Cerita Elivina, Guru Bergaji Rp 200.000, Berjualan dan Memikul Kemiri, Jalan Belasan Kilometer

Kompas.com Dipublikasikan 23.00, 08/08 • Pythag Kurniati
KOMPAS.com/DOKUMEN ELIVINA
Elivina Nawu sedang membimbing murid-muridnya di kampung pedalaman selama masa belajar di rumah.

KOMPAS.com- Upah yang kecil tak lantas membuat semangat Elivina Nawu (33) padam.

Sebagai guru honorer yang telah mengabdi selama 9 tahun di Flores, NTT, Elivina hanya mendapatkan penghasilan Rp 200.000 per bulan.

Ia bahkan terpaksa berjualan kemiri di sela mengajar, demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan dua anaknya.

Satu hal yang membuat semangat Elivina masih membara, yakni melihat murid-muridnya menjadi anak yang cerdas.

"Saya termotivasi untuk mencerdaskan anak bangsa. Walaupun upah yang diterima tidak sesuai dengan apa yang saya kerjakan selama ini," tutur dia.

Baca juga: Kisah Nenek Uho, Sakit Sendirian, Ditemukan Pakai Sarung Bercampur Kotoran Hewan

Mengajar sejak 2011, honor Rp 200.000

Elivina hampir 9 tahun mengajar sebagai guru honorer.

Meski jam mengajarnya cukup tinggi, penghasilannya jauh dari kata layak. Belum lagi dia memiliki dua orang anak.

“Saya sudah mengajar di SDI ajang sejak 1 Oktober 2011. Saya mengajar selama 26 jam per minggu. Gaji saya Rp 200.000 per bulan dari komite sekolah,” kata Elivina

Ternyata, gaji itu pun sudah tidak diterima sejak 2018.

Dia hanya menerima tambahan penghasilan (tamsil) dari Pemda Manggarai Timur sebesar Rp 500 ribu per bulan.

Karena sifatnya tambahan, waktu pencairan tamsil juga tidak pasti. Pernah dia menerima tamsil setelah delapan bulan.

Namun yang dia peroleh juga tidak penuh, yakni baru tamsil tiga bulan pertama.

Baca juga: Dulu Gaji Saya Rp 430.000 Per 3 Bulan, Alhamdulillah Naik Rp 720.000 Per 4 Bulan

Lewati hutan dan sungai

Elivina tetap bersemangat menjalani tugasnya mengajar selama pandemi Covid-19.

Ia rela mendatangi murid-muridnya demi menyalurkan ilmu.

Untuk mengunjungi siswanya, Elivina berjalan kaki sejauh tiga kilometer.

Dalam perjalanannya, Elivina harus melewati hutan dan sungai.

Baca juga: Kisah Pilu Pasangan Cukup dan Nia yang Hamil 9 Bulan, Tewas Bersama dalam Tabrakan Speedboat

Kritik kesejahteraan guru

Selama ini Elivina tinggal bersama orangtuanya yang merupakan seorang petani.

Dia juga membantu orangtuanya berjualan kemiri. Setiap hari Elivina memikul kemiri dalam jumlah banyak dan berjalan belasan kilometer.

Hal itu ia lakukan agar keluarganya dapat bertahan hidup.

Di bulan kemerdekaan ini, Elivina turut mengkritik pemerintah atas minimnya gaji guru honorer.

“Bulan ini bangsa Indonesia merayakan HUT Kemeredekaan ke-75 tahun dengan tema Indonesia Maju. Tetapi nasib guru honorer belum merdeka,” ujar Elivina.

Sumber: Kompas.com (Penulis : Kontributor Sumba, Ignasius Sara | Editor : Dheri Agriesta)

Editor: Pythag Kurniati

Artikel Asli