[CERPEN] Ada Seseorang di Bawah Tempat Tidur

IDN Times Dipublikasikan 23.00, 12/10/2019 • Hans Primandala Chandra
Doc. Pribadi

 

Ingatanku selalu campur aduk. Konsentrasiku tidak pernah bisa berdiri kokoh untuk waktu yang lama.

Dua hal ini membuatku hampir selalu lupa akan apa yang sedang kukerjakan, atau mengapa aku bisa berada di suatu tempat. 

Contohnya saja pada hari itu. Tiba-tiba saja aku berdiri di depan kamar putriku. Entah apa yang membawaku ke sana, atau sejak kapan tepatnya aku BERDIRI di sana. Namun karena aku sudah keburu berada di depan pintu kamar anakku ini, aku-pun memutuskan untuk memeriksa keadaan di dalam.

Aku memegang kenop pintu di bawahku dan langsung memutarnya. Pintu-pun terbuka dan aku mendorongnya ke dalam. Cahaya dari lampu gantung di atasku lantas memasuki sela-sela pintu. Tetapi karena itu tidak cukup untuk memberikan penerangan yang memadai, aku menekan tombol saklar yang berada di sebelah pintu. 

Begitu tombol itu sudah mengarah ke atas, lampu kamar langsung menyala. Di saat itu juga aku menyadari kalau putriku belum juga tertidur. Padahal saat itu jam sudah menunjukkan pukul 11.37 malam. Cemas kalau ia tidak akan bisa bangun pagi keesekoan harinya, aku memutuskan untuk menghampirinya dan bertanya mengapa ia belum juga terlelap pada saat itu. Untung saja aku memutuskan untuk memeriksa keadaannya, sehingga jika ada sesuatu yang tidak benar, aku bisa segera mengatasinya. Itulah pikiranku pada saat itu. 

Sesaat setelah aku sampai di pinggiran ranjang putriku, sebelum aku sempat membuka mulut untuk bertanya mengapa ia belum juga beranjak tidur, ia langsung berkata padaku dengan ekspresi yang datar.

"Ayah, aku tidak bisa tidur. Seorang gadis bersembunyi di bawah kasurku."

Aku sedikit tersentak kaget mendengar penuturan putriku. Tetapi aku memutuskan untuk memeriksa kolong ranjang, dengan tujuan untuk memastikan apakah memang ada sesuatu di bawah kolong yang membuat anakku merasa tidak nyaman. Dengan bantuan fitur senter di smartphone-ku, aku mengintip ke bawah kasur. Begitu cahaya putih menyorot ke arah kegelapan kolong, di saat itulah aku melihat sesosok gadis sedang meringkuk ke kanan, sehingga yang bisa kulihat dengan jelas hanyalah sisi tubuh kanannya. 

Tiba-tiba saja gadis itu sudah menatapku. Posisinya juga sudah tepat menghadap ke arahku. Sebelum aku bertanya-tanya kapan sebenarnya ia berganti posisi di dalam kolong yang sempit itu, aku langsung menyadari kalau gadis yang tengah menatapku itu adalah saudara kembar dari putriku, yang seharusnya tinggal bersama-sama dengan kakak perempuanku yang memutuskan untuk mengadopsinya.

"Annie, apa yang sedang kau lakukan di sini? Apa kau sudah memberitahu Bibi May kalau kau meninggalkan rumahnya?"

Annie tetap pada tatapan lurusnya padaku. Dengan ekspresi ketakutan, ia mulai membuka mulutnya. Yang ia lontarkan keluar sama sekali tidak ada hubungannya dengan pertanyaan yang kutanyakan padanya.

"Ayah, ada seseorang yang sedang duduk di atas ranjangku,"

Aku tertawa kecil, sebelum akhirnya berkata, "Tentu saja ada seseorang yang duduk di atas ranjang ini. Dia, kan saudara kembarmu, Anna."

Tanpa menunggu respon apapun dari Annie, aku langsung mengulurkan tangan untuk membantunya keluar dari kolong. Namun Annie terlihat enggan untuk mengenggam tanganku. Ia bahkan menggelengkan kepalanya, pertanda kalau ia tidak mau untuk keluar dari tempat persembunyiannya itu. Yang ia lakukan pada saat itu malahan semakin mundur ke dalam kegelapan. Aku yang merasa kebingungan langsung bertanya padanya, "Apa yang membuatmu takut akan saudari kembarmu?"

"Ayah… Anna, kan… sudah meninggal tiga tahun yang lalu karena penyakit yang dideritanya," ujar Annie padaku.

Sesaat level kesabaranku sedikit turun. Dengan nada yang sedikit tinggi, aku berkata padanya, "Apa sih yang kamu maksudkan, hah?!"

Annie terlihat sedikit takut dengan nada tinggiku. Aku yang menyadari itu langsung memutuskan untuk menurunkan lagi nada bicaraku.

"Maafkan ayah, nak," ujarku dengan nada yang kubuat sepelan mungkin. "Yuk, kita keluar."

Awalnya Annie masih terlihat ragu. Namun ia mulai merangkak maju dan menggapai tanganku. Aku lantas menariknya keluar, membantunya berdiri, dan menepuk-nepuk debu yang kini menempel di sekujur tubuhnya.

"Kenapa kau ada di sini? Apa Bibi May tahu kalau kau meninggalkan rumahnya?" tanyaku pada Annie.

"Ayah… Bibi May, kan…sudah meninggal karena ditabrak truk empat tahun yang lalu. Kau.. memutuskan untuk mengadopsiku kembali sejak saat itu," ujar Annie.

Aku menggelengkan kepala sembari melihat ke bawah lantai. Setelah itu aku kembali menatap pada Annie, dan kepadanya aku berkata, "Kau sudah kelelahan. Jadinya semua yang kau bicarakan adalah tidak benar adanya. Lebih baik kau tidur sekarang."

