Berhenti Berlari

LINE TODAY Dipublikasikan 23.00, 21/09/2019 • EttaGurl
Foto: Unsplash
Foto: Unsplash

Jam di layar laptop Shenna sudah menunjukkan waktu pukul 01.17, tetapi mata gadis itu masih terbuka lebar. Sambil terduduk di tempat tidurnya, Shenna memangku laptop yang menampilkan halaman cover skripsinya. Dugaan kalian salah kalau kalian mengira bahwa Shenna tengah berkutat dengan skripsinya. Laptopnya boleh saja berada di pangkuannya, tepat di depan matanya. Akan tetapi, pandangan Shenna mengarah ke jendela kamar di sebelah kanannya, menatap nanar bulan serta bintang-bintang yang cahayanya tak terlalu kentara akibat terhalang tebalnya polusi udara di kota metropolitan ini.

Tak jauh dari jendela, tepatnya di sudut serong kanan bagian depan kamarnya, terpajang sebuah pigura foto di atas nakas berlaci enam milik Shenna. Shenna lamat-lamat memandangi dua orang di dalam foto itu, sampai-sampai ia tidak menyadari bahwa otaknya telah berkelana ke kejadian beberapa hari yang lalu.

* * * * *

“Na!” panggil sesosok laki-laki dari kejauhan, tak memedulikan bahwa selain mereka berdua, ada mahasiswa lainnya yang tengah berlalu-lalang.

Shenna melambangkan tangannya pada laki-laki itu, sudah biasa dengan kelakuannya yang nyeleneh. Gio namanya, sahabat yang Shenna temui tiga semester yang lalu, yaitu di semester ketiganya. Yup, sekarang mereka sama-sama tengah menempuh semester keenamnya—yang sebentar lagi akan selesai—tapi tampaknya hanya Shenna yang merasa stres duluan memikirkan skripsinya.

“Jalan sekarang?” tanya Gio begitu ia sampai di hadapan Shenna.

Shenna memang mengajak Gio makan siang bersama pagi tadi. Ingin icip-icip rumah makan baru di depan kampus, katanya. Dibilang rumah makan juga kurang tepat, sebenarnya. Rumah makan yang dimaksud Shenna hanyalah semacam kios kecil yang menjual ayam geprek.

‘Apa yang mau dicobain sih, Nay? Ayam geprek mah, rasanya gitu-gitu aja!’ keluh Gio begitu Shenna menyampaikan niatnya tadi, tapi toh ia tetap datang siang ini.

“Tumben lama. Abis ngapain lo?” tanya Shenna selagi mereka berjalan bersama ke tempat ayam geprek yang dimaksud Shenna.

“Tadi Trisya minta foto catetan gue dulu, jadi ya udah deh.”

“Kok Trisyanya nggak sekalian lo ajak sihhh?!” gerutu Shenna sambil meninju lengan Gio yang menurutnya berotot, tapi tidak berlebihan. Teksturnya pas untuk ditonjok kalau kata Shenna.

Omong-omong, Trisya adalah teman dekat Shenna di semester 4. Karena waktu itu Shenna masih sering berinteraksi dengan Gio, jadilah Shenna mengenalkan Trisya pada Gio.

‘Trisya baek loh, Gi. Kalo lo move on ke dia, gue restuin!’ goda Shenna waktu itu, tepat setelah ia secara resmi mengenalkan Trisya pada Gio.

Bukan, bukan untuk membantu Gio move on dari mantannya. Mantan saja tidak punya, bagaimana Gio mau move on dari sesuatu yang tidak ada? Yah, nasib malang Gio membuatnya terjebak friendzone dengan Shenna. Kalau ada hal lain yang membuat Gio jatuh semakin jauh ke dalam kemalangannya itu, maka hal tersebut adalah hubungannya dengan Shenna yang tidak berubah, bahkan setelah Shenna mengetahui bahwa ia menyimpan perasaan untuk gadis itu. Malahan, ‘persahabatan’ mereka bertahan sampai satu setengah tahun, dan masih terus berjalan.

“Gi! Ih, kok ngelamun, sih?!” Sekali lagi telapak tangan Shenna meninggalkan bekas kemerahan di lengan atas Gio, yang untungnya tertutup hoodie yang biasa ia kenakan.

“Hah?” Otak Gio loading sebentar. “Enak aja! Gue udah ajak Trisya tadi, tapi ternyata dia mau kerkel.”

“Kerkel?”

“Kerja kelompok, Shennaku sayang.”

