Cerita Pendek: Jas Putih Part 3

Femina Dipublikasikan 07.49, 12/08 • Ni Komang Ariani

”YAMA DOKTER ANAK, BUKAN SPESIALIS KANKER. Nanti aku bicarakan sama dia, apa yang bisa dilakukan. Sementara ini, coba kamu kontak beberapa donatur mengenai hal ini. Sebar luaskan juga berita ini melalui press release. Mudah-mudahan media bersedia menyebarluaskannya.”

Killian mencatat kalimat-kalimat Kay di notesnya. ”Baik Mbak. Apa Mbak Kay ingin menemui Nina? Sejauh ini dia belum tahu penyakitnya.”

”Ada di mana dia sekarang?”

”Di kamarnya.”

”Kamu yakin dia belum tahu penyakitnya? Biasanya Nina tidak pernah mengurung diri di kamar.”

”Saya belum memberi tahu Nina dan meminta staf yang lain untuk merahasiakannya juga. ”

Kay mengangguk-angguk ”Aku mau makan siang dulu di kantin depan. Laper berat, nih. Setelah makan siang, aku menengoknya ke kamar.”

”Baik Mbak. Mohon kabari secepatnya mengenai follow up-nya, ya. Penanganan terhadap Nina harus secepatnya, untuk memperkecil risiko dan meringankan biaya.”

”Oke Killy. Mudah-mudahan usahamu juga cepat mendapat hasil.”

Mereka berpelukan sesaat, berusaha menguatkan hati masing-masing.

LANGKAH-LANGKAH KAKI KAY membuat Nina menoleh dari keasyikannya membaca buku di kamar. Begitu melihat Kay, Nina menyunggingkan sebuah senyum kecil. Kay merasakan ada kabut dalam senyum itu. Mungkinkah Nina sudah dapat menduga penyakit yang kini bersarang di tubuhnya?

Nina adalah gadis kecil yang mempunyai pandangan mata tajam. Rambutnya panjang sampai ke punggung. Matanya bulat dan garis wajahnya begitu manis. Nina amat cerdas dengan nilai-nilai yang mendekati sempurna di sekolahnya. 

Waktu Nina pertama kali masuk dalam pengawasannya, ketika ia diserahkan oleh orang tuanya yang tidak mampu saat ia berumur empat tahun, Nina kelihatan sebagai anak yang begitu tegar. 

Walaupun terjatuh dengan kaki dan tangan yang berdarah-darah, Nina tidak pernah menangis. Dari manakah ia mempelajari ketegaran itu?

Killian mengatakan, beberapa bulan terakhir ini Nina sering mengeluh sakit kepala dan beberapa kali ia muntah-muntah. Tentu rasa sakit ini adalah sesuatu yang sudah begitu sulit ditahannya ketika ia melaporkannya kepada Killian. Nina pasti dapat menebak, bila rasa sakit itu tidak tertahankan, tentu itu bukanlah penyakit main-main.

    Nina menghampiri Kay dan mereka berpelukan.

    ”Apa kabarmu, Nin…?”

    ”Tumben Mbak Kay datang…? Ada sesuatu yang penting?” Nina memang anak yang cerdas.

    ”Apa aku tidak boleh mengunjungimu?”

    ”Tentu saja Nina senang sekali. Tapi, biasanya Mbak Kay sangat sibuk.”

    ”Aku sedang berdiskusi dengan Killian mengenai Rumah Hati. Tiba-tiba aku ingat sudah lama tidak bertemu denganmu.”

    ”Tiga hari yang lalu Mbak Killy mengajak saya ke dokter untuk memeriksa kepala saya. Apa Mbak Kay sudah tahu penyakit yang saya derita?”

    ”Wah, Killian belum memberi tahu aku. Mungkin belum ada hasil dari dokter. Kadang-kadang hasil pemeriksaan harus dikirim ke rumah sakit lain.”

    ”Saya takut Mbak Kay…?”

    ”Takut apa, Nin?”

    ”Takut menderita sakit berat dan merepotkan Mbak Kay dan Mbak Killy.”

    ”Kita tunggu saja hasilnya dari lab, ya. Mudah-mudahan kamu sehat-sehat saja. Yang penting kamu tetap jaga kondisi tubuh. Kalau sudah ada hasil, kami akan memberi tahu kamu.”

    ”Terima kasih, Mbak Kay. Saya senang sekali bisa berada di Rumah Hati. Bila dewasa kelak, saya ingin tetap bekerja di sini untuk membantu Mbak….”

Kay terharu mendengar kata-kata Nina. ”Aku juga senang kamu di sini.” Kay memeluk Nina erat. Nina balas memeluknya dengan mata berkaca-kaca. Sebentuk kecil kasih sayang selalu sangat berarti bagi seorang anak.

KADANG-KADANG ADA YANG TIDAK KAU MENGERTI dari sebuah hubungan.

