Cerita Pendek: Melamun

Femina Dipublikasikan 06.39, 07/07 • Mahwari Sadewa Jalutama

Melamuni pagi adalah waktu untuk mengumpulkan ruh dari sisa tidur semalam, ucap lelaki itu. Dulu, aku hanya mengangguk tanda mengiyakan. Walaupun sebenarnya belum paham betul apa maksud suamiku itu. Pikiranku kosong terpaku pada cakrawala yang masih bias di ujung sana. Sedang hangat tubuhnya yang memagut denganku belum mampu mengaburkan hawa dingin Fujinomiya yang membuat kelu.

    Entah sejak kapan –sebenarnya aku pun tidak peduli– melamun menjadi secuil ritual sebelum aku memasuki rutinitas kerja di kubikel kecil dekat jendela tempatku bekerja. Hari seperti tidak utuh jika tidak melakukannya. Mungkin kau tahu rasanya? Sama seperti gosip murahan yang biasa kau lihat di layar kaca untuk bahan obrolan, tapi lupa kau saksikan saat membuat sarapan. Kita tahu, sepertinya kecanduan.

    Namun, di suatu pagi yang terlambat kusadari, langit Tokyo mendadak keruh. Menyerupai sapuan serampangan cat air abu-abu di kanvas yang penuh warna. Percayalah kau akan meratapinya dengan nelangsa. Seakan semesta bersekutu dalam elegi yang intonasinya meresahkan. Ya, resah itu. Kemudian mengantarkanku dalam lamunan tentang pagi yang tak biasa. Teh hijau yang sedari tadi kuseduh masih utuh tak tersentuh. Panasnya menguap. Seperti kesadaranku yang memudar dalam pagi di akhir November yang beku.

***

    Bulan Januari lima tahun yang lalu. Mataku bertemu dengan mata milik lelaki itu. Tepat pukul delapan empat lima pagi. Bola mata yang hitam kelam. Seakan menarikmu dalam ruang hampa. Seperti saat ini. Saat tubuhku tertarik tak berdaya oleh lift menuju ke atas. Bersama dengannya. Juga sekelompok robot-robot berotak yang hanya menambah sesak dalam kotak besi itu. Aku keluar lebih dulu saat berada di lantai tiga. Keluar dengan tergesa. Namun, mata itu masih terus mengikutiku. Seakan laba-laba beracun tak terlihat menempel di punggungku. Sayangnya, ini sungguhan.

    Setelah menaruh tas di meja kerja, aku pergi untuk menyeduh ocha dan kembali lagi. “Aku butuh ketenangan,” ujarku. Napasku terpotong-potong. Seperti masih diburu dalam rimba yang mencekam. Pertemuan singkat tadi memang tak membawa sapa di udara. Tapi kakiku tetap gemetar. Kuisi relung di paru-paruku dengan udara sebanyak-banyaknya. Berharap menjadi baikan. Dan memang sedikit lebih baik. Setelah tenang, aku kembali dalam ritual kecilku. Melamun. Memaksaku mengingat peristiwa barusan. Tentang lelaki bermata satu.

    Saat jeda kerja, aku melihatnya lagi. Melihat, bukan bertemu, dari jendela yang tak sampai sedepa dari mejaku. Onigiri yang menjadi bekal yang kubawa dari rumah telah habis kusantap. Saat berjalan untuk mengambil air minum itulah aku melihatnya lagi di seberang jalan. Dari ketinggian kuperhatikan sosoknya yang kurus dan jangkung menembus keramaian robot-robot yang membaur dalam zebra cross. Sejenak masuk ke dalam kios, lalu keluar lagi. Di tangannya tampak membawa sesuatu. Dia lantas berjalan menuju pojok area merokok. Sekali lagi, dia hanya sebentar di sana. Rokok yang masih tersisa setengah di bibirnya dimatikan lalu dibuang di tempat sampah terdekat. Sesaat, dia mendongak ke atas. Seakan tahu mataku mengamatinya. Tubuhku bisu. Perasaanku rawan kembali. Perlahan, dia mendekat. Makin dekat. Lalu hilang masuk ke dalam perut gedung kami.

    Aku mencoba mengalihkan pikiranku dalam pekerjaan. Pekerjaan yang memang menuntut fokus tingkat tinggi. Mengambil tubuh dan jiwa dalam kuntinuitas yang dapat merenggut kemanusiaanmu. Bisa saja mengubahmu menjadi robot yang telah memenuhi tiap sudut kota. Bagaimanapun, kini ada laba-laba di punggungku yang selalu mengingatkan pada suatu ancaman. Baiknya itu justru mempertahankan kewarasanku.

