Cerita Pendek: Nyentana Part 1

Femina Dipublikasikan 06.04, 11/08 • Komang Adnyana

Wisnawa berubah. Dia memilih dirinya sendiri, harga dirinya, kelelakiannya. Yang katanya tertindas, yang katanya diinjak-injak. 

Suarsiki tak mengerti. Sudah sebegitu kejamkah dirinya di mata lelakinya itu? Apakah semua karena pernikahan ini? Karena Wisnawa nyentana dan kehilangan kelaki-lakiannya? 

Apa salahnya dengan nyentana? Apa salahnya ketika lelaki ikut istri? Apa dengan begitu dia berhenti menjadi lelaki?

Apakah ini hanya perkara leluhur yang merasa ditinggalkan, ditelantarkan? Jika begitu apa bedanya dengan perempuan? Hanya lelakikah yang memiliki leluhur sehingga dia tak bisa mengikuti perempuannya? 

Apakah perempuan tidak memiliki leluhur sehingga mereka bisa bebas ditarik untuk masuk ke kehidupan lelaki?

***

Begitulah cintaku, laksana lencana-lencana perang di musim asuji. Menantang langit. Dan maukah kau menjadi panglima di antara lencana-lencanaku, Suarsiki?

Pernikahan yang diidamkan itu digelar ketika Bali merayakan musim penuh pesona. Sasih kapat. Bulan keempat. Kartika masa. Bulan paling romantis dalam sistem kalender Bali.

Di bulan inilah bulan purnama yang paling terang, yang dianggap penuh berkah mengada. Orang-orang berusaha sebisa mungkin melangsungkan upacara pernikahan di bulan ini.

Pada bulan ini, angin berembus begitu sejuk. Tanah terlihat subur. Inilah musim semi ala Bali. Kuncup-kuncup bermekaran. Bunga-bunga menampakkan diri. Di siang hari warnanya begitu semarak.

Pada malam hari akan jauh lebih cantik. Cahaya bulan tempias di kelopak-kelopaknya. Dan sebaliknya, bayangan bunga-bunga seperti tampak di bulan. Inilah suasana romantis itu. Pertemuan yang melahirkan tembang legendaris Sasi Wimba. Bayangan Bulan.

“Suamimu ganteng, kau beruntung mendapatkannya.”

“Dia kelihatan baik, penyabar, kalian pasti akan bahagia.”

“Nanti setelah upacara ini, cepat-cepat buat anak. Biar meme-mu segera menimang cucu. Biar desa ini tambah ramai.”

“Beruntung sekali kau dapat sentana. Jadi Meme-mu tak perlu takut lagi tak ada yang mengurusnya kelak. Kau bisa tetap tinggal di rumah.”

“Ya, betul-betul. Sekarang sangat jarang yang mau nyentana. Kalaupun ada yang mau, ujung-ujungnya hanya mengincar uang. Warisan.”

“Ya, persoalannya rumit. Apalagi yang dari kabupaten berbeda. Satu kabupaten masih mending.”

“Tapi suamimu sepertinya tidak begitu. Wajahnya lembut. Tulang dagunya tak begitu keras.”

“Apa lelaki mata duitan tulang dagunya keras?”

“Tidak juga, tapi yang tulang dagunya keras biasanya kepalanya juga keras. Kasar. Kalau sudah kasar pikirannya bisa aneh-aneh.”

“Benarkah?”

“Made Arta, suaminya Ketut Tantri yang juga nyentana, dagunya keras. Tapi, dia baik. Mereka hidup bahagia. Kedua keluarga rukun-rukun saja.”

“Pokoknya yang penting sekarang kau sudah dapat sentana. Sudah menikah. Itu berkah luar biasa. Meme-mu pasti bahagia.”

“Eh, siapa nama suamimu tadi? Emm….”

“Kan sudah dikasih tahu, Wisnawa.”

“Oh, iya, Wisnawa.”

“Namanya sesuai orangnya.”

“Wisnawa artinya pemberani, ‘kan?”

“Dari mana kau tahu dia pemberani?”

