Calon Peneliti Indonesia Bersiap Meraih Gelar PhD di Belanda

SINDOnews Dipublikasikan 23.24, 19/11/2019 • Nuriwan Trihendrawan
Calon Peneliti Indonesia Bersiap Meraih Gelar PhD di Belanda
Suasana Phd Recruitment yang digelar Nuffic Neso Indonesia bekerja sama dengan Academic Transfer. Foto/Ist

Nuffic Neso Indonesia bekerja sama dengan Academic Transfer kembali mengadakan PhD Recruitment.

Acara ini memberikan kesempatan bagi para peneliti yang tertarik mengambil gelar PhD di Belanda untuk tatap muka dan berdiskusi langsung dengan para professor dan recruiter yang dapat menjadi pembimbing penelitian.

Kesempatan ini diharapkan dapat memfasilitasi kandidat PhD dari Indonesia untuk memperoleh Letter of Admission (LoA) dari pihak universitas Belanda yang nantinya akan membantu mewujudkan para peneliti untuk meraih gelar PhD.

Dalam rilis yang diterima SINDOnews, Rabu (20/11/2019), PhD Recruitment 2019 digelar di Erasmus Huis, Jakarta. Calon peneliti Indonesia melakukan temu janji dan berdiskusi secara langsung dengan profesor dan rekruiter penelitian dari universitas Belanda.

Sebanyak 9 professor dan rekruiter dari universitas Belanda menerima antusiasme para calon peneliti dari Indonesia. Total pendaftar pada acara ini adalah 415 kandidat, namun hanya 148 kandidat yang berhasil mendapatkan temu janji dengan professor dan recruiters dari universitas Belanda.

Acara ini dihadiri pula pendaftar yang tidak terseleksi, walau pun mereka tidak mendapat temu janji dengan profesor dan rekruiter namun mereka diberi kesempatan untuk berkonsultasi dengan Academic Transfer.

Proses pendaftaran PhD Recruitment bermula dari para calon peneliti melakukan pendaftaran secara online. Mereka diwajibkan untuk melampirkan curriculum vitae dan riset proposal. Pendaftar juga diwajibkan untuk memilih calon professor dan recruiters dari universitas Belanda yang sesuai dengan background dan topik riset penelitian.

Direktur Nuffic Neso Indonesia, Peter van Tuijl, menjelaskan, acara PhD Recruitment 2019 menunjukkan minat dari institusi pendidikan Belanda untuk menarik peneliti Indonesia yang berbakat. "Melanjutkan studi di jenjang PhD adalah mimpi dan tingkat keunggulan akademik tertinggi yang dapai dicapai oleh generasi muda serta pendalaman substansi terhadap minat," kata Peter.

Menurut Peter, 9 profesor dan rekruiter yang hadir dalam kesempatan PhD Recruitment tahun ini mempunyai bidang-bidang penelitian yang beragam. Seperti tekhnik, kewirausahaan, ilmu sosial, dan hukum.

Sementara itu, CEO Academic Transfer, Jeroen Sparla, mengatakan, animo masyarakat Indonesia terhadap jenjang studi PhD semakin meningkat. Hal ini dibuktikan dengan keseriusan para pendaftar dalam mengunggah riset proposal yang semakin beragam dalam pembahasan topik.

Menurut dia, kemampuan bahasa Inggris dari para pendaftar semakin berkualitas dibuktikan dengan penyusunan kalimat yang jelas dalam menyusun proposal riset akademis. Melanjutkan PhD membutuhkan kemampuan berbahasa Inggris yang di atas rata-rata. Karena mahasiswa PhD tidak hanya berkewajibkan menjelaskan ide kepada dirinya sendiri namun kepada supervisor dan khalayak ramai.

Jeoren menjelaskan, pada umumnya, ada 3 status PhD di Belanda yaitu PhD employer, PhD by scholarship, dan PhD dengan biaya sendiri. Kondisi ketiga skema PhD tersebut relatif sama, namun untuk PhD employer biasanya ada tuntutan yang sedikit lebih tinggi karena para mahasiswa PhD menerima gaji dari universitas.

"Mereka memiliki jam kerja selama 40 jam per minggu yang berarti mempunyai kewajiban untuk berada di kampus pada hari Senin-Jumat minimal 8 jam per hari," kata dia.

Menurut Jeroen, tahun pertama sebagai PhD student adalah tahun yang sangat menentukan. Setelah tahun pertama, para mahasiswa PhD akan dilakukan assessment yang disebut Go/No Go Interview untuk menentukan apakah studi bisa dilanjutkan atau tidak. Selain menyelesaikan disertasi, para mahasiswa harus menyelesaikan 30 ECTS dalam kurun waktu 4 tahun.

Artikel Asli