“Kerkom kaleee! Oh,and don’t babe me,” sahut Shenna dengan mengarahkan tatapan sinisnya ke Gio.

“Iya, iya. Kerkel, kerkom, miskom,Mass Comm, bebas.”

“Kenapa sampe bahas jurusan Mass Comm, pula. Lo mau ke mana, Ucup? Ini gepreknya di sebelah sini.” Shenna menarik tas Gio selagi yang empunya terus berjalan ke depan, sok-sokan memimpin jalan padahal Shenna yang tau tempatnya.

“Aduh, kalo gue kejengkang gimana, Idah?!”

“Berarti lo cewek. Lemah soalnya,” tukas Shenna tak acuh sambil memasuki tempat makan baru itu.

Sepanjang 30 menit ke depan hanyalah makan siang biasa, layaknya belasan kali makan siang bersama yang pernah Shenna dan Gio lewati. Shenna kira hari itu juga hanya akan menjadi hari-hari biasa yang sudah ia lewati sepanjang 21 tahun hidupnya, tapi Gio menghalau pemikiran itu di akhir makan siang bersama mereka.

“Na,” panggilnya setelah melihat Shenna tinggal menyuap sesendok nasi lagi.

“Hm?” sahut Shenna, dengan pandangan yang tetap mengarah ke layar ponselnya.

“Masih inget nggak, lo ngomong apa pas pertama lo ngenalin gue ke Trisya?”

Pertanyaan aneh Gio tampaknya cukup efektif untuk mengangkat kepala Shenna dari ponselnya. Buktinya, Shenna langsung mengarahkan pandangan penuh tanyanya ke arah Gio.

“Excuse me? Materi minggu lalu aja gue belom tentu inget, gimana omongan gue yang hampir dua tahun yang lalu, boi?”

Jawaban Shenna tak ayal membuat Gio memutar kedua bola matanya. Gio menghela napas, kemudian mulai berbicara. “Lo bilang, Trisya itu anaknya baik. Terus—”

OH MY GOD! Stop, stop! Gue inget!”

“Na, ini di tempat umum, please,” ujar Gio dengan wajah yang mulai memerah.

"Okay, okay. So …?"

Gio menatap Shenna bingung. "So … what?"

“Ya jadi …?”

“Jadi apanya? Katanya lo udah inget?!” tanya Gio, lagi-lagi dengan wajah yang kembali memerah setelah tadi mereda karena bingung dengan kalimat Shenna yang menggantung.

Shenna tetap bungkam sembari memandangi Gio dengan tatapan jenaka.

“Fine, fine! Gu— gue … KayaknyaguesukasamaTrisya.”

* * * * *

Lamunan Shenna dibuyarkan oleh suara notifikasi dari ponselnya. Ada setitik harapan bahwa Gio yang akan mengganggunya, karena memang biasanya seperti itu. Siapa lagi yang gangguannya di tengah malam buta seperti ini dinantikan oleh Shenna selain Gio? Namun, ketika yang ia temui hanyalah SMS dari operator, Shenna juga tidak terlalu merasa kecewa. Atau setidaknya .., itu yang berusaha ia yakini pada dirinya sendiri. Toh, ritual mengobrol tengah malam mereka telah lama terhenti.

Setelah mengunci kembali ponsel di tangannya tanpa repot-repot mengecek SMS dari operator tadi, Shenna kembali melayangkan pandangannya pada figura foto tadi. Figura yang membingkai fotonya dengan Gio ketika mereka berjalan-jalan ke Kota Tua berdua. Tak jarang orang yang mengira mereka adalah sepasang kekasih. Akan tetapi, tak pernah sedikit pun keinginan itu melintas di pikiran maupun hati Shenna. Banyak orang yang berkata bahwa Shenna hanya tidak mau mengakuinya. Padahal, tau apa mereka? Shenna yang paling tau perasaannya sendiri. Yah, kecuali kalau ia memiliki sahabat yang mengenalnya lebih dari ia mengenal dirinya sendiri. Sayangnya, sahabat itu adalah Gio. Tidak mungkin juga ‘kan Gio merasa ge-er bahwa Shenna memiliki perasaan terhadapnya?

Lagi pula, kalau ia memang jatuh cinta pada Gio, seharusnya waktu Gio mengaku bahwa ia menyimpan rasa untuk Shenna, Shenna tinggal membalasnya, bukan? Namun Shenna sadar betul bahwa ia tak bisa menaggap Gio lebih dari sekedar sahabat. Sahabat terbaiknya, kalau bisa ia tambahkan.

