Cerita Pendek: Menanti part 1

Femina Dipublikasikan 07.49, 03/08/2020 • Ernita Dietjeria

Jam dinding bergerak selambat siput. Hampir pukul enam. Kusibak tirai jendela seraya menatap gelap yang mulai turun bersama gerimis.

Seperti biasa, dia belum pulang. Saat ini, tentu dia masih di kantor, berkutat di depan komputer diiringi rayuan Bocelli yang mengalun dari CD player. Sesekali dia akan melihat jam, berniat pulang namun tertahan oleh pekerjaan yang tak kunjung rampung.

Seingatku, hanya dua kali dia tiba di rumah sebelum pukul enam. Persisnya sehari sebelum Lebaran dan sehari sebelum tahun baru. Selebihnya, dia selalu tiba di rumah setelah malam turun sempurna.

Kusandarkan punggung senyaman mungkin di sofa. Televisi di depanku menyuguhkan acara sinetron penuh intrik. Sesekali kulirik Alinka yang baru saja disuapi makan oleh Rati. Buah hatiku itu bermain di karpet ditemani pengasuhnya yang tampak sabar meladeni ocehannya.

Lima belas menit berlalu. Aku beranjak ke ruang makan. Asni sudah menata meja untukku. Sepiring nasi putih, dua jenis lauk, semangkuk kecil sayur asem, dan segelas teh dingin. Dalam diam, aku makan seorang diri. Aku tak pernah menunggunya pulang sebab perutku tak mungkin diajak kompromi. 

Terlambat makan berarti merelakan lambungku perih seolah ditusuk puluhan jarum. Lagi pula, dia tak pernah keberatan. Toh, sering kali dia makan malam di kantor.

Piringku hampir kosong. Kunyahanku melambat. Tidak seperti dulu, kini aku tak lagi makan banyak. Seleraku menyusut, perlahan tersingkir oleh pikiran dan jenuh yang makin hari makin menumpuk di benak.

Usai makan, aku kembali duduk di depan televisi. Sesekali kudengar Alinka tertawa. Tawa yang begitu bening. Tawa yang entah sudah berapa kali terlewatkan olehnya.

Jam berdentang tujuh kali. Aku kembali melamunkannya. Mungkin dia sedang makan nasi goreng seafood atau soto ayam kesukaannya. Biasanya dia meminta bantuan office boy untuk membeli makanan. Sebagai imbalan, dia akan memberikan tip cukup besar kepadanya. Dia memang seorang pemurah dan baik hati.

Sifat itu pula yang membuatku tertarik kepadanya. Awalnya, aku sempat tersinggung saat orang tua kami bersepakat menjodohkan kami. Tentu saja aku tak sudi mendapatkan pasangan hidup dengan cara kuno macam itu. 

Tapi, orang tuaku memaksa. Akhirnya sambil menggerutu, aku pun bertemu dengannya. Dia menjabat tanganku dengan santai disertai seulas senyum tulus. Tawanya lepas membuat aku seketika terpikat.

“Bobok.” Jemari mungil menyentuh tanganku.

Lamunanku pecah. Alinka berdiri di dekatku dengan sepasang mata bundar meredup. 

Aku melirik jam. “Yuk, bobok,” kataku, sambil menuntunnya ke kamar.

Bocah itu segera menyelinap di balik selimut. Perlahan matanya terpejam saat aku tuntas membacakan sebuah dongeng untuknya. Kukecup pipinya. “Don’t let the bed bugs bite,” bisikku. Lantas kumatikan lampu kamar sebelum melangkah ke luar.

Kembali, aku duduk di depan televisi. Kali ini, sekotak cokelat di atas meja menyita perhatianku. Kubuka kotak dan kupandangi aneka cokelat mungil yang tersusun rapi di sana. Ada cokelat isi karamel, buah ceri, kacang macadamia, dan kismis. Kuambil sebutir cokelat isi karamel dan kukulum hingga lumer. 

Aku dapat melahap sekotak besar cokelat dalam waktu cepat. Kudapan yang mampu menenteramkan hati, meski tebusannya jarum timbangan di kamar tidur selalu mengarah pada angka yang membuatku gelisah.

