Cerita Pendek: Jas Putih Part 2

Femina Dipublikasikan 07.45, 12/08/2020 • Ni Komang Ariani

Kafe Flavor…

Saat yang tidak tepat menemui Melly. Melly sedang berada pada kondisi terburuk. Melly adalah contoh buruk dari sebuah pernikahan. Kay sangat tahu Melly adalah perempuan yang sangat mencintai kebebasan. Barangkali kebebasanlah cintanya yang sejati. 

Kay heran, mengapa Melly memutuskan menikah dengan Kevo tiga tahun yang lalu. Pernikahan kilat yang baru Kay ketahui seminggu sebelum hari H. Padahal, Kay adalah sahabat terdekat Melly.

Berulang kali Melly mengatakan ia tidak ingin menikah. Ia mencintai Kevo dan pekerjaannya sebagai desainer. Melly adalah seorang pekerja yang sangat perfeksionis. 

Ia tidak pernah bisa menerima pekerjaan yang tidak sempurna atau setengah sempurna. Ia tidak akan bisa tidur dengan itu. Itulah yang membuat kariernya melesat seperti meteor.

”Aku tidak yakin bisa membagi hidupku lebih daripada aku, Kevo dan pekerjaanku. Aku tidak mempunyai kemampuan lebih daripada itu, Kay,” kata Melly, meyakinkan pilihannya.

Dan bom itu meledak sekarang.

Melly mengembuskan asap rokoknya dengan mata gelisah. Ia merayapkan pandangannya ke sekeliling kafe yang penuh asap rokok. 

Napas Kay terasa sesak dengan bau asap rokok dan tenggorokannya terasa gatal. Biasanya Kay protes dengan kebiasaan Melly merokok. Namun, kali ini ia mencoba menahan dirinya.  

”Dari dulu aku memang tidak percaya bahwa pernikahan adalah lembaga yang melahirkan kebahagiaan. Kebahagiaan itu ada di hatimu sendiri,” kata Melly, dengan mata menerawang.

    ”Aku masih tidak mengerti mengapa kamu memutuskan menikah pada waktu itu.”

"Mungkin karena aku sudah capek banget menjawab pertanyaan semua orang tentang pernikahan. Terutama pertanyaan kedua orang tuaku. Berulang kali mereka menyatakan kekhawatirannya tentang hubunganku dengan Kevo yang sudah begitu dekat, namun, kok, nggak nikah-nikah. Mereka takut akan terjadi apa-apa padaku.”

Kay mendesah panjang mendengar kalimat-kalimat Melly meluncur dengan deras.

    ”Mengapa, ya, orang selalu menggunakan kasus umum untuk menilai kasus khusus. Walaupun sudah lama berhubungan, belum tentu kan terjadi apa-apa padaku. Setidaknya menurut kami berdua. Dan kami tetap bisa bahagia.”

    ”Jadi, selama tiga tahun ini kamu tidak bahagia?”

    ”Rasanya tidak, Kay. Untuk tidak mengatakan definitely not. Setidaknya Kevo adalah laki-laki yang kucintai dan kami hidup serumah sekarang.”

    ”Lalu yang menjadi masalah apa?”

    ”Pernikahan itu terlalu rumit, Kay. Aku merasa dipaksa memasuki banyak sekali hal yang tidak aku sukai, namun seolah-olah itu harus, karena aku sudah menikah dan menjadi seorang istri. Ini yang membuat aku muak.”

    Kay menelan ludah, agak terpengaruh dengan kata-kata Melly.

    ”Aku perempuan bebas, Kay, sejak dulu. Setelah menikah, tiba-tiba aku harus menjadi perempuan sabar seperti di sinetron-sinetron. Makin lama aku merasa makin menciut dan tersedot habis. Lama-kelamaan mungkin aku akan hilang.”

    ”Seburuk itukah, Mel?”

    ”Menurut aku, ya. Mungkin berbeda di mata orang lain.”

