Cerita Pendek: Dansa Saukamba Part 1

Femina Dipublikasikan 07.45, 06/08 • Evi Z. Indriani

“Di hari kamu melihat dansa saukamba dan mendengar Sopa dibebaskan, kamu langsung memintal kapas dan membuat tenunan itu, ‘kan?”

Di desaku, nyanyi burung saukamba yang panjang berdengung selalu hadir bersama fajar di langit timur. Maka, ganjil rasanya jika dengung khidmat itu tetap muncul saat matahari sudah sepenggalah dan cahayanya mulai berlimpah.

Namun, itulah yang terjadi sejak kemarin. Dan pagi ini lebih istimewa. Burung yang biasanya berdansa di bebatuan Danau Prata itu memperlihatkan diri di halaman belakang rumahku. 

Disadur cahaya matahari yang mulai hangat, warna kelabu metalik bulunya makin menakjubkan. Terlebih ia pun tak ragu menari rancak di atas batu, melesat ke dahan pohon mete, melompat menetak-netak, dan akhirnya melayang anggun ke angkasa, kembali ke rumahnya di atas sana, tepian Danau Prata yang elok.

Hanya setitik kegembiraan, tapi mampu melepaskan seluruh sesak yang meruyak tiap sudut batinku. 

Memang ada takhayul yang mengatakan bahwa kehadiran burung saukamba membawa pertanda baik, tapi aku tak mau percaya. Dukacitaku terlalu dalam untuk kutukar dengan sekadar berandai-andai.

Jari-jariku mulai menata benang pada bayog, alat tenun tuaku. Pasti bagus kalau siluet burung genit itu jadi motif di kain tenunku, batinku, berusaha menghalau cemas. Ditenun dengan benang perak, siapa pun akan teringat pada sayap kelabu metaliknya.

                        ****

“Taa, tamu lagi!”

Aku tersentak. Krae! Sepupuku yang menyebalkan itu sudah bangun ternyata!

Pura-pura tak mendengar, aku mulai menggerakkan bayog. Tapi, KRAK! Alat tenun tua itu berderak hebat oleh tendangan kaki kapalannya.

Aku tengadah, tatap matanya yang penuh kemarahan menghadangku. Kutentang dengan pandangan tak kalah menghina.

“Tak dengar kamu? Wartawan, taa! Pasti mau tanya soal sopamu!” Krae menyambung kalimatnya dengan beliak mata.

Kurang ajar. Kulirik sekepal batu di dekatku. Hanya melirik, karena mendadak ingat jerit pilunya, saat bara rokok Tio Sadek menghujam punggung tangannya kemarin.

Aku menelan ludah. Terpaksa aku bangkit, meloloskan diri dari alat tenunku, dan berjalan menuju teras. Langkahku terasa berat, sangat berat.

Pasti tamu-tamu itu lagi, dengan pertanyaan yang itu-itu juga. Bagaimana perasaanku mendengar kabar tentang Sopa alias ayahku yang terancam hukuman mati di Malaysia? Apakah memang mungkin Sopa membunuh majikannya? Apa harapanku terhadap pemerintah? Apakah Sopa rutin mengirimkan uang? Bagaimana komunikasi kami?

Sejak Tio Sadek, ayah Krae, yang luar biasa galak itu sering bicara pedas tentang wartawan, aku jadi enggan menerima kedatangan mereka.

“Habis gasku buat masak air minum wartawan-wartawan itu!” Padahal, kayu bakar yang kukumpulkan masih menumpuk di belakang, dekat dapur.

“Habis duit belanja gara-gara harus sedia kue dan roti buat mereka!” Padahal, aku selalu menyelipkan uang ke tangan Tia untuk pengeluaran tambahan ini.

“Orang sedang enak-enak tidur, mereka berisik di teras!” Padahal, salahnya sendiri baru tidur setelah matahari terbit.

“Tak usah beramah-ramah pada mereka! Penderitaan kita, itulah sumber duit mereka!” Padahal, dari merekalah Pak Bupati tahu ada warganya yang sedang mendapat musibah.

