Biarkan Lawan Cetak Gol, Leeds dan Bielsa Raih FIFA Fair Play Award

kumparan Dipublikasikan 07.16, 24/09/2019 • Ganesha Arif
Marcelo Bielsa, pelatih Leeds United. Foto: Reuters/Paul Childs

Pada 29 April 2019 lalu, terjadi satu kejadian unik di laga Divisi Championship Liga Inggris antara Leeds United dan Aston Villa. Di laga yang berlangsung di kandang Leeds itu, tuan rumah membiarkan Villa mencetak gol 15 menit jelang pertandingan usai.

Di sepak bola, membiarkan lawan mencetak gol adalah hal yang haram. Namun, Leeds memiliki alasan untuk melakukan hal tersebut di laga melawan Villa. Adalah sportivitas yang jadi alasannya. Ya, beberapa menit sebelum kejadian tersebut, Leeds mencetak gol yang seharusnya tidak terjadi.

Gol Leeds itu bermula dari tekel sang bek kiri sekaligus kapten, Liam Cooper, terhadap penyerang Villa, Jonathan Kodjia. Akibat tekel tersebut, Kodjia terkapar mengerang kesakitan. Pemain Villa meminta wasit yang bertugas, Stuart Attwell, untuk menghentikan pertandingan. Namun, sang wasit bergeming.

Di satu sisi, Leeds juga tak berupaya menghentikan permainan, kendati pemain-pemain Villa sudah meminta. Alhasil, gol tercipta setelah Mateusz Klich menyisir dari sisi kiri penyerangan timnya dan melepaskan tembakan.

Setelah gol itu, keributan tercipta. Pemain dari masing-masing tim saling adu mulut. Begitu juga dengan staf-staf kepelatihan di pinggir lapangan. Sepak mula baru mesti tertunda selama lima menit akibat kerusuhan kecil ini.

Menariknya, setelah sepak mula, pemain-pemain Leeds hanya diam mematung. Mereka membiarkan penyerang Villa, Albert Adomah, mendribel bola dari tengah lapangan dan mencetak gol ke gawang yang dijaga oleh Kiko Casilla.

Aksi Leeds itu rupanya merupakan instruksi dari pelatih mereka, Marcelo Bielsa. Pelatih berkebangsaan Argentina itu merasa bahwa tindakan itu merupakan bagian dari sepak bola Inggris yang sportif.

“Apa yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Sepak bola Inggris terkenal di dunia karena sportivitasnya. Saya telah menyatakan apa yang diperlukan,” ucap Bielsa seusai laga.

Tentu saja, aksi Leeds itu bayarannya mahal. Leeds kala itu masih bersaing untuk mendapatkan promosi otomatis. Namun, hasil imbang di laga itu membuat rival mereka di papan atas, Sheffield United, merengkuh tiket promosi tersebut. Pada akhirnya, Leeds gagal naik ke Premier League di akhir musim setelah tak mampu memenangi play-off.

Namun, aksi Leeds dan Bielsa tak lepas dari perhatian FIFA. Hingga pada akhirnya, pada Rabu (24/9/2019), Leeds dan Bielsa diganjar penghargaan FIFA Fair Play 2019 berkat aksi mereka di laga melawan Villa itu. Menurut FIFA, Leeds dan Bielsa telah menunjukkan bahwa ada hal yang lebih penting ketimbang sekadar kemenangan.

“Beberapa orang di sepak bola menganggap kemenangan adalah segalanya. Kemenangan adalah satu-satunya tujuan. Bagi sebagian yang lain, ada nilai yang lebih tinggi ketimbang kemenangan,” berikut pernyataan FIFA di situsweb resmi mereka.

“Apa yang dipertaruhkan membuat aksi Bielsa semakin mengesankan. Pelatih asal Argentina itu akhirnya menerima penghargaan FIFA Fair Play berkat aksinya menjunjung sportivitas.”

Sayangnya, Bielsa tak hadir di malam penghargaan yang diadakan di Teatro alla Scala, Milan, Italia itu. Leeds kemudian diwakili oleh Cooper dan sang pelatih kebugaran, Benoit Delaval.

Akan tetapi, Bielsa meninggalkan pesan yang kemudian dibacakan oleh Cooper di malam penghargaan tersebut.

“Saya ingin berterima kasih kepada FIFA, Leeds United, dan semua suporter yang tidak mempertanyakan keputusan saya. Mereka bisa saja bilang saya tidak menghargai keputusan wasit. Namun, ketika membuat keputusan, yang tersulit bukanlah menentukan apa yang benar atau salah, melainkan menerima konsekuensi dari keputusan tersebut,” ungkap Bielsa, dikutip dari *Sky Sports. *

Artikel Asli