Aku menggendong Annie dan hendak mendudukkannya di atas kasur. Namun di saat itulah tiba-tiba saja ibu tiriku berdiri di depan pintu kamar anakku.

"Bob? Kenapa kamu ada di sini?".

"Tidak apa-apa. Kedua cucumu ini belum tidur saja," ucapku sembari menatap lurus pada ibu tiriku.

Spontan ibu tirikuku terlihat pucat. 

"Bob, anakmu kan… dua-duanya… sudah meninggal."

Tiba-tiba saja Annie lenyap dari gendonganku. Aku yang merasa kebingungan langsung menoleh ke belakang kasur. Di sana hanya ada bantal dan selimut yang sudah berlapiskan debu. Sama sekali tidak ada Annie ataupun Anna yang tengah duduk di sana. 

"Bu, kemana anak-anakku? Apa mereka sedang makan di bawah?" tanyaku pada ibu tiriku.

"Nak, kau lupa memakan obatmu, ya?" respon ibu tiriku, yang sama sekali tidak berkaitan dengan pertanyaanku.

"Ibu! Berhentilah bercanda!" seruku pada wanita yang telah mengadopsiku tiga puluh tahun yang lalu.

"Ibu tidak bercanda, Bob! Anna sudah meninggal karena penyakitnya tiga tahun yang lalu! Sedang Annie…."

Aku berjalan menghampiri ibu tiriku dengan cepat.

"Annie? Apa yang terjadi dengan Annie?!?" Jeritku sembari memegang kedua bahunya. 

"Kau membunuhnya!" seru ibu tiriku dengan air mata yang berlinang, dengan kedua tangan yang juga mengcengkram erat bahuku. 

Aku langsung menggelengkan kepalaku, sembari berjalan mundur perlahan. 

"Ibu bercanda, kan?" tanyaku dengan sedikit berteriak.

"Aku tidak berbohong, nak!" seru ibu tiriku. "Kau membunuh Annie karena merasa frustasi akan tangisannya setiap hari! Apakah kau tidak ingat? Ia terus menangis setelah ditinggal oleh Anna. Kau yang mulai merasa frustasi langsung membunuhnya ketika ia hendak beranjak tidur!" Lanjutnya sembari menunjuk kasur di belakangku. 

Aku kembali menggeleng-gelengkan kepalaku. Responku pada saat itu jauh lebih ekstrim dibanding dengan respon yang sebelumnya.

"Tidak! Tidak!!! Semua ini pasti bohong!"

"Aku tidak bohong! Kau membunuh Annie dan aku mencoba untuk melindungimu dari kecurigaan polisi! Aku menghalangi pintu kamar anakmu dengan rak buku horror yang tidak akan pernah kau dekati, namun hari ini kau mendorong rak buku itu dan memasuki kamar anakmu yang berusaha kusembunyikan dari dulu!".

Ibu tiriku langsung berlutut. Ia kembali menangis sejadi-jadinya. 

"Harusnya….. harusnya aku selalu mengawasi jadwal minum obatmu! Harusnya aku tidak pernah melepaskan pengawasanku akan dirimu!" Serunya di tengah-tengah luapan tangisannya.

Aku memegang kedua sisi kepalaku dan semakin menggelengkannya dengan cepat. Aku lantas berteriak kencang. Setelah berteriak selama beberapa saat, hal terakhir yang kuingat hanyalah kakiku yang terasa lemas, lalu tiba-tiba saja aku terjatuh ke bawah lantai. Setelah itu, tidak ada lagi yang terekam di kepalaku. 

*****

Tetangga rupanya mendengar teriakanku. Spontan mereka melapor polisi dan akhirnya semua yang berusaha ibu tiriku sembunyikan terkuak semuanya. Ia kemudian dipenjarakan atas tuduhan menyembunyikan peristiwa pembunuhan. Sedangkan aku dibawa ke suatu fasilitas perawatan yang dijaga ketat, yang berlokasi di kota sebelah. 

Setelah melalui berbagai metode perawatan dan pengobatan, sekarang aku sudah lebih stabil. Kestabilan itu membuatku bisa mengingat hampir keseluruhan peristiwa yang kualami, termasuk dengan pembunuhan atas Annie. Meskipun awalnya aku terguncang, namun dengan meditasi rutin setiap hari, aku mulai terbiasa dengan itu. 

Tetap saja, tenaga ahli itu memberikan surat perintah untuk tidak pernah melepaskanku dari fasilitas pengawasan. Ia berkata bahwa aku akan menjadi ancaman bagi orang-orang di sekitarku jika sampai lepas. Sungguh caranya berkata menandakan kalau aku ini seperti beruang ganas yang jangan sampai meninggalkan kandangku di kebun binatang.

Meskipun aku tidak mengerti mengapa aku harus terus dikurung, tetapi aku menikmati kehidupanku yang baru di sel perawatanku. Semua disediakan: Televisi, konsol permainan, ranjang yang empuk, toilet yang bersih, serta makanan yang lezat. Aku rasa aku tidak bisa mendapatkan hidup yang lebih baik lagi dari ini, terutama dengan fakta kalau aku tidak lagi bekerja. 

Di suatu hari, tenaga ahli mencoba untuk mengurangi dosis pengobatan yang harus kuterima. Menurutnya karena aku sudah semakin pulih. Aku senang. Tetapi kesenanganku itu tidak berlangsung lama. Itu karena di malam yang sama, tepat setelah aku mematikan lampu kamarku, aku mendengar seseorang berbicara dari arah ranjang di belakangku.

"Ayah, aku tidak bisa tidur. Seorang gadis bersembunyi di bawah kasurku."

**

 

Artikel Asli