    ”Bagaimana dengan anak, Mel. Mungkin dengan adanya anak, kehidupan pernikahanmu akan lebih baik.”

”Justru itu, Kay. Sejak tiga tahun yang lalu mereka memaksaku untuk segera punya anak, padahal sudah berulang kali aku mengatakan tidak siap. Aku masih ingin bekerja. Apa kata-kataku masih tidak cukup jelas? Lebih daripada itu, mengapa kami tidak boleh mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan kami sendiri. Kalaupun ada penyesalan kelak, biarlah kami yang akan menanggungnya.”

    ”Apa alasan mereka?’

    ”Karena umurku makin tua. Hhh… mungkin mereka ada benarnya. Namun, aku betul-betul lelah dipaksa mengerjakan apa yang tidak aku inginkan. Bukankah aku sudah dewasa dan sudah siap menerima risiko dari semua tindakan yang aku lakukan…!”

    ”Hhh…. aku juga bingung, lalu keputusanmu sendiri bagaimana?’

    ”Aku sedang membahas kemungkinan kami akan bercerai?”

    ”Separah itukah, Mel?”

    ”Perceraian bukan berarti sesuatu yang parah, Kay. Jangan ikut-ikutan jadi hakim, deh.”

    ”Aku pikir perceraian itu sesuatu yang parah, Mel, maaf aku memang betul-betul belum tahu.”

”Kamu manajer LSM, pola pikirmu mestinya agak maju ke depan, he… .he….” Melly tertawa hambar. ”Bukankah segala yang mungkin membuat kita bahagia, layak untuk diperjuangkan,” lanjut Melly, lirih.

Kay merengkuh bahu Melly yang duduk di hadapannya, berusaha memberi dukungan. Kalimat-kalimat Melly mengandung kebenaran yang tidak dapat dibantahnya. 

Diam-diam Kay mulai meragukan rencana pernikahannya. Betulkah pernikahan bisa membuatmu terjatuh ke lubang yang akan memenjarakanmu? Akan tetapi, bukankah Yama adalah orang yang begitu menawan dan Kay ingin menghabiskan seluruh hidupnya bersama Yama. 

Melly mungkin hanya menjadi contoh yang buruk dari sebuah pernikahan. Pernikahannya bisa saja lebih baik.

**

Rumah Sakit Permata Bunda…..   

Kay mendengarkan dengan takzim dentuman sepatunya di lantai marmer. Lantai terlihat amat berkilau dan bersih. Wangi pembersih lantai masih tercium. 

Pertanda lantai itu baru saja dipel. Kay berjalan melintasi lorong dengan kursi-kursi cokelat yang berjajar. Kay berdecak takjub pada kemewahan bangunan ini.

”Jadi kamu akan pindah ke sini…?”

Yama tersenyum dengan bangga. Kay mengamati suster-suster berpakaian pink dan berdandan cantik di ruangan itu. Pengharum ruangan yang lembut membuat semua orang merasa nyaman. Bangunan ini lebih mirip hotel daripada rumah sakit.

    ”Bagus sekali….! Apalagi ini khusus untuk ibu dan anak. Dekat sekali dengan LSM Act. Kita bisa banyak bekerja sama,” kata Kay dengan antusias.

    Yama memandang Kay sekilas. Beberapa saat ia terdiam dengan wajah yang terlihat kaku. Lalu ia tersenyum dan merengkuh bahu Kay.

    ”Mungkin saja kalau aku lagi tidak sibuk. Kamu tahu kan aku seorang dokter kepala.”

    ”Kamu harus lebih sering mendukung pekerjaanku. Kan kamu deket banget dengan duniaku. Kamu bisa banyak bantu aku, Yama.”

    ”Kita urus dulu pekerjaan masing-masing, deh, Kay, baru nanti berpikir untuk bekerja sama. Lebih baik kamu mantapkan dulu hatimu mengenai pernikahan kita. Kapan kita bisa membicarakan ini?”