                        ***

Sudah delapan tahun Sopa bekerja di Malaysia, jadi buruh bangunan. Tiap enam bulan sekali beliau mengirim uang kepada Tia, bibiku, ibunda Krae.

“Kirim uang secukupnya saja untuk Nona. Kau tahu suamiku itu pemabuk dan penjudi. Bisa apa aku kalau semua uangmu habis? Lebih baik simpan sendiri di Malaysia,” kata bibiku yang lembut, di menit-menit terakhir sebelum Sopa berangkat. Sopa setuju.

Sesekali, Sopa berkirim surat padaku. Isinya hanya 4-5 kalimat saja yang bahkan sulit dibaca. Namun, surat beliau selalu membuncahkan hangat dan bahagia di dadaku.

Sekitar enam bulan terakhir ini surat Sopa tak lagi datang. Aku tak khawatir atau curiga, hingga pada suatu hari seorang wartawan dari ibu kota provinsi datang dan bertanya tentang hukuman yang diancamkan kepada Sopa.

Hukuman? Hukuman mati? Siapa bisa percaya berita seburuk itu? Aku menjerit histeris.

Berita tersebar, tak hanya ke penjuru desa, tapi segenap negeri. Tamu berdatangan. Entah siapa saja mereka. Tia Sadek, bibiku yang santun, menerima mereka dengan baik. Air matanya meleleh tiap kali memohon pertolongan para tamu agar membebaskan Sopa.

“Kasihanilah Nona, ia anak satu-satunya kakak iparku itu. Ia tak punya siapa-siapa lagi selain ayahnya. Somanya meninggal di ladang saat ia kecil.”

Dengan alasan yang berbeda, Tio, suami Tia, juga takut jika Sopa benar-benar dihukum mati: takut harus membiayai hidupku. Padahal, siapa pun tahu, ia sendiri menggantungkan hidup pada istrinya yang buruh tani kacang mete.

 “Sampaikan kepada Tio, saya akan mencari kerja ke kota jika terjadi sesuatu dengan Sopa,” kataku semalam kepada Tia. Wanita paruh baya itu tergugu.

“Berdoa saja, Nona. Berdoa. Minta yang terbaik,” katanya. Cepat-cepat ia menunduk, menyalakan lentera kecil di atas meja. Namun, kerlip api malah terbias di matanya yang basah. Sia-sia saja ia menyembunyikan kesedihannya.

                            *****

Seandainya Tio Sadek tidak temperamental dan Krae tidak mengerikan begitu, tanpa Sopa sekalipun aku mau tinggal di sini, di desaku yang cantik. Desaku adalah gerbang menuju Danau Prata yang elok di puncak Gunung Klaora, gunung berapi purba.

Ribuan tahun lalu gunung megah itu meletus dahsyat hingga puncaknya terpancung dan membentuk kaldera yang bersama waktu berubah menjadi danau raksasa. Jika tiada kabut merintangi sinar mentari, maka air bersulfur dalam danau yang diam dan hening itu akan berubah warna, dari biru redup menjadi perak kemilau.

Bangsa Portugis yang sempat menjajah pulau kecil kami menamai hamparan gelenyar keperakan itu Prata Caldeira, nama yang terus kami pakai hingga kini: Danau Prata.

Puncak keindahan Danau Prata adalah saat matahari terbit. Saat itu, air, kabut, langit dan fajar akan menumpahkan warna-warni terindahnya. Alam temaram, namun penuh harapan. Kerlip bintang berangsur pudar.

Siluet gunung dan pepohonan terlukis di cakrawala yang jauh. Ratusan kelelawar kembali dari perjalanan malamnya, pulang ke gua-gua purba di utara sana. Saat itu pula burung sakuamba berdansa di atas bebatuan di tepi danau, berdengung-dengung panjang, menciptakan bunyi yang khidmat lagi mistis.

Detik-detik elok itu mengundang puluhan wisatawan tiap harinya. Biasanya mereka datang pada malam hari dan menginap di rumah kami.

Setelah melewatkan pagi agung di Danau Prata, mereka akan kembali ke desaku untuk beristirahat, menikmati sarapan, atau sekadar membeli suvenir. Lalu, menjelang siang mereka kembali ke kota atau meneruskan perjalanan ke Taman Nasional Klaora.

