Cerita Pendek: Nyentana Part 3

Femina Dipublikasikan 06.20, 11/08 • Komang Adnyana

Bagian III

Sepeninggal ayahnya, hidup Suarsiki, ibu, dan adik laki-lakinya sangat terpuruk. Secara adat, mereka tidak memiliki lagi figur kepala rumah tangga. 

Karena itu, Wisnawa, suami Suarsiki, rela nyentana (menikah dan ikut keluarga pihak istri). 

Tapi, Suarsiki tidak mampu mencegah ketika Wisnawa berubah dan menunjukkan keengganannya untuk menjadi wakil keluarga dalam acara adat di lingkungannya.

Suarsiki salah. Perubahan sekecil apa pun dalam dirinya selalu dirasakan oleh ibunya. Tidak ada orang yang mengenalnya lebih baik dari ibunya, Ni Ketut Darsih. Dia merasa Suarsiki menyembunyikan sesuatu. 

Apa mungkin ada masalah dalam rumah tangganya? Apa mungkin mereka cekcok? Darsih bertanya-tanya. Makin dia mencoba menerka-nerka apa yang terjadi, makin menggunung kecemasannya.

Darsih teringat percakapan ketika ngayah di pura kemarin. Pertanyaan yang lebih diterimanya sebagai kritikan itu membuat hatinya panas. Tak biasanya dia mudah tersinggung. 

Kata-kata salah satu warga yang masih tetangga rumahnya itu sungguh-sungguh menusuk. Apalagi ini berkaitan dengan Wisnawa, menantunya.

“Suarsiki ke mana, Me, kok, Meme yang masih ngayah?”

“Dia belum pulang, mungkin sibuk. Lagi pula kan masih ada Meme.”

“Memang susah, ya, Me kalau kerja di kota. Jarang bisa pulang. Kasihan Meme, anak sudah menikah, tapi masih sibuk.”

“Anak menikah bukan berarti dilepas begitu saja, ‘kan? Adakalanya orang tua harus mengalah. Meme senang melakukannya.”

“Tapi, usia Meme kan terus bertambah, sampai kapan Meme bisa seperti ini?”

Darsih merasa dihakimi. Dia merasa ada yang sedang berusaha mencampuri urusan pribadinya. Apa yang mereka tahu soal kasih sayang kepada anak? Apa mereka tidak pernah belajar tentang rasa saling pengertian?  

“Maksudmu, Meme sudah tua?”

Darsih mengungkapkannya dengan nada bercanda. Meski lawan bicaranya langsung tertawa terkekeh, dia tahu tetangganya yang lebih muda itu sedang berpura-pura.

“Bukan begitu, perempuan seumuran Meme, apalagi yang anaknya sudah menikah, biasanya kan tidak perlu repot begini. Apalagi Meme dapat sentana, ‘kan?”

“Ya, tapi Meme ngayah juga bukan hanya untuk Suarsiki.”

“Lalu?”

“Meme sudah terbiasa sibuk. Kalau diam saja malah sakit-sakitan. Meme juga merasa tak bisa berhenti ke pura. Kalaupun Suarsiki ada di rumah, Meme akan tetap ngayah. Meme melakukan semuanya karena bakti.”

Darsih berusaha menahan kemarahan dalam hatinya. Dia muak melihat perempuan-perempuan muda itu. Yang bekerja lebih banyak mulut daripada tangan mereka. 

Ada saja yang dibicarakan. Jajanan untuk banten yang seharusnya bisa dikerjakan dalam dua atau tiga jam, bisa molor sampai lima jam. Terkadang malah sampai sore.  

Sering pura bagi mereka hanyalah arena pamer gaya seperti yang terlihat di TV. Dan mereka merasa menjadi modelnya. Apalagi pas odalan, mereka akan berlomba memakai pakaian terbaik. 

Kebaya, kamen dan perhiasan harus serba mewah. Dari kebaya yang harganya ratusan ribu sampai jutaan. Dari yang tertutup, sampai yang tipis dan benar-benar memperlihatkan tubuh si pemakai. 

Bahkan, dari jauh sulit membedakan apakah dia mengenakan kebaya atau tidak karena kulitnya betul-betul tembus pandang.