“Kata Wisnawa memang kurang lebih artinya pemberani. Dari kesediaannya nyentana juga. Kau pikir mudah bagi laki-laki untuk nyentana?”

“Kau benar-benar tidak salah pilih.”

“Kudengar pekerjaannya wartawan, berarti selain baik, berani, orangnya juga pintar.”            

******

Saudara sepupu, keluarga keseluruhan, tetangga desa, teman-teman, semuanya begitu antusias merayakan pernikahan Suarsiki. Mereka larut dalam kegembiraan. Rasa syukur dan puji-pujian untuk suaminya, Gede Wisnawa, tak henti-henti mengalir. 

Pernikahan bagi keluarga yang mengharapkan sentana memang sangat mahal. Bukan dalam arti biaya yang dihabiskan, namun betapa susahnya mendapatkan lelaki yang mau memikul tanggung jawab keluarga si perempuan.

Suarsiki sempat dihantam kecemasan teramat sangat. Takut yang berlebih. Antara percaya dan tidak. Mereka yang menikah dengan status nyentana memang banyak yang bahagia, tetapi tidak jarang juga yang berakhir memilukan, bahkan tepat pada hari pernikahan.

Teman karibnya, Putu Wahyuni, sangat bahagia ketika akan menikah karena lelaki pilihannya mengatakan mau nyentana. Tapi, pada hari baik yang telah ditentukan, lelakinya justru tidak datang. Wahyuni yang sudah telanjur hamil muda pada akhirnya harus rela menikah dengan sebilah keris. 

Ya, hanya dengan keris sebagai simbol si lelaki. Kejam! Memalukan!

Beruntung Wisnawa tak seperti itu. Dia sungguh-sungguh. Maka, jadilah keduanya pasangan yang merasa paling berbahagia saat itu. Suarsiki juga melihat kelegaan teramat sangat terpancar di wajah ibunya, Ni Ketut Darsih. 

Dia terharu sekaligus bangga bisa memenuhi apa yang diinginkan ibunya sejak lama. Ingin rasanya dia mengucapkan terima kasih tiap detik kepada suaminya,Wisnawa. Menciumnya sampai bibir mereka tak mau lepas atau mengajaknya bercinta semalam suntuk. 

(Untuk kali ini Suarsiki berharap leluhur akan membiarkannya berfantasi liar yang tak pernah terbayangkan sebelumnya karena dia memang betul-betul bahagia).

Tanpa kesediaan dari Wisnawa, hari yang bersejarah dalam hidupnya itu tidak akan pernah terjadi. Dan Suarsiki ingat, hari itu tak bisa dicapai dengan mudah. Ada jalan sedemikian panjang yang harus mereka lalui. 

Entah berapa perdebatan yang mesti mereka selesaikan bersama. Tak terhitung rasanya berapa kali pikiran dan perasaan mereka diaduk-aduk, kacau balau, sebelum akhirnya mencapai kesepakatan bersama. 

Ingin yang meletup-letup, debar tak menentu, gejolak yang terkadang harus dihentikan mendadak, perih, gempa, semuanya.

Terkadang Suarsiki berpikir, orang jatuh cinta tak ubahnya sadomasokis. Makin sakit, makin teriris, makin terasa berharga kebahagiaan dan kebersamaan itu. Inikah cinta dewasa itu, yang sering dibicarakan ibu dan saudara-saudaranya. 

Tapi, sejujurnya Suarsiki tak bisa membedakan seperti apa cinta dewasa dan cinta remaja. Karena, sepanjang hidup dia hanya baru jatuh cinta sekali. Hanya kepada Wisnawa. Apakah perasaannya ini disebut cinta dewasa karena terjadi setelah umurnya di atas 20 tahun?

****

Namanya Ni Made Ari Suarsiki. Banyak orang bilang namanya begitu cantik, begitu khas Bali. Tapi, tak jarang juga ada yang mengatakan namanya lebih indah dari dirinya. Keberatan di nama, ejek mereka.

