Cerita Buruh Tani yang Rela Keluarkan Rp 2 Juta untuk Ikut Kirab Keraton Agung Sejagat

Kompas.com Dipublikasikan 16.03, 17/01/2020 • Kontributor Yogyakarta, Dani Julius Zebua
KOMPAS.COM/DANI JULIUS
Buruh tani asal Kulon Progo, DI Yogyakarta, bernama Kasnan dan seragam yang dibeli sebagai bagian pengikut Kerajaan Agung Sejagat di Purworejo, Jawa Tengah.

KULON PROGO, KOMPAS.com - Kerajaan Agung Sejagat beserta pengikutnya menggelar kirab di Desa Pogung Juru Tengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah pada hari Jumat, beberapa waktu lalu.

Salah satu orang yang ikut serta dalam kirab adalah Kasnan, buruh tani berumur 40 tahun asal Dusun Conegaran, Desa Triharjo, Kapanewon Wates, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kasnan ikut jalan berbaris sambil mengangkat panji-panji bertuliskan aksara jawa yang tidak dimengertinya.

Baca juga: Kisah Keraton Jipang di Blora yang Beda dengan Keraton Agung Sejagat

Kirab dilakukan dengan cara berjalan selangkah demi selangkah.  Pelan, tapi jaraknya dirasa Kasnan jauh sekali. Jalan seperti itu membuat Kasnan merasa sakit di kakinya.

"Saya jalan 3 kilometer sambil bawa bendera. Itu jauh sekali. Katanya 1 kilo saja, ternyata jauh. Kaki saya mudah sakit kalau jalan jauh. Waktu itu rasanya ingin lepas saja dari barisan. Habis jalan, saya langsung tidur di mobil," kata Kasnan mengenang peristiwa lalu, Jumat (17/1/2020).

Demi ambil bagian dalam kirab, Kasnan rela merogoh Rp 2 juta untuk membeli baju seragam beserta topinya.

Baca juga: Tak Mau Disamakan dengan Keraton Agung Sejagat, Keraton di Sukoharjo Beri Penjelasan

Uang itu juga jadi syarat untuk mendaftar sebagai anggota Keraton Agung Sejagat.

Baju itu berwarna hitam semacam seragam serdadu pengibar bendera. Kancing emas berbaris di sisi kanan kiri depan badan dari atas ke bawah.

Terdapat pangkat bertuliskan aksara jawa di pundak, bordiran keemasan di lengan bawah dan sekitaran kerah baju.

"Istri belum tahu waktu itu. Saya dapat pakaian Kamis, saya pakai di sana (sebelum kirab). Kalau saya pakai sejak dari sini (Cogenaran), bisa heboh kampung," kata Kasnan.

Baca juga: Motif Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire, Kenapa Banyak Pengikutnya?

Ayah empat anak ini senang menjalin perteman. Hal itu yang membuatnya mau beberapa kali ikut acara yang digelar Keraton Agung Sejagat.

Namun, ia belum sepenuhnya yakin akan terlibat di dalam komunitas ini. Ia berharap menemukan hal positif setelah membuka jaringan pertemanan.

Dalam berbagai pertemuan itu, kenang Kasnan, lebih banyak membicarakan soal kemanusiaan dan sosial kemasyarakatan, diawali mendata warga yang layak mendapat uluran bantuan.

 

Kasnan mengaku tergugah oleh rencana kegiatan kemanusian dalam komunitas ini. Ia pun akhirnya mau bergabung.

"Tapi tidak serta merta ikut. Saya bukan orang yang cepat langsung log in gitu saja. Saya harus berpikir panjang. Akhirnya ikut, siapa tahu bagus," kata Kasnan.

Saat Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat berurusan dengan polisi. Kasnan menyadari ada yang salah dalam komunitas itu.

Hanya saja, dia tidak mau berkomentar banyak. Kasnan merasa bersyukur semua orang tetap baik dan menghargai dirinya. Penghargaan terbesar tetap diberikan istri beserta anak-anaknya.

"Ini jadi ujian bagi keluarga kami. Saya menerima semua masukan dari istri dan anak-anak. Kalau keluarga tidak ada yang piye piye, (hati) saya jadi tenang. Kalau keruh ya malah tidak enak," katanya.

Tetangga juga memperlakukan apa adanya. Tidak ada tudingan miring bagi dirinya.

"Saya memilih diam saja. Kalau pun ada yang mem-bully, saya juga tetap diam saja. Mem-bully berarti perhatian. Saya tidak benci. Biar lah. Saya ini orang santai. Saya berdoa saja," katanya.

Kini, Kasnan hanya bisa memantau perkembangan kasus Keraton Agung Sejagat. Dia juga tidak mau mengingat lebih jauh masa-masanya tergabung dalam kerajaan fiktif itu.

"Saya sudah putuskan semalam untuk melupakan," katanya.

Penulis: Kontributor Yogyakarta, Dani Julius ZebuaEditor: Teuku Muhammad Valdy Arief

Artikel Asli