Bukan Jakarta, Kota Ini yang Termacet di Dunia, Warga Habiskan 191 Jam di Jalan

kumparan Dipublikasikan 01.02, 12/07 • kumparanBISNIS
Suasana kemacetan di Tol Lingkar Dalam, Jakarta, Rabu (12/4). Sejumlah jalan di Jakarta kian macet parah akibatk pembangunan berbagai proyek dari mass rapid transit hingga pembangunan jalan layang. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Perusahaan analitik lalu lintas berbasis di Washington, Amerika Serikat, Inrix, secara berkala merilis data kota-kota di dunia yang memiliki jalan macet. Data terbaru yang diterbitkan lembaga itu menunjukkan, kota-kota di Amerika Latin dan Eropa, menempati sebagai kota paling macet di dunia.

Menurut riset Inrix, penyebab kemacetan di kota-kota besar dunia dipengaruhi tiga faktor. Yakni buruknya transportasi umum, kondisi geografis perkotaan, serta masyarakat lebih banyak menggunakan kendaraan pribadi.

"Di kota-kota terbesar di dunia, pertumbuhan jumlah kendaraan lebih pesat daripada penambahan panjang jalan. Akibatnya, penumpang di wilayah metropolitan utama menghadapi jalan macet yang parah," tulis Inrix dikutip dari World Economic Forum, Minggu (12/7).

Data 2019 yang baru dirilis Inrix mengungkapkan, Bogota sebagai kota paling macet di dunia. Di ibu kota Kolombia itu, warga menghabiskan waktu hingga 191 jam di jalanan dalam setahun. Itu setara dengan 8 hari.

Berikut 10 Kota Termacet dan Waktu yang Dihabiskan Warganya di Jalanan:

  • Bogota, Kolombia: 191 jam

  • Rio de Janeiro, Brasil: 190 jam

  • Roma, Italia: 166 jam

  • Paris, Prancis: 165 jam

  • Belo Horizonte, Brasil: 160 jam

  • Mexico City, Mexico; 158 jam

  • Dublin, Irlandia: 154 jam

  • Istambul, Turki: 153 jam

  • Sao Paolo, Brasil: 152 jam

  • Saint Petersburg, Rusia: 151 jam

Kemacetan di Jakarta

Uji coba Electronic Road Priciping (ERP) di DKI Jakarta. Foto: dok. Istimewa

Adapun ibu kota Indonesia, Jakarta, berada di urutan 11 dengan waktu yang dihabiskan warganya di jalanan sebanyak 150 jam dalam setahun atau setara 6 hari.

Menurut Inrix, ada tren pengurangan kemacetan di kota-kota dunia itu. Salah satu resepnya adalah mengenakan disinsetif bagi pengguna kendaraan pribadi. Misalnya dengan memberlakukan jalan berbayar untuk mobil tua atau mobil yang menghasilkan emisi karbon tinggi.

Artikel Asli