dagunya tak keras. Setan apa yang mengubahmu, Wisnawa. 

    "Aku tak berubah, Suarsiki. Hidup mengajarkanku untuk lebih realistis."

    Wisnawa lagi-lagi tertawa sinis. Tawa dengan ujung bibir ditarik sedikit. Nyinyir yang sangat mengerikan. Suarsiki belum pernah melihatnya selama mereka bersama. 

    "Kau kejam, Wisnawa!"

    "Katakan sesukamu. Tapi, aku sudah banyak berkorban. Dari harga diri sampai nama baik."

    "Bukankah kau mencintaiku? Bukankah kita saling memerlukan? Tak ingatkah kau dengan semua kata-kata itu?"

    "Tak ada cinta yang abadi, Suarsiki. Tak ada."

    Suarsiki nyaris tersedak. Air mata mengalir ke ujung bibirnya, meski dia berkali-kali mencoba menahannya. 

    "Kau ingat Suarsiki, kita pernah membaca ini: cinta, seperti kesedihan, cenderung memudar begitu hal-hal menarik lain muncul." 

    Berpuisikah Wisnawa sekarang? Tapi, kata-katanya tak seperti puisi. Itu hinaan. Itu kenyataan. Terasa pahit di bibirnya. 

    Lalu, Suarsiki seperti mendengar bait-bait kakawin derita itu ditembangkan angin yang masuk lewat celah jendelanya yang sempit.

Pohon yang meranggas di musim ketiga yang panas, dibawa angin daunnya gugur ke tanah. Kerinduan debu pada gerimis yang tanpa disadari mengantarnya menuju ke sebuah tempat yang sedari dulu didambakan.

Di mana itu? 

Tidak bermuara seperti kisah-kisah dulu, bahagia di musim keempat. Menikmati guguran bunga. Muara kali ini adalah anak panah yang melesat cepat menusuk satu sisi hati. 

Adakah musim gerimis menyesalinya?

"Hanya ada dua pilihan Suarsiki, kau menerima syarat itu, lalu kita memulai hubungan lagi seperti semula, atau kita bercerai dan kau akan melahirkan anak keduamu tanpa suami."

Suarsiki melotot. Ditatapnya mata Wisnawa penuh kemarahan. Suarsiki memang tengah hamil satu bulan dan berita bahagia ini belum sempat dia ceritakan kepada ibunya. 

Dia berencana mengatakannya langsung ketika pulang bersama Wisnawa. Kini tak mungkin lagi. Bahkan Suarsiki enggan mengakui Wisnawa sebagai ayah bayinya. 

"Waktumu berpikir hanya seminggu, Suarsiki. Aku merasakan sendiri betapa beratnya dikucilkan lingkungan. Kau tak ingin merasakan hal yang sama, bukan?"

Wisnawa lagi-lagi berlalu. Tanpa menoleh. Suara mobilnya seperti biasa menderu sesaat lalu menghilang tak lama kemudian. 

Apa yang sebenarnya diharapkan perempuan dari laki-laki? Cintakah? Seperti apa cinta itu? Kehangatan? Belaian? Anak? Pengabdian? Pengorbanan? Adakah lelaki seperti lilin? Menyala sesaat lalu mati? Seperti itukah cinta lelaki? 

Jadi tak ada hubungannya dengan leluhur yang konon menebar kutuk. Meminta pengabdian penuh dari penerusnya. Atau inikah kutuk itu? Leluhur murka lalu mengutuk Wisnawa sehingga berubah menjadi jahat? Adakah leluhur berurusan dengan hal-hal duniawi? Menggelikan kalau semua penjahat mengaku dikutuk leluhur.  

    Untuk sesaat, Suarsiki dikepung lorong gelap. Dia tersesat. Bahkan hampir seharian dia hanya bicara dengan pikiran-pikirannya sendiri. Adakah keputusan yang bisa diambil dalam waktu sekejap?