Danau Prata dan wisatawannya jadi berkah tersendiri bagi kami.

Aku sendiri sudah berencana akan membuka warung minum dan menjual kain tenun. Modal untuk warung minum sudah terkumpul, bahan kain tenun selalu tersedia di alam. Biji kapas untuk dipintal benang, daun tarum, daun nila, kayu secang, dan kulit nangka untuk zat pewarna.

Selanjutnya, lewat keterampilan dan ketelatenanku seluruh anugerah alam itu akan menjelma dalam sehelai kain tenun ikat yang memikat. Namun, semua itu harus kulupakan kini. Tio Sandek jelas tak ingin aku tinggal bersama mereka.

                        ****

Langkahku yang berat akhirnya terhenti. Dari bawah sini kulihat punggung Tia di teras rumah panggung kami. Rupanya, beliau sudah lebih dulu menemui para wartawan. Tampak olehku punggung Tia berguncang. Tia menangis!

Hatiku berdesir. Kabar buruk! Pasti kabar buruk itu yang disampaikan para wartawan!

Kuhela napas, dadaku bergetar hebat. Aku tak pernah siap! Tuhanku, apakah mereka telah menetapkan waktu bagi sopaku untuk menemuiMu? Mengapa harus aku yang menjalani kisah ini? Tak cukupkah aku hanya kehilangan somaku?

Kakiku melemah, nyaliku menciut. Putus asa, aku menyusup ke kolong rumah panggung. Kututup wajah. Dadaku menahan tangis sampai rasanya nyaris pecah. Mendadak ada bunyi gesekan di tanah tempatku duduk. Sesuatu menyentuh tanganku.

Susah payah kubuka mataku yang perih. Agak buram oleh air mata, tapi sepertinya aku tak salah lihat! Krae! Apa yang diinginkannya?

Punggung tangannya yang bengkak, berlubang-lubang basah oleh sulutan bara rokok, terjulur. Perlahan tangan itu, dingin tapi berkeringat, mencengkeram tanganku.

“Kak, kudengar Kakak akan ke kota kalau Onda …”

Aku sudah kebal kalau ia lagi-lagi menghinaku. Namun yang kulihat, mata itu berkaca-kaca. Wajahnya yang hitam berminyak begitu kelam, begitu sarat kepedihan.

Apa lagi ini!

“Kalau Kakak ke kota… aku mau ikut!”

Aku terenyak, tak percaya. Bagaimana mungkin ia yang selama ini merendahkanku, menyusahkanku, menghancurkan harga diriku, tiba-tiba meminta belas kasihku?

 “Aku tak kuat lagi, Kak!” sambungnya parau. “Aku tak mau hidup dengan Sopa Sadek!” Dan, pecahlah tangisnya dengan suara gaduh.

Aku tercengang. Ternyata, di balik keberingasannya, Krae cuma seorang remaja rapuh. Harga dirinya hancur dicabik kebengisan ayahnya sendiri.

“Nonaaa…! Nonaaa…!”

Suara Tia. Aku membeku. Rasa cemas itu makin mengerikan. Dari kolong rumah panggung kulihat sepasang kakinya berjalan bergegas ke halaman belakang, menuju bayog-ku berada. Dikiranya aku masih menenun. Namun, isakan Krae yang gaduh menghentikan langkah itu.

 Wajah habis menangis Tia Sadek muncul seketika di celah kolong. Sembap, lembap dan kemerahan. Aku menelan ludah.

“NONA? KRAE? Ada apa? Nona, keluarlah! Pak Bupati ingin bertemu!”

Pak Bupati? Jadi bukan wartawan yang datang?

“Apakah Sopa…?” aku tak meneruskan kalimat. Otot di sekitar mataku lagi-lagi menggelenyar, pandanganku memburam.

TIDAK, TUHAN!

“Ya, ini berita tentang sopamu! Ayo keluar cepat, temui Pak Bupati!”

