Cerita Pendek: Jejak Hati di Tobelo

Femina Dipublikasikan 04.12, 06/07/2020 • Lovie Lenny Gunansyah

Menembus malam yang bergelayut hujan ditemani gedung-gedung angkuh berdiri menantang di rimba Jakarta, sebelum akhirnya menginjak bandar udara internasional ini. Penerbangan tengah malam ini akan berlangsung selama tujuh jam, dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Sultan Baabulah, Ternate.

Gerimis masih membasahi tanah Ternate ketika aku kembali berlabuh di bumi cengkih ini. Lelah dan penat setelah menembus perjalanan malam belum berakhir, karena aku masih harus menyambung perjalanan darat menuju pelabuhan Ternate sebelum akhirnya menyeberang laut ke Pulau Halmahera dengan kapal cepat menuju pelabuhan Tobelo, Sofifi yang menggantikan pelabuhan kecil Sidangoli.

Mendung menggantung menggantikan gerimis, aku beranjak masuk ke sebuah hotel sederhana, atau penginapan kecil tepatnya. Dulu aku selalu mampir ke tempat ini sebelum melanjutkan perjalanan ke Desa Gorua di Tobelo. Dulu masih ada Hety yang menyapaku, anak pemilik penginapan ini dan melayani semua kebutuhanku selama berada di Ternate. Tapi setelah beberapa masa aku tinggalkan kota ini dan tanpa pemberitahuan kedatanganku kali ini, aku tidak berharap banyak Hety masih ada di kota ini, setidaknya mengenaliku.

“Ibu Ava!” Perempuan di hadapanku terkejut dan tak berkutik, seperti baru saja melihat hantu di siang hari. Tak perlu ada kata yang diucapkan, tak perlu ada basa-basi yang dilontarkan. Kami saling peluk untuk beberapa saat. Begitu banyak cerita, begitu banyak kenangan yang akan kami ulang.

Hety melarangku melanjutkan perjalanan ke pelabuhan Sofifi siang itu karena gelombang besar masih mengamuk di lautan. Ah, seperti mengulang masa sepuluh tahun lalu. Meski ada sedikit kelegaan di hatiku karena aku bisa beristirahat sambil memulihkan tulang-tulangku yang kurasa hampir remuk, namun kegelisahan pun melanda karena aku menunda kembali pertemuanku dengan Kev.

Sepuluh tahun yang lalu…

Bandar Udara Sultan Baabulah, Ternate. 13.50.

Gerimis membasahi tanah Ternate, aku menginjakkan kaki kembali di bumi cengkih ini untuk yang kedua kali. Namun, aku tidak dapat melanjutkan perjalanan ke Tobelo karena gelombang laut yang tinggi dan hujan bulan ini memang tidak bisa diprediksi. Badan Meteorologi dan Geofisika pun masih sangat hati-hati untuk memutuskan apakah badai yang melanda Australia akan menghantam pulau-pulau di Indonesia, belum lagi masalah pemanasan global yang meningkat hampir lima puluh persen selama sepuluh tahun belakangan ini. Kupaksakan mataku untuk istirahat karena esok aku masih harus menembus ganasnya gelombang laut Ternate-Sidangoli. Apalagi aku masih harus mampir ke Kao untuk memeriksa persediaan obat-obatan yang mulai menipis dan mengontak Jakarta untuk mengirim stok baru.

Sidangoli–Kao memerlukan waktu sekitar dua setengah jam perjalanan dengan mobil, melewati perbukitan, pohon-pohon sepanjang jalan yang masih perawan, serta kompleks pemakaman sisa-sisa sejarah kelam konflik berdarah, dan tentunya pula tidak ada sinyal ponsel, sampai akhirnya berlabuh di kota kecil Tobelo. Kota yang sempat porak-poranda beberapa tahun lalu akibat konflik horizontal. Kota penghasil kopra, cokelat, dan hasil laut ini begitu kecil di dalam peta, mungkin aku tidak akan tahu bahwa aku punya saudara setanah air di ujung Indonesia ini seandainya konflik agama tidak melanda kota ini.

Peristiwa kemanusiaan yang paling menyedihkan untuk negeri ini, sebuah kota begitu tiba-tiba sangat terkenal karena melahirkan perang saudara bukan karena hasil buminya.