Darsih sering berpikir, apa benar ada kebaya yang harganya jutaan? Sebagus apakah? Terbuat dari apakah? Apa kebaya yang sedemikian mahal itu bisa membuat si pemakai bertambah cantik? 

Darsih bukannya tak mengerti perkembangan zaman, tapi dia merasa ada kebutuhan-kebutuhan yang memang harus didahulukan dari sekadar penampilan. Pendidikan anak misalnya. Atau mungkin kebaya jutaan itu tak terbakar kalau terkena api dupa?

“Me!”

Tetangga yang lain membuyarkan lamunannya.

“Diajak ngobrol, kok, Meme malah bengong saja?”

Darsih menatap tetangganya, memberi isyarat agar si penanya boleh melanjutkan pembicaraan.

 “Kok, belakangan kami jarang melihat menantu Meme. Padahal, awal-awalnya dia sangat rajin.”

“Oh, biasanya dia pulang tiap minggu, tapi belakangan pekerjaannya tambah banyak.”

“Sesibuk apa, sih, Me, sampai tidak sempat pulang. Waktu Pekak Gandrung ngaben, kami juga tidak melihatnya.”

“Waktu itu dia sakit.”

“Ketika anak Pak Simpen menikah sepertinya juga tak ada. Padahal, suami-suami kami amat sibuk mempersiapkan upacara."

"Dia ada liputan ke luar Bali saat itu."

"Waktu karya agung di Pura Dalem juga. Wisnawa tidak ada."

"Dia…."

"Betul. Betul. Pada acara-acara yang lain juga. Suamiku bilang, sudah lima kali dia tidak menghadiri rapat banjar.”

Darsih merasa makin tersudut.

"Seberapa jauh, sih, Denpasar ke Tabanan. Hanya satu jam perjalanan. Suamiku juga kerja di kota, tapi dia bisa bolak-balik tiap hari."

“Iya Me, Meme harus hati-hati. Apa dia sungguh-sungguh mau nyentana. Kalau memang sungguh-sungguh, harusnya dia lebih mementingkan tugas-tugasnya di desa. Kewajibannya,” perempuan lain menimpali.

“Kami tidak ingin melihat kejadian yang dialami Men Srining terulang. Menantunya kabur setelah seluruh warisannya dijual,” perempuan itu menambahkan dengan lebih bersemangat.

“Tapi, Meme kan tidak punya apa-apa, apalagi warisan.”

“Ah, Meme suka merendah. Lalu sawah-sawah luas itu, tanah di sebelah banjar, kelak akan jadi milik siapa?”

“Itu punya leluhur. Biar saja begitu.”

“Tapi, nanti diwariskan juga, ‘kan?”

Darsih meremas jajanan di tangannya. Bahan dari tepung berwarna merah yang sudah berbentuk bunga-bungaan itu kembali berantakan. Begitu cepatnya penilaian masyarakat berubah. Dalam hati dia memekik, aku lebih tahu Wisnawa. 

Aku yakin padanya, bukan hanya sebagai menantu. Dia sudah benar-benar kuanggap anakku sendiri. Mengingat semua itu membuat dadanya tersedak. Darsih terbatuk-batuk.

***

Manusia Bali yang tidak mampu membangun relasi dengan sesamanya, dengan keluarga besarnya, dengan warga sekitarnya, adalah manusia yang gagal. Begitulah yang dipercaya orang-orang. 

Wujud kegagalan awal itu adalah ketidakhadiran secara fisik dalam kegiatan-kegiatan bersama, baik upacara adat atau keagamaan. Atas alasan apa pun, mereka akan mengecap manusia seperti itu sebagai pemalas. 

Kasepekang, dikucilkan desa dan adat adalah hukuman yang beratnya luar biasa. Bahkan kelak ketika mati pun jasad yang bersangkutan tak bisa dikubur di setra, kuburan desa.

Ketika bayangan-bayangan yang mungkin masih terlalu jauh dan berlebihan itu melintas-lintas di kepala Suarsiki, Wisnawa pulang bersama Putu, putra kecilnya. 

Suarsiki gembira bukan main. Disambutnya sang suami dengan riang. Dengan kerinduan seorang istri yang teramat sangat.

"Panggil Meme, Suarsiki. Aku mau bicara serius. Kita bertiga."