Aku melirik jam dinding. Tepat pukul delapan. Nyanyian dangdut mengentak layar televisi. Asni dan Rati muncul dari dapur sambil tersenyum-senyum, lalu duduk di karpet dan membiarkan diri terhipnotis oleh penampilan penyanyi dangdut di layar kaca.

Aksi penyanyi itu benar-benar luar biasa. Tubuh sintal dibalut busana ketat. Liukan maut diikuti desah manja serta kerling genit. Aku tersenyum. Tingkahnya mampu sejenak menghiburku.

Tapi, dia tentu tak suka. Selera musiknya sangat berbeda denganku. Dia hanya menyukai lagu-lagu klasik yang dibawakan Andrea Bocelli dan Placido Domingo. Menurutnya, lagu-lagu itu mencerdaskan. Menurutku, lagu-lagu itu memiliki efek lebih dahsyat dari obat tidur.  

Aku menguap. Menunggu bukanlah pekerjaan menyenangkan. Saat jam dinding berdentang sembilan kali, kutahu dia sedang dalam perjalanan pulang. Biasanya dia akan membawa pulang sebagian pekerjaannya. 

Jika belum mengantuk, aku akan menemaninya bekerja sambil menonton TV. Namun, jika kelopak mata tak sanggup bertahan, aku akan tidur terlebih dulu, meninggalkannya seorang diri bersama pekerjaannya.

Aku tersentak. Bunyi klakson mobil membubarkan penonton dangdut. Asni bergegas keluar dan membuka pintu pagar. Rati buru-buru menyingkir ke belakang.

Aku beranjak dan menyambutnya di depan pintu. Wajahnya tampak letih, meski seulas senyum tak hilang dari bibirnya. Sekilas diciumnya pipiku.

“Capek?” tanyaku.

Dia mengangguk dan melangkah ke ruang tengah.

Aku mengikutinya. “Makan?” tanyaku berbasa-basi.

“Tadi sudah di kantor,” sahutnya, seraya meletakkan tas kerja di atas meja. Diempaskannya tubuh di atas sofa. “Besok aku harus ke Singapura. Ada meeting dengan buyer.”

Keningku berkerut. “Mendadak sekali. Kok, tadi tidak telepon?”

“Maaf, Sayang. Aku lupa. Tadi sibuk sekali. Persiapan presentasi untuk pertemuan nanti di Singapura.”

Aku berdecak. Kabut kecewa merayapi dadaku. “Kamu selalu sibuk. Pergi terus.”

Dia menatapku teduh. Senyumnya lembut, seolah ingin mengusir kecewaku.

“Cuma tiga hari, kok. Setelah pekerjaan ini rampung, aku berencana mengajukan cuti. Bagaimana kalau kita bertiga liburan ke Bangkok?”

Aku tersenyum samar. Mungkin itu usul yang baik. Entahlah. Terkadang aku ingin dia mencari pekerjaan lain yang tidak terlalu menyita waktu dan pikiran. Namun, keinginan itu hanya kupendam di hati. 

Kuakui, pekerjaannya sangat menguntungkan bagi kami secara finansial. Kami bahkan dapat menikmati berbagai hal yang sebelumnya tak pernah terbayangkan.

“Aku kangen Alinka,” katanya, memecah keheningan. Dia berjingkat masuk ke kamar dan mengecup Alinka yang tertidur pulas. Aku mengintip dari balik pintu, menikmati saat langka seperti ini, kala dirinya dan buah hati kami terasa begitu dekat.

**

Sinar matahari pagi menerobos masuk lewat jendela yang terbuka lebar. Kami berkumpul di ruang makan sambil menikmati sarapan. Suatu kehangatan yang kutahu tak akan bertahan lama. Sebentar lagi, dia harus meninggalkan aku dan Alinka.

Tak ada perbincangan berarti di meja makan. Dia asyik membaca koran pagi sambil menyeruput secangkir kopi. Sesekali digodanya Alinka yang tengah menikmati segelas susu dan setangkup roti selai.