Kay agak tertegun oleh kata-kata Yama. Sekalipun diucapkan dengan datar, Kay merasa kata-kata itu mengandung keketusan. Mengapa Yama tidak tertarik sedikit pun pada pekerjaannya? Mengapa Yama begitu tak acuh dengan Rumah Hati dan anak-anak yang ada di sana? Bukankah Yama seorang dokter anak.

Kay juga merasa agak terganggu karena Yama terus-menerus mengejarnya dengan rencana pernikahan. Tidakkah Yama tahu betapa gamang perasaan Kay saat ini setelah mendengar cerita-cerita Melly. 

Satu hal lagi yang membuatnya makin gamang adalah tiba-tiba Kay merasa menemukan banyak hal yang tidak dikenalnya pada diri Yama. Tiba-tiba Yama menjadi sosok yang sangat asing. Betulkah lima tahun tidak cukup untuk mengenal seseorang dengan baik?

**

Rumah Hati…

Canda tawa yang meriah menyambut Kay, begitu kakinya menginjak Rumah Hati. Seketika hati Kay dialiri perasaan sejuk. Kay meringankan langkah kakinya demi tidak mengganggu keriuhan yang begitu hidup. 

Namun, tak urung anak-anak itu kaget menyambut kedatangannya.

Wajah Kay membentuk sebuah senyuman ramah. Anak-anak itu membalasnya dengan agak malu. Kay memang tidak banyak berhubungan langsung dengan mereka. 

Killian, bawahannya, yang banyak mengurus mereka. Jangan-jangan Killian sudah menakut-nakuti anak-anak itu dengan menyebut Kay sebagai ’big boss’ atau semacamnya.

Kay mencium anak-anak itu satu per satu, berusaha mengurai kecanggungan mereka pada dirinya. Anak-anak itu tetap membalasnya dengan agak canggung. 

Setidaknya mereka tahu bahwa Kay tidak menyeramkan atau galak. Dengan begitu, lebih mudah baginya untuk membantu mereka.  

Kay melewati anak-anak itu dengan senyum yang masih tersungging di bibirnya. Ia melangkahkan kakinya menuju ruangan Killian di Rumah Hati. Killian memang memintanya untuk datang karena masalah yang cukup penting yang ingin dibahasnya.

Killian terlihat serius memperhatikan kertas-kertasnya dan agak kaget melihat Kay berjalan mendekat. Kemudian sebuah senyum terkembang di wajahnya. Killian memeluk Kay, menyapanya dengan hangat.

    ”Bagaimana kabarnya, Mbak Kay…,” sapanya ramah.

    ”Baik Killy, ada masalah penting apa, nih?” tanya Kay langsung.

    Seketika itu wajah Killian berubah serius.

”Salah satu anak Rumah Hati terserang penyakit yang cukup serius. Nina yang 6 tahun itu. Ada tumor yang tumbuh di otaknya.”

Kay tidak bisa menyembunyikan kekagetannya. Ia sudah mengenal Nina cukup lama. Ia adalah salah satu anak tercerdas yang pernah ditangani LSM-nya.

”Ganas?”

”Masih jinak. Kata dokter, harus cepat ditangani. Nina masih bisa diselamatkan.”

”Oooh….!” Kay mendesah dengan pikiran bingung.

”Yama dokter anak. Nanti aku bicarakan sama dia, apa yang bisa dilakukan. Sementara ini, coba kamu kontak beberapa donatur mengenai hal ini. Sebar luaskan juga berita ini melalui press release. Mudah-mudahan media bersedia menyebarluaskannya.”

Killian mencatat kalimat-kalimat Kay di notesnya. ”Baik Mbak. Apa Mbak Kay ingin menemui Nina? Sejauh ini dia belum tahu penyakitnya.”

”Ada di mana dia sekarang?”

”Di kamarnya.”

”Kamu yakin dia belum tahu penyakitnya? Biasanya Nina tidak pernah mengurung diri di kamar.”

