Cerita Pendek: Kematian Keempat Part 1

Femina Dipublikasikan 07.11, 05/08 • Beni Setia

Claire Batuampa pernah dibunuh tiga kali, tapi tidak mati. Bahkan, karena itu, ia tiga kali terlahir kembali. Bila dirunut, percobaan pertama terjadi ketika nyaris lulus program D-3 Kesehatan di Akademi Kesehatan Tetenene di Halmarea. Tepatnya saat menjalani KKN di Pesisir Lontaria, dan bertemu dengan Aryad Lemareng, guru PPKN SMP Pesisir Lontaria. 

Mereka saling tertarik, saling jatuh cinta, dan tidak ragu mempertunjukkan kesalingtertarikan yang akan dikekalkan dalam perkawinan.

Tapi, cinta pada pandangan pertama yang hendak dikekalkan itu, ketika dikomunikasikan Claire Batuampa pada keluarganya, menjadi persoalan. Ia memilih Aryad Lemareng dan pernikahan secara Islami. 

Klan Batuampa Kristen, dan meski di Halmarea banyak keluarga yang memiliki keyakinan berbeda, sebagai klan kelas menengah, orang tua Claire Batuampa kukuh menginginkannya tetap Kristen dan menikah secara Kristiani. 

Tak mungkin menjadi Islam dan menikah secara Islami hanya karena cinta.

Mereka takut diasumsikan miskin, takut dianggap tak bisa mencukupi kebutuhan Claire Batuampa untuk mengamalkan hidup sesuai acuan Kristen. 

Mungkin juga karena Aryad Lemareng itu orang Waaj, bukan asli Halmarea. Bahkan, ia memilih tetap Waaj, meski banyak pihak mengharapkannya jadi Halmarea, dengan menikahi wanita Halmarea yang seiman --tidak perlu memaksa wanita Halmarea berpindah agama. 

Meski fenomena bersipindah keyakinan itu sebenarnya bisa ditoleransi, bila saja si wanita Halmarea dari Tetenene, Kekemerua, Pesisir Lontaria, dan mana pun itu tergolong miskin. 

Dan, di Halmarea itu banyak keluarga butuh sokongan. Hal yang bisa diberikan Aryad Lemareng.

Tapi, ihwal itu tidak berlaku bagi keluarga Claire Batuampa yang berkecukupan. Claire Batuampa pun disembunyikan keluarga besar Batuampa. Diisolasi. 

Dikurung dalam semacam asylum dengan penjagaan ketat keluarga besar Batuampa. Ia bahkan diancam dengan dilema: tetap menjaga gengsi keluarga dengan tetap Kristen, atau jadi Islam dan dibuang dari kubah pengayoman keluarga besar Batuampa.

Ternyata, Claire Batuampa memilih lari dari pengayoman keluarga Batuampa, menyelinap ke kapal yang hendak membawa Aryad Lemareng itu ke Amando, sebelum kembali ke Waaj. 

Ancaman terbuka keluarga besar Batuampa menyebabkan Aryad memilih mutasi ke Waaj, agar terbebas dari risiko pembunuhan. Hal itu yang membuat Dinas Pendidikan terpaksa bersegera mengamankannya

”Aku melarikan diri. Aku kini bukan Batuampa lagi…,” kata Claire Batuampa, saat menyelinap ke kamar Aryad, serta segera dirangkul oleh buncah kerinduan yang memuncak. ”Mulai saat ini kamu Lemareng, Claire,” kata Aryad Lemareng.

Itu kematian pertama dari Claire Batuampa, tapi momen itu membuatnya terlahir kembali sebagai yang berkeras hati memilih Islam --meski saat itu masih agak subjektif karena cinta.

***

Mereka menikah secara Islami di kapal, dengan dipimpin wali hakim kapten kapal dan saksi nakhoda di hadapan seluruh ABK serta penumpang. 

Satu pernikahan yang dilakukan cepat karena takut keluarga besar Batuampa keburu mengejar, lantas sekali lagi memisahkan mereka.