Tobelo. Sebuah kota di Maluku Utara, tepatnya Halmahera Utara yang hampir pernah menjadi kota mati tercabik-cabik perang saudara karena sentimen agama. Kota kecil ini dibangunkan dengan gelegar isu agama dan menyisakan kebencian meradang dan dendam yang kian lama menjadi laten.

Dan Kev, laki-laki asal Tobelo yang sudah dua tahun bekerja pada lembaga Peace Education di Tobelo, menyeruak lagi di hatiku. Aku rindu padanya untuk berbagi ilmu tentang perjuangan kemanusian dan keberpihakannya pada pendidikan masyarakat desa. Terakhir pertemuanku dengannya sekitar dua bulan yang lalu ketika aku, Dokter Ava, berada di Pulau Halmahera untuk memetakan desa-desa terpencil yang memerlukan peningkatan kesehatan dan bantuan obat-obatan.

***

“Tobelo?” suara serak Rino memulai perdebatan panjangku dengannya. Ya, Tobelo kota berikutnya yang akan aku singgahi setelah sebelumnya tiga minggu di Wamena, dan pedalaman Papua, Kecamatan Tiom dan Pirime di Pegunungan Jayawijaya. Tiga minggu tanpa kabar, tiga minggu tanpa SMS, tiga minggu cukup membuat kulitku berubah hitam legam karena kondisi pegunungan yang sangat dingin di siang hari yang panas terik.

Aku tahu, Rino akan menghela napas berulang-ulang untuk menerima keputusanku pergi ke Tobelo. Rino, kekasih yang dua tahun ini masih setia mengerti kegilaanku menembus hutan belantara dan desa terpencil untuk menunaikan tugas kemanusiaan.

“Tapi kamu baru dari Papua, ‘kan? Sebulan yang lalu kamu di Sanggau!” Keberatan yang dilontarkannya cukup jelas tanpa kata ‘tidak boleh’. Selalu begini tiap kali aku memberi tahu tugas kedokteranku kepadanya. Aku bisa maklum. Berapa banyak, sih, laki-laki di dunia ini yang rela membiarkan kekasihnya bertualang ke pedalaman yang terkadang harus dibayar dengan taruhan nyawa. Apalagi, gaji yang diterima tidak seberapa.

“Aku enggak tega melihat kamu harus melintasi laut dengan gelombang yang ganas, belum lagi perjalananmu ditemani tebing-tebing dan hutan.” Aku bisa maklum juga ketakutannya, karena Rino tidak pernah pergi ke bekas daerah-daerah konflik. Tapi, ini keputusanku. Hasil rapat kantor menawariku untuk tinggal di Tobelo selama satu tahun mengikuti program kesehatan masyarakat. Aku menerimanya dengan konsekuensi yang cukup mahal bagi masa depanku.

Aku, Dokter Ava, memilih bekerja di kantor lembaga swadaya masyarakat yang selalu mengirim relawannya ke daerah rawan konflik daripada membuka praktik sendiri.

“Aku sangat mendukungmu, Va. Berhati-hatilah selalu. Semoga kau menemukan kebahagiaan yang kau inginkan.”

Di sinilah aku. Menanti hari berganti menuju kota kecil di bagian utara Halmahera. Aku pun tidak memaksakan Rino untuk menungguku, aku tidak ingin Rino tersiksa sepanjang waktu memikirkan keselamatanku. Aku tidak meminta Rino untuk memahami kecintaanku pada tugas kemanusiaan ini. Aku yakin, di hatinya yang terdalam dia sangat memahami kegilaanku. Dan dia pun hanya manusia yang membutuhkan seseorang yang selalu berada di sisinya tiap saat. Kulepas Rino dengan kebulatan tekadku menuju Tobelo.

 “Selamat datang lagi di Tobelo, Bu Dokter,” sambut staf lokal yang bertugas.

Seperti dua bulan yang lalu, kantor pusat menyediakan rumah yang disewakan untuk para dokter yang dikirim. Sebuah rumah kecil, sekitar dua ratus meter dari pantai Tanjung Pilawang dengan lima kamar untuk dua laki-laki dan tiga perempuan, termasuk aku. Dua kawan perempuan lain, Dani, seorang akuntan, dan Ranca bertugas di program pendampingan anak. Mereka berdua juga ditugaskan dari kantor pusat kami di Jakarta. Kami sudah memiliki tugas masing-masing dan tentunya kami tidak bisa bersama-sama sepanjang hari.

