Cara Atasi Kehilangan Orang Terdekat Menurut Ahli

SINDOnews Dipublikasikan 08.00, 02/07 • Diana Rafikasari
Cara Atasi Kehilangan Orang Terdekat Menurut Ahli
Anda akan lebih mampu memproses kesedihan jika tidak menyembunyikan perasaan, pikiran, dan ingatan. Foto Ilustrasi/Novum Psychiatry

Kematian orangtua dapat mengubah seseorang. Seperti dialami Nikita Willy saat ini. Artis 26 tahun itu sekarang terlihat berbeda dengan mengubah gaya penampilannya. Ia tidak lagi mengenakan pakaian seksi dan lebih memilih menggunakan pakaian tertutup serta kerudung.

Selain mengubah penampilan, Nikita juga memilih untuk tidak lagi berpacaran, sebelum akhirnya dilamar oleh Indra Priawan tepat di hari ulang tahunnya pada Senin (29/6) lalu. Nikita menjelaskan, keputusan ini dilakulan karena mengikuti amanah mendiang ayahnya, Henry Willy Syam.

Banyak orang mengatakan, kehilangan orangtua seperti kehilangan sebagian dari diri Anda. Syok, mati rasa, penolakan, kemarahan, kesedihan, dan keputusasaan adalah perasaan yang dialami sebagian besar orang setelah kehilangan orang yang dicintai. Emosi ini dapat bertahan dalam berbagai tingkat selama berbulan-bulan sesudahnya. (Baca Juga: Siap Menikah, Nikita Willy Tunjukkan Perubahan Positif usai Ditinggal sang Ayah)

Kebanyakan orang mengalami perasaan ini dalam tahapan yang terjadi tanpa urutan tertentu, tapi berkurang intensitasnya seiring waktu. Namun, beberapa orang terus mengalami emosi yang kuat selama bertahun-tahun setelah kehilangan, dan kesedihan yang berkelanjutan dapat memengaruhi efek kognitif, sosial, budaya, dan spiritual.

Menurut psikolog anak dan keluarga Samanta Ananta, M.Psi, cara mengatasi kehilangan setelah ditinggal orangtua tidaklah mudah. Karena setiap orang memproses kehilangannya dengan cara dan berdasarkan waktu masing-masing. Mungkin sulit untuk mengenali kapan dan bagaimana perasaan kehilangan telah berkembang menjadi kesedihan yang rumit.

"Fase berduka ada delapan yaitu shock, denial, anger, bargaining, depression, acceptance, problem solving, dan integration. Pastikan kita sebagai orang dewasa tidak pernah berbohong kepada anak untuk menjelaskan kabar duka," ujar Samanta saat dihubungi SINDOnews, Kamis (2/7).

"Jelaskan bahwa orang meninggal itu karena organ tubuhnya tidak lagi berfungsi, seperti komputer yang dimatikan tidak lagi dapat beroperasi," sambungnya.

Tahap-tahap pemulihan setelah kehilangan orang yang dicintai biasanya melibatkan pembiaran diri mengalami rasa sakit kehilangan, yang secara bertahap memberi jalan untuk menerima kenyataan itu serta menemukan cara untuk bergerak maju.

Proses penyembuhan juga melibatkan kemungkinan, pada waktunya, untuk menikmati hubungan lain. Jika terus mengalami peningkatan fokus pada pengingat orang yang Anda cintai sehingga memicu rasa sakit yang hebat, konseling kesedihan dapat membantu.

Konselor kesedihan memberikan dukungan ketika orang berbicara tentang kesedihan, frustrasi, atau kemarahan mereka dan belajar untuk mengatasi sekaligus memproses perasaan ini. Konseling keluarga juga dapat membantu. (Baca Juga: Takut Komitmen atau Menikah? Mungkin Anda Mengalami Gamophobia)

Kematian orangtua dapat menghidupkan kembali rasa sakit atau dendam di masa lalu maupun mengubah hubungan dan dinamika keluarga. Seorang terapis keluarga dapat membantu mengatasi konflik lama dan baru, lalu mengajarkan cara konstruktif untuk menyembuhkan hubungan dan menyelesaikan masalah.

Perawatan diri juga penting setelah kehilangan. Anda akan lebih mampu memproses kesedihan jika tidak menyembunyikan perasaan, pikiran, dan ingatan. Jaga diri Anda baik-baik dengan makan enak, cukup tidur, berolahraga, serta meluangkan waktu untuk berduka dan beristirahat.

"Saat merasa sedih akibat kehilangan, maka menangislah. Jika kita merasa ada di tahapan depresi, segera cari bantuan profesional," tandas Samanta.

Artikel Asli