Cerita Darwis Triadi, Fotografer di Balik Foto Resmi Jokowi-Ma'ruf Amin, Ungkap Permintaan Khusus

Tribunewow Dipublikasikan 06.31, 19/10/2019
Foto Resmi Presiden dan Wakil Presiden Indonesia 2019-2024, Joko Widodo dan KH. Ma'ruf Amin

TRIBUNWOW.COM - Foto resmi Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Maruf Amin sudah dapat dimiliki masyarakat dan dipajang di kantor lembaga/kementerian hingga sekolah-sekolah.

Namun, banyak masyarakat belum tahu sosok fotografer yang dipercaya memotret orang nomor 1 dan 2 Indonesia itu.

Adalah fotografer senior Andreas Darwis Triadi (65) dipercaya memotret Presiden dan Wakil Presiden terpilih periode 2019-2024, Joko Widodo dan Ma'ruf Amin.

Tribunnews/JEPRIMA Fotografer Darwis Triadi saat ditemui tim Tribunnews untuk melakukan wawancara khusus di Studio Miliknya di Kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Jumat (18/10/2019). Darwis Triadi merupakan sosok orang di balik foto resmi Presiden RI Joko Widodo dan Wakil Presiden K.H Maruf Amin. (Tribunnews/Jeprima)

Ia menyimpan cerita di balik sesi pemotretan tersebut.

Ditemui tim Tribun di Darwis Triadi School of Photography, Mampang, Jakarta Selatan, Jumat (18/10/2019) kemarin, Darwis menceritakan dirinya dituntut aturan atau SOP kenegaraan dan durasi setengah jam untuk menghasilkan karya foto resmi kepala negara dan wakil kepala negara yang baik.

Selain penguasaan teknis dan kemampuan khusus, seorang fotografer untuk foto resmi presiden dan wakil presiden juga harus mengetahui psikologi kedua orang yang hendak dipotretnya.

Darwis mengungkapkan dirinya meyakini Jokowi sebagai presiden tengah memiliki beban pikiran berat menyusul sejumlah gejolak politik, hukum dan keamanan, yang terjadi sebulan terakhir.

Oleh karena itu, ia berusaha membuat Presiden Jokowi untuk rileks atau santai sebelum ia membidik dengan kamera SLR miliknya.

Lalu, bagaimana seorang Darwis Triadi bisa melakukan hal itu?

Berikut petikan wawancara reporter Tribun, Dennis Destryawan, dengan fotografer senior Darwis Triadi:

Bagaimana awal mula Anda menjadi official fotografer Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin?

Mungkin karena sebelumnya beliau pernah menggunakan jasa saya untuk membuat profile untuk keperluan kampanye Pilpres 2019 lalu.

Dari situ lah saya dipanggil ke Istana Negara untuk bisa memotret foto resm kemarin.

Kebetulan waktu itu yang kontak saya adalah Triawan Munaf (Kepala Badan Ekonomi Kreatif). Mungkin karena beliau (Jokowi) tidak tahu nomor saya. Di situ lah saya diminta motret Bapak (Jokowi) dengan Pak Kiai (Ma'ruf Amin).

Fotografer Darwis Triadi saat ditemui tim Tribunnews untuk melakukan wawancara khusus di Studio Miliknya di Kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Jumat (18/10/2019). Darwis Triadi merupakan sosok orang di balik foto resmi Presiden RI Joko Widodo dan Wakil Presiden K.H Maruf Amin. (Tribunnews/Jeprima)

Tapi, ada satu hal saya tarik kebelakang itu, saya kepikiran sata saya melihat foto resmi bapak yang dulu (2014-2019) itu foto bapak kok karakternya tidak keluar.

Karena saya ini tahu bagaimana teknis lighting, saya fotografer potret. Jadi saya mempelajari itu.

Bukan berarti di sini tidak paham, tapi mungkin secara detail kurang dipahami. Karena motret itu sebetulnya bukan hanya masalah teknis saja.

Bapak (Jokowi) sebelumnya bilang, kalau sudah waktunya tepat, kita motret lagi.

Ya saya memang mempersiapkan diri untuk itu.

Seberapa sulit mengatur seorang kepala negara untuk dipotret?

Nah, ini kadang-kadang memang menjadi sebuah problem.

Hal ini bisa terjadi di Indonesia maupun di negara lain.

Pertama adalah sebuah protokoler yang agak, SOP, kadang-kadang bisa menjadi sebuah gap.

Tapi kesulitan-kesulitan hanya seperti itu.

Dan yang berikutnya adalah bagaimana memanfaatkan waktu yang sesingkat-singkatnya itu secara maksimal.

Waktunya kan cuma setengah jam.

Dan yang ketiga adalah bagaimana saya bisa meyakini Pak Jokowi dan Pak Kiai bahwa saya akan buat sesuatu karya foto yang bagus.

Jadi, itu harus ada trust. Trust itu muncul dari sikap kita, cara kita meng-handle semuanya.

Semua itu berkaitan dengan leadship dan lainnya.

Di sini memang sebetulnya seorang fotografer itu memang harus mempunyai suatu kapasitas kemampuan yang terintegrasi secara komplit.

Bukan hanya masalah teknis saja bagaimana penguasaan dia, supaya semuanya terjadi dengan santai.

Yang berikutnya adalah bagaimana mengeluarkan karakter orang yang dipotret. Itu tidak mudah.

Karena kadang-kadang, maklumlah antara fotografer dengan kepala negara pasti akan terjadi (gap).

Saya juga sangat surprise dan yang saya utarakan apa adanya kepada Pak Jokowi, ternyata Pak Jokowi itu tidak ada batasan-batasan. Semuanya mengalir.

