Bos Danareksa Sekuritas Beberkan Sektor Saham yang Kebal Pandemi

Bisnis.com Dipublikasikan 12.05, 13/08 • Dhiany Nadya Utami
Layar elektronik menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (12/8/2020). Bisnis/Abdurachman
Danareksa Sekuritas mengklasifikasi sektor dalam kategori risiko low (rendah), low-medium (rendah-menengah), medium (menengah), medium-high (menengah-tinggi), dan high (tinggi).

Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah sektor dinilai paling tahan banting melewati krisis yang terjadi akibat pandemi Covid-19, diukur dari risiko dampak pandemi, volatilitas mata uang, serta kemampuan pemenuhan kewajiban.

Direktur Utama Danareksa Sekuritas Friderica Widyasari mengatakan krisis yang terjadi saat ini berbeda dengan krisis-krisis yang terjadi sebelumnya, yang mana kali ini sektor riil lebih dulu terdampak dibandingkan sektor finansial.

“Karena yang kena duluan health sector oleh virus ini, jadi supply side yang kolaps duluan,” tuturnya dalam webinar Investasi di Pasar Saham dalam Masa Kritis, Kamis (13/8/2020)

Dia mengatakan wabah Covid-19 telah mengakibatkan gelombangkan yang mengejutkan, baik di pasar modal maupun valuta asing, sehingga diperlukan beberapa variabel risiko untuk mengukur ketahan tiap sektor.

Danareksa Sekuritas melakukan asesmen terhadap sektor—sektor industri dengan tiga risiko utama yakni dampak Covid-19 terhadap sektor tersebut, volatilitas mata uang, serta risiko delinquency.

Untuk dampak dari pandemi, sekuritas menilai potensi gangguan pada proses bisnis secara keseluruhan, termasuk bahan mentah, proses manufaktur, distribusi, serta keseimbangan permintaan pasokan.

Kemudian untuk volatilitas valas, pihaknya menilai seberapa besar ketergantungan perusahaan terhadap impor bahan baku yang akan berujung pada risiko nilai tukar seiring dengan dinamika rupiah terhadap dolar AS.

“Risiko seperti ini membuat kami yang awalnya menilai sektor farmasi kan harusnya laris di tengah pandemi tapi ternyata ketergantungan mereka terhadap impor sangat tinggi,” tutur dia.

Selanjutnya variabel terakhir adalah delinquency risk atau risiko dimana perusahaan berpotensi tak dapat memenuhi kewajibannya seperti pembayaran bunga dan pokok utang akibat adanya tekanan yang diakibatkan dua risiko sebelumnya.

“Tapi kami melihat risiko ini masih kecil sekarang karena berbagai stimulus baik dari moneter maupun fiskal,” imbuh Friderica.

Berdasarkan tiga pertimbangan tersebut, Danareksa Sekuritas mengklasifikasi sektor dalam kategori risikolow (rendah), low-medium (rendah-menengah), medium (menengah), medium-high (menengah-tinggi), dan high (tinggi).

“Sektor yang masuk dalam kategori berisiko rendah antara lain barang konsumsi, cigarette (rokok) telekomunikasi dan tower. Jadi inilah yang kami anggap resilient dan kami rekomendasikan pada klien kami,” ungkap Friderica.

Hal tersebut diamini oleh Wakil Direktur Utama PT Sarana Media Nusantara Tbk. (TOWR) Adam Ghifari.

Menurutnya, meski di awal tahun masih meraba-raba kondisi yang terjadi akibat pandemi, tapi perseroan berhasil tetap beroperasi penuh, khususnya pada kuartal II/2020 karena bisnis menara telekomunikasi menjadi salah satu sektor yang dikecualikan dari PSBB.

Adapun, dia mengaku sejauh ini bisnis menara tidak terdampak oleh pandemi karena model bisnis mereka merupakan kontrak jangka panjang yang tak dapat dibatalkan. Alih-alih perseroan masih dapat terus berekspansi.

“Selama Covid, credit rating kami tetap di BBB stable oleh S&P, lalu Fitch meningkatkan rating kami dari BBB ke AAA. Jadi tower memang tidak kena virus,” tukasnya.

Artikel Asli