Cerita Pasien Covid-19 AS Pertama Disuntik Vaksin Eksperimental

Tempo.co Dipublikasikan 00.04, 13/07 • Erwin Prima
Ilustrasi vaksin COVID-19 atau virus corona. REUTERS/Dado Ruvic
Heller menerima suntikan pada bulan Maret 2020 lalu, sebagai bagian dari studi tahap pertama vaksin Covid-19.

TEMPO.CO, Jakarta - Seorang wanita bernama Jennifer Haller adalah orang pertama di Amerika Serikat yang menerima uji coba vaksin Covid-19 eksperimental. Wanita asal Seattle ini menceritakan sedikit pengalamannya setelah sekitar dua bulan disuntik vaksin bernama mRNA-1273 itu.
Heller menerima suntikan pada bulan Maret 2020 lalu, sebagai bagian dari studi tahap pertama vaksin. "Sudah 16 minggu sejak saya mendapat dosis pertama. Saya merasa fantastis," ujar dia, seperti dikutip laman Fox News, Sabtu, 11 Juli 2020.
Manajer operasional di sebuah perusahaan teknologi itu mengaku tidak merasakan dampak buruk apa pun setelah disuntik vaksin. Wanita berusia 43 tahun itu merupakan bagian studi tahap pertama vaksin itu yang berlangsung di Kaiser Permanente Washington Research Institute.
Kandidat vaksin ini dikembangkan oleh National Institute of Health, bekerja sama dengan Moderna, sebuah perusahaan bioteknologi yang berbasis di Massachusetts. Perlu dicatat bahwa peserta yang mengambil bagian dalam percobaan mereka tidak akan terinfeksi, karena suntikan ini tidak mengandung virus corona.
"MRNA-1273 pada umumnya aman dan ditoleransi dengan baik, dengan profil keamanan yang konsisten dan terlihat dalam studi klinis vaksin penyakit infeksi Moderna sebelumnya," kata Moderna.
Sebelumnya, bulan lalu, Moderna telah mengumumkan bahwa mereka akan melakukan percobaan fase 3 dari vaksin Covid-19 dengan lebih dari 30.000 subjek. Perusahaan ini percaya bahwa percobaan lebih lanjut pada vaksin akan membantu dunia untuk memiliki vaksin yang efektif.
Hingga Senin pagi, 13 Juli 2020, lebih dari 12,8 juta kasus virus corona telah didiagnosis di seluruh dunia (188 negara), dengan lebih dari 3,2 juta di Amerika, menurut data peta sebaran yang dibuat Johns Hopkins University. Penyakit ini telah menyebabkan sedikitnya 567.957 kematian di seluruh dunia, termasuk setidaknya 135.155 kematian di Amerika.
FOX NEWS | KOMO NEWS | IBTIMES

Artikel Asli