Adakah permintaan tertentu dari Presiden Jokowi saat pemotretan?

Sebelumnya, ya. Karena kami ada diskusi kecil saja sebelum pengambilan gambar. Beliau bilang, nanti saya menginginkan foto seperti ini, close up.

Saya sudah paham, karena ada guidance waktu itu yakni minta tidak perlu sampai kaki.

Berikutnya adalah eksplorasi dalam saya memotret bapak itu saya lakukan setelah semuanya saya dapatkan. Misalnya, keperluan official hanya foto dari depan saja.

Tapi saya melihat, Pak Jokowi dan Pak Kiai ini kalau diambil dari sisi samping, saya pindah lighting, dan banyak sekali, itu jadi sebuah foto yang mengeluarkan karakter bapak.

Dan itu biasanya, kita bisa melakukan itu harus secara spontanitas. Karena kalau tidak kan' waktu berjalan.
Jadi, itulah sebetulnya yang menarik.

Menjalankan pekerjaan memotret, apalagi seorang kepala negara, di mana semuanya serba cepat dan harus melakukan secara prosedural.

Berapa lama prosesi pemotretan Jokowi dan Ma'ruf Amin?

Sekitar 30 menit. Tapi sebelumnya, saya sempat ngobrol sama bapak itu, 3 sampai 5 menit, di situ sebetulnya saya untuk menetralkan saja.

Saya bicara yang rileks saja, tidak bicara yang berat-berat, saya bicara yang ringan-ringan. Saya utarakan hal-hal sederhana yang bisa buat bapak juga bisa senyum.

Itu saja. Biar rileks saat difoto, intinya cuma itu.

Karena saya tahu pas saya motret, itu situasi pikiran bapak, lagi berat kan waktu itu. Kalau kita lihat tiga minggu lalu, situasinya seperti in itu. Ya itu lah.

Buat saya itu adalah suatu momentum mukjizat yang luar biasa. Karena saya sudah khawatir, saya tidak dapat ekspresi yang baik.

Sebetulnya, kan harus rileks. Bapak terbebani begitu berat. Nah bagaimana pada saat memotret itu, supaya bisa hilang bebannya.

Dan ternyata pada saat itu bapak luar biasa karena begitu saya mengarahkan sedikit, bapak lepas.

Dan momentum itu terjadi hanya 1 sampai 2 menit. Depdepdep…. Sisanya bapak kembali ke pemikiran masalah-masalah yang begitu berat memang dia harus jalan kan'.

Itu yang saya salut sama beliau, dan rileks. Bisa dilihat kan behind the scene-nya.

Buat saya behind the scene itu, saya memperlihatkan ini loh sosok kepala negara kita, sosok pemimpin kita pada saat situasi seperti itu, bisa menjalaninya dengan rileks.

Karena pada saat itu, jika saya gagal berkomunikasi, fotonya pasti tidak bagus. Kalau tidak bagus, jadinya foto yang dipajang tidak bagus dan jadi persoalan.

Apa yang Anda ingin sampaikan dalam foto resmi presiden dan wakil presiden itu?

Sebetulnya sederhana, yang mau saya sampaikan adalah bahwa saya sebagai fotografer memotret pemimpin negara Indonesia, saya membuat bukan hanya buat rakyat Indonesia saja, tapi buat negara luar.

Nih, pemimpin gua tuh punya karakter, punya wajah yang tegas, cool, bijaksana. Itu pesan semua yang saya dapatkan.

Karena kadang-kadang saya melihat foto kepala negara luar kok keren banget. Kan kita juga tidak pengin, karena profile itu mempresentasikan bangsanya.

Darwis Triadi mengarahkan gaya Jokowi dan Ma'ruf Amin (Instagram/darwis_triadi)

Apa yang membedakan memotret model dengan kepala negara?

Jauh. Sebab, memotret kepala negara itu punya sebuah tanggung jawab moral yang sangat besar.

Karena hasil fotonya itu merepresentasikan bangsa dan negara kita, termasuk ke negara lain. Bukan hanya sekedar foto.

Kalau kita lihat fotonya Presiden Soekarno zaman dulu kan gila itu, sampai bisa dikoleksi.

Yang saya inginkan seperti itu. Bahwa nantinya foto-foto bapak (Jokowi) ini juga bisa menjadi suatu koleksi, suatu sejarah. Jadi harus mempunyai bobot tersendiri.

Sebenarnya itu lah tantangan saya. Dan pencapaian itu harus kita lakukan dengan sebuah proses.

Bagaimana sosok Jokowi-Kiai Maruf di mata seorang Darwis Triadi?

Saya melihat, pertama waktu itu politik panas kedua tokoh itu digabungkan, saya sempat bertanya-tanya dalam pikiran, kombinasi Pak Jokowi dengan Pak Kiai matching tidak?

Tapi, pikiran saya itu sirna setelah saya mengadakan pemotretan pertama dengan Pak Jokowi dan Pak Kiai untuk kampanye.

Di situ saya melihat sosok Pak Jokowi itu ngemong dan respect terhadap Pak Kiai. Itu kan sangat luar biasa.

Sedangkan Pak Kiai memposisikan dia adalah sosok senior yang wise, tapi dihargai sama oleh Pak Jokowi.

Mungkin setelah saya memotret bapak (Jokowi) terjadi sebuah kecocokan. Kalau saya kan seorang profesional, jadi setiap ada tugas saya kerjakan secara maksimal.

(Tribunnews.com/Dennis Destryawan)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Darwis Triadi: Saya tahu Pikiran Jokowi lagi Berat

Artikel Asli