Suarsiki terkejut. Wisnawa berkata tegas sembari memberi isyarat mengajak Putu ke belakang. Tak ada kata-kata serupa puisi atau kutipan kakawin lagi. 

Di saat bersamaan ibunya muncul dari dapur dengan wajah yang tak kalah berseri melihat menantunya. Tapi, wajah itu seketika berubah setelah Wisnawa menunjukkan mimik tak bersahabat.

"Aku mau bicara serius, Me."

"Kebetulan Meme juga sudah lama tak melihatmu. Kau ada masalah?"

"Ini terkait hubunganku dengan Suarsiki. Aku ingin berpisah, Me. Aku tak sanggup lagi nyentana."

Ibunya kaget, begitu juga Suarsiki.

"Kau sungguh-sungguh? Kenapa? Apa kami ada salah denganmu?"

"Tidak ada. Aku hanya ingin bebas. Aku tak bisa hidup seperti ini terus-menerus. Aku juga punya keluarga."

"Tapi, kami tak pernah melarangmu berhubungan dengan keluargamu, bukan?"

"Keluarga mana yang rela anak lelakinya justru mengabdi di rumah perempuan?"

"Apa kami memperlakukanmu dengan buruk?"

"Meme tidak akan mengerti."

"Apa kau tidak kasihan pada Suarsiki? Pada Putu?"

"Putu biar ikut denganku. Aku ayahnya."

Ibunya melotot. Raut wajahnya tampak geram. Suarsiki sengaja tak ikut bicara. Takut memperkeruh keadaan. Dalam hati tak henti-henti bertanya, setan apa yang telah mengubah Wisnawa. Dia berbeda. Sangat.

"Tidak bisa! Kau tidak bisa seenaknya seperti itu! Apa tidak bisa dibicarakan lagi?"

"Aku sudah memikirkannya sungguh-sungguh. Sudah sejak lama aku ingin mengatakannya."

"Bagaimana dengan Suarsiki?"

"Dia masih muda, Me. Dia bisa menikah lagi. Meme bisa mendapatkan sentana yang baru. Putu biar ikut denganku."

Ni Ketut Darsih makin geram. "Kenapa kau diam saja Suarsiki. Cegah pikiran gila suamimu. Kau istrinya."

Suarsiki masih diam. Kendati sudah menganggap Wisnawa sebagai bagian jiwanya sendiri, ia juga merasa tidak kuasa bila lelaki itu sudah tidak nyaman bersamanya.

Dia tatap dengan dalam mata lelakinya. Wisnawa menghindar. "Apa kita tidak bisa bicara berdua saja?" pinta Suarsiki.

"Tak ada yang perlu dibicarakan lagi, Suarsiki."

"Sebegitu burukkah kau memandangku?"

"Tekadku sudah bulat. Kita bercerai sesegera mungkin. Putu biar ikut denganku."

Ibunya kembali mendelik. Kali ini suaranya menggelegar.

"Siapa yang memberimu hak membawa Putu. Jangan seenaknya. Apa kau tak ingat nyentana. Kau tak punya hak membawa anakmu. Jika kau mau pergi, pergi saja seorang diri."

 Wisnawa terlihat sangat kesal. Dia berlalu menuju pintu gerbang. Suarsiki mencoba mengejarnya. Berpikir seolah apa yang dilontarkan suaminya tadi hanya sebatas emosi sesaat.

"Tunggu Wisnawa, tunggu…!"

Wisnawa tersenyum sinis. "Jika kau berpikir aku hanya sekadar emosi, kau salah. Ini masalah harga diri, Suarsiki. Aku laki-laki. Aku tak bisa terus-terusan jadi budak perempuan sampai-sampai meninggalkan keluargaku sendiri."

"Tapi…"

Wisnawa terburu-buru masuk ke mobil. Pintu ditutup dengan keras. Lalu disusul suara ban mendesis. Makin lama makin jauh. Hilang.

***

Suara rindik, gamelan dari bambu, terdengar sayup-sayup dari rumah tetangga di ujung jalan. Sama seperti ketika masih kanak-kanak, desa kelahirannya tetap begitu damai kala malam. 

Suarsiki merasa kembali menjadi perempuan yang baru merasakan cinta pertama. Perasaannya diaduk-aduk. Mungkin itu juga yang dirasakan Wisnawa sebelum memutuskan nyentana.