    Ketika Bima Sakti mulai tampak dalam refleksi air yang menggenang di depan Stasiun Shibuya, patung Hachiko kembali hidup. Seperti biasa, seperti hari-hari sebelumnya dia melolong sangat keras. Lolongan yang memanggil segala makhluk untuk pulang. Termasuk juga bekas pemiliknya yang sudah meninggal itu. Dalam satu menit, kota menjadi mati. Namun kembali berdenyut saat Hachiko kembali mematung. Panggilan pulang dari anjing setia itu, menyudahi aktivitas kerjaku. Juga semuanya. Kini, kami mengantre lift untuk turun sesuai dengan jadwal masing-masing. Liftku berada di tengah. Sesuai jadwal, pukul lima tiga lima pintu terbuka untukku. Semuanya sama seperti tadi pagi. Tak ada yang berubah. Tak ada yang meleset. Juga dia. Lelaki itu, berada di belakangku. Namun, sekarang aku mencoba tenang. Bersiap menghadapinya.

     Karena lebih tenang, aku bisa mencium wangi yang pernah kukenal dari seorang lelaki dulu. Wangi tubuh yang akan menggodamu, menyeretmu dalam dimensi romansa masa remaja. Memabukkan. Masa-masa penuh dosa seingatku. Iblis mana yang membawa wangi itu kembali pada lelaki di belakangku? Sungguh mengerikan. Untungnya, pintu lift segera terbuka. Lalu, setengah berlari kulintasi lobi gedung menuju pintu keluar barat kemudian berbelok ke kiri dan terus melesat menuju Stasiun Shibuya. Sesaat sebelum masuk ke dalam stasiun, aku menoleh ke belakang. Dan sepertinya kulihat sosoknya menghilang dalam genangan berisi Bima Sakti di depan. Tapi itu tak pernah terbukti. Yang ada hanyalah patung Hachiko menatapku awas.

***

    Pagi ini lelaki bermata satu tak tampak di lift. Bilik besi itu telah menyisakan ruang kosong yang menganga tepat di belakangku. Tempat di mana seharusnya lelaki itu berada pada waktu yang biasanya. Kebiasaan memang membuat otak kita berpikir seharusnya. Kadang kala kebiasaan itu menjadi kebenaran bagi kaum mayoritas, robot-robot itu. Aku bukanlah bagian dari kebanyakan. Mungkin belum. Aku juga tak tahu. Yang aku pahami saat ini, hanyalah tak ada lagi laba-laba di belakang punggungku. Apa aku harus senang? Aku tak tahu. Perasaan rawan yang berhasil kuatasi ini justru muncul kembali. Disusul panik yang menjalar lebih dari saat pertama menatap mata satunya. Ada perasaan tidak aman. Justru, saat tidak ada yang memperhatikanku lagi. Dan, makin memikirkannya makin membuatku frustrasi. Apa kau pernah merasakan seperti ini?

    Aku ingat, sepertinya pernah mengalami perasaan seperti ini. Saat perutku membuncit di akhir bulan ketujuh kehamilanku. Gerakanku sudah melamban saat beraktivitas. Apa-apa menjadi malas. Seperti anggora yang enggan bergerak berlebihan. Dunianya sebatas makan dan tidur. Aku yang kepayahan dengan kandunganku lebih memilih tidur-tiduran. Apalagi ini hari Minggu, hari libur. Saat tertidur, aku bermimpi seorang anak laki-laki tersenyum menatapku dan tak lama tubuhnya menguap menyatu dalam rintik gerimis. Kemudian saat kubuka kelopak mata, seperti yang bisa kau duga. Aku telah kehilangan calon bayiku. Menyusul, aku juga kehilangan hangatnya kasih suamiku. Semenjak itu, tidak ada yang memperhatikanku lagi selain lelaki bermata satu.

    Lima tahun belakangan ini aku selalu melihatnya. Tiga kali sehari. Tak bertambah dari awal pertemuan kami. Tak berkurang pula intensitasnya. Masih juga utuh tanpa kata-kata. Melihatnya, hanya melihatnya itu seperti sudah menjadi keharusan untukku. Menjadi kewajiban untuk melengkapi suatu rutinitas. Memang brengsek. Sebenarnya aku pun tak sudi melakoni pola yang tampak membosankan ini. Tapi, itulah yang terus terjadi berulang kali. Mungkin aku bohong akan keenggananku. Buktinya aku rapuh saat dia tak ada. Kehilangan kebiasaan itu seperti mendengar detak jam yang tidak teratur lagi. Aneh.