Bagi mereka, kecantikan hanyalah wujud fisik. Mereka tidak peduli entah kepala yang punya kosong atau berisi. Asalkan cantik, memiliki tubuh bagus, kau akan menuai puja-puji. 

Kau akan diburu, diperebutkan dan konon di sanalah letak ukuran keberhasilan sebagai perempuan. Ketika kau mampu membuat banyak lelaki berlomba-lomba mengejarmu. Apa sesempit itu makna perempuan di mata orang-orang?

Suarsiki tak peduli. Orang boleh mengatakan apa saja, meledek kulitnya yang kehitaman, dahinya yang menonjol, atau matanya yang lebih sipit dari perempuan-perempuan lain. 

Tapi, bagi ibunya, dia tetap perempuan yang paling cantik. Bukan karena dia anak perempuan satu-satunya di keluarga ini, namun karena ibunya bisa melihat dari hati.

Suarsiki sering merasa ibunya makhluk paling demokratis di dunia ini. Tidak ada yang bisa melihat segala sesuatu dengan lebih luas melebihi pandangan ibunya.

“Seindah apa pun tubuhmu kelak, ketika hatimu kotor, kepalamu kosong, tidak ada artinya. Kecantikan itu dari sini dan dari sini. Dengan inilah kau bisa bersikap,” kata ibunya suatu hari, sambil menyentuhkan tangannya ke ulu hati dan kepala Suarsiki.

Waktu itu ibunya mendapatinya menangis sesenggukan sepulang dari pura desa. Suarsiki merasa diperlakukan tidak adil oleh guru tari yang tidak memilihnya menjadi penari rejang untuk piodalan. 

Dia bisa melihat dengan jelas, kriteria pemilihannya saat itu hanya berdasarkan fisik. Yang dipilih hanya gadis-gadis yang wajahnya cantik, kulitnya putih, badannya ramping. Padahal, kemampuan mereka menari lebih jelek darinya.

Dari ibunya, Suarsiki belajar menjadi perempuan dari dalam. Dia memang terlahir tidak seayu perempuan-perempuan lain. Gayanya malah mirip anak laki-laki, tomboi. Sewaktu kecil banyak yang mengira dia bukan perempuan. 

Tetapi, bila orang-orang menyadari, dia jauh lebih perempuan dari perempuan-perempuan mana pun. Semua itu didapat dari ibunya. Dengan hati, dengan isi kepala, dia merasa bisa menjadi bagian penting dari desa ini. Dia merasa diperlakukan dengan sangat hormat oleh tetua desa.

"Kau bahagia Suarsiki?" tanya ibunya.

"Sangat Me. Meme?" Suarsiki balik bertanya. Ibunya membalas dengan tersenyum.

"Meme ikut bahagia. Meme bersyukur. Meme seperti menemukan pengganti tempat ayahmu. Pemimpin bagi keluarga ini. Pembimbing bagi adikmu. Kau tahu Kadek baru 13 tahun. Dia memerlukan sosok kakak sekaligus ayah. Meme harap Wisnawa bisa ikut mengurusnya."

 "Pasti, Me. Pasti. Meme tidak perlu mengkhawatirkan masalah itu. Walaupun kami kerja di kota, kami akan sering-sering pulang ke desa. Lagi pula, kita memang tak bisa lepas dari urusan adat, bukan?"

"Baguslah kau mengerti. Memang itu yang Meme harapkan dari suamimu. Kau tentu ingat betapa limbungnya keluarga ini ketika ayahmu meninggal, bukan?"

Ni Ketut Darsih mengusap kelopak matanya. Suarsiki dapat menangkap isyarat kesedihan itu. Lima tahun lalu, Suarsiki ingat kehidupan mereka seperti kapal tanpa nakhoda. 

Ayahnya yang baru saja diangkat sebagai kepala sekolah menengah, meninggal mendadak karena penyakit paru-paru. Keluarga seperti kehilangan arah.

Suarsiki saat itu baru menginjak semester empat, sementara adiknya, Kadek Wardana, masih delapan tahun. Beruntung ayahnya meninggalkan aset dan warisan turun-temurun berupa tanah-tanah sawah yang cukup sehingga hidup mereka masih berlanjut sampai kini. 

