Cerita Pendek: Kabut di Kota Tua Part 1

Femina Dipublikasikan 07.13, 06/08 • Fawaizzah Watie

Jika cinta yang kita yakini patut untuk diperjuangkan, maka perjuangkanlah.

Aku hanya tak ingin menyesal nantinya.

Aku bertemu dengan seseorang di sebuah perjalanan menuju Kota Tua. Seperti pertemuan dua orang asing pada umumnya, saling melempar senyum, lalu sudah. Selebihnya yang terdengar hanya gemuruh mesin dan roda kereta. Perjalanan mulai membosankan. Apa yang dipikirkannya aku tak tahu, dan tak mau tahu.

 “Makan Mbak?” katanya, basa-basi.

    “Ya, silakan,” jawabku. Lalu kembali menatap jauh ke luar jendela yang gelap. Sedang dia, tampak malu-malu menelan setiap suap makanannya.

    “Ke Kota Tua juga?”

    “Ah, eh.. iya. He…he….” Gugup. Bukan karena pertanyaannya. Hanya saja aku terlalu takut apa yang kulamunkan diketahui olehnya. Oleh seorang yang tak kukenal.

    “Mengunjungi keluarga, atau…?”

    “Mengunjungi seorang teman.” Aku membuka ransel yang kudekap. Lalu mengeluarkan kotak persegi virtual, berpura-pura sibuk menekan-nekan tombol di permukaannya. Berharap dia mengerti, bahwa aku sedang tak ingin diajak bicara.

    “Perjalanan masih jauh,” katanya, lebih kepada dirinya sendiri. Karena aku, sudah kembali membuang tatapanku jauh ke luar jendela kereta. Lalu suasana kembali hening, hening yang ramai oleh suara derik laju kereta di atas rentangan baja. Sesekali, para pedagang minuman dan nasi bungkus berteriak-teriak menawarkan dagangannya, tanpa seorang pun peduli.

Entah bagaimana mulanya, pagi itu, ketika jendela sudah menyuguhkan lukisan bergeraknya, aku menyadari kepalaku terkulai di pundaknya. Pundak lelaki asing itu. Aku segera menarik kepala dan tubuhku, untuk kembali duduk tegak. Bersandar pada sandaran kursi kereta.

    “Maaf,” kataku, tertunduk.

    Dia tak menjawab. Hanya tersenyum, lalu menyodorkan sebotol minuman. Aku yang terbiasa dehidrasi ketika bangun tidur, tak menolak botol yang masih tersegel itu dan meminumnya.

    “Tidurmu terlihat sangat pulas, aku tak tega membangunkanmu.”

    Aku diam saja, dalam hati merutuki kebodohanku. Bagaimana mungkin aku tertidur di bahu lelaki itu? Aku menyesal, segera wajah seseorang yang hendak kukunjungi berkelebat, makin cepat, makin cepat.  

    “Maafkan aku, aku sama sekali tak berniat buruk.” Lagi, lelaki yang duduk di sampingku itu berkata.

    “Tak apa, itu kesalahanku.”

    “Hmm… Mbak baik-baik saja?” tanyanya, sopan.

Aku tak menjawab. Meski saat itu kepalaku terasa berat dan dadaku seperti tercabik-cabik, pertahananku goyah, dan butuh sandaran untuk sekadar berkeluh kesah. Aku tak akan bercerita kepadanya. Dia hanya seorang asing yang kutemui di dalam kereta.

Mendapat pertanyaan itu, ingatanku kembali tercebur dalam surat yang kuterima tempo hari. Surat yang kutunggu-tunggu kehadirannya, sekaligus yang membuat hatiku sekarat setelah membacanya.

***

Berbulan lalu, aku mengirimkan sebuah surat ke Kota Tua. Aku bersyukur alamat seseorang yang kucintai itu masih kusimpan rapat-rapat. Aku menanyakan kabar dan keberadaannya. 

Telepon genggamnya sudah berbulan-bulan tak bisa kuhubungi. Aku limbung dalam rindu yang menggulung-gulung, sekaligus rasa yang tergantung. Satu-satunya hal yang kupikirkan saat itu adalah aku akan menemuinya, di kota asalnya.

