[CERPEN] Angin di Kamar Aulia

IDN Times Dipublikasikan 23.00, 18/10/2019 • Sulistiyo Suparno
Pexels

 

“Ibu, apakah angin punya tangan? Mengapa angin bisa membuka dan menutup jendela?” tanya Aulia kepada Mayang, ketika melihat jendela kamar membuka dan menutup sendiri.

“Angin tidak punya tangan, sayang. Tetapi angin mampu melakukan apa saja terhadap benda di sekelilingnya, termasuk membuka dan menutup jendela,” kata Mayang tersenyum, duduk di tepi ranjang, membelai rambut panjang Aulia.

“Mengapa begitu, Ibu? Bagaimana cara angin membuka dan menutup jendela kamar Lia?”

“Ketika angin bertiup ke arah dalam kamarmu, maka jendela akan terbuka. Ketika angin bertiup kembali ke luar kamarmu, maka jendela akan tertutup. Tetapi kalau jendela kamar telah kamu kunci, maka angin tak bisa membuka dan menutupnya. Kamu tahu mengapa begitu?”

“Karena angin tidak punya tangan. Benar, kan, Ibu?”

“Anak pintar,” Mayang menyentuh ujung hidung Aulia, lalu beranjak menuju jendela.

“Mama tutup jendela ini, ya? Agar kamu bisa tidur dengan nyaman,” Mayang menutup jendela kamar, lalu mendekati Aulia yang berbaring di springbed pink bermotif Barbie. Mayang merunduk, lalu mencium kening Aulia.

“Selamat bobo siang, sayang. Jangan lupa berdoa dulu, ya?”

“Ya, Ibu,” Aulia mengangguk, lalu menangkupkan kedua telapak tangan di depan wajahnya. Berdoa.

Mayang beranjak keluar kamar Aulia, lalu menuju kamar lain. Di kamar itu tergantung foto wajah lelaki gagah berseragam putih. Mayang berdiri menatapnya.

“Anak kita bertambah pintar, Mas. Hari ini Lia bertanya tentang angin dan aku menjawab semampuku. Bagaimana angin di ketinggian sana, Mas? Kencangkah? Ah, aku lupa, di kokpit pesawat tidak ada angin, bukan?” Mayang berbicara pada foto itu, lalu terkekeh.

Jendela kamar Mayang terbuka. Angin masuk dan menggoyangkan bingkai foto itu. Mayang sigap memegang foto itu agar tidak jatuh.  Mayang beranjak ke jendela, menutupnya. Setelah itu ia membaringkan tubuh ke ranjang. Menangkupkan kedua telapak tangan di depan wajah. Berdoa.

“Selamat bobo siang, Mayang,” Mayang bergumam pada diri sendiri, lalu memejamkan mata.

***

Aulia, anak yang sering bertanya tentang angin, kini telah duduk di pelaminan. Suaminya seorang pekerja sosial di sebuah LSM. Sejak muda, Aulia memang gemar dengan kegiatan sosial. Aulia sering mengadakan rapat bersama teman-temannya di rumah, membahas aksi sosial mereka. Mayang tak keberatan, rumahnya dijadikan semacam markas anaknya dan teman-teman.

Meski setelah Aulia menikah, Mayang sudah siap merelakan anaknya itu tinggal bersama suami. Tetapi, Aulia belum mau meninggalkan rumah itu, agar Mayang tidak kesepian.

“Terima kasih, sayang. Kamu mau menemani Ibu, setidaknya sampai nanti kalau ayah sudah pensiun. Bila saat itu tiba, Ibu rela, bahkan memohon agar kamu tinggal bersama suamimu, ke mana pun suamimu mengajakmu tinggal,” kata Mayang dengan mata berkaca-kaca.

Akhirnya, saat itu pun tiba. Suami Mayang tidak lagi menjadi pilot dan memilih menjadi instruktur di sekolah penerbangan sipil. Sesuai janjinya pada Aulia, maka Mayang pun bertanya: “Nah, Lia, apa kalian sudah mendapatkan rumah kontrakan?”

“Sudah, Ibu. Tapi Mas Bagas minta kita pindahan nanti saja kalau Lia sudah melahirkan,” jawab Aulia.

Anak pertama Aulia lahir dengan selamat. Cucu pertama bagi Mayang. Pada hari ketujuh setelah kelahiran cucunya, Mayang mengadakan selamatan pemberian nama. Usai selamatan, Mayang bertanya pada Aulia: “Mengapa kamu memberi nama anakmu Angin?”

“Lia ingin ia nanti menjadi orang berjiwa sosial, Ibu. Tidak terlihat, tetapi terasa gerakannya, seperti angin,” jawab Aulia.

Mayang tersenyum. Jendela di kamar Aulia terbuka, angin terasa semilir.

“Mama tutup jendelanya ya, sayang?”

“Ya, Ma.”

Mayang bergerak menutup daun jendela. Sudut mata Mayang menitikkan air, ketika menyadari tak lama lagi kamar anaknya itu akan kosong. Tetapi, memang begitulah hidup. Mayang harus siap.  

***

 

 

Artikel Asli