Ketika mendarat, mereka pun spontan mengawal Aryad Lemareng serta Claire Batuampa melapor dan mendapat surat nikah dari KUA Amando, suatu perlindungan hukum dari negara atas pernikahan yang halal Islami. Keesokan harinya mereka terbang ke Jatarka sebagai suami-istri.

Aryad Lemareng mendapat SK mutasi ke Bajulkesupen, Waaj Pusat, meski menginginkan ke Majulang, Waaj Etan, tempat kelahirannya. Ia mengurus mutasi, setelah mendapat kepastian surat penugasan, terutama surat perintah bayar gaji di SMP Krakasan, agak jauh dari Bajulkesupen.

Dengan bus mereka ke Semarabang, dengan bus pula mereka ke Bajulkesupen, lantas menyelinap dengan dua ojek ke Kecamatan Krakasan. Langsung ke kontrakan yang telah disiapkan keluarga Margalara, dari garis ibu Aryad. 

Tetapi, kedatangannya bersama Claire Batuampa sangat mengecewakan pihak keluarga Margalara, yang berencana akan menikahkan Aryad dengan Matiah, cucu sepupu nenek ibu Aryad. 

Setidaknya mereka berencana mau menyambung tali silaturahmi yang putus sejak nenek ibu Aryad dibawa mengembara ke Majulang oleh Towik Mabulang, kakek ibu Aryad. 

Terlebih (kemudian), ibunya ibu Aryad dan ibu Aryad dinikahi warga asli Majulang.

Fakta Aryad telah menikah dengan Claire Batuampa, seorang wanita Halmarea, membuat ide itu pupus. Keluarga Margalara dari garis ibu Arsyad itu agak dongkol. 

Dan, mungkin karena hal itu, keluarga Lemareng, ayah, ibu, dan adik-adik Aryad, tak pernah mengunjungi Aryad Lemareng dan Claire Batuampa di Krakasan. Tidak sekali pun, meski selama enam tahun pernikahan itu Aryad dan Claire Batuampa, serta Ahad.

Fathoni, anak mereka, tiga kali berlebaran di Majulang. Claire Batuampa pun menyadari bahwa semua silaturahmi itu ada dalam aura tidak nyaman, sambutan dingin, sehingga terasa sebagai sebuah basa-basi terpaksa yang tidak menyenangkan. 

Karenanya, ia terkenang kehangatan keluarga besar Batuampa di Tetenene di Halmarea.

Kalau saja tidak menikah dengan Aryad, pikirnya. Kalau saja aku tidak menjadi Islam, pikirnya lagi. Tapi, apa yang sesungguhnya terjadi? Claire tidak tahu. 

Ia hanya punya tiga jangkar untuk bertahan hidup. Cinta Aryad, Ahad Fathoni, anaknya yang diurus secara cermat sesuai ilmu kesehatan yang dikuasainya, dan terutama agama Islam, meski ia tidak begitu diterima sebagai mualaf di Krakasan. 

Keyakinan baru yang dipercayainya akan membawa pada kebahagiaan sejati itu, ia yakini akan membawa kepada kebahagiaan sejati setelah melampaui banyak cobaan. 

Siksaan dan dera yang selama ini ada, cuma godaan, ujian bagi keimanan, serta bagi ketulusan mengukuhkan keimanan.

Claire Batuampa terus bertahan, berketetapan bertahan dengan Islam ketika rona godaan memuncak jadi siksaan eksistensial: diam-diam Aryad menikahi Atika Wial secara siri, mahasiswi IKIP Semarabang yang sedang praktik mengajar di SMP Krakasan, di bawah bimbingan Aryad Lemareng. 

Atika adalah anak kepala kejaksaan di Jepraa. Dan, dengan amat cepat, lewat proses belakang layar yang sangat rahasia, seusai Aryad menceraikan Claire Batuampa, mereka pindah ke Jepraa.

Sejak itu, selama lima belas tahun, tak sekali pun Aryad menengok Ahad Fathoni. Ia meninggalkan Claire Batuampa dengan Ahad Fathoni, tanpa ijazah, tanpa tempat tinggal, dan tanpa pekerjaan. 