Cara pernikahan ini memang terdengar asing di tempat lain. Hanya berlangsung di daerah kabupatennya. Desanya salah satu yang paling sering melakukannya. 

Belakangan muncul stigma kalau hanya keluarga-keluarga kaya yang bisa mendapatkan sentana, padahal tidak begitu kenyataannya. Keluarga yang tidak mampu pun bisa memperoleh sentana asal si lelaki memang bersedia.

Tapi, mendatangkan sentana dari daerah kabupaten lain memang lebih berat, karena banyaknya perbedaan. Belum lagi kebiasaan adat di daerah tersebut yang sama sekali tidak menoleransi lelaki dipinang perempuan. Lelaki dibawa ke rumah perempuan. 

Paid bangkung, katanya. Dikuasai babi betina, terjemahan kasarnya. Buruk sekali, bukan? Bagaimana mungkin pernikahan yang sebenarnya dilandasi rasa saling pengertian dipersepsikan seperti kelakuan binatang?

Mungkin itu yang dialami suaminya. Suarsiki ingat betul bagaimana reaksi orang tua Wisnawa ketika rencana pernikahan itu diutarakannya. 

Ketika dengan mendadak keluarganya datang ke rumah Wisnawa untuk melamar. Ya, dalam tradisi nyentana lamaran pun memang dilakukan oleh pihak perempuan.

"Apa-apaan ini? Kenapa kalian mempermalukan kami seperti ini?"

Ayah Wisnawa, Wayan Kondra, yang pertama menentang. Masih dengan keterkejutan melihat kedatangan keluarga Suarsiki yang serba mendadak, dia menarik lengan putranya.

"Kenapa kau membuat ayahmu malu seperti ini? Apa kata tetangga? Seisi desa akan menertawakan kita!"

"Aku yang menikah, Bapa. Aku. Ini pilihanku."

"Kau tak hidup sendiri Wisnawa. Kau punya keluarga. Harusnya kau juga memikirkan keluargamu!" bentak ibunya, Luh Nardi.

"Aku melakukannya tanpa paksaan, Bapa, Meme. Aku rela. Semua kulakukan karena niat baik. Menolong. Bukankah di rumah ini sudah ada Nengah dan Komang. Bapa punya dua anak laki-laki lainnya?"

"Tetap saja memalukan!" ayahnya bertambah marah.

"Berapa warisan yang mereka janjikan untukmu?" ibunya menyelidik.

 "Ini bukan soal warisan, Me. Bukan soal uang. Ini soal perasaan. Keinginan membantu. Mereka memerlukan seorang pemimpin. Kepala keluarga."

"Rumah ini juga memerlukanmu. Kau tak takut dikutuk leluhur?"

Wisnawa terdiam. Dia sudah membayangkan sebelumnya reaksi kedua orang tuanya pastilah sangat buruk. Memang, amat sulit bagi lelaki di desa ini untuk meninggalkan tanah kelahirannya. Ikatan dengan leluhur, tempat suci, pura keluarga, amatlah kuat. 

Sebagian orang mungkin menganggap semua ini hanya mistik belaka, tetapi memang begitulah keadaannya. Ketika leluhur marah, berbagai bencana dan penyakit bisa membuat seseorang menderita sepanjang hidup.

 "Tapi, pernikahanku nanti tidak seperti yang Bapa bayangkan. Nyentana bukan berarti aku tidak akan memedulikan keluarga ini. Bagaimanapun, hubungan kekeluargaan kita tak bisa diputus."

"Aku tak percaya. Paling-paling kau akan mengabdi untuk mereka. Kau akan menjadi milik mereka. Mereka akan mengekangmu. Melarangmu ini itu."

     Ayah dan ibunya masih saja ngotot. Mereka kukuh menolak pinangan keluarga Suarsiki. Dalam kamus hidup mereka, tidak pernah ada kata bernama nyentana. 

Menikah, ya, menikah seperti layaknya anak laki-laki di daerah ini. Di mana mereka meminang menantu perempuan, membawanya ke rumah, dan meneruskan garis keturunan.

"Pokoknya kami tidak menerima lamaran ini. Kalian boleh pulang. Bila memang kalian membiarkan putri kalian menikah dengan putraku, ikuti adat di sini. Kami yang akan melamar ke rumah kalian. Biarkan dia tinggal bersama kami."

