Bus Zhong Tong dan Keyakinan Kembali Mengaspal di Jakarta...

Kompas.com Dipublikasikan 01.38, 19/10/2019 • Ryana Aryadita Umasugi
ANTARA FOTO/RENO ESNIR
Petugas Transjakarta melakukan pengecekan bus Zhongtong di Depo PPD F Klender, Jakarta Timur, Rabu (16/10/2019). PT Transportasi Jakarta kembali mengoperasikan bus merek Zhongtong Bus tersebut kini mengaspal di Jakarta melayani koridor 1 TransJakarta Blok M-Kota. ANTARA FOTO/Reno Esnir/foc.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kembali beroperasinya bus Transjakarta merek Zhong Tong di jalanan Jakarta sempat mengalami kontroversi.

Hal ini dipicu lantaran bus buatan China tersebut pernah bermasalah pada era Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Ada bus yang terbakar, ada juga yang mogok. 

Ahok pun kapok membeli Zhong Tong.

Namun belakangan, sebanyak 21 bus Zhong Tong yang sudah kembali melaju di jalan Jakarta untuk melayani penumpang.

Melaksanakan kontrak

Kepala Divisi Sekretaris Korporasi dan HumasPT Transjakarta Nadia Diposanjoyo menjelaskan mengapa pihaknya mengoperasikan kembali bus merek ini.

Kata dia, bus merek Zhong Tong dioperasikan sebagai pelaksanaan untuk memenuhi kontrak dengan Perum Pengangkutan Penumpang Djakarta (PPD).

"Pengoperasian bus ini adalah bentuk dari pelaksanaan kontrak tahun 2013," ujar Nadia saat dihubungi Kompas.com, Senin (14/10/2019).

Baca juga: Operator Zhong Tong: Mereknya Memang China, tapi Komponennya dari Eropa, Amerika, Korea

Nadia menyampaikan, saat itu PPD tidak bisa menyerahkan bus kepada PT Transjakarta pada waktu yang ditentukan.

Kedua pihak pun berselisih dan membawa masalah itu ke Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI).

"Pada Juli 2018, BANI mengeluarkan putusan agar Transjakarta mengoperasikan 59 unit bus gandeng merek Zhong Tong berdasarkan kontrak tahun 2013 dan PPD tetap membayarkan penalti dari wanprestasinya," kata Nadia.

Harus penuhi standar

Selain itu, kata Nadia, bus merek Zhong Tong yang kembali dioperasikan harus memenuhi standar pelayanan minimum (SPM) yang ditetapkan PT Transjakarta.

"Yang jelas untuk yang sekarang harus sudah siap guna operasi. Artinya semua standar minimum harus dipenuhi sebelum bus berangkat pelayanan," ujar Nadia.

PT Transjakarta berkaca pada kasus beberapa tahun lalu saat bus buatan China itu beberapa kali bermasalah, baik mogok maupun terbakar.

Operator Perum Pengangkutan Penumpang Djakarta (PPD) yang menyediakan bus merek Zhong Tong, kata Nadia, sudah menyiapkan bus yang lebih berkualitas dibandingkan merek yang sama yang dioperasikan beberapa tahun lalu.

Baca juga: Dulu Sering Mogok dan Terbakar, Kini Bus Zhong Tong Harus Penuhi Standar Transjakarta untuk Beroperasi

"Sepertinya PPD mengeluarkan versi barunya karena sudah lebih baik kualitasnya dan siap guna operasi, otherwise enggak meluncur," kata dia.

PT Transjakarta tak mau kejadian beberapa tahun lalu terulang kembali. Karena itu, PT Transjakarta juga memperketat sertifikasi seluruh pegawai, baik sopir, petugas layanan bus (PLB), maupun lainnya.

"Iya belajar banget (dari kejadian beberapa tahun lalu), baik pramudi maupun PLB juga sertifikasi dan K3-nya makin diperketat, termasuk mekanik-mekaniknya," ucap Nadia

Sementara itu, Direktur Utama PPD Pande Putu Yasa menjamin keamanan bus Zhong Tong.

"Dari sisi keselamatan dan keamanannya dapat terjamin," ujar Pande di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Rabu (16/10/2019).

Komponen yang berbeda

Pande  mengatakan, komponen di bus Transjakarta merek Zhong Tong merupakan produk negara di Asia, Eropa, dan Amerika.

"Bus ini memang mereknya China, tapi sebenarnya di dalam komponen bus, itu adalah produk Eropa, memang kita rakit di China," jelasnya.

Pande menjelaskan, mesin bus menggunakan merek Doosan GL 11 K dedicated CNG dari Korea Selatan.

Sementara sambungan bus gandeng itu menggunakan merek Hubner Tipe Universal 19,5 K dari Jerman.

"Transmisinya Allison, itu dari Amerika. Brake system, rem, itu Wabco, dan steering systemmereknya ZF dari Jerman juga. Drive axle itu dari Amerika. Cylinder dari CNG-nya, pemutarnya, itu alumunium dari Amerika atau Polandia, dan RIM tire alumunium dari Hungaria," kata dia.

Dengan komponen-komponen tersebut, Pande menjamin keamanan bus yang baru dioperasikan PT Transjakarta itu.

Baca juga: Ahok: Mungkin Zhong Tong Sudah Sekelas Bus Terkenal dari Eropa

Apalagi, bus-bus gandeng itu dipelihara langsung oleh agen pemegang merek (APM) Zhong Tong.

Bus-bus Zhong Tong juga dilengkapi alat pemadam api ringan (APAR).

"Dari sisi keselamatan dan keamanannya dapat terjamin karena untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, perawatan dan perbaikannya berasal dari APM Zhong Tong itu sendiri, serta Zhong Tong yang dioperasikan oleh Perum PPD memiliki beberapa komponen yang cukup mumpuni," ucap Pande.

