Cerita Pendek: Bianglala

Femina Dipublikasikan 04.59, 03/04 • El Cavega Terasu
Foto: Shutterstock

Desember 2016

Kamu menahan emosi, sebuah surat gugatan dibuka oleh tangan kekar pria berkemeja kotak- kotak dan bercelana linen, senyum puas tersungging di bibir hitamnya. Tanganmu gemetar, tatapan mengabut, memandang ke arah anak-anak yang sedang bermain riang.

“Apa akta tanah milikku tidak berguna lagi? Apa Anda tega menghilangkan tawa dari sekumpulan anak yang sedang semangat belajar?”

“Belajar? Cih! Mereka hanya bermain tanpa arah. Sudah jelas pengadilan memenangkan gugatanku, tanah ini milikku, bukan milik wanita jalang itu. Lagipula pemerintah melarang sistem pengajaran nonkonvensional yang kau kembangkan. Camkan! Kebodohanmu jangan kau tularkan pada anak-anak polos itu.”

“Apa Anda bisa memberiku waktu? Anak-anak pasti kecewa jika tidak mendapat penjelasan.”

“Waktu? Aku sudah lama memberimu waktu, sekarang pergilah atau orang-orangku akan menyeretmu.”

Dengan penuh tekad, kamu berjalan ke arah kumpulan anak-anak. Belumlah kaki menjejak sempurna di balai rumah panggung tempatmu mengajar, cengkraman tangan-tangan kokoh mencegah, menarik tubuh kecilmu, menyeret tanpa ampun. Kamu menggigit lidah, berusaha tidak berteriak, dari kejauhan tampak anak-anak tak berdosa itu menjerit ketakutan, diusir tanpa ampun, tempat bermain dan belajar mereka dihancurkan tanpa perasaan. Saat itu kamu hanya bisa tergugu menatap pagar besi yang dijaga orang-orang pria tadi.

Desember 1991

Setelah seharian menangis karena diledek teman-teman di sekolah, ayah mengajak mengunjungi pasar malam di Cibodas. Dari Cidahu ke Cibodas hanya berjarak satu setengah kilometer, berbekal lampu petromaks menyusuri rel kereta yang terbentang.

Pasar malam begitu ramai. Hanya inilah hiburan yang sangat menarik bagi penduduk desa. Televisi masih langka, bahkan radio pun hanya dipunyai orang-orang tertentu. Sekumpulan orang menjerit-jerit di kincir yang berputar, kamu menatap ingin tapi rasa takut yang menyergap. Walau usiamu sudah enam belas tahun, namun pikiranmu masih setara anak SD.

“Airin mau naik bianglala?” Ayah menunjuk kincir yang sedang berputar, lalu mengusap rambutmu perlahan, menatap penuh kasih. Kamu menggelengkan kepala kuat-kuat. Ada rasa takut diledek orang-orang di sana karena tampilan fisikmu berbeda, kamu memiliki sepasang mata indah berbentuk seperti kacang almond mirip orang Mongol, raut wajah agak datar, telinga kecil agak rendah, dan jari tangan lebih pendek dibandingkan orang lain. Orang kampung menjulukimu alien, keluarga dari ibu memanggilmu anak sial, karena tepat saat terlahir ke dunia, ibu meninggal. Hanya ayah yang selalu memperlakukan penuh kasih. Seorang dokter di desa menggelarimu bocah ajaib down syndrome, katanya gelar itu khusus untuk orang tertentu, dan sampai saat ini kamu tidak tahu artinya. Dokter desa itu selalu menguji ketangguhan tubuhmu hingga bisa mencapai usia saat ini.

“Halo, maukah naik bianglala bareng aku?” Seorang anak aneh mengagetkanmu. Sejenak matamu tidak berkedip memandangnya. Dia anak perempuan, namun berpakaian aneh. Selain itu, tinggi badannya dua kali lipat darimu, namun sangat kurus, warna kulitnya putih pucat, matanya sipit seperti terpejam.

“Bagaimana? Mau ya?”

Kamu agak tergagap, baru kali ini ada seseorang yang ramah dan tidak menganggapmu aneh. Anak perempuan itu sepertinya datang dengan ayahnya.