Namun, keadaan tak mengizinkan. Banyak hal yang tak bisa kutinggalkan. Maka, kutulis surat untuknya. Menumpahkan segala rindu, mengemis kabarnya hanya untuk sekadar tahu bahwa ia baik-baik saja. Kubaca lagi dan lagi suratku untuknya. Aku tak ingin ada sedikit pun kesalahan penulisan, hingga dia salah mengartikan.

Sebulan kemudian aku menerima surat balasan darinya. Gembiraku meletup-letup hanya dengan menyentuh ujung amplopnya. Amplop berwarna putih polos, tanpa ada motif bunga.

Untuk gadisku,

Begitu yang tertulis di awal surat. Pipiku bersemu merah. Aku sangat akrab dengan panggilan itu, gadisku. Suratmu sudah kuterima. Aku baik-baik saja. Kekhawatiranku yang terbendung beberapa lama terasa ambrol, meluber ke mana-mana. Hatiku lega bukan main. Maafkan aku tak memberi kabar padamu, maafkan aku.

Kalimat keduanya membuatku tak bisa berkata-kata. Kemarahanku, kekecewaanku sirna seketika.

Aku juga merindukanmu. Sangat rindu. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa.

Sampai di sini, aku mulai merasakan kekhawatiranku datang kembali. Hati-hati aku membaca coretan tangannya yang tak begitu rapi.   

Aku dulu pernah bercerita tentang Ayu. Ingat?

Dadaku mulai diresapi resah. Ayu, sebuah nama yang sama sekali tak ingin kulafalkan dan kuingat. Dia, gadis di kotanya yang juga menaruh rasa kepada laki-laki itu. Rumah Ayu yang lebih dekat dengannya memungkinkannya untuk sering bermain ke rumah Emak, ibunya.

Dia makin sering main ke rumah Emak. Entah, aku tak tahu apa yang dia lakukan. Beberapa waktu lalu, Emak menyuruhku untuk mengenalinya lebih dekat.

Sesak tak hanya meresapi dadaku, tapi terang-terangan menceburkanku ke dalam air keruh yang membuatku sulit untuk bernapas. Mataku memerah menahan marah. Darahku mendidih, wajahku panas bagai disambit cemeti berapi.

Aku sudah menolak. Memangkas ucapan-ucapan Emak dengan berbagai alasan. Tapi, Emak selalu keras kepala. Dan…

Aku sudah tak ingin membaca suratnya. Tak mampu membendung sesak yang serta-merta menenggelamkanku dalam kekecewaan, rasa sakit. Seperti yang kamu tahu, aku tak bisa menolak apa pun permintaan Emak.

Masih ada beberapa kalimat yang belum kubaca, tapi kuputuskan untuk menyudahinya. Aku kesulitan memecahkan rasa sesak dalam sebuah tangis. 

Air mata yang biasanya begitu mudah untuk dilelehkan, saat itu justru terasa membeku. Menjadi butiran-butiran batu, lalu memenuhi seluruh mataku, dadaku. Tak terkendali.

Mendadak aku teringat kata-katanya dulu. ”Nanti, aku akan mengenalkanmu kepada ibuku. Aku memanggilnya Emak. Kamu pasti akan menyukainya.”

Aku tersenyum lebar. “Lalu, apakah beliau juga akan menyukaiku?” tanyaku. Ia dengan mantap menganggukkan kepala, lalu berkata, ”Tentu!”

Hari-hari setelahnya aku sering sekali bermimpi bertemu dengan ibunya, dengan Emak. Menyalami tangannya yang mulai berkeriput, lalu menciuminya dengan takzim. 

Setelahnya, kami akan mengobrol lama hanya dengan satu tema, ya dirinya. Berkali-kali aku mengucapkan terima kasih kepadanya karena telah melahirkannya lelaki yang begitu aku cintai.

Dengan mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang kupunya, aku melanjutkan membaca suratnya.

Emak bilang, Ayu gadis yang pas untukku. Emak menyukainya dan menginginkan Ayu yang menjadi menantunya. Kepalaku terasa dihantam godam, lalu pecah berkeping-keping. 