***

Akulah Durgha, yang siap mengutuk setiap lelaki yang menjahatiku. Akulah Durgha, yang tak pernah menyesal sekalipun berperang dengan suamiku sendiri, Siwa.

Akulah Durgha, dengan lencana-lencana perang yang telah berkibar. Bersiaplah!

"Aku sungguh-sungguh, Me."

"Tak maukah kau pertimbangkan lagi?"

"Tidak. Semuanya sudah jelas. Wisnawa tak pantas diharapkan."

"Tapi Putu…."

"Putu akan bersama kita. Kita yang akan merawatnya."

"Bukankah kau masih mencintai Wisnawa? Jujurlah Suarsiki. Jangan bohongi dirimu sendiri."

"Me!"

"Ini demi kebaikanmu. Kau tentu tahu sendiri bagaimana susahnya Meme tanpa ayahmu. Sekalipun tidak secara materi, tetapi kau memerlukan pendamping itu."

"Tidak untuk Wisnawa. Tidak kali ini, Me."

"Apa dia jahat?"

"Sangat! Sangat, Me! Lebih dari yang Meme bayangkan."

Diam sejenak.

"Me?"

Masih diam.

"Meme baik-baik saja?"

"Ya, maaf. Meme baik-baik saja. Kau tak mau menjelaskannya sekarang? Meme perlu tahu."

"Aku bingung menceritakannya dari mana."

"Ceritakanlah. Bebanmu, beban Meme juga. Meme yang memaksa menginginkan sentana."

"Tidak, Me, tidak sekarang. Nanti kuceritakan di rumah saja. "

"Kau yakin?"

"Yakin Me. Sungguh!"

Lalu telepon ditutup.  

Perang dimulai Suarsiki. Perempuan itu sudah lama belajar mengakrabi kesedihan. Mencoba lebih tangguh dari duka macam apa pun. Sebelum Wisnawa bergerak, dia harus lebih dulu bergerak. 

Keputusan sudah diambil. Tak ada lagi air mata. Tak ada baris puisi memabukkan yang diharapkan berloncatan dari bibir suaminya. 

Surat cerai itu telah lengkap. Dia sendiri yang akan menggugat Wisnawa. Lelaki itu tak perlu repot-repot memberikannya dua pilihan. Selain cinta, memang tak ada lagi yang tersisa untuknya. 

Tapi, cinta itu pun, seperti katanya, kini memudar karena perubahan-perubahan. Setelah lelaki, hanya menanamkan luka di hati perempuan. Setelah lelaki, hanya berharap menukar cinta dengan keuntungan. 

Anak keduanya biar lahir tanpa ayah. Kelak dia akan mengatakan yang sebenarnya. Sejak awal dia mesti tahu dunia ini kejam. Cinta hanya untuk mereka yang benar-benar berhak. 

Akan dikatakannya berulang kali, “Ayahmu Nak, ingin menukar cintanya dengan uang, pengabdiannya dengan kekayaan. Tak ada ketulusan sedikit pun. Puisi-puisi cintanya hanya topeng. Petikan-petikan kakawin yang selalu dibisikkannya penuh muslihat.”

    Kepala Suarsiki kini dipenuhi rencana-rencana baru yang datang berdesakan secara paksa. Memang, tak ada perempuan yang bisa bangkit hanya dalam waktu sehari dua hari, tapi dia tertantang untuk menjadi perempuan pertama yang melakukannya. 

    Suarsiki meraih kembali ponselnya. Membuka menu tulis pesan baru. Setelah mengetik beberapa kata, dalam waktu singkat, terdengar bunyi klik. Tanda pesan terkirim. Kepada Wisnawa.

Suarsiki menghela napas. Lama sekali. Seakan tak percaya baru saja telah menuliskan kata-kata itu. (TAMAT)

Baca Cerita Pendek Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Negeri Kambing Kertas

Cerita Pendek: Janji di Negeri Titi

Cerita Pendek: Hikayat Negeri Terapung

Artikel Asli