    Seharusnya aku melihat sosok lelaki itu di seberang jalan saat ini. Namun, yang ada hanya pikiran liar yang memaksa membawa berbagai kemungkinan tentang kealpaannya. Apa yang terjadi? Mendadak hal ini menjadi sebuah teka-teki silang tanpa sebuah petunjuk. Apa dia sakit? Saat terbangun dari tidur tiba-tiba bintik cacar memenuhi tiap jengkal tubuhnya dengan nanah mengerikan seperti yang kualami sebulan yang lalu? Atau jangan-jangan dia mengalami kecelakaan? Dalam perjalanannya menuju genangan Bima Sakti di depan Stasiun Shibuya dia terpeleset, jatuh dan dilindas ribuan orang yang menyeberang hingga gegar otak seperti yang kualami tiga minggu yang lalu? Bisa juga dia diculik oleh alien bertubuh segitiga kecil berwarna emas dengan mata tiganya yang besar seperti yang kualami dua minggu yang lalu? Mungkin dia pergi ke masa lampau bersama John Titor untuk menemaninya mengambil IBM 5100 yang gagal kami bawa seminggu yang lalu? Tentu yang paling buruk adalah dia telah mati, bukan? Nyawanya direnggut iblis saat menolak menggunakan wangi yang sama seperti mantan kekasihku dulu.

    Tak terasa, air mataku menetes. Dalam tiap tetesnya yang menggenang di meja terlihat Bima Sakti. Berpendar. Gugusnya yang ramai berusaha menghibur. Walau hasilnya nihil. Dan di hari itu aku mendengar Hachiko menggonggong lebih cepat dari biasanya. Namun, aku tak bergerak pulang. Tubuhku terkulai. 

***

    Tokyo dua lima tahun berlalu menjadi kota kelabu. Membisu dalam denyut waktu. Tidakkah kau dengar? Pelangi pun enggan membujur di situ. Tapi, tak ada yang menahu. Apalagi mencari tahu. Populasi robot-robot berotak yang meningkat drastis belakangan ini makin mengurangi kepekaan terhadap sekitar. Mereka hanya bergerak, menjalankan sesuai program saja. Terdengar membosankan, bukan?

    Dan inilah aku, di ambang akhir masa kerja. Rasanya baru kemarin berada di sini. Sebagai wanita belia di hari pertama menapaki karier. Barang-barang yang ada di meja kerja kini kukemasi dengan rapi. Banyak benda sarat kenangan kutatap lama. Ya, lama sekali. Momen sentimental. Jadi, ini yang dirasa kebanyakan dari kita, di hari terakhir bekerja, pikirku. Mencoba mengais keping kenangan yang tercecer di tiap sudut ruang. Terasa klise.

    Saat semua barangku sudah tersusun rapi dalam dus, aku berdiri di dekat jendela dan memperhatikan kerumunan yang tengah menyeberang zebra cross. Senyum geli menghiasi bibir, saat sedang melamuni lelaki bermata satu. Kios tempat dia biasa membeli rokok sudah tak ada lagi beserta pojok favoritnya. Tempat macam itu sudah jadi barang langka saat ini. Tapi entah mengapa, aku percaya. Apa pun yang terjadi, dia akan tetap berada di sana dengan rokok yang entah dia dapatkan dari mana asalnya. Dan bagiku, dia akan selalu ada di sana. Untuk memandangiku dari bawah.

    Kini Bima Sakti mulai terlihat berpijar di genangan depan Stasiun Shibuya dan disusul Hachiko yang melolong panjang. Selesai mendengarnya, aku segera bergegas menggerakkan tanganku yang sudah menjelma menjadi besi untuk membawa dus penuh kenangan menuju rumah. Itu berarti aku akan segera pulang pada kesadaran.

Tokyo 2013 – Purwokerto 2014(f)

***

Baca Cerita Pendek Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Senja di Saigon

Cerita Pendek: Memori Yang Hilang

Cerita Pendek: Semangkuk Kenangan

Cerita Pendek: Sepotong Memori Dalam Labu

Cerita Pendek: Jejak Hati di Tobelo

Artikel Asli