Cerita Kontraktor yang Ditembak Anak Bupati Majalengka

kumparan Dipublikasikan 14.07, 12/11/2019 • Reza Aditya Ramadhan
Panji, korban yang diduga ditembak anak Bupati Majalengka menunjukan tangannya. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan

Irfan Nuralam, anak kedua Bupati Majalengka Karna Sobahi, diduga menembak kontraktor yang bernama Panji Pamungkasandi. Insiden penembakan itu terjadi di Ruko Hana Sakura, Cigasong, Kabupaten Majalengka pada Minggu (10/11) malam.

Peristiwa terjadi karena Panji hendak menagih uang proyek pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SBPU) yang selesai sejak bulan April 2019 lalu. Panji tidak menjelaskan pembangunan SPBU itu proyek pribadi atau proyek Pemkab Majalengka.

Lebih lanjut Panji menceritakan, peristiwa bermula ketika 12 orang pegawai perusahaan, termasuk dia, pergi ke Majalengka untuk menagih sisa utang senilai Rp500 juta.

Total utang seluruhnya berjumlah Rp800 juta. Namun, saat itu Panji dan timnya hanya berniat meminta uang proyek senilai Rp500 juta.

Rombongan, kata Panji, tiba di lokasi yang telah ditentukan oleh Andi -rekan Irfan- yakni di salah satu jalan di di area ruko untuk menerima uang sekitar pukul 19.30 WIB. Di sana, mereka menunggu Irfan. Panji pada saat itu tertidur di dalam mobil. Hingga pukul 22.00 WIB belum terjadi apapun di lokasi.

"Kita nunggu lama, jam 10 malam saya ketiduran di dalam mobil. Belum terjadi apa-apa," kata dia ketika ditemui di Bandung, Selasa (12/11).

Panji, korban yang diduga ditembak anak Bupati Majalengka menunjukan tangannya. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan

Lalu, Panji mengatakan, pukul 23.30 WIB, tiba-tiba dia mendengar dua kali suara ledakan. Panji dibangunkan oleh orang-orang yang datang bersama Irfan. Di luar mobil, dia melihat ada sekitar 30 orang yang sedang menganiaya para pegawainya.

Panji kemudian dirangkul oleh Irfan hingga beberapa langkah dari mobil. Ketika itu, dia mendengar Irfan mengatakan. "Kamu di sini bikin masalah dan rusuh terus. Mau saya bunuh kamu".

Panji heran dengan ucapan Irfan itu. Padahal, dia datang ke sana hanya hendak menagih utang dan tidak ada niat untuk membuat keribuatan.

"Kita tidak ada niat bikin keributan, sajam (senjata tajam) pun tidak ada (yang bawa)" ucap dia.

Ketika dirangkul, Panji melihat ada pistol berada di genggaman tangan kanan Irfan yang ditodongkan lalu ditembakkan ke arahnya. Dia membela diri dengan menghindar tapi tetap mengenai bagian telapak tangan kirinya. Tembakan itu pun mengenai anak buah Irfan di bagian kakinya.

"Ada dua (yang kena) saya dan orang Pak Irfan," terang dia.

Selanjutnya, Panji mengaku dibawa Irfan ke kantornya yang masih berada di sekitar ruko. Di sana, kata dia, utang diberikan Irfan dengan cara dilempar kemudian diinjak-injak. Uang itu pun ternoda tangannya yang berlumuran darah. Setelah itu, Panji menuju ke rumah sakit mendapat penanganan dan melaporkan kasus itu ke polisi.

"Setelah itu baru saya dibawa masuk ke kantor Pak Irfan dan diberi yang Rp500 juta. Caranya uang itu dilempar dan diinjak-injak yang kena darah saya, berlumuran darah," jelas dia.

Panji mengaku mendengar tiga kali ledakan senjata api pada malam itu. Adapun di kantor polisi, dia dan pegawai sempat digeledah polisi dan tidak menemukan barang berbahaya apapun karena tidak ada niat untuk berbuat rusuh.

"Kita digeledah kita tidak ada sajam dalam bentuk apapun, kita digeledah semua. Setelah itu saya balik lagi ke RS untuk memastikan luka saya. Besoknya, saya kembali ke Bandung," kata dia.

Panji sempat menunggu adanya iktikad baik dari Irfan untuk menyampaikan permintaan maaf sebelum memutuskan pulang ke Bandung. Dia pun berharap pihak kepolisian dapat mengusut tuntas perkara yang menimpanya dan pegawainya. Menurut dia, ada tiga pegawai yang turut menderita luka lebam sedangkan dirinya mendapat enam jahitan di telapak tangan kiri.

"Awalnya sih harapan saya menunggu satu hari ada konfirmasi saya tunggu ternyata tidak ada iktikad baik saya korban meminta maaf dari Irfan," ungkap dia.

Artikel Asli