Cerita Pendek: Lelaki dari Masa Lalu

Femina Dipublikasikan 08.12, 03/08/2020 • Endah Raharjo

Pesawat yang akan membawaku terbang dari Jakarta ke Medan ditunda karena alasan teknis. Tidak sampai satu jam, jelas seorang ground crew yang mondar-mandir menenteng walkie-talkie. Tidak sampai satu jam, gerutuku. Mereka pikir semua orang punya banyak waktu untuk dibuang.

Kucari tempat duduk paling ujung, menghadap ke taman. Aku ingin bekerja, tak mau terganggu lalu-lalang orang. Kulihat semua kursi di ujung sudah diduduki. Kuputuskan duduk di samping seorang lelaki sebaya Papa. Ia sedang sibuk membaca dokumen tebal. 

Ia mengangkat muka sejenak, tanpa sengaja tasku menyentuh lengannya. Aku mengangguk, menyapanya. Ia balas dengan senyum samar.

Kubuka laptop, siap meneruskan pekerjaanku. Sesaat kemudian kurasakan matanya sengaja memandangiku dari samping. Lelaki berambut ikal berjas warna cokelat tanah itu menggeser duduknya. Kini ia bisa memandangku lebih leluasa. Aku mulai merasa tidak enak. Namun, kubiarkan saja. Bila ada perlu, entah apa, pasti ia akan bicara. 

“Mbak, maaf, ya. Mbak ini dari Yogya?” Suaranya ramah dan sopan.

“Memangnya kenapa, Pak?” aku ganti bertanya.

Ia tampak terpelajar dan terhormat, namun aku tetap tak mau begitu saja menceritakan asalku kepada orang asing yang kebetulan sama-sama menunggu pesawat terlambat.

“Saya pernah punya teman, dulu sekali, perempuan, namanya Asrini. Dia mirip dengan Mbak.”

Aku menoleh. Matanya menyiratkan rasa rindu akan masa silam. Ada sebentuk senyum amat halus yang bahkan tidak membuat bibirnya bergerak. Senyum yang seperti datang dari kedalaman hati. Namun, bukan senyumnya itu yang membuatku terpana. Nama perempuan yang dia sebutkan itu sama dengan nama Mama.

“Saya dulu kuliah dan tinggal di Yogya. Antara tahun ‘77 dan ‘83. Ya. Persis. Enam tahun. Teman saya, Asrini, tinggal di Prawirotaman. Itu bagian selatan kota. selatan Keraton. Sebuah kampung elite masa lalu.”

“Ya. Saya tahu,” tukasku.

Laki-laki ini benar-benar sedang berbicara tentang Mama. Asrini dari Prawirotaman. Tidak ada perempuan bernama Asrini di Prawirotaman yang usianya kira-kira sebaya dengan lelaki itu kecuali Mama.

“Asrini, teman saya itu, dulu gemar pakai gaun biru. Persis warna gaun Mbak ini. Tapi, jelas modelnya beda.” Kepalanya meneleng lucu. Ia lepas kacamatanya, menatap gaunku. “Ah. Maaf, ya, Mbak. 

Orang tua suka bernostalgia. Tapi, Mbak ini sangat, sangat mirip dengan Asrini, teman saya itu.” Ia menarik napas kuat-kuat dan membuangnya hati-hati, kemudian menyilakanku kembali bekerja.

Mana bisa aku bekerja setelah mendengar cerita lelaki yang duduk di sebelahku ini. Gaun biru yang ia sebutkan itu bagai tombol pembuka pintu menuju masa lalu. Setelah berpikir sebentar, aku mengaku, “Asrini itu ibu saya.”

Bundelan tebal itu ia tutup tiba-tiba, mungkin sejak tadi ia menunggu pengakuanku. “Sudah saya duga!” serunya. “Mbak ini anak nomor berapa? Sekarang Asrini ada di mana?”

Caranya menatapku memicu penyesalan atas pengakuanku tadi. Ia terkesan sangat mengenal Mama. Seharusnya aku tidak menanggapinya. 