”Saya belum memberi tahu Nina dan meminta staf yang lain untuk merahasiakannya juga. ”

Kay mengangguk-angguk. ”Aku mau makan siang dulu di kantin depan. Laper berat, nih. Setelah makan siang, aku menengoknya ke kamar.”

”Baik Mbak. Mohon kabari secepatnya mengenai follow up-nya, ya. Penanganan terhadap Nina harus secepatnya, untuk memperkecil risiko dan meringankan biaya. ”

”Oke, Killy. Mudah-mudahan usahamu juga cepat mendapat hasil.” Mereka berpelukan sesaat, berusaha menguatkan hati masing-masing.

**

Langkah-langkah kaki Kay membuat Nina menoleh dari keasyikannya membaca buku di kamar. Begitu melihat Kay, Nina menyunggingkan sebuah senyum kecil. Kay merasakan ada kabut dalam senyum itu. Mungkinkah Nina sudah dapat menduga penyakit yang kini bersarang di tubuhnya?

Nina adalah gadis kecil yang mempunyai pandangan mata tajam. Rambutnya panjang sampai ke punggung. Matanya bulat dan garis wajahnya begitu manis. Nina amat cerdas dengan nilai-nilai yang mendekati sempurna di sekolahnya. 

Waktu Nina pertama kali masuk dalam pengawasannya, ketika ia diserahkan oleh orang tuanya yang tidak mampu saat ia berumur empat tahun, Nina kelihatan sebagai anak yang begitu tegar. 

Walaupun terjatuh dengan kaki dan tangan yang berdarah-darah, Nina tidak pernah menangis. Dari manakah ia mempelajari ketegaran itu?

Killian mengatakan, beberapa bulan terakhir ini Nina sering mengeluh sakit kepala dan beberapa kali ia muntah-muntah. Tentu rasa sakit ini adalah sesuatu yang sudah begitu sulit ditahannya ketika ia melaporkannya kepada Killian. Nina pasti dapat menebak, bila rasa sakit itu tidak tertahankan, tentu itu bukanlah penyakit main-main.

Nina menghampiri Kay dan mereka berpelukan.

    ”Apa kabarmu, Nin…?”

    ”Tumben Mbak Kay datang..? Ada sesuatu yang penting?” Nina memang anak yang cerdas.

    ”Apa aku tidak boleh mengunjungimu?”

    ”Tentu saja Nina senang sekali. Tapi, biasanya Mbak Kay sangat sibuk.”

    ”Aku sedang berdiskusi dengan Killian mengenai Rumah Hati. Tiba-tiba aku ingat sudah lama tidak bertemu denganmu.”

    ”Tiga hari yang lalu Mbak Killy mengajak saya ke dokter untuk memeriksa kepala saya. Apa Mbak Kay sudah tahu penyakit yang saya derita?”

    ”Wah, Killian belum memberi tahu saya. Mungkin belum ada hasil dari dokter. Kadang-kadang hasil pemeriksaan harus dikirim ke rumah sakit lain.”

    ”Saya takut Mbak Kay…?”

    ”Takut apa, Nin?”

    ”Takut menderita sakit berat dan merepotkan Mbak Kay dan Mbak Killy.”

    ”Kita tunggu saja hasilnya dari lab, ya. Mudah-mudahan kamu sehat-sehat saja. Yang penting kamu tetap jaga kondisi tubuh. Kalau sudah ada hasil, kami akan memberi tahu kamu.”

    ”Terima kasih Mbak Kay. Saya senang sekali bisa berada di Rumah Hati. Bila dewasa kelak, saya ingin tetap bekerja di sini untuk membantu Mbak…!”

Kay terharu mendengar kata-kata Nina. ”Aku juga senang kamu di sini.” Kay memeluk Nina erat. Nina balas memeluknya dengan mata berkaca-kaca. Sebentuk kecil kasih sayang selalu sangat berarti bagi seorang anak.

Baca Cerita Pendek Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Garnish

Cerita Pendek: Pemutar Aroma

Cerita Pendek: Camar-camar Matsushima

Artikel Asli