“A Ling, yang sopan, kenalan dulu baru main bareng.”

“Iya, Baba.” Pipi anak itu bersemu merah.

Kamu tertegun mendengar cara bicara mereka dengan logat asing. Kamu dan dia berkenalan dengan hati riang, kalian langsung cocok, lantas berlari ke arah kincir berputar. Berpegangan tangan seolah teman lama, tertawa lepas, duduk dengan perasaan tak terlukiskan.

“A Ling, baju apa yang kamu kenakan?” Kamu menatap rok yang dipakai teman barumu.

“Ini namanya cheongsam, kamu mau? Nanti aku bilang baba kalau mau.” Kamu langsung menggeleng kuat-kuat.

“Wajahmu berbeda dengan teman-temanku di sekolah. Apa kamu juga alien sepertiku?” tanyamu, polos.

A Ling tertawa, “Kamu benar, aku alien. Kita sama dong.” Tangannya menggenggam erat tanganmu.

Saat itulah ada perasaan bahagia menyelusup pelan, menyadari dirimu tidak sendiri. Roda bianglala mulai berputar, kembang api melesat, berdentuman, menyebarkan warna warni indah di angkasa.

“Kamu sekolah di mana?” teriak A Ling.

“Di Sekolah Dasar Nusawangi, dekat pintu rel kereta api Cibodas,” jawabmu sekencang mungkin, agar terdengar jelas. 

“Kelas berapa?” tanyanya lagi, tetap dengan teriakan dan logat khasnya.

“Kelas enam.” Kamu memiringkan kepala, mendekati kupingnya.

A Ling tertawa geli, matanya berbinar, “Aku dan baba besok juga sekolah di sana. Kita akan sekelas.”

Saat itu kamu kurang mengerti ucapan A Ling, hanya menganggukkan kepala, padahal bingung, bagaimana mungkin ayah A Ling juga sekolah? Bukankah dia sudah bukan anak-anak lagi? Atau mungkin ayahnya teman barumu itu juga sama sepertimu, di usia yang harusnya sudah menjejak pendidikan lebih tinggi tapi hanya mampu duduk seperti anak yang usianya jauh di bawahnya.

Rantai bianglala mulai berderak pelan, jeritan penumpang mulai berkurang, putaran kencangnya pun mulai berangsur pelan hingga akhirnya berhenti. Kamu menggenggam tangan A Ling dengan perasaan bahagia, turun dari bianglala, mendatangi ayah kalian.

Kamu tersenyum lebar saat A Ling pertama kalinya masuk ke kelasmu, ternyata malam itu dia berbicara jujur. Sedangkan ayahnya menjadi guru kelas. Kamu dan teman sekelas memanggilnya Baba Liong. Panggilan yang agak aneh, namun beliau sendiri yang memintanya.

Baba Liong berbeda sekali dengan guru sebelumnya. Dia jarang menyuruh menghapal, mengerjakan soal-soal sulit matematika ataupun mengadakan tes berkala. Baba Liong gemar sekali menanyai tiap siswa akan kegemarannya, lantas besoknya dia akan membawa benda-benda aneh untuk dibagikan ke tiap siswa.

Dua hari lalu kamu mendapatkan satu set cat air untuk melukis. Tentu saja sangat menggembirakan. Ada lagi siswa yang diberi sempoa, buku-buku tebal yang berisi angka-angka,

dan lainnya. Tidak ada pelajaran terurut dan sama setiap minggunya seperti dahulu, kalian seolah dibebaskan.

Tiap hari Jum’at Baba Liong mengajak murid kelas enam melaksanakan bersih-bersih di halaman belakang sekolah.

Dulunya di sana rumputnya tinggi-tinggi, namun berkat kalian, ilalang dan rumput liar berganti pohon cabai, tomat, kemangi, seledri, dan tanaman umbi-umbian. Saat itulah, saat membersihkan rumput dan merawat tanaman yang mulai berbunga, tanpa sadar kamu dan teman-teman sekelas diajari ilmu biologi secara langsung.