Bagaimana mungkin ia menuliskan itu kepadaku, sedangkan ia belum pernah sekali pun mengenalkan aku kepada Emak, ibunya. Siapa tahu, setelah bertemu denganku, Emak akan berubah pikiran. Lalu menetapkan bahwa aku, hanya aku, yang paling patut untuknya.

Aku sangat mencintaimu, tapi aku juga mencintai Emak. Ia mencintai Emak, tentu aku tahu. Ini bukan berarti aku tak suka. Tentu cintanya kepada Emak dan kepadaku sangat berbeda. Dan itu tak membuatku cemburu. Tapi…

Mungkin dengan cara menuruti permintaannya, keinginannya, bisa membuktikan cintaku untuknya.

Lantas, apa bukti cintanya untukku? Apa? Bahkan selama ini aku tak pernah menuntut bukti apa pun darinya. Ia tiba-tiba datang, lalu kami saling menyukai, saling sayang. Kemudian ia pergi, lama. 

Tak pernah meninggalkan kabar. Aku menunggu. Ia kembali seakan tak pernah terjadi suatu apa pun, aku tak pernah bertanya. Buatku, mendapatinya baik-baik saja lalu masih ingat jalan pulang padaku, itu lebih dari cukup.

Maafkan aku. Jangan menunggu, aku tak akan pulang.

Aku seperti terdampar ke lembah putus cinta, lalu hampir seluruh tubuhku terhujam duri-duri bunga cinta. Setiap memikirkannya, bukan hanya hatiku yang sakit. Luka dari hujaman duri-duri bunga itu pun ikut mengoyak tubuhku.

Jantungku berkeping. Aku bahkan tak mampu hanya untuk duduk atau meminum seteguk air. Kata sakit tak mampu menggambarkan apa yang kurasakan saat itu. Pedih.

***

Jika cinta yang kita yakini patut untuk diperjuangkan, maka perjuangkanlah. Dan di sini sekarang aku berada. Dalam perjalanan memperjuangkan cintaku, yang entah, masih bisa diselamatkan atau tidak. Aku hanya tak ingin menyesal nantinya.

    “Aku tak apa-apa,” jawaban yang sangat terlambat, tapi kulihat kilat senang di matanya.

    “Sebentar lagi sampai. Mari bersiap-siap!” katanya lagi.  

Aku hanya mengangguk.

Laju kereta mulai berkurang kecepatannya. Aroma stasiun besar Kota Tua mulai tercium. Peluit panjang terdengar. Para penumpang sibuk bersiap-siap untuk turun. Aku tak segera beranjak, masih menunggu kereta lengang. Aku tak suka berdesakan.

    “Kereta sudah sampai, kamu nggak turun?”

    “Ya, silakan duluan,” kataku.

    “Kenalkan, aku Adji. Asli Kota Tua, tapi sekarang berdomisili di Kota Lama,” katanya memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan.

Meski sedikit malas, aku mengulurkan tanganku juga. “Ila,” jawabku singkat. Kota Lama? Ah, itu kotaku juga.

    “Sudah berapa kali ke Kota Tua?” tanyanya lagi.

    “Ini pertama kali.”

    “Kamu dijemput?”

    Aku menggelengkan kepala. Perih. Tidak ada seorang pun yang menungguku datang.

    “Aku bisa mengantarmu, aku hafal betul jalanan di kota ini. Bahkan, jalan-jalan tikus, yang orang-orang tak tahu, aku tahu.”

    Aku diam, tak menjawab.

    “Apa aku terlihat seperti orang jahat? Sampai-sampai kamu terlihat takut begitu? Aku hanya menawarkan bantuan. Itu pun kalau kamu mau,” katanya lagi. Kali ini tertawa.

    Aku berdiri, menggendong ransel dan bersiap untuk turun.

    “Ya, aku mau,” jawabku. Kupikir tak ada salahnya. Lagi pula, aku tak mengenal siapa pun di kota ini, tentu saja selain seseorang yang ingin kukunjungi. Tapi, aku juga tak begitu yakin aku bisa menemukannya, meski secarik kertas bertulis alamat rumahnya sudah kukantongi.

    “Jadi, kamu bekerja di Kota Lama?” akhirnya, untuk pertama kali aku mengajukan sebuah pertanyaan. Sekaligus sebagai umpan untuk obrolan yang mungkin bisa lebih panjang.