Aku serta para relawan lokal, termasuk Kev yang direkrut lembaga ini, biasanya pergi ke desa-desa terpencil, seperti Gamsungi, Sosol, Bobawa hingga desa-desa di pinggiran pantai seperti Tutumaleo, Maloleo, dan Saluta yang hanya bisa dilalui dengan perahu. Program Kev di Peace Education adalah membagi-bagikan majalah yang diterbitkan oleh lembaga ini ke sekolah-sekolah serta pertemuan-pertemuan guru. Sedangkan aku, pastinya memeriksa kesehatan anak-anak. Kadang-kadang kami harus pergi dengan perahu hingga ke Bere-bere di ujung Pulau Morotai. Gelombang yang tidak dapat diprediksi membuat kami harus siap menghadapi kemungkinan yang terburuk sekalipun. Mengapa aku melakukan pekerjaan ini? Demi kepuasan batin ataukah demi pencarian jawaban atas diri Kev?

Aku merindukan laki-laki ini setelah aku kembali ke Jakarta. Memang baru sebulan aku mengenalnya dan hanya sekelumit kisah tentang dirinya bergulir: cincin emas yang melingkar di jari manis kirinya mengatakan dia sudah bertunangan, selebihnya bahwa dia mengizinkan Dea, tunangannya, melanjutkan kuliahnya di Yogya dan ia menunggunya di Tobelo. Sudah hampir dua tahun dia tidak bertemu tunangannya, bahwa foto perempuan itu menghiasi laptop yang dibawa ke mana pun dia pergi, dan bahwa aku tidak boleh bermain-main dengan kisah kasih terlarang.

Kev, pria tinggi, sedikit pendiam, agak gemuk, dengan suara berat, kadang-kadang hanya tersenyum bila diajak bercanda oleh teman-teman, tidak mudah tersinggung dan hanya kadang-kadang membalas candaan mereka. Dori, teman kami menggambarkan, Kev cenderung tertutup tentang masalah pribadi, namun bila ada yang mengajak curhat tentang apa saja, dia tidak keberatan.

“Kalau Dea ada di posisimu, dia pasti akan melakukan hal yang sama denganmu,” katanya siang itu di air terjun Popilo, dua minggu setelah keberadaanku di Tobelo.

Dan siang itu, kami beramai-ramai sedang melepas kebosanan rutinitas kerja. Ada banyak yang dapat dilihat di Tobelo. Selain air terjun kecil Popilo yang sering kami jadikan tempat rekreasi alternatif, ada juga pantai di Pulau Tagalaya, tempat kami bisa menangkap ikan, langsung membakar dan memakannya. Atau menyeberang sepuluh menit ke Pulau Kumo, untuk menikmati segarnya air kelapa yang langsung dipetik dari pohonnya.

Melancong ke Pulau Morotai, berbelanja besi putih yang diambil dari bekas-bekas pesawat terbang sekutu yang dulu ditinggalkan, juga mengasyikkan. Atau pergi ke Teluk Kao, menikmati pemandangan peninggalan kapal perang sekutu yang ditenggelamkan oleh pesawat terbang Amerika, yang sebagian besar terdampar di pantai dan ada beberapa bekas haluan kapal masih terlihat di Teluk Kao. Jika ada yang ingin memancing, kami biasa pergi ke Telaga Paca di Desa Paca. Naik perahu dan menangkap ikan cakalang di tengah laut Halmahera pun menjadi aktivitas yang menyenangkan.

Dan siang itu aku mencoba mengakrabkan diri dengan Kev, mencoba untuk melepaskan masalahku.

“Maksudmu? Meninggalkanmu?”

“Bukan meninggalkan, tapi memutuskan untuk menjalankan tugas kemanusiaan.”

“Kau bisa terima itu?”

“Dia bisa lebih gila dari kamu kalau dia diberi kesempatan yang sama. Mungkin Rino-mu takut kehilanganmu sebab takdir lain. Tapi, hebat juga kamu sanggup meninggalkannya. Sisi kemanusiaanmu patut diacungi jempol! Semoga masih banyak dokter di negeri ini yang masih punya rasa kemanusiaan. Itulah risiko perjuangan,” pujinya.

