Buffon: Menghormati Conte Jadi Harga Mati untuk Juventus

kumparan Dipublikasikan 04.19, 14/10/2019 • Marini Dewi Anggitya Saragih
Buffon dan Conte di Piala Eropa 2016. Foto: VINCENZO PINTO / AFP

Gianluigi Buffon kembali ke Italia. Antonio Conte juga menjejak ke Italia lagi. Musim 2019/20 menghadirkan fragmen berbeda. Keduanya terbiasa bernaung dalam satu kubu yang sama. Namun, Buffon dan Conte kini menjadi 'seteru'.

Conte mengambil keputusan radikal. Pada bursa transfer musim panas 2019, ia diresmikan sebagai pelatih terbaru Inter Milan.

Di sisi lain, keputusan Buffon bukan langkah biasa. Namun, bila mengamati kembali perjalanan Buffon sebagai pesepak bola, kepulangan ke Juventus tidak mengherankan.

Buffon dan Conte sudah lama bekerja sama dalam satu tim yang sama. Semua tidak bisa dipisahkan dari karier Buffon sebagai pesepak bola yang tak habis-habis.

Bayangkan. Mulai dari Conte berstatus sebagai pemain hingga pelatih, Buffon masih saja tampil sebagai penjaga gawang.

Conte memulai kariernya sebagai pesepak bola profesional pada 1985. Seumur hidup, ia hanya membela dua klub dalam konteks sepak bola profesional: Lecce pada 1985 hingga 1991 dan Juventus pada 1991 hingga 2004.

Conte ketika berseragam Juventus Foto: Getty Images

Di klub kedualah ia bertemu dengan Buffon. Sang penjaga gawang adalah anak baru yang didatangkan dari Parma pada 2001.

Buffon bahkan merasakan sendiri seperti apa bermain dengan dikapteni Conte. Kerja sama itu berlanjut hingga Conte menjadi pelatih Buffon.

Perjalanan panjang tadi membuat Buffon mengenal Conte dalam-dalam. Ia sadar betul bahwa Conte bukan sosok yang mudah dihadapi. Akan tetapi, Buffon juga paham benar bahwa Conte tak pernah setengah-setengah dalam sepak bola, termasuk ketika melatih Juventus dan Timnas Italia.

Pengenalan seperti itu membuat Buffon punya anggapan berlawanan saat entah berapa banyak suporter garis keras Juventus meminta Conte disingkirkan dari daftarHall of Fame klub.

"Saya menyukai Conte. Saya pertama kali mengenalnya sebagai rekan setim dan kapten. Lalu, ia menjadi pelatih saya di Juve dan Timnas Italia," ujar Buffon, dikutip dari Football Italia.

"Saya mengenalnya secara profesional sehingga saya tidak akan menyalahkannya untuk apa pun. Ia memiliki profesionalisme yang luar biasa. Ia juga adil ketika berhadapan dengan anak-anak didiknya. Ia punya kapabilitas untuk melatih sepak bola," jelas Buffon.

Mantan pelatih Juventus, Antonio Conte Foto: Laurence Griffiths

Inter dan Juventus tidak berdiam di satu kota yang sama. Namun, keduanya adalah rival abadi. Pertemuan keduanya saja bertajuk Derby d'Italia*. *

Aturan macam apa pula yang membuat pertandingan antara dua tim beda kota layak buat disebut derbi? Namun, begitulah keadaannya.

Buffon menghabiskan hampir separuh hidupnya di Juventus. Maka, ia tahu persis seperti apa catatan rivalitas Juventus dan Inter, begitu pula dengan klub lain.

Namun, Buffon tetap percaya bahwa persoalan demikian tidak dapat dijadikan sebagai dasar untuk tak menghormati Conte dan segala hal yang sudah dikerjakannya untuk Juventus.

"Conte itu tipe orang yang benar-benar tidak bisa tidur waktu timnya tidak bermain sesuai dengan yang ia harapkan. Saya paham mengapa suporter Juventus marah besar," kata Buffon.

"Namun, mereka juga mesti mengubah sudut pandang. Mereka harus melihat Conte sebagai orang yang patut dihormati sampai kapan pun karena sudah memberikan segalanya untuk Juventus," jelas Buffon.

Juventus menikmati lima gelar juara di bawah asuhan Conte. Rinciannya,scudetto pada 2011/12, 2012/13, 2013/14, serta Piala Super Italia pada 2012 dan 2013. Juventus bahkan berhasil melewati Serie A 2011/12 tanpa kekalahan.

Itu baru bicara soal kepelatihan. Ketika masih berstatus sebagai pemain, Conte mempersembahkan 13 trofi juara untuk Juventus.

Selain lima scudetto, ia memberi 'Si Nyonya Tua' empat gelar juara Piala Super Italia, serta masing-masing satu trofi Coppa Italia, Liga Champions, Liga Europa, dan Piala Intertoto.

"Keputusannya [secara profesional] bisa dipertanyakan, bisa diperdebatkan. Namun, apa yang sudah diberikannya untuk Juventus sangat spesial. Sebaliknya, segala sesuatu yang diterimanya dari Juventus juga sangat istimewa," jelas Buffon.

Artikel Asli