Berkaca dari Jaksa Pinangki, Mengapa Sejumlah Orang Suka Operasi Plastik?

Kompas.com Dipublikasikan 02.05, 14/08 • Mela Arnani
Tangkap layar AIMAN Kompas TV
Jaksa Pinangki dikabarkan melakukanan operasi plastik di Amerika Serikat.

KOMPAS.com - Operasi plastik kini menjadi sesuatu yang tidak asing lagi di telinga. Beberapa publik figur Tanah Air diketahui pernah melakukan tindakan operasi plastik.

Tak tanggung-tanggung, para artis rela menggelontorkan uang dalam jumlah besar dan memilih melakukan proses operasi plastik tersebut di luar negeri.

Terbaru, operasi plastik yang dilakukan Jaksa Pinangki Sirna Malasari, yang turut terseret dalam kasus korupsi Joko Soegiarto Tjandra alias Djoko Tjandra mendapatkan perhatian publik.

Dalam program Aiman di Kompas TV pada 10 Agustus 2020, terdapat sejumlah foto eksklusif atas kegiatan Jaksa Pinangki melakukan operasi implan bagian wajah di Amerika Serikat.

Baca juga: Diduga Terlibat Kasus Djoko Tjandra, Berapa Kekayaan Jaksa Pinangki?

Lantas mengapa sejumlah orang suka atau harus melakukan operasi plastik?

Merasa tidak puas

Dosen Psikologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Laelatus Syifa mengatakan, orang yang melakukan operasi plastik mempunyai tujuan untuk meningkatkan rasa kepercayaan diri.

"Karena mereka ingin terlihat tampilan fisik mereka lebih baik seperti yang mereka inginkan, dan perubahan itu mereka percayai akan meningkatkan kepercayaan diri mereka," kata Laelatus saat dihubungi Kompas.com, Kamis (13/8/2020).

Ia menambahkan, hal tersebut berkaitan dengan pengaruh lingkungan, di mana saat ini banyak tersuguh berbagai tokoh yang menjadi lambang kecantikan, dan ini memengaruhi konsep kecantikan di masyarakat.

Baca juga: Perjalanan Kasus Jaksa Pinangki, dari Foto Bersama Djoko Tjandra hingga Menjadi Tersangka

Selain itu, self esteem atau harga menghargai diri individu juga berpengaruh.

"Orang yangself esteem-nya rendah mudah saja merasa tidak percaya diri dengan penampilannya yang dia anggap kurang atau melihat tampilan orang lain yang lebih baik atau sempurna di matanya," kata dia.

Dihubungi secara terpisah, Dosen Psikologi Universitas Indonesia (UI) Dr Rose Mini Agoes Salim menjelaskan, mayoritas orang yang telah melakukan operasi plastik akan merasa tidak puas.

Terlebih, jika orang tersebut juga mempunyai dana untuk melakukannya kembali.

"Setiap kali tidak merasa puas atas tampilannya karena dia merasa bahwa ada hal yang ingin dikejar, yaitu target yang sesuai dengan kriteria pada umumnya," tutur Rose.

Baca juga: Pakai Masker di Masa Pandemi Bisa Picu Jerawat? Berikut Cara Mengatasinya…

Standar kecantikan

Standar kecantikan yang berlaku di masyarakat seperti putih, tirus, kurus, dan lainnya menurutnya masih menjadi suatu patokan.

Hal tersebut mengakibatkan kepercayaan diri terletak pada tampilan, tidak pada sesuatu yang ada dalam diri orang itu sendiri.

Rose menilai, sebenarnya pada masyarakat terdapat kecenderungan untuk membuat mata orang lain lebih nyaman daripada apa yang dimiliki, seperti kemampuan berbuat baik ke manusia lain.

Baca juga: Ramai soal Clindamycin Phosphate Disebut Ampuh Obati Jerawat, Ini Penjelasan Dokter

"Merasa memang penilaian dari luar, misal dikatakan cantik, kurus, itu menjadi sesuatu yang luar biasa. Padahal nilai manusia tidak hanya pada hal-hal tersebut," kata dia.

Ia menambahkan, seharusnya kepercayaan diri tidak hanya berdasarkan pada sisi luar atau eksternal saja, melainkan juga internal atau dalam diri pribadi.

"Pada saat dia menyadari ada kekurangan fisik, tapi dia punya kemampuan komunikasi, beradaptasi dengan orang lain, harusnya sudah merasa percaya diri," tutur Rose.

Baca juga: Muncul Bulu Halus di Wajah, Amankah jika Dicukur?

Apakah bisa menjadi tren di kalangan tertentu?

Menurut Laelatus, operasi plastik dapat saja menjadi tren di kalangan tertentu.

Hal tersebut karena orang-orang tertentu merasa bahwa operasi plastik terjangkau untuk dilakukan, baik dari sisi kedekatan atau biaya, lebih mudah untuk terdorong melakukannya.

"Apalagi budaya saat ini yang berkembang menganggap operasi plastik adalah hal wajar untuk dilakukan, membuat orang tidak malu-malu lagi melakukannya," tuturnya.

Baca juga: Kenali Linea Nigra, Garis Samar yang Ada di Perut Perempuan

Media sosial juga mempunyai pengaruh besar, karena foto-foto terpajang di dunia maya membuat orang-orang menjadi pengawas terhadap tampilan diri masing-masing.

"Kita jadi mengamati bagian-bagian yang tidak kita suka dari diri kita dan juga mengamati tontonan-tontonan penampilan yang kita anggap sempurna dari orang lain," papar Laelatus.

Dikalangan yang melek teknologi, lanjut dia, juga dapat menjadi tren untuk memperbaiki tampilan dengan operasi plastik.

"Tentu saja hal ini sangat dipengaruhi konsep cantik dari individu itu sendiri," katanya lagi.

Baca juga: Selain Membuat Kulit Lebih Cantik, Ini Manfaat Tempe bagi Kesehatan

Laelatus menilai, hal ini dapat ditanggapi dengan bijak. Setiap orang terlahir cantik sebagaimana adanya.

Selain itu, mencintai diri sendiri dapat dilakukan dengan merawat pribadi.

"Namun perlu kebijaksanaan untuk memilih melakukan perawatan yang memang dibutuhkan oleh tubuh atau hanya sekedar mengejar kesempurnaan standar sosial yang berkamuflase menjadi keinginan kita," imbuhnya.

Baca juga: Mengenal FaceApp, Aplikasi Pengubah Wajah Instan yang Tengah Viral

Penulis: Mela ArnaniEditor: Sari Hardiyanto

Artikel Asli