Diklaim tak pernah terbakar

Pande pun mengklaim, bus bahwa transjakarta merek Zhong Tong tak pernah terbakar. Menurut dia, kebakaran bus artinya seluruh badan bus habis dilalap api.

"Zhong Tong ini kalau dibilang terbakar, sebenarnya tidak juga," bantahnya.

Baca juga: Perum PPD Klaim Bus Transjakarta Merek Zhong Tong Belum Pernah Terbakar

Menurut dia pada 2015, komponen mesin salah satu bus Zhong Tong macet. Namun, sopir tetap memaksakan bus itu bergerak. Hal itu mengakibatkan gesekan vanbelt hingga mengeluarkan asap. Kap mesin pun menjadi panas.

"APAR (alat pemadam api ringan) menyemprot secara otomatis, keluarlah busa putih yang dianggap itu sebagai bentuk kebakaran, padahal mobilnya enggak apa-apa, masih utuh pada saat itu," kata Pande.

Beroperasi seluruhnya pada 1 November

Pande mengatakan mulai 1 November mendatang sebanyak 28 bus Zhong Tong akan dioperasikan di Jakarta.

Ke-28 bus itu merupakan bagian dari 59 bus Zhongtong pengadaan tahun tahun 2013 untuk transjakarta yang selama ini belum dioperasikan. Sedangkan sebanyak 21 bus Zhong Tong lainnya telah melayani penumpang sejak beberapa hari lalu.

"Setelah dipenuhi oleh PPD, baru akan dioperasikan kemudian. Ini targetnya di 1 November. Dilepas semua (59 bus)," kata dia.

Baca juga: Operator Jamin Keamanan Bus Transjakarta Merk Zhong Tong

Menurut dia bus-bus tersebut sudah diuji kelaikannya secara teknis.

Sebanyak 28 bus belum dioperasikan saat ini karena masih ada beberapa perbaikan, di antaranya ada masalah kelengkapan logo.

"Artinya, kelaikan-kelaikan bus yang 59 bus kami siapkan ini, dilakukan pengecekan secara detail, secara teknis, oleh PT Transportasi Jakarta. Makanya dinyatakan 21 ini sudah beroperasi, terus yang lainnya ini akan segera menyusul," tambahnya.

Anies sebut hanya beli jasa

Sementara itu,Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta saat ini sudah tidak lagi melakukan pembelian armada bus.

"Coba tanya ke pak Dirut (Transjakarta) ya. Karena kalau Pemprov DKI Jakarta sudah tidak lagi membeli bus, jadi Pemprov DKI itu membeli jasa," ujar Anies di Karet Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan, Kamis (17/10/2019).

Menurut dia, untuk pengadaan bus PT Transjakarta, Pemprov DKI menjalin kerja sama dengan pihak ketiga, yaitu operator bus.

Untuk bus merek Zhong Tong, PT Transjakarta menjalani kesepakatan dengan Perum PPD.

Maka seluruhnya menjadi tanggung jawab pengelola karena Pemprov DKI hanya membeli jasa.

"Jasanya dibayar, kemudian Pemprov DKI Jakarta menentukan Standar Pelayanan Minimun (SPM). Jadi selebihnya tanggungjawabnya dengan pengelola," ungkapnya.

Baca juga: Transjakarta Kembali Operasikan Bus Zhong Tong, Ini Komentar Anies

Terkait keamanan bus, Anies enggan berspekulasi. Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini berpendapat, detail mengenai standar keamanan operasional telah diatur dalam perjanjian yang disepakati oleh Transjakarta dan operator.

"Pasti ada kontrak kerja samanya, di dalam kontrak itu ada aturannya," tuturnya.

Tak bisa larang beroperasi

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo pun menyebutkan bahwa Pemprov DKI Jakarta tidak bisa melarang penggunaan bus Zhong Tong karena saat ini sudah dalam wewenang operator Transjakarta.

"Kami tidak boleh melarang. Karena begitu (lelang) pengadaan bus (dimenangkan) oleh operator, operator bisa memilih. Kalau kami sendiri, selama dia sesuai dengan spesifikasi, yang sudah ditetapkan oleh Kemenhub, ya silakan," ucapnya.

Baca juga: Dishub DKI: Kami Tidak Bisa Larang Penggunaan Bus Zhong Tong

Menurut Syafrin, Kementerian Perhubungan memiliki aturan tentang angkutan darat yang wajib ditaati jika ingin beroperasi di Indonesia.

Aturan itu adalah Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), yang mengamanatkan kendaraan umum diharuskan lolos uji tipe oleh Kementerian Perhubungan untuk bisa beroperasi.

Uji tipe itu terdiri dari persyaratan aspek administratif dan teknis seperti berat kendaraan kotor maksimal 26 ton, lebarnya 2,5 meter dan panjang 18 meter.

Baca juga: Menjajal Bus Zhong Tong yang Telah Beroperasi Sepekan

Setelah aspek teknis terpenuhi, secara administratif surat tanda nomor kendaraannya harus dipenuhi dan yang terpenting adalah menjaga faktor keamanan dari unit-unit tersebut.

Meski begitu, Dinas Perhubungan tetap bisa mengawasi Bus Zhong Tong yang beredar. Jika ada pelanggaran, akan ada sanksi berupa pemotongan pembayaran sampai stop beroperasi.

"Dan berikutnya, risiko operasional kan itu ada di operator sendiri ya. Jadi, kalau misalnya ternyata bus yang dia adakan tidak andal sehingga ia menerima risiko, misalnya ada pengurangan tagihan, bus tidak operasi, tidak dibayarkan," tutupnya.

Penulis: Ryana Aryadita UmasugiEditor: Krisiandi

Artikel Asli