Sampai Suarsiki bisa menyelesaikan kuliah S-2 Kajian Wacana, sebagai kelanjutan studi S-1-nya di jurusan sastra Jawa kuna. Sampai ia kini sudah menjadi dosen tetap di almamaternya. 

Sedih? Suarsiki sudah lama belajar mengikhlaskan. Tak ada kehilangan yang benar-benar hilang. Selalu ada berkah-berkah baru sebagai gantinya. 

Kenangan tentang yang pergi memang tak akan tergantikan, tetapi bersama yang baru dia harap bisa merangkai cerita-cerita baru, melahirkan kenangan-kenangan baru. Orang itu adalah Wisnawa. Sentana yang diharapkan ibunya bisa mengisi posisi ayahny sebagai kepala keluarga.

Tidakkah beban ini terlalu berat baginya? Suarsiki menekan perasaan itu. Dia percaya, cinta bisa mengalahkan segalanya. Seperti yang tiap saat dibisikkan lelaki tinggi gagah itu ke telinganya. 

Serupa bahasa puisi. Serangkaian kutipan-kutipan kakawin, kidung di lontar-lontar legendaris nan romantis itu.

Tahukah Suarsiki. Aku hanya ingin menikahi waktu, bersetubuh dengannya, lalu melahirkan waktu, agar waktuku tak pernah habis bersamamu, Suarsiki.

Ada apakah itu, di sela-sela dua alismu, bersinar memancar. Seperti cahaya. Cahaya yang mengisyaratkan aku harus menyentuhnya perlahan.

Jika kau menjelma menjadi awan, maka aku adalah anginnya. Lalu kita bersama menjadi mendung yang kelak menghujani bumi.

Adakah perempuan yang masih menyimpan keraguan pada lelaki yang tiap saat mengatakan hal-hal indah itu padanya? Pada lelaki yang kemudian menghadiahinya seorang putra kecil yang lucu dan cerdas? Mungkin tidak. Tak terkecuali Suarsiki.

***

Keraguan-keraguan kecil itu pada akhirnya tak dapat dipungkiri.

Wisnawa. Lelakiku bernama I Gede Agus Wisnawa. Harusnya pagi ini dia hadir di pura. Ketika para perempuan ngayah, bergotong-royong membuat banten, dia seharusnya ada di tengah-tengah laki-laki lainnya. 

Mereka sedang sibuk menggorok babi, memanggang ayam dan bebek untuk sesajen. Tetapi, lelakiku tidak ada di sana. Apakah ini bentuk protesnya? Ketidakpuasan yang katanya tiba-tiba datang begitu saja dari dalam dirinya?

Beragam pertanyaan menyerang Suarsiki. Sambil memotong-motong busung, daun kelapa muda untuk sesajen, diperhatikannya para lelaki itu. 

Mereka begitu tulus. Kewajiban di pura atau kegiatan lain tak membuat mereka terbebani. Mereka betul-betul menikmatinya. Kebersamaan itu seperti menjadi kebahagiaan yang lebih besar dari sekadar hidup enak dan memiliki jabatan tinggi. 

Banyak dari mereka yang hanya menjadi petani, buruh bangunan, dan perajin tikar dari daun pandan, tetapi hidup mereka bahagia.

Lelakinya pernah seperti itu. Dia sangat rajin. Sekalipun pekerjaannya sebagai wartawan cukup sibuk, dia selalu menyempatkan pulang tiap ada kegiatan di desa. Bahkan, sebagian waktunya lebih banyak dihabiskan di rumah untuk memperhatikan ibu dan mengurus adiknya.

Saat itu Suarsiki memang masih belum jadi dosen tetap di almamaternya. Dia tidak perlu tinggal di Denpasar dan bisa bolak-balik tiap hari ke rumahnya di Tabanan. 

Lagi pula, status pernikahan nyentana memang mewajibkan dia dan lelakinya tetap tinggal di rumah. Memenuhi tanggung jawab adat di desa.