    “Ya, aku pulang karena sedang ada acara keluarga,” jawabnya.  

“Oh, iya, kita ke rumahku dulu, ya. Sekaligus aku ingin meminta bantuanmu.”

    Aku mengernyitkan kening, bingung.

 “Aku mau minta kamu membantuku menjawab pertanyaan-pertanyaan konyol tentang calon istri yang biasa ditanyakan keluargaku. Ha… ha… maaf, bukan bermaksud apa-apa. Aku hanya bosan ditanyai seperti itu. Kamu tak perlu banyak bicara, cukup mengangguk, tersenyum, bilang ya, ya, ya. Nanti biar kuberikan kode-kode.”

    “Aku sedang tak ingin bermain-main,” jawabku, datar.

    “Hanya sebentar saja, setelah itu aku antarkan kamu, ke mana pun kamu mau.”

Aku tak menjawab, tapi memberikan anggukan kecil.

    ***

Rumahnya ramai, sepertinya ada yang akan menikah, seluruh keluarga besar berkumpul. Aku dan lelaki ini langsung disambut bak tamu yang ditunggu-tunggu. 

 Beberapa wanita tengah baya yang ia panggil bude, tak sungkan-sungkan langsung menyalamiku. Mencolek-colek pipiku. “Ah, ini rupanya calonnya Adji, kenapa baru sekarang dibawa pulang?” Aku tersenyum canggung.

Beberapa anak kecil berlari menujuku. Mengulurkan tangannya, lalu menyebutkan nama masing-masing. Terlalu banyak. Sampai-sampai aku tak mampu menyimpan nama-nama mereka genap semenit di otakku.

    “Sedang ada acara apa?” tanyaku, nyaris berbisik.

    “Sebentar lagi, ijab kabul adikku.” Benar dugaanku, ada yang menikah.

Karena tak tahu mesti berbuat apa, aku ikuti saja ke mana Adji melangkah. Mulai dari bersalaman dengan banyak orang di beranda, kemudian masuk ruang tamu yang sudah didekorasi sedemikian rupa. Diteruskan ke sebuah ruangan yang kupikir pasti sebagai ruang keluarga.

Di depan sebuah kamar. “Nah ini dia, mari kukenalkan kepada calon pengantinnya,” Adji berseru riang. Seorang gadis cantik mendekatiku. “Namanya Indah…,” lanjut Adji.

    “Kak… Kak Laella?” suaranya gugup. Gadis itu kaget dan nanar memandangku.

    Aneh, dia tahu namaku. Agak ragu aku mengangguk.

Yang terjadi kemudian sungguh tidak aku mengerti. Gadis bernama Indah ini memelukku dengan tangisan yang pecah tertahan. Agak ragu kusambut pelukannya. Tatapan heran Adji tak mampu kujawab.

    “Ayo, kalian kangen-kangenan di kamar saja,” Adji mencoba mengendalikan situasi dari keheranan orang-orang.

Kami membimbing Indah ke dalam kamar, dan di sana kutemukan jawaban atas apa yang terjadi, jawaban yang aku sendiri tak tahu mesti berbuat apa.  

Sebuah foto pre-wedding berpigura besar tersandar di sebelah meja rias. Di situ tercetak senyum bahagia Indah dengan seorang lelaki yang sangat aku kenal. Lelaki yang mestinya aku temui di kota ini.

Aku jatuh terduduk di ranjang pengantin mereka. Mengetahui aku berlinang air mata tanpa bersuara, makin pecah tangis Indah.

    “Namamu Indah…?” sambil menahan sesak yang luar biasa di dada, mulutku lirih bergumam.

    “Indah Rahayu.“ suara Adji samar-samar terdengar olehku.

Di kamar ini, di ranjang pengantin mereka, mataku berkabut, pandanganku kosong. Pun otakku tak mengerti lagi mesti berbuat apa. Segalanya kosong.

Baca Cerita Pendek Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Silent Birthday

Cerita Pendek: Tatkala Heavy Rotation Datang Menyergap

Cerita Pendek: Pria Rempah Part 1

Artikel Asli