Cerita Pendek: Jas Putih Part 4

Femina Dipublikasikan 07.54, 12/08 • Ni Komang Ariani

KAY TERBANGUN DENGAN KEPALA PUSING. Masalah semalam masih mengendap dalam perasaannya. Ini jelas bukan tanda-tanda masa keemasan seperti apa yang dikatakan Yama. 

Mungkin ini malah tanda-tanda tibanya masa suram dalam hidupnya. Kay tersenyum pahit dengan kalimat gurauan yang dibuatnya sendiri.

Kay berusaha bangkit dari tempat tidur. Kepalanya terasa berputar. Kay meraih handphone-nya dan mengirim SMS kepada asistennya bahwa hari ini ia tidak bisa masuk. 

Kay memerlukan banyak waktu untuk memikirkan masalahnya dengan Yama dan masalah Nina. Setiap mengingat Nina, jantungnya terasa berpacu lebih cepat.

Kay meraih cangkir kesayangannya dan menuangkan dua sendok gula untuk menyeduh teh manis yang akan membantunya berpikir lebih jernih. Kay menghirup tehnya perlahan dan merasakan air teh mengaliri saluran pencernaannya. Keadaan barangkali tidak seburuk yang dipikirkannya. 

Toh, sejauh ini ia belum resmi putus dari Yama. Yama mungkin hanya marah untuk sementara. Mungkin sebentar lagi ia akan menelepon Kay untuk meminta maaf dan mengatakan siap menunggu Kay sampai siap menikah dengannya.

Ah, mengapa pikiran Kay terasa begitu suntuk. Kay benar-benar tidak ingin kehilangan Yama setelah lima tahun masa pacaran mereka. Usia Kay sudah kepala tiga, sudah terlalu terlambat untuk mencari pasangan hidup lain. 

Lho, mengapa pikiran Kay jadi penuh dengan hal-hal klise begini? Mama dan Papa selalu mengajari Kay menjadi orang yang bisa berbahagia dengan keadaannya sendiri, bukan tergantung pada orang lain. Mama dan Papa selalu mendukung Kay untuk memperjuangkan apa yang dicita-citakannya.   

Pikiran Kay mulai meloncat-loncat tak tentu arah. Sepertinya Yama menyuruh Kay memilih antara LSM-nya dengan dirinya. Bagaimana mungkin Kay dapat memilih. 

Mengapa Yama menjadi begitu menyusahkan akhir-akhir ini? Begitu menuntut dan tidak bisa mengerti dirinya. Yama muda yang Kay kenal begitu hangat dan bersahabat. Begitu memahami pekerjaannya sebagai aktivis LSM. Begitu perhatian pada anak-anak. Betulkah Yama sudah berubah?

Yama mengetuk-ngetukkan bolpoinnya dengan perasaan gusar. Kay adalah kesempurnaan. Mengapa sekarang Kay menjadi begitu sulit. Yama tidak bisa membayangkan sebagian kesempurnaan itu harus terenggut sekarang. Yama memperhatikan ruangan barunya yang begitu wangi. 

Pasiennya yang berjumlah puluhan sudah menunggunya dengan tidak sabar di luar sana. Tangisan bayi dan anak-anak begitu ribut, membuat Yama mengembuskan napas dengan keras. 

Dia betul-betul sedang tidak mood untuk melayani pasien-pasiennya sekarang. Terdengar gerundelan pasiennya yang makin tidak sabar menunggu Yama membuka praktiknya.

Akhirnya Yama memberi isyarat kepada perawat untuk segera mempersilakan pasien pertama masuk. Yama masih tidak mood. 

Pikirannya melayang-layang mendengarkan orang tua pasien menceritakan penyakit yang diderita anak-anaknya. Sebetulnya Yama tidak memerlukan seluruh pikirannya saat memeriksa pasiennya. Setengah pikirannya saja sudah mengerjakannya dengan sempurna. Ia sudah hafal di luar kepala mengenai berbagai jenis penyakit anak-anak itu. 

Ia hanya perlu mendengarkan separuh dari seluruh kalimat yang diucapkan dan melakukan pemeriksaan kilat. Dan pasien-pasien itu akan mengirim SMS ucapan terima kasih karena anaknya akhirnya sembuh setelah beberapa kali berganti dokter. I’m brilliant. Itu selalu yang diucapkan Yama di dalam hatinya. 