Dua bulan bersamanya masih saja aku belum merasa cukup untuk mengenalnya. Kev memperlakukan teman-teman perempuannya dengan kadar yang sama. Kadang-kadang dia rela menunggui Dani potong rambut di salon selama dua jam atau mengantar Ranca menyeberangi laut untuk membeli durian. Kadang-kadang menemani aku ke Galela untuk bertemu bidan-bidan yang praktik di sana dan memberikan penyuluhan. Ada sesuatu dalam dirinya yang belum bisa aku ungkap.

Hingga kabar itu datang dari mulutnya sendiri,

“Bulan depan aku selesai, menjemput Dea di Jawa, mungkin menikah dan meneruskan usaha ayahku di perkebunan kelapa. Kontrak kerjaku juga sudah selesai dan tidak diperpanjang. Ada pengganti dari Jakarta yang akan menggantikan posisiku di sini.”

Aku akan merindukan laki-laki ini. 

“Sebenarnya masih banyak tugas yang belum selesai di sini. Pendidikan penduduk yang masih rendah akan mudah tersulut jika ada isu yang tidak bertanggung jawab. Ekonomi masyarakatnya seharusnya bisa lebih diaktifkan. Masih banyak pemilik perkebunan kelapa yang belum bisa mengolah kelapa-kelapa itu menjadi aset ekonomi, pemilik perkebunan durian juga sama saja. Semestinya, kota ini bisa jadi penghasil selai durian terbesar atau keripik pisang yang enak. Seharusnya Peace Education mau membuka program baru untuk peningkatan ekonomi di kota ini. Masyarakat angkatan mudanya masih sangat konsumtif terhadap hal-hal yang tidak penting. Coba lihat ketika pertama kali jaringan telepon seluler merambah kota ini. Tiba-tiba begitu menjamurnya toko-toko yang menawarkan voucher dan model ponsel terbaru dibanding membuka perpustakaan keliling.”

Ya, aku baru sadar bahwa sisi yang selama ini kucari adalah rasa rendah hati dan kepeduliannya yang tinggi pada kemanusiaan. Begitu banyak pemikirannya yang belum terwujud untuk masyarakat kota ini. Mengapa aku baru menemukan sosok ini dua bulan yang lalu?

Ketika kutanyakan mengapa dia berhenti jika merasa pekerjaannya belum tuntas, dia pun berujar, “Harus ada regenerasi. Harus banyak pencinta kemanusiaan membagi ilmunya untuk kota ini. Masih banyak tugas kemanusiaan yang belum selesai. Kuharap masih ada orang yang ingin menjadi manusia.”

Aku merindukan laki-laki ini berbicara panjang lebar tentang tugas sebagai manusia.

Saat ini…

Aku berdiri kaku di bawah pohon tua yang menghitam. Tak ada yang tersisa. Pusaranya mulai rusak oleh rayap. Tak ada perbaikan untuk peristirahatan terakhirnya. Mengapa orang yang begitu cerdas selalu harus pergi begitu cepat?

Sejak sepuluh tahun yang lalu, aku mulai mencintainya hingga detik ini, meski tak ada jalan bagiku untuk merengkuhnya. Dia begitu jauh dan harus sudah terlupakan, hingga beberapa minggu ke belakang tiba-tiba aku mengingatnya kembali.

Program kami sudah selesai beberapa tahun yang lalu. Tak ada kabar tentang Kev dan teman-teman Tobelo lain. Kemudian bahwa Kev tidak jadi menikah dengan Dea, bahwa Kev pergi meninggalkan Tobelo untuk waktu yang lama, bahwa Kev menungguku kembali ke Tobelo, kuketahui dari Hety dan Joseph, mantan relawan lain.

Kusibak rumput alang-alang yang mulai menutupi gundukan tanah yang menghitam. Kev Ray Ray, namanya tertulis pada nisan yang mulai melapuk. Parasit plasmodium telah berkembang biak dalam organ hati dan menginfeksi sel darah merahnya selama bertahun-tahun. Malaria pun merenggut jiwanya, dan jejak itu telah punah. Selamat tinggal, Terkasih. Maaf, aku datang terlambat.(f)

***

Baca Cerita Pendek Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Teh dan Kopi

Cerita Pendek: Rahasia Sabia

Cerita Pendek: Rama-rama

Cerita Pendek: Lintang Dhian

Artikel Asli