Ada bagian masa lalu Mama yang ingin kulupakan. Untung terdengar pengumuman agar penumpang segera menaiki pesawat. Aku pura-pura tidak mendengar pertanyaannya, sibuk mengemasi bawaanku.

“Mari, Pak,” tukasku. Sigap tubuh rampingku berkelit, menyelinap di antara penumpang lainnya. Bodoh sekali tingkahku itu. Aku dan lelaki itu akan berada di perut pesawat yang sama selama 2 jam. Ia bisa dengan mudah menemukan tempat dudukku.

Benar juga. Setelah lampu tanda kenakan sabuk pengaman padam, langsung kutangkap sosoknya, berdiri di deretan kursi depan, melangkah ke belakang, matanya beredar meneliti tiap penumpang.

“Ah… Mbak, rupanya duduk di sini.” Ia berhenti tepat di sampingku. “Saya juga suka duduk di dekat lorong.” Senyum halusnya terpampang. “Ini kartu nama saya. Bila Tuhan menghendaki, suatu saat nasib baik akan mempertemukan kita lagi. Tolong sampaikan salam saya untuk Asrini.” Tangannya membuka meja lipat di depanku, meletakkan kartu namanya, lalu berbalik kembali ke kursinya. Dari sikapnya, ia tahu kalau aku berusaha menghindar.

Kulirik kartu nama terbuat dari kertas mewah itu. Wisnu Baskoro. Napasku memburu, tengkukku menegang, sepasang mataku basah.

***

“Kalau kamu mau bayar 5 juta, urusan kayak gitu mudah aja,” ujar Awan. “Ini cuma nyari alamat orang. Lagi pula, orangnya udah ngasih kartu nama,” tambahnya meyakinkan. Sahabatku sejak SMP itu bekerja di sebuah biro jasa keamanan. Ia membawahi belasan bodyguards yang kerap disewa para pesohor. 

Ia punya banyak teman, semacam detektif swasta yang bekerja di balik layar atau di bawah tanah. Jangan salah. Pekerjaan temanku itu halal. Ia menolak membantu orang-orang yang berniat buruk. Sudah bertahun-tahun ia menggeluti dunia yang kupikir tak pernah ada itu.

Aku termenung, menimbang-nimbang.

“Kamu kan kaya. Buat apa gajimu itu? Apalagi masih hidup bareng emak-bapak,” Awan bercanda.

Aku memang masih tinggal dengan orang tua. Kadang-kadang terpikir untuk membeli rumah sendiri, atau kontrak, atau menyewa kamar kos. Namun, aku tak tega meninggalkan Mama dan Papa, meskipun mereka sama sekali tidak keberatan.

“Ini bukan perkara uang,” sergahku. “Oke! Lima juta. Tapi, ini aman, ‘kan? Nggak pakai gituan?”

“Gituan apa?” Awan tertawa ngakak. “Ini dijamin aman. Temanku itu cuma nyari alamat rumah orang ini.” Ia acungkan kartu nama yang tadi kuberikan. “Aku enggak mau tahu kamu mau ngapain saja setelah alamatnya ketemu.”

“Awan!” tukasku, menghentikan tawanya, “kamu harus tahu. Orang ini penting buatku.”

“Aku tahu itu, Pita. Kalau enggak penting, kamu pasti enggak akan membayar buat cari dia. Layanan ini legal. Bagaimana?” Awan kembali mengamati kartu nama yang selain nama pemiliknya juga tertera alamat kantornya. “Ini mudah… satu-dua hari juga ketemu.”

“Oke. Nanti uangnya kutransfer.”

“Ngomong-ngomong, kenapa kamu enggak telepon ponselnya saja? Atau kantornya? Ada di kartu nama…,” tanyanya.

“Aku enggak ingin mengganggunya. Aku cuma ingin tahu jati dirinya.”

***

Malamnya, sambil menata meja makan, Mama mengamatiku.