Seorang brilian tidak harus bekerja terlalu keras karena daya otak yang dimilikinya begitu istimewa.

Pikirannya masih dipenuhi oleh Kay. Oleh pertengkarannya dengan Kay semalam. Bagaimana jika Kay memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Yama dan memilih bergelut dengan LSM-nya itu. 

Mudah-mudahan perempuan yang sudah berusia tiga puluh tahun seperti Kay tidak akan melakukan kecerobohan itu. Walaupun Yama tahu, Kay bisa saja melakukan itu. Kay perempuan yang amat berbeda dari perempuan kebanyakan. Tiba-tiba hati Yama digulung perasaan takut yang begitu mencekam. 

Apa yang bisa dilakukannya tanpa Kay. Seorang dokter mungkin akan mendapatkan jodohnya dengan mudah, namun ia akan kehilangan seorang Kay dari hidupnya. Kay yang sangat dibanggakannya selama lima tahun terakhir ini.

YAMA INGIN MENGAMUK, namun ia betul-betul tidak bisa berbuat apa-apa di hadapan Kay. Makin ia marah, ia akan makin kehilangan Kay. Bukankah ia sudah berjanji kepada ibunya bahwa ia akan menjadi yang terbaik dan meraih hal-hal paling istimewa dalam hidupnya. 

Kay adalah cintanya. Jika Kay lepas, ia harus mencari seorang istri yang mungkin tidak dicintainya. Kepalanya makin berat dan penat. Dengan suara perlahan ia berbicara pada suster. ”Berikutnya….!”

    ”Yama tidak cocok denganmu, Kay…. Bukankah sejak awal aku sudah bilang begitu.” Melly mengembuskan asap rokoknya, sampai bergumpal-gumpal di sekitarnya.

    ”Aku sudah pacaran lima tahun dengannya, Mel. Selama itu aku merasa cocok.”

    ”Sekarang kamu mulai merasa tidak cocok, ’kan. Orang yang sudah menikah bertahun-tahun saja bisa bercerai karena tidak cocok. Apalagi kamu yang baru pacaran.”

    ”Tolong jangan beri nasihat karena kamu sedang begitu muak dengan pernikahanmu.”

    ”Brengsek kamu, Kay. Aku kan sahabatmu, mana mungkin menjerumuskanmu. Aku betul-betul netral saat bicara ini. Aku nggak percaya kalau kamu bisa meragukan aku.”

    ”Dalam situasi tertentu orang bisa menjadi tidak netral.”

    ”Yama itu robot dan pencinta kesempurnaan. Dia tidak mencintaimu sesungguhnya, namun mencintai kesempurnaan yang didapatnya, jika dia bersamamu. ”

    Kay terenyak mendengar kata-kata Melly. ”Itu terlalu menyakitkan untuk didengar, Melly.”

    ”Sudah sejak lama aku ingin mengatakannya, tapi baru berani mengatakannya sekarang.”

    ”He is not that bad.”

    Melly menggedikkan bahu.

“Keputusan, toh, hanya di tanganmu. Tak seorang pun bisa mendorong atau menghalangimu. Sebagai sahabat, aku hanya merasa, he’s not good for you. Entah mengapa. Mungkin aku salah. Pikirkan lagi, Kay. Jangan merasa terdesak oleh kata-katanya.”

Kay mendesah panjang. Nasihat Melly membuatnya makin hancur. Siapa lagi yang harus dimintai nasihat? Mama? Ya, mungkin harus membicarakan ini dengan Mama. 

Pada saat yang sama masalah Nina membuat jantungnya berdebar-debar tidak keruan. Sepertinya ia tidak bisa mengandalkan Yama untuk menyelesaikan masalah ini. Ia harus berjuang sendiri untuk menyelamatkan Nina. Sementara itu, ia harus cepat menyelesaikan masalahnya dengan Yama.

Benarkah perempuan di usia kepala tiga harus lebih berkompromi tentang jodohnya? Kenyataannya mungkin ya. Bila perempuan itu menganggap berkeluarga adalah sumber kebahagiaannya. 

Mama dan Melly pasti tidak setuju tentang pendapat itu, karena mereka adalah perempuan-perempuan yang sangat kuat.