Entah mengapa, akhir-akhir ini Kay merasa kehilangan nyali di depan Yama. Rasanya akhir-akhir ini Yama terlihat begitu angker. 

Kay bergidik akan pikirannya sendiri. Mungkinkah karena Yama terasa begitu sempurna? Sepertinya Yama menjadi berbeda dengan Yama yang dulu pernah dikenalnya. Yama muda yang menawan. Sindrom prapernikahankah ini?

Yama mengundangnya untuk candle light dinner sepersekian detik sebelum Kay ingin mengajak Yama ngobrol tentang Nina. Yama menceritakan tentang restoran Meksiko dengan hidangannya yang superlezat. Kay tidak sampai hati merusaknya dengan cerita muram mengenai Nina. Akan tetapi, bukankah Nina memerlukan pertolongan segera?

    ”I love you so much, Kay. Kenapa kita tidak menikah segera…?”

    Kay hanya tersenyum menanggapi kata-kata Yama yang belum selesai.

    ”Kita sudah berada di tempat terbaik Kay. Tidak banyak yang mencapai apa yang sudah kita capai. Kamu seorang manajer. Aku seorang dokter kepala. Usia kita sudah melewati kepala tiga. Tidak ada alasan lagi untuk menunda pernikahan. Sebuah masa keemasan sudah menunggu kita di sana.”

Kata-kata Yama benar semua. Tepat sekali. Memang tidak ada alasan untuk menunda. Tapi, sepertinya ada yang salah. ’Masa keemasan’, telinga Kay terasa dikelitik mendengar frasa itu. 

Yama muda tidak akan menggunakan istilah itu. Ia mungkin akan menggunakan istilah ’membangun peradaban di sebuah pulau yang subur’. Masa keemasan? Oh, Yama, mengapa kau menggunakan istilah yang aneh itu, seolah-olah mereka akan membangun sebuah kerajaan.

”Kok, bengong, sih, Kay. Kamu masih belum siap juga? Aku makin bingung dengan sikapmu akhir-akhir ini. Seolah-olah pembicaraan pernikahan kita selalu mengganggumu. What’s wrong, Kay? Apa yang membuat kamu berubah?”    

Ah, ternyata Yama juga merasa ada yang berubah dengan dirinya. Persis sama dengan apa yang ia pikirkan. Betulkah ini hanya keruwetan pasangan menjelang pernikahan?  

”Ngg… bukan begitu, Yama. Aku memang agak melamun, karena ada hal lain yang mengganggu pikiranku. Sejak awal aku ingin menceritakannya padamu, tapi aku takut merusak suasana.”

    ”Soal apa, sih, Kay…?”

    ”Soal salah satu anak Rumah Hati yang terkena tumor otak. Dia harus segera ditolong. Aku harap kamu bisa membantu.”

    Mata Yama berkilat dan rahangnya terlihat mengeras. Bola api kemarahan meletup-letup dari matanya.

”Mengapa selalu soal anak-anak itu yang kamu bicarakan di depanku. Jangan-jangan kamu sudah menikah dengan LSM-mu, jadi kamu selalu ragu-ragu untuk menikah denganku.”

”Please Yama, jangan marah. Jika menikah, tentu saja aku memilih menikah denganmu. Tapi, tolong berilah aku sedikit waktu. Bekerja dengan anak-anak ini dan LSM ini memang pekerjaanku sejak awal. Sudah menjadi bagian hidupku. Kau mengenalku pertama kali juga dari LSM ini. Jadi, tolong jangan coba membandingkan dirimu dengan pekerjaanku. Jangan membuat semuanya makin rumit, Yama. ”

    Yama hanya diam. Sisa-sisa kemarahan masih terpancar jelas di matanya.

”Kay, kata-katamu sudah menunjukkan keragu-raguanmu. Aku tidak akan menunggumu berlama-lama. Aku ingin kamu memberi aku kepastian. Tolong kabari aku bila kamu siap.”

Yama meninggalkan Kay dengan wajah gelap. Langkahnya bergegas seolah-seolah ia ingin segera terbang dari hadapan Kay. Perasaan Kay kacau- balau. 

 Ia betul-betul tidak menyangka semuanya akan berakhir begitu buruk. Yama sampai pada tahap mengancamnya. Kay betul-betul panik apa yang harus dilakukan. Ia tidak ingin kehilangan Yama. Masalah Nina mendesaknya. 

Kay meneguk es jeruknya berulang-ulang dan menarik napas dengan lebih perlahan. Ia tahu ia harus menenangkan diri. Kepanikan tidak akan menolongnya. Kay kembali menarik napasnya satu demi satu, berusaha mengurai perasaannya yang terasa campur aduk.

Baca Cerita Pendek Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Anjing Tetanggaku Bernama Tobo

Cerita Pendek: Yang Mulia (Gejolak Batin Sang Hakim)

Cerita Pendek: Ini Bukan Impian Zahra

Artikel Asli