“Kamu kelihatan capek sekali,” katanya, menyerahkan centong nasi. “Akhir-akhir ini kamu juga suka ngelamun. Semua baik-baik aja, ‘kan?” Mama menyorongkan mangkuk sup.  

“Di kantor akhir-akhir ini banyak kerjaan tambahan yang sebenarnya bukan urusanku. Ada staf yang keluar. Belum dapat gantinya,” aku berbohong.

“Tito?” Mama menyebut nama pacarku.

“Baik-baik aja. Lagi di Papua. Baru pulang Jumat depan.”

Obrolan kami terhenti. Ada telepon dari Papa. Sudah seminggu ini ia bertugas di Belanda. Sebagai profesor mata kuliah langka, paleobotany, ilmu tentang tanaman-tanaman purba, Papa sering diminta mengajar di berbagai negara.

Sebenarnya, tak ada yang salah dengan hidupku. Namun, sejak bertemu dengan lelaki di bandara itu, perasaanku lungkrah, membuatku seperti kuda betina tua yang menarik pedati sarat beban. Dan, beban itu berasal dari masa lalu.

Waktu itu, April 2002. Sebagai hadiah ulang tahunku yang ke-18, Mama dan Papa membawaku berwisata ke Sydney. Ini bukan pertama kalinya kami jalan-jalan ke luar negeri. Kami duduk bertiga di sebuah restoran, di kompleks Sydney Opera House, memandang Harbour Bridge. Bisa kulihat pula sebuah kapal pesiar mewah tengah merapat di pelabuhan.

Mama tiba-tiba mendekatkan kursinya ke kursiku, tubuhnya condong ke tubuhku, dua tangannya menggenggam tanganku. Dalam bisikan lembut Mama memberi tahu bahwa aku bukan anak kandung Papa. Katanya, sudah saatnya aku tahu kenyataan itu.

Jangan ditanya bagaimana wajah Mama saat itu, serupa mayat: mengerikan, dingin, dan pucat. Aku mematung entah berapa lama. Tahu-tahu Papa sudah memondongku masuk ke kamar hotel. Kami pulang ke Yogya tiga hari lebih cepat dari rencana.

Semester itu nilai ujianku jeblok semua. IP-ku turun, dari 3,7 menjadi hanya 2. Aku mengalami depresi. Semester berikutnya aku jarang keluar rumah, kecuali untuk kuliah. Papa dan Mama sangat prihatin.

Di suatu pagi, Papa masuk ke kamarku, membawa nampan berisi secangkir teh panas dan roti isi telur dadar kegemaranku.

“Puspita,” ucapnya halus, meletakkan nampan di atas night table. Kuputar tubuhku, memunggunginya, kutarik selimut hingga ke leher. Papa tak memedulikan bahasa tubuhku, sengaja tidak menghidupkan lampu. “Dulu. Kira-kira 19 tahun lalu, mamamu berulah persis seperti dirimu saat ini. 

Mengeram di dalam kamar, tak mau keluar. Usianya saat itu 23 tahun. Ada dirimu di dalam perutnya. Lelaki itu sama sekali tidak tahu kalau mamamu hamil. Mamamu tidak mengaku. Setelah wisuda ia pergi bekerja, entah ke mana. Sejak SMA, Papa sudah mencintai Mama.”

Kemudian Papa bercerita tentang kemandulannya akibat penyakit parotitis parah yang menyerangnya semasa mahasiswa, tentang niat tulusnya menikahi Mama, tentang pengorbanan Mama bersuamikan manusia setengah lelaki seperti dirinya, demi diriku.

Aku terkejut mendengar Papa menyebut dirinya setengah lelaki. Bagiku ia lelaki sempurna tak bercacat-cela, pelindungku, ayahku. Aku tak rela Papa merendahkan diri seperti itu.

“Kamu tahu. Kita semua pernah membuat kesalahan, hal-hal yang kita sesali, yang tak bisa kita ubah lagi. Tiap detik dunia berubah, semuanya berjalan ke depan, tak pernah mundur ke belakang. Buat apa menyesali dan menguak yang sudah berlalu? Apalagi bila itu hanya menyakiti hati kita, membuat semua yang kita miliki saat ini terasa sia-sia. Mengapa tidak kita syukuri saja apa yang kita punyai?” Papa mengelus rambutku sebelum keluar kamar.