Diam-diam kulirik wajahnya. Aura tenang sekaligus tegas terpancar di sana. Sejujurnya, aku bangga dan kagum padanya. Dia adalah pekerja cerdas dan ulet. Dedikasinya yang tinggi terhadap perusahaan membuat dirinya mampu dalam waktu singkat meraih jabatan direktur pemasaran.

Terkadang rasa bersalah menyelinap di dadaku. Bukankah sepatutnya aku turut menanggung beban pengeluaran rumah tangga kami? Alinka membutuhkan dana tak sedikit untuk masa depannya. Begitu juga beberapa kerabat yang kerap membutuhkan bantuan finansial kami. 

Namun, kesepakatan telah tercapai. Salah satu di antara kami harus tinggal di rumah untuk mengawasi pertumbuhan buah hati kami. Dan tugas itu jatuh padaku.

Jam dinding berdentang delapan kali. Dia beranjak dari meja makan. “Sebentar lagi Deana dan sopir kantor menjemputku,” katanya, sambil memeriksa sebuah koper dan tas berisi notebook yang sudah siap di dekat pintu.

Benar saja. Sesaat kemudian bel berbunyi.

Dia membuka pintu. Sosok cantik muncul dari balik pintu dengan senyum menawan. Penampilannya chic dengan paduan blazer dan rok senada. Rambutnya bergelombang disaput warna mahogany.

“Sarapan dulu,” tawarnya ramah kepada Deana.

Gadis itu duduk di sampingku. Sekilas, dia menyapaku.

Aku membalas dengan senyuman kaku. Sejujurnya, aku tak terlalu suka pada Deana. Tiap bertemu, dia selalu memandangku dengan tatapan sinis. Apakah karena seharian aku cuma berkutat di rumah? Atau karena diriku kerap tampil tak menarik?

Dalam hati aku menggerutu. Kulirik Deana yang tengah mengangkat cangkir berisi kopi hangat ke bibirnya yang berwarna magenta. Gadis itu menyeruputnya pelan, lalu melempar lelucon kepadanya. Serta-merta dia tergelak. Deana pun terbahak. 

Aku menulikan telinga, berpura-pura sibuk mengobrol dengan Alinka.

Mungkinkah dia lebih menikmati kebersamaannya dengan Deana dibandingkan aku? Tiap hari mereka bertemu di kantor. Tiap ada kunjungan bisnis, mereka selalu bersama. Seperti saat ini, sang sekretaris akan setia mendampinginya selama di Singapura.

Aku menghela napas, berusaha menekan cemburu. Mereka masih larut dalam lelucon asing itu. Ruang makan menjadi riuh, namun hatiku begitu senyap.

 “Kami berangkat sekarang,” katanya tiba-tiba, memecah lamunanku.

Aku mengangguk, memberinya senyum yang seolah berarti semuanya akan baik-baik saja. Aku tak ingin dia membaca semburat cemburu dan kecewa di wajahku.

Dia dan Deana melangkah ke luar seraya berbincang tentang suatu hal yang terdengar penting. Aku mengikuti dari belakang sembari menggendong Alinka yang mengoceh tanpa henti.

Di depan pagar, dia berhenti dan menatap sayang padaku dan Alinka. Bergantian, diciumnya pipi kami.

“Papa dan Alinka baik-baik di rumah, ya,” katanya, lembut.

Aku mengangguk. “Mama juga baik-baik di Singapura. Cepat pulang, ya,” balasku.

Langkahnya anggun menuju mobil yang sudah menunggu. Sebentar dia membalikkan badan dan melambai, sebelum masuk ke dalam mobil.

Dalam senyap, kutatap kepergiannya hingga mobil yang ditumpanginya hilang di ujung jalan.

Dan seperti biasa, aku akan setia menantinya. Di rumah. Tiap hari.(f)

Baca Cerita Pendek Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Laki-Laki dari Langit Part 1

Cerita Pendek: Pelangkah Part 1

Cerita Pendek: Tentang Lastri Part 1

Artikel Asli