Lamaran ketika itu berakhir tanpa keputusan. Wisnawa tak bisa berbuat banyak, meskipun dalam hati dia memberontak. Keluarga Suarsiki pulang dengan hampa. 

Harapan untuk menjadikan Wisnawa menantu sekaligus sentana sudah dibuang jauh-jauh. Sepertinya mustahil bisa meyakinkan kedua orang tuanya yang begitu keras dan tak mengenal kompromi sedikit pun.

***

Ingatkah, apa yang dikatakan Betara Semara pada Betari Ratih. Ketika seorang Betari Ratih menata rindunya yang bergelora pada Betara Semara. 

Berlarilah ia menuju pohon labu yang bergelantungan di dekat balai-balai. Ingatkah, apa yang dikatakan Betara Semara pada Betari Ratih. 

"Tak ada yang mengalahkan keanggunanmu, aku hanya memiliki satu kekuatan untuk mendapatkannya. Tahukah Ratih, hari ini adalah hari esok dan hari kemarin yang selalu aku penuhi dengan mencintaimu."

Meski ditentang, Suarsiki dan Wisnawa masih terus berhubungan. Mereka berusaha keras mencari cara untuk meluluhkan hati keluarga besar Wisnawa. Terkadang kekuatan mereka melemah juga.

Sesuai namanya, Wisnawa memang tidak akan menyerah bila tekadnya sudah bulat. Dia tak peduli, walau orang-orang di desanya mulai bergunjing hal-hal yang lebih buruk daripada yang dibayangkan sebelumnya. 

Bahwa dia lelaki tak tahu adat, tak tahu berterima kasih kepada orang tua, egois dan tak bertanggung jawab kepada keluarga.

Katanya, seorang lelaki sejati tidak mungkin mau diperintah perempuan, apalagi harus mengabdi di keluarga perempuan. Kalau bukan lelaki lembek, mencari enaknya saja, tidak mungkin mau menikah dengan cara seperti itu. Beberapa menuding Wisnawa kena guna-guna. 

Ibu Suarsiki konon menguasai ilmu hitam. Sakti. Yang lain mengatakan Wisnawa mata duitan. Tergiur kekayaan keluarga Suarsiki. Mungkin dia dijanjikan sejumlah warisan sampai rela meninggalkan keluarga.

Barangkali ini hanya muslihat Wisnawa. Setelah menguasai seluruh kekayaan Suarsiki, mewarisi semua tanah-tanah warisan mertuanya, dia akan meninggalkan perempuan itu. 

Lalu membangun keluarga baru di desanya. Menikah lagi sebagai laki-laki sejati. Membawa perempuan baru ke rumah keluarganya. Menjadi kepala keluarga layaknya sang ayah.

Apa pun alasannya, pernikahan seperti itu tetap dianggap tak pantas. Sebelum menikah saja Wisnawa sudah dikucilkan penduduk desa. Tak ada yang menyapanya ketika hadir di balai banjar. Tak ada yang mengajaknya ngobrol ketika sembahyang di pura desa. 

Meskipun menikah adalah urusan pribadi, tetap saja warga memberikan penghakiman yang buruk. Wisnawa dalam pandangan mereka tak ubahnya seorang pengkhianat. 

Hanya lelaki pengkhianat dan tak punya harga diri yang mau mengabdikan dirinya untuk keluarga perempuan

"Lihat saja besok bagaimana jadinya."

"Setelah kena kutuk, baru tahu rasa dia."

"Biar terlunta-lunta seperti anjing."

"Bila aku jadi ayahnya, aku tak akan membiarkannya kembali menginjak rumah."

"Paid bangkung!"

"Bikin malu!"

    Mulut orang-orang itu terus saja bergunjing. Wisnawa ingin menyumpalnya satu per satu, tetapi dia tahu akan sia-sia. Satu hal yang ingin dia lakukan adalah membuktikan bahwa pandangan mereka salah. 

Bahwa nyentana tak seburuk yang dipikirkan orang-orang. Dia ingin menjadi pasangan nyentana yang bahagia seperti yang lainnya, tanpa menyakiti salah satu keluarga. Mungkinkah?