Bagaimana dengan Kay? Apakah ia setangguh dan sekuat mereka. Selama ini Kay selalu memilih menjadi orang yang berada di tengah-tengah, bukan di titik yang ekstrem. 

Seperti jika kau berada di sebuah sungai, kalau kau melawan arus, maka kau harus menyiapkan tenaga yang superhebat untuk bisa tetap berjalan. Sebaliknya, bila kau mengikuti arus, arus itu akan terus menuntutmu mengikutimu sampai kau kehilangan dirimu sendiri.

Hhhh… Kay mengembuskan napas kuat-kuat. Kay memang harus bicara pada Yama. Banyak sekali hal yang harus dibicarakannya. Melly masih asyik dengan rokoknya. Kay melirik jam tangannya. Pukul satu siang. Haruskah hari ini menghubungi Yama? Yama belum menghubunginya sama sekali sejak peristiwa semalam.

Tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat masuk. Dari Yama. Kay, Sebulan ini aku harus ke Singapura, masalah kita tunda dulu sampai aku pulang. Aku sangat berharap semuanya membaik. Love, Yama.  

Kay mengembuskan napas lega. Setidaknya ia mempunyai waktu yang cukup banyak untuk memikirkan masalah Yama, sementara itu ia memusatkan perhatiannya pada masalah Nina.

    ”Mel, aku balik dulu, ya. Mau ke Rumah Hati. Yama ke Singapura. Sementara masalah tertunda. He…he…he….” Kay nyengir pada Melly. Melly membalasnya dengan tawa jailnya. ”Oke, take care, ya….!”

    ”Bagaimana hasilnya, Ki, sudah ada donatur yang bersedia membantu?”

    ”Beberapa orang sudah menyatakan kesediaan.”

    ”Siapa saja?”

    ”Bu Indah, Bu Inge, dan Pak Surya.”

    Kay mengembuskan napas lega. ”Donatur-donatur yang dermawan.”

    ”Namanya juga donatur, Mbak, sudah pasti dermawan,” kata Killian, setengah bercanda.

    ”Entah bagaimana nasib kita tanpa mereka.” Ada setitik cahaya di wajah Kay.

    ”Tapi, sepertinya kita harus mulai menggarap sumber penghasilan sendiri. Masalah keuangan akan terus berkembang seiring waktu.”

    ”Kamu betul, Ki. Oh, ya, apa langkah selanjutnya untuk Nina.”

    ”Proses pengobatan akan cukup panjang dan lumayan rumit. Dana dari ketiga donatur mungkin tidak mencukupi untuk menanggung hingga Nina betul-betul sembuh.”

    ”Apa usulmu?”

    ”Bagaimana kalau kita menggelar semacam malam amal untuk Nina. Kita bisa juga menghubungi yayasan yang banyak bergerak pada tumor anak-anak. Mereka pasti lebih peduli.”

    ”Sementara itu, aku akan mencoba meminta tolong Yama. Siapa tahu dia mempunyai kenalan dokter spesialis kanker yang hebat, sekaligus tidak keberatan memotong sebagian honornya untuk kita.”

    ”Semoga berhasil, Mbak Kay, itu tentu akan sangat membantu. Saya sedang mencoba mengurus surat keterangan miskin bagi Nina, hanya sedikit terganjal karena tidak ada KTP orang tua Nina. Saya akan mencoba.”

Kay mengangguk-angguk mendengar penjelasan Killian. Ia senang mempunyai asisten yang begitu cekatan. Killian mengerjakan segalanya begitu sempurna dan penuh dengan kecermatan. Tentu saja karena Killian juga mempunyai cita-cita besar yang sama seperti dirinya, yaitu berjuang untuk berbuat sesuatu kepada anak-anak.

Dapatkah kau menebak seperti apa jalan hidup yang akan kau jalani? Kay merasa tidak punya gambaran apa pun tentang hidupnya di masa mendatang. Ia ingin menebak dan merencanakannya, namun rasanya jalan yang terbentang di depannya tidak pernah tampak ujungnya. 

Kay merasa sangat beruntung memiliki kedua orang tua yang sangat mengasihinya dan selalu mendukungnya memilih yang terbaik bagi dirinya. 

Baca Cerita Pendek Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Si Pria Sachetorte

Cerita Pendek: Pertemuan Tanpa Nama

Cerita Pendek: Kampung Tubuh Manusia

Artikel Asli