Sejak pagi itu, berangsur-angsur kukuasai kembali diriku, kuselaraskan hati dan pikiranku, kuteladani Papa dan Mama dalam menyikapi masa lalunya. Segera setelah aku pulih dari depresi, Mama menceritakan semuanya tentang lelaki bernama Wisnu Baskoro, ayah kandungku. Ia memberiku sebuah foto lama mereka berdua. Di foto itu Mama bergaun biru muda.

***

Awan menepati janji. Tak sampai 48 jam, ia telah menemukan orang yang kucari. Ia serahkan alamat rumah Wisnu Baskoro, lengkap dengan foto terbaru dan foto rumahnya. Ia lebih kurus dari dua bulan lalu, ketika kami bertemu di bandara, terbang ke Medan bersama.

“Lalu apa berikutnya?” tanyaku.

“Kok, tanya aku? Maumu apa?” Awan mengangkat dua alisnya.

“Aku ingin ke rumahnya. Kamu mau ngantar?”

“Mau kalau kamu bayar tiket pesawatku, plus ongkos-ongkos lainnya.”

Aku menyanggupi. “Kita ke Jakarta akhir pekan ini.”

Minggu pagi. Jarum pendek arlojiku hampir menyentuh angka tujuh. Aku dan Awan di dalam mobil sewaan, sudah dua jam parkir di pinggir jalan di kawasan Tebet, tak jauh dari rumah Wisnu Baskoro.

“Itu! Pagarnya dibuka!” seru Awan. Dari seberang jalan tampak moncong sedan menyembul, berhenti tepat di ambang pagar. Seorang lelaki muda, berpenampilan sederhana, keluar dari mobil.

Kubenahi topiku, kukenakan kacamata hitam. Aku melompat keluar, melangkah tenang, mendekat hingga bisa kulihat teras rumah itu.

Wisnu Baskoro keluar dari pintu depan, menerima kunci mobil dari si lelaki muda. Di belakangnya menyusul tiga gadis remaja usia SMP dan SMA. Baju mereka aneka warna. 

Berikutnya muncul seorang perempuan gemuk usia empat-puluhan, diiringi perempuan muda yang mungkin pembantu rumah tangga. Di antara bising knalpot kendaraan, bisa kudengar celoteh riang mereka.

Rasa dingin menjalari sel-selku. Otot-otot tubuhku beku. Aku tak hendak berlaku konyol, merusak kebahagiaan keluarga yang terpampang di depanku. Belum tentu aku lebih bahagia, bila tiba-tiba aku masuk dalam kehidupannya. Lagi pula, lelaki itu – mungkin – tak pernah tahu kalau aku anaknya, buah benihnya.

Tiap orang punya pengalaman buruk di masa lalu. Serupa bangkai, layaknya ia dikubur dalam-dalam. Bila dikuak, bau busuknya bisa tak tertahankan. Bila Tuhan menghendaki, suatu saat kami pasti akan bertemu. Terngiang kembali kata-kata lelaki itu, saat ia serahkan kartu namanya.

Dari seberang jalan kuawasi mobil itu berlalu, berbaur dengan lalu lintas pagi. Pergi.

“Pita,” Awan menyentuh lengan kiriku, “kamu baik-baik aja?”

“Ya. Aku baik-baik aja,” serak suaraku. Kubiarkan Awan menuntunku kembali ke mobil.

“Maaf, Pita. Ini bukan urusanku. Sebagai teman, boleh aku tahu siapa lelaki itu?” Hati-hati Awan menyentuh pundakku.

“Bukan siapa-siapa. Hanya seseorang dari masa lalu,” bisikku.

Baca Cerita Pendek Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Pengejar Idola

Cerita Pendek: Camar-camar Matsushima

Cerita Pendek: Sepeda Keranjang dan Pohon Kersen

Artikel Asli