Bikin Merinding, Isi Catatan Harian Wanita di Wuhan yang Keluarganya Terkena Virus Corona

Liputan6.com Diupdate 05.29, 02/03 • Dipublikasikan 20.02, 01/03 • Henry
menulis diari
Menulis buku harian./Copyright unsplash.com/@fotografierende

Liputan6.com, Jakarta -  Korban virus corona semakin banyak berjatuhan, terutama di Wuhan, China, tempat wabah ini bermula. Banyak cerita sedih dan mengharukan tentang para korban virus yang disebut juga dengan COVID-19 tersebut.

Salah satunya tertuang lewat catatan harian seorang gadis asal Kota Wuhan menjadi viral karena menceritakan hari-demi hari yang ia lalui selama berjuang melawan virus tersebut. Bagaikan sebuah buku harian, unggahan gadis yang tak diketahui identitasnya ini mampu menguras emosi warganet. Tak sedikit warganet yang mengaku ikut sedih membaca unggahannya.

Melansir laman Bored Panda, curhatan wanita ini viral dengan nama "Diary of a girl in Wuhan". Ia menulis dan meminta pertolongan melalui platform media sosial China bernama Weibo sejak 23 Januari 2020.

Unggahan tersebut berisi tentang pengalaman sang wanita saat menjalani karantina bersama 60 juta penduduk Kota Wuhan lainnya. Berikut isi unggahan ini yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

23 Januari

Mereka mengkarantina kota (Wuhan), aku sangat takut. Kami butuh bantuan, ibuku semakin sakit.

26 Januari

Ibu menelepon, berkata rumah sakit tempatnya dirawat merujuknya ke Jinyintan (rumah sakit khusus untuk penyakit menular).  Aku tak yakin ini adalah berita baik.

28 Januari

Ibu sudah pergi (meninggal), jangan balas, jangan juga sukai unggahan ini. Aku sedang dalam suasana hati yang buruk.

29 Januari

Menunggu ayah menyelesaikan CT scan dan tak tahu berapa lama ini akan memakan waktu.. Rasanya ini momen aku sangat tidak berdaya selama hidupku. Ini lebih buruk dari patah hati tapi aku harus mendampinginya hingga akhir.

2 Februari

Membantu ayah periksa ke rumah sakit hari ini seperti yang aku lakukan ketika menemani ibuku pada 24 Januari kemarin. Saat itu, hari tengah hujan lebat.

Aku harap aku memiliki kesempatan terakhir yang cukup baik dengannya. Hari ini gerimis dan ayah menyuruhku menjauh darinya dan berkata padaku untuk tak mengunjunginya lagi (karena terkena corona).

Ingin Pulang Bersama

Petugas laboratorium melepaskan pakaian pelindung di sebuah laboratorium di Shenyang, provinsi Liaoning timur laut China, Rabu (12/2/2020). Per hari ini, Rabu (12/2) tercatat korban meninggal dunia akibat virus corona di China tercatat mencapai 1.110. (STR/AFP)

4 Februari

Aku memimpikan ibu. Dia tak ada dalam mimpi tapi aku tetap mencarinya dan bertanya pada setiap orang: apakah kamu melihat ibuku? Ibu tak tahu ayah sakit, aku terus mencarinya.

Kemarin

Gagal pernafasan adalah cara yang begitu kejam untuk mati. Ibu, maukah kamu membawa ayah ke surga di mana dia bisa bernapas dengan bebas? Dan jangan khawatir denganku. Hari ini aku minta ayah untuk mengingat wajahku, suaraku.

Waktu aku masih kecil, kamu berkata jika aku tersesat, kamu akan datang untuk menemukanku dan dengan tanda lahir di tubuhku, kamu akan tahu aku adalah anakmu. Aku tahu ketika kita bertemu lagi, kamu akan langsung mengenaliku.

20 jam yang lalu

Ayah, aku kehilanganmu. Kamu pergi dan bertemu dengan ibu sekarang dan tunggulah aku bergabung bersama kalian. Kita akan pulang bersama.

12 jam yang lalu

Aku sangat takut, aku juga terinfeksi.

Setelah ia mengunggah cerita terakhir, banyak warganet yang mencari keberadaannya untuk memberi pertolongan. Kabar terakhir yang didapat dari sahabatnya, wanita yang terkena wabah corona ini sedang dalam perawatan di sebuah rumah sakit.

Artikel Asli