Dua tahun kebahagiaan itu berjalan, tapi seperti ditelan begitu saja dalam lima bulan terakhir. Kalaupun pulang ke desa, Wisnawa seperti tak tulus. Wajahnya memperlihatkan beban teramat besar. 

Kalau masyarakat desa ibarat guru di kelas, kalau bhatara yang dipuja di pura seperti dosen di kampus, Wisnawa seolah hanya hadir untuk setor wajah. Demi absensi. Hatinya terbang entah ke mana. Pandangannya kosong.

Dalam kekosongan itu Suarsiki selalu mencoba memahami. Mungkin ini masa transisi. Mungkin Wisnawa perlu adaptasi. Seiring berjalannya waktu, mereka akan mengisinya bersama. 

Sayangnya bukan itu yang terjadi. Kekosongan itu kini hanya milik lelakinya sendiri. Dia mengisinya dengan berbagai pikiran yang hanya dia sendiri yang mengerti. Kelelakiannya. Dan semuanya akan berakhir dengan pertengkaran seperti seminggu lalu.

“Meme menanyakanmu terus, katanya kapan kau pulang?”

Suarsiki berkata merajuk. Wisnawa melepas pelukannya. Wajahnya langsung berubah jadi tak berselera.

“Belakangan kau sering melamun sendiri? Apa soal kita? Atau karena aku bertambah gemuk?”

“Tidak ada hubungannya dengan kita. Ini masalahku sendiri.”

“Masalahmu juga masalahku, ‘kan? Masalah kita. Ceritakanlah!”

“Aku tak tahu bagaimana menjelaskannya. Aku bingung.”

“Jelaskan seperti sebelum-sebelumnya. Kau selalu bisa membuatku mengerti.”

“Kali ini berbeda. Masalahnya jauh lebih besar. Aku tak tahu diriku sendiri. Semuanya muncul begitu saja.”

“Apanya yang lebih besar? Tentang apa semua ini? Bukan soal perasaan, ‘kan?”

“Tidak ada hubungannya dengan perasaan.”

“Lalu masalah apa?”

“Apa aku suami yang baik?”

“Ya, kau yang terbaik. Kau segalanya. Tolong jangan membuatku cemas. Ceritakan saja ada apa.”

“Aku yang merasa tidak baik. Aku merasa tak bisa apa-apa. Aku merasa jadi pengkhianat.”

“Kau berselingkuh?”

Suarsiki melotot. Mukanya masam. Wisnawa kaget dengan reaksi keras Suarsiki.

“Bukan. Sama sekali bukan itu. Sudah kukatakan ini masalah dalam diriku sendiri. Tak ada hubungannya dengan perasaanku padamu.”

“Lalu kau merasa berkhianat kepada siapa?”

Wisnawa tak menjawab. Ketika Suarsiki mendekat pun dia memilih memalingkan wajahnya.

“Apa kau tidak bahagia bersamaku?”

Kali ini Wisnawa menatapnya. Dalam sekali. Suarsiki masih berdebar. Sama seperti dulu. “Apa negosiasi kita sudah habis?”

“Entahlah. Aku hanya tak paham diriku.”

“Kau merasa mengkhianati dirimu sendiri?”

“Kurasa begitu.”

“Karena apa?”

“Banyak. Bukan hanya diriku. Meme juga. Keluarga semuanya.”

“Meme?”

“Bukan ibumu. Tapi ibuku. Keluargaku di Klungkung.”

"Maksudmu?"

"Di mana pun, tak ada orang tua yang rela anaknya paid bangkung. Tak ada!"

Suara babi menjerit setelah ditusuk dengan belati mengagetkan Suarsiki. 

Busung yang dipegangnya terjatuh. Sepulang dari ngayah berkali-kali dia menghubungi suaminya, tetapi panggilannya selalu tak dijawab. Ponselnya terkadang tidak aktif. Apa artinya semua ini? (Bersambung)

Baca Cerita Pendek Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Sewangi Alamanda

Cerita Pendek: Lukisan Daun Merah Saga

Cerita Pendek: Kehilangan Suara Itu

Artikel Asli