Cegah Bunuh Diri Seperti Yang Terjadi Pada Sulli Menurut Psikiater

Femina Dipublikasikan 12.30, 15/10/2019 • NF0365

Foto: pexels

Ironis, baru beberapa hari setelah Hari Kesehatan Sedunia yang menyoroti pencegahan bunuh diri, tersiar kabar bunuh diri penyanyi dan aktris Korea Selatan, Sulli atau Choi Jin-ri (25). Ini bukan kali pertama artis Korea memutuskan mengakhiri hidupnya. Reaksi pun bermunculan dari masyarakat, tak hanya di Korea Selatan, tapi juga negara lain yang akrab dengan K-pop dan K-drama, termasuk Indonesia. 

Mantan artis SM Entertainment, anggota boy group Shinhwa lewat akun Instagramnya @danedwkim11, Kim Dong-wan mengkritisi perlakuan agensi-agensi terhadap artis-artis mudanya, yang membuat mereka rentan mengalami masalah kesehatan mental. Sulli diketahui mengalami masalah depresi. 

Sementara itu, masyarakat Korea Selatan menyoroti perundungan siber yang dialami Sulli hingga menjadi pemicu depresi aktris yang pernah bermain dalam drama To The Beautiful You ini. Masyarakat pun membuat petisi melalui website Blue House, untuk mewajibkan warga net menggunakan nama asli pada username agar tak sembarangan melontarkan komentar negatif. 

Sesungguhnya bunuh diri adalah sebuah tindakan yang memiliki latar belakang kompleks. Menurut Dr. dr. Nova Riyanti Yusuf,  SpKJ, yang melakukan penelitian tentang kecenderungan bunuh diri pada remaja, bunuh diri tidak selalu disebabkan oleh gangguan kesehatan jiwa. Memang benar 90% kasus bunuh diri terkait dengan depresi, tapi ada 10% yang tidak diketahui pasti sebabnya. 

Bunuh diri dipengaruhi faktor biologi, misalnya ada riwayat bunuh diri dalam keluarganya, serta faktor psikososial. Pada faktor yang psikososial, dipengaruhi oleh kepribadian, caranya menyelesaikan masalah, serta stresor dari lingkungan. "Saat muncul warning sign seperti bilang ingin mati, bagi-bagi barang, memberi kode perpisahan, dan lain sebagainya, orang sekitarnya harus lebih waspada," ujar dr. Nova.

Namun bukan berarti mereka akan langsung melakukan bunuh diri. Menurut dr. Nova ada yang disebut injury time. Ini masa yang genting. Apakah mereka akan melakukannya, tergantung pada faktor pencetus. Bisa macam-macam bentuknya, misalnya tekanan dari lingkungan. Tapi ada faktor protektif yang bisa mencegah mereka bunuh diri, misalnya aktivitas spiritual, meditasi, terapi pada psikolog dan psikiater, serta adanya teman dan keluarga yang bisa membantu mereka menyalurkan kecemasan.

Jika faktor pelindung itu tidak ada, ditambah faktor pencetus, bisa jadi mereka akan benar-benar melakukan bunuh diri. 

Seringkali lingkungan tidak menyadari atau menyangkal kalau sudah ada warning sign, apalagi jika karakter orang itu termasuk yang ingin selalu kelihatan baik-baik saja, ceria, dan tetap produktif bekerja. Menurut dr. Nova manusia itu makhluk yang multifaceted, memiliki lapisan-lapisan. 

"Di luar bisa saja tampak bahagia, padahal perasaan dan pemikirannya sudah kacau berantakan.  Saat itu ia harusnya beristirahat dan melakukan terapi. Jika dipaksakan bekerja seperti tidak ada masalah apa-apa, baik oleh dirinya atau lingkungannya, akibatnya fatal." 

Korea Selatan adalah salah satu negara maju  yang memiliki rasio bunuh diri tinggi. Korea berada di posisi kedua tertinggi dengan angka bunuh diri dari 30 negara anggota Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Dari data yang dikumpulkan sejak tahun 2016 bekerja sama dengan kementerian kesehatan dan jaminan kesehatan nasional, ditemukan 25,8 dari 100.000 orang Korea Selatan melakukan bunuh diri. 

Angka tersebut lebih baik dari sebelumnya. Dan Pemerintah Korea Selatan kabarnya memiliki target untuk terus mengurangi angka bunuh diri, salah satunya dengan menyediakan nomor telepon darurat untuk pengaduan dan konsultasi terkait bunuh diri. (f)

Artikel Asli