***

      Tak ada yang mustahil di dunia ini. Wisnawa membuktikan ucapannya. Entah dengan cara apa, dia berhasil meyakinkan kedua orang tuanya untuk menerima lamaran keluarga Suarsiki. 

Memang, ada sesuatu yang aneh ketika itu. Orang tua Wisnawa berubah menjadi baik seketika. Seolah seperti tak sedikit pun tersimpan ingatan kalau mereka pernah bersitegang. Bahkan mereka minta maaf berulang kali kepada ibunya dan seluruh keluarga besar Suarsiki.

Tapi, Suarsiki memilih tak begitu memikirkannya. Mungkin mata hati mereka memang sudah benar-benar terbuka. Mereka tak sesaklek seperti yang diperkirakan pada awalnya. 

Jadilah pernikahan itu digelar pada hari baik yang telah ditentukan. Pernikahan penuh cinta yang diimpi-impikan sejak lama. Di rumah Suarsiki, di rumah keluarga perempuan, layaknya pernikahan nyentana lainnya.

    Suarsiki masih ingat, di kartu undangan yang mereka sebar kepada kerabat dan teman-teman karibnya, dia tulis dua baris kata-kata indah itu. Petikan kakawin dari lontar legendaris yang dikaguminya. 

Semara angdon lango, kadi lahru ring asuji. Kekuatan cinta bagai gerimis di musim kemarau.

    Bagaimana mungkin dia ceritakan kini kalau kekuatan cinta saja tidak cukup? Apalagi kekuatan cinta sepihak? Jika kemarau ternyata sudah telanjur meretakkan tanah-tanah jadi tandus, merontokkan satu per satu daun dari pohon-pohon sampai tinggal batang kering dan pokok yang sebentar lagi lapuk, adakah gerimis bisa mengembalikannya lagi?

    "Suarsiki…."

    Ketut Darsih mengagetkan Suarsiki. Ingatannya raib kembali.

"Meme tahu perasaanmu. Kau pasti sedih menghadapi semua ini."

    "Aku sudah lama lupa bersedih, Me. Sejak Bapa meninggal kuajarkan diriku sendiri untuk tak meratapi kesedihan."

    "Kau tak perlu pura-pura di depan Meme. Ini bukan tujuh tahun lalu."

    Suarsiki masih mencoba menahan diri. Dia sadar tak bisa menyembunyikan apa-apa dari ibunya. Tujuh tahun lalu, Suarsiki memang berusaha tak jadi cengeng. 

Tak setetes pun air matanya keluar ketika ayahnya meninggal. Itu demi Kadek Wardana. Lelaki kecilnya perlu diajarkan bagaimana jadi kuat dan lapang dada.  

    "Aku harus bagaimana, Me?"

    "Mungkin Meme juga terlalu keras padanya. Bebannya berat."

    "Tidak, Me. Tidak. Jangan merasa bersalah seperti itu. Banyak laki-laki yang nyentana di daerah ini, banyak pula yang bahagia. Mereka baik-baik saja. Meme jangan meminta aku harus merengek-rengek memaksanya kembali."

    "Jangan berpikir Meme tak punya harga diri. Tapi, ini demi dirimu dan Putu. Meme tak tahan mendapati apa yang digunjingkan orang-orang selama ini menjadi kenyataan. Bahwa kita memperoleh sentana asal-asalan. Tak sungguh-sungguh."

    Suarsiki belum menjawab.

    "Bila kau bertemu dengan Wisnawa, katakan kepadanya, Meme akan memberikan apa saja, asal dia mau kembali. Ke rumah ini. Sawah, tanah, biar pindah tangan atas namanya, Meme rela."

    "Me!"

    Suarsiki nyaris setengah berteriak. Ibunya terlihat begitu putus asa.

    "Kita tidak membeli lelaki, Me. Aku tidak membeli suami. Meme juga tidak membeli sentana atau menantu."

    Suarsiki meninggalkan ibunya sendiri di teras rumahnya yang sepi. Suara rindik dari tetangga makin lirih diterbangkan angin pesisir. Wangi daun pandan harum sesekali tercium. Burung laut seperti melengking pilu dari kejauhan. (Bersambung)

Baca Cerita Pendek Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Menunggu Jumat Pagi

Cerita Pendek: Kereta Paling Sepi

Cerita Pendek: Atas Nama Merah Putih

Artikel Asli