Kutatap wajah Tia. Sepertinya ada kegembiraan luar biasa di sana. Tapi dukacitaku terlalu dalam, tak mungkin kutukar dengan dugaan apa pun.

“Oh, ayolah!” Tia yang biasanya lembut menyentak tanganku dengan tak sabar, dan dengan langkah-langkah lebar menyeretku ke teras.

Seluruh tamu menyambutku dengan senyum. Salah seorang berdiri menyalamiku,

“Selamat pagi, Nona! Bersyukurlah, kabar terakhir yang kami terima, Mahkamah Tinggi Malaysia telah memutuskan bahwa ayahmu tak bersalah!”

Meremang bulu kudukku, sebelum tubuhku ambruk mencium lantai teras.

***

 “Nona, tamu dari Swedia itu benar-benar jatuh cinta pada tenunanmu. Ia mau membelinya, berapa pun harganya. Kamu lepas saja, ‘kan bisa bikin lagi.”

“Apa pun titahmu, Sopa,” kataku, sambil memeluk sopaku tercinta, lalu masuk kamar dan kembali dengan sebuah bungkusan.

“Yang baru kebetulan sudah tersedia, sama persis,” kataku sambil menggelar sehelai kain tenun ikat biru tua bermotif burung saukamba dalam jalinan serat perak berkilauan.

Sopa memandang penuh kagum, “Yang ini malah lebih bagus, Nona.”

“Tapi, tenunan yang kupajang di penginapan tak akan kulepaskan, Sopa. Ia….”

“Ya, ya. Sopa hafal ceritanya. Di hari kamu melihat dansa saukamba dan mendengar Sopa dibebaskan, kamu langsung memintal kapas dan mulai membuat tenunan itu, ‘kan?” ujar Sopa, dengan tatapan takjub yang mungkin tak akan pernah pudar.

Aku mengangkat alis. “Jadi…?”

“Ya, sudah, untuk tamu Swedia kain yang ini saja.”

Aku tersenyum. Kukemas kain tenun ikat itu dalam dus, kupanggil Krae.

                    ****

Satu minggu setelah berita dibebaskannya Sopa, Tio Sandek tewas ditusuk temannya di tempat sabung ayam. Tak ada yang lebih gembira mendengar kabar itu selain Krae.

Setelah Sopa pulang, aku berinisiatif memanfaatkan penghasilan Sopa selama di Malaysia dengan membuat tempat penginapan. 

Terdiri dari sepuluh kamar. Tempat penginapan itu kubuat serupa rumah adat kami, dengan tiang utama pohon kayu manis, atap alang-alang, dan dinding kayu. Tenun ikat bermotif burung saukamba yang tadi dibicarakan Sopa kupajang di ruang terima tamu. 

Di bagian dinding lain kupasang lukisan flora fauna khas Danau Prata. Tak kusangka, rumah penginapanku laku keras!

Krae muncul dengan wajah segar sehabis mandi. Kuserahkan kain tenun untuk tamu Swedia kami, dan segera ia melesat keluar. Di antara kami semua, Krae paling jago menyenangkan hati tamu.

“Nona,” terdengar sebuah suara empuk.

Ah, Tia! Bibiku yang lembut muncul di pintu.

“Pak Bupati dan rombongan besok jadi datang!” ujarnya gembira.

“Ah, syukurlah!” jawabku. Undangan pada pihak-pihak yang dulu mengupayakan kebebasan Sopa –staf pemda, Kelompok Perlindungan TKI dan Bantuan Hukum Indonesia-- telah kusampaikan sejak dua bulan lalu, tapi baru kemarin jawabannya kudengar. 

Namun, di depan Tia pura-pura saja aku baru tahu.

Dengung panjang saukamba lagi-lagi memecah pagi yang mulai hangat. Kutatap dansa rancak burung genit itu di dekat bayog-ku. Diam-diam aku menyingkir, membiarkan Sopa menemui Tia. Ah, aku akan sangat bahagia jika ada jodoh di antara mereka!

Baca Cerita Pendek Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Laki-Laki dari Langit Part 1

Cerita Pendek: Pelangkah Part 1

Cerita Pendek: Tentang Lastri Part 1

Artikel Asli