Baba Liong menerangkan apa itu keseimbangan ekosistem, perkembangan makhluk hidup, fotosintesis, dan lain-lain. Kalian diajak langsung merasakan berkebun dan kalian sangat bergembira, menikmatinya. Selain itu, sejak ada Baba Liong, teman-teman di kelas tidak ada lagi yang mengejekmu seperti dulu, mereka menghargaimu seperti teman lainnya.

Baba Liong tidak pernah menjulukimu dengan panggilan menyakitkan, dia selalu tersenyum dan menepuk bahumu dengan kebanggaan, di depan teman-teman sekelas, dia sering mengatakan, “Airin putri hebat, selalu bisa diandalkan dan pantang menyerah.”

A Ling sangat baik, walau sering bolos,tapi dia sangat pintar, sering mengajarimu banyak hal.

Saat itu kamu baru lulus SMA dan A Ling sudah lulus kuliah.

Kabar buruk datang menyesak, Baba Liong meninggalkan dunia ini selamanya. Pasar malam seakan membawa kenangan menyedihkan. Kamu dan A Ling duduk di bianglala yang sama seperti belasan tahun silam. Saat itulah sahabatmu mengulurkan map berisi lembaran kertas.

“Airin, aku sudah menikah, tepat saat baba koma, kami dijodohkan. Suamiku agak temperamental. Dengan keadaan sekarang, rasanya sulit sekali mengabulkan impian Baba, aku ingin kamu menerima ini, semuanya sudah atas namamu. Tinggal tanda tangan saja. Wujudkan mimpi kami. A Ling menggenggam tanganmu erat, wajah sahabatmu itu terlihat sangat pucat. Bahkan seperti mayat hidup. Namun binar matanya sungguh menyiratkan harapan.

Kamu hanya mengangguk dengan setumpuk kebingungan. Dalam putaran bianglala yang semakin cepat, kamu memeluknya erat. Seolah firasat memagut hatimu. Kamu merasa usiamu tidak lama lagi, apalagi jantungmu mengalami kebocoran. Mata kalian basah. Kamu tentu saja tahu apa impian Baba Liong dan harapan A Ling; mendirikan sekolah nonkonvensional, di sebuah kebun miliknya.

Dua minggu setelah pertemuan di pasar malam itu, kesehatanmu makin memburuk, malaikat maut datang menjemput, sayangnya bukan nyawamu yang dicabutnya, tetapi saudaramu sesama alien. Benar, dialah A Ling. Saat itu barulah kamu tahu ternyata A Ling mengidap AIDS. Selama ini dia hidup dengan setumpuk obat-obatan yang menyokongnya hidup. Siapa sangka, saat sekolah yang diidamkan sudah berdiri hampir satu tahun, pihak suami A Ling mengklaim dirinyalah ahli waris sah, bukan kamu, yang tak lain hanya orang lain, bukan kerabat.

Entah bagaimana caranya mereka mempunyai sertifikat atas tanah tersebut, dan pengadilan menyatakan sertifikat yang kamu pegang adalah palsu. Gara-gara AIDS, suami dan keluarga A Ling mencapnya sebagai wanita jalang, padahal sejatinya sejak kecil, saat dia tak sadarkan diri karena kecelakaan yang merenggut ibunya, pihak rumah sakit melakukan kesalahan, hingga akhirnya virus HIV bersarang di tubuh kecilnya.

Tanganmu terborgol, mata almondmu basah. Ternyata setelah sekolah impian yang kamu dirikan penuh perjuangan dirampas paksa kepemilikannya, kini kamu pun harus menerima tuduhan pemalsuan sertifikat tanah dan penipuan. Pikiranmu bahkan belum mengerti benar apa itu penipuan. Kamu hanyalah seorang penyandang disabilitas yang ingin mewujudkan sebuah mimpi. Salahkah? Sepertinya rantai bianglala milikmu lepas, hingga harus bertahan di posisi paling bawah, mempertaruhkan semuanya. (f)

***

 

Baca Cerita Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Sehelai Ilalang Buat Ibu

Cerita Pendek: Semalam di De Oro

Cerita Pendek : Kembang Singkong

Cerita Pendek: Ombak dan Layang-Layang Ekor Panjang

 

Artikel Asli