Bukan Soal Mental, ini Tanda Anak Mengalami Penyakit Ketinggian

Popmama.com Dipublikasikan 06.30, 16/11/2019 • Winda Carmelita
Freepik/prostooleh

Sebagian besar orang di seluruh dunia memiliki ketakutannya masing-masing. Salah satu ketakutan yang paling umum dialami manusia adalah terhadap ketinggian. 

Anak-anak dan ketinggian adalah dua hal yang berkaitan erat. Bagi sebagian anak, naik pesawat atau pun wahana bermain di tempat yang tinggi adalah hal yang seru. Tetapi bagi sebagian anak yang lain, hal ini adalah mimpi buruk. Kondisi ini disebut altitude sickness atau penyakit ketinggian. Berikut Popmama.com merangkum serba-serbi penyakit ketinggian, dilansir dari firstcry.com:

Apa itu Penyakit Ketinggian?

Pexels/rawpixel.com

Penyakit ketinggian biasanya terjadi ketika ketinggian lebih dari 2,4 km di atas permukaan laut. Reaksi yang ditimbulkan penderitanya bermacam-macam. Mulai dari yang sekadar mual bahkan hingga pingsan, tergantung dari tingkat beratnya penyakit tersebut.

Penyebab Anak Menderita Penyakit Ketinggian

Freepik/Prostooleh

Sebetulnya, hingga kini dunia medis masih belum menemukan alasan spesifik yang melatarbelakangi banyaknya anak-anak yang menderita penyakit ketinggian ini. Namun, salah satu alasan terkuat di balik penyakit ini adalah rendahnya tingkat oksigen pada ketinggian tertentu jika dibandingkan dengan di permukaan tanah. 

Perbedaan inilah yang menyebabkan tubuh melakukan lebih banyak upaya dalam menjaga fungsinya, yang akhirnya menggunakan lebih banyak oksigen daripada sebelumnya. Selain itu, kegiatan yang dilakukan di ketinggian seperti hiking atau trekking dapat meningkatkan kebutuhan oksigen tubuh, sehingga memperburuk kondisi anak. 
 

Tipe-tipe Penyakit Ketinggian

babyology.com.au

Di antara berbagai gejala yang muncul pada penyakit ketinggian, fenomena ini biasanya dibagi menjadi tiga kategori utama, yaitu:

Acute Mountain Sickness (AMS)

Gejala AMS meliputi adanya mual dan muntah, dikombinasikan dengan sakit kepala yang kuat dan kehilangan nafsu makan. Kebanyakan orang mengeluh kelelahan akibat kondisi ini. AMS adalah tipe yang paling umum dialami saat seseorang berada di tempat tinggi.

High Altitude Cerebral Edema (HACE)

Gejala HACE meliputi semua gejala AMS, bersamaan dengan kelemahan beberapa bagian tubuh. Kaki tidak mampu berjalan, lesu, dan mengalami kebingungan terhadap kondisi yang dihadapi. Jika HACE tidak segera ditangani, akibatnya bisa fatal.

Hight Altitude Pulmonary Edema (HAPE)

Hampir menyerupai HACE, kondisi HAPE meliputi semua gejala dua tipe di atas. Tetapi gejalanya lebih banyak menyerang ketidakmampuan bernapas. Penderitanya bisa mengalami sesak napas, batuk dan badan lemas yang ekstrem. Kondisi ini juga bisa menjadi fatal jika tidak segera ditangani. 

Mengatasi Anak dengan Penyakit Ketinggian

Freepik

Pada sebagian besar anak-anak, penyakit ketinggian biasanya tidaklah parah dan dapat diobati atau diminimalisir dengan beberapa metode yang cepat. Kebanyakan tidak memerlukan obat yang diminum, karena yang diperlukan hanyalah membuat tubuh terasa lebih baik dan membuat kondisi psikis lebih tenang.

  • Beri anak Mama sweater atau sarung tangan untuk melindungi dari udara pegunungan yang dingin,
  • kenakan pakaian yang tebal tapi nyaman,
  • sesekali peluk anak agar ia merasa lebih tenang,
  • pastikan anak selalu terhidrasi. Biarkan anak minum sebanyak mungkin hingga ia merasa lebih baik,
  • hindari mengajak bayi di bawah usa 3 bulan ke tempat-tempat yang tinggi atau anak yang sebelumnya pernah mengalami trauma ketinggian,
  • pastikan anak beristirahat total setelah sampai di tempat tujuan dan jangan langsung melakukan kegiatan apapun,
  • jika dalam perjalanan panjang, ambillah waktu istirahat pendek tiap 1-2 jam untuk penyegaran.

Bila anak menunjukkan gejala parah, larikan ke rumah sakit terdekat sesegera mungkin untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Ma!

  • 7 Macam Phobia yang Benar-Benar Bisa Mengganggu Hidup Seseorang
  • 5 Cara Mengatasi Ketakutan Anak Saat Melihat Peristiwa Traumatis
  • Begini Cara Mengatasi Ketakutan Anak Terhadap Badut
Artikel Asli