Claire Batuampa kebingungan mencari makan, tak tahu harus berbuat apa. Tapi, karena hidup harus berlanjut, maka Claire Batuampa pun melakukan apa saja di tengah cibiran keluarga besar Margalara.

***    

Di puncak duka diempaskan Aryad, Claire Batuampa selalu teringat akan kubah pengayoman keluarga besar Batuampa. Teringat keintiman Tetenene di Halmarea, dan karenanya tebersit sesal menikah dengan Aryad Lemareng. Terutama ia menyesali semua tindakan bersengaja meninggalkan semuanya di Halmarea.

Tapi, apa harus disesali bila ia kini Islam? Apa itu bukan puncak cobaan untuk sebuah keteguhan menjadi Islam dengan tangguh menghadapi ‘tsunami’ cobaan-Nya? Sebelum semua itu reda dan ia bebas melangkah sebagai wanita muslim terpuji, Claire Batuampa pun pelan mengusap wajah, istigfar, lantas mengambil wudhu, dan melakukan sembahyang taubat, bersyukur.

Dan, meski dikhianati dan malahan dibunuh, Claire Batuampa memutuskan tetap hidup setelah merasa yakin telah dilahirkan lagi sebagai orang yang Islami.

***

Itu tahun-tahun yang sulit. Dalam lima belas tahun itu, Claire Batuampa jadi si buruh cuci, buruh tani, tukang menggadaikan barang dan kemudian menebus apa yang tergadai di pegadaian. Apa pun, asalkan ada uang untuk menyewa kamar dan makan. Semua dijalani dengan ikhlas. 

Di sore hari, ia berjualan gorengan di kota kecamatan yang sepi dan segera senyap saat dingin malam pukul 21.00 menjejak, sebelum akhirnya ia menjadi si penjajal multilevel marketing (MLM) yang gigih, sehingga sering memperoleh bonus dan promosi. 

Punya rumah kontrakan, meski yang dipakai secara personal hanya satu kamar untuk tidur dan sembahyang, lantas dapur dan jamban. Sisanya dijadikan gudang untuk menumpuk supply stock.

Itu momen mapan yang membuatnya kuasa menarik napas lega. Sebuah letupan alhamdulillah yang tulus diucapkan dan diamalkannya. Bukti keteguhan menjalankan syariat di tengah cobaan yang mengelucak. 

Terlebih pada saat itu Ahad Fathoni tepat lulus SMA. Yang dengan pengarahan, kecerdasan, dan berkah ilahiah dari sederet doa yang dipanjatkannya pada tiap sisa malam bisa masuk di Akademi Perhubungan Darat. 

Sekolah yang membuatnya terbebas dari membayar uang sekolah dan pemondokan.

Masa depan cemerlang Ahad Fathoni tinggal selangkah, serta rasanya akan segera dijejaki. Dan, semua itu merupakan bukti dari kesungguhan mengamalkan Islam di tengah gerojok derita pengkhianatan keluarga Batuampa, Margalara, dan terutama Lemareng, pihak yang tidak sekali pun pernah bersimpati pada diri Ahad Fathoni.

Kini semua cobaan itu akan berakhir dalam ketenteraman hidup yang diberkahi Allah SWT. Semua, kini, terasa jadi santai. Semua menyenangkan karena nyaris tidak ada lagi yang harus diusahakan. 

Semua tinggal disyukuri. Dan Claire Batuampa memang sangat mensyukuri semua itu. Tidak peduli saat sekali Aryad sengaja mampir menanyakan alamat kampus serta asrama Ahad Fathoni, dan Claire Batuampa pun dengan ikhlas, memberitahukannya. 

Meski kelakuannya buruk, selama lima belas tahun tak pernah peduli, lelaki itu tetap ayah Ahad Fathoni, orang yang mewariskan silsilah Lemareng kepada anaknya. “Nanti kalau liburan aku akan menyuruhnya liburan di Jepraa,” kata Claire Batuampa, sederhana tanpa berintonasi. 

Aryad pelan melengos, tersipu. Setelah itu, ada dua kali masa berlibur Ahad Fathoni menginap di Jepraa, mematuhi perintahnya.

Tiga tahun kemudian jaringan MLM-nya makin menggurita, sehingga ia harus pindah ke Semarabang untuk mengelola jaringan dan distribusi se-Waaj Pusat. Ketika Ahad Fathoni diwisuda dan ditempatkan di Bial, bisnis MLM-nya makin berkembang, hingga mengendalikan jaringan dan distribusi seluruh Waaj dan Bial.

Di titik itu, ada keluarga Batuampa yang terdampar di Semarabang, dan bisa ditampungnya. Kabar itu membuat Claire Batuampa sampai saat itu masih mempertahankan nama diri Claire serta klan Batuampa, karena yakin Islam mutlak masalah iman dan laku ibadat, hingga tak perlu artifisial berkemasan Islami agar tampak Islam. 

Bahkan, Claire Batuampa dan Ahad Fathoni pun diundang pulang dan dirayakan sebagai si anak hilang.

”Kamu itu Batuampa, dan sampai kapan pun kamu Batuampa,” kata ibunya. Claire Batuampa tersenyum. Mengangguk dan mengiyakan. Sekaligus perih saat ingat ia pernah terusir dan ditinggalkan keluarga besar Batuampa. Terutamanya saat ia dikhianati keluarga, Margalara serta Lemareng. 

Namun, sekaligus merasa bahagia karena bisa bertahan sebagai seorang Claire Batuampa yang muslim.

Kini, sepertinya ia hendak diajak kembali ke asal, sebagai anak hilang yang pulang untuk dikristenkan lagi. Tapi, benarkah begitu? Apa itu bukan hanya prasangka buruk? Claire Batuampa mengusap wajah. ”Dua puluh sembilan tahun, sampai kapan pun akan tetap bersaudara” pikirnya, istigfar memohon ampunan-Nya.

Bagaimanapun kerasnya mereka bertengkar dan berseberangan, pada intinya mereka itu saudara. Satu silsilah. Satu DNA. Lantas apa tak bisa tetap bersaudara, meski berbeda keyakinan? Claire Batuampa telah punya ketetapan iman. 

Di luar itu, meski kesadaran akan hal itu amat terlambat, seharusnya mereka tidak boleh saling dendam dan menyalahkan. Claire Batuampa merindukan kehangatan persaudaraan yang saat sendiri sering didambakannya.

Ibunya yang makin ringkih pada usia enam puluh tiga tahun itu berkaca-kaca. Sedih. Kemudian semua tenggelam dalam tangis perasaan bersalah, lalu haru karena telah bisa membuka dan berbesar hati menerima pilihan hidup orang lain. 

Mereka berpesta, merayakan si anak hilang, yang pulang dengan keyakinan teguh. Hal itu membuat Claire Batuampa merasa tenang. Jadi merasa siap bila mendadak dipanggil kembali oleh Yang Maha Asal, karena sadar bahwa pada Yang Maha Menjelmakan semua orang akan pulang.

***

”Itu kematianku yang ketiga. Tapi, nanti akan ada kematian keempat. Sekaligus prosesi kelahiran sejati. Setelah itu, aku hidup dalam naungan kubah-Nya, sebagai seorang muslimat,” gumam Claire Batuampa, seusai doa setelah salat. 

Hidup jadi riak danau damai dalam terang rembulan bulat di malam hening dipenuhi dengan alun lantun takbir, tahlil, serta tahmid dari masjid maha rahasia yang kubahnya seluas lengkung semesta.

Nun. Membentang. Membiaskan kesejukan aura: damai, tenang, khidmat. Kelapangan dari Yang Maha Membius dalam satu ketunggalan eksistensi titik atomiah. 

Sesuatu yang jadi awal dari sebuah ledakan keberadaan si serba aneka, dan yang akan jadi awalan energi yang menarik balik semuanya menuju ketunggalan titik nol atomiah lagi. Nun. Nanti.

Baca Cerita Pendek Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Rinjani

Cerita Pendek: Melamun

Cerita Pendek: Sebelum Terlambat

Artikel Asli