Ada sekeping ketakutan yang menahan Shenna. Shenna takut kalau ia hanya menyukai cara Gio memperlakukan dirinya. Shenna takut kalau ia hanya jatuh cinta pada bagaimana Gio mencintainya, sebagaimana Shenna ingin dicintai. Shenna takut kalau ia tak mencintai Gio sebagai seorang lelaki, melainkan Gio sebagai seseorang yang mencintainya dengan cara yang tepat. Dan karena itu, Shenna meyakinkan dirinya kalau rasa ini bukanlah cinta terhadap Gio, dan jatuh cinta terhadap Gio pun tak pernah terlintas di pikirannya barang sedetik. Shenna selalu menganggap Gio sebagai sahabatnya. Sahabat yang tidak mungkin ia cintai.

Akan tetapi … siapa sangka kalau rasanya dicintai bisa secandu itu? Shenna sungguh menikmati saat-saat di mana Gio menemaninya melewati jam kosong di kampus, padahal Gio bisa saja pulang karena tak ada kelas lagi setelahnya. Shenna sungguh menikmati saat-saat di mana Gio rela mendengarkan ocehannya melalui telepon di tengah malam seperti ini, bahkan ketika Gio harus menghabiskan beratus-ratus ribu pulsa karena jaringan internet Shenna memang sejelek itu untuk bertelepon. Lebih dari itu semua, Shenna sungguh menikmati obrolan tengah malam mereka, tentang hal-hal remeh dan hal-hal yang tak pernah Shenna bagi ke orang lain.

Mengetahui fakta bahwa Gio sudah berhasil move on dari dirinya … Shenna tidak tau harus merasa apa. Dari dulu, ia sadar betul bahwa ia akan sangat egois untuk mengharapkan Gio tetap mencintainya sementara ia tak bisa membalas Gio. Shenna sadar betul bahwa ia tak bisa mengharapkan Gio untuk meletakkannya di posisi pertama, sementara ia sendiri menomorduakan Gio. Shenna sadar betul bahwa suatu saat nanti, Gio pasti akan menemukan tambatan hati yang baru. Bahkan, ia sendiri yang mendorong Gio untuk itu.

Kini … setelah saatnya datang, Shenna tetap saja terkejut. Shenna mungkin sudah sadar tentang ini dan itu. Shenna mungkin sudah paham dan hafal betul ‘teori-teori’nya. Akan tetapi, praktek memang selalu lebih sulit dari pada teori, bukan? Shenna tau perlakuan Gio tak akan banyak berubah terhadapnya. Shenna tau betul tentang itu. Gio sendiri mengatakannya setelah mereka makan siang waktu itu. Akan tetapi … ia tak bisa menyalahkan Gio juga ‘kan kalau suatu saat nanti Trisya dan Shenna sama-sama membutuhkan Gio, dan Gio akan lebih memilih Trisya? Yah, mari abaikan dahulu fakta bahwa Trisya belum tentu memendam perasaan yang sama dan segala sesuatu yang lain. Trisya dan Gio sama-sama berhubungan baik dari semester 4 sampai semester 6 ini, bukan? Terlebih, mereka berada di kelas yang sama di semester 6 ini.

Shenna memejamkan matanya, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Siapa sangka kalau pihak yang dicintai juga terkadang perlu move on? Suka tidak suka, mau tidak mau, disangka atau tidak, Shenna sadar dirinya harus move on. Move on dari posisi nyamannya sebagai seseorang yang dicintai oleh Gio, dan menuju ke posisi yang seharusnya sebagai sebatas sahabat Gio. Move on dari cara pandangnya yang lama terhadap Gio sebagai seseorang yang mencintainya, dan mulai melihat Gio sebagai seorang sahabat sekaligus seorang lelaki. Seorang lelaki yang telah mempunyai tambatan hati lainnya. Move on dari rasa nyamannya dicintai sebagai seorang perempuan, dan berdamai dengan rasanya disayangi sebatas sahabat. Dan ketika mata Shenna menangkap sebuah bintang jatuh di langit, hanya satu doa yang ia panjatkan. Agar ia bisa turut merasa bahagia ketika nanti Gio, sahabatnya itu, menemukan wanita lain untuk berada di sampingnya, sebagai pacarnya. Trisya, atau siapapun itu.

Tentang Penulis

Gadis remaja yang bersembunyi di balik kedok EttaGurl ini hanyalah seorang penulis amatir yang berkecimpung di dunia Teen Fiction. Hobi membaca sejak duduk di Taman Kanak-kanak, menulis cerita yang ingin ia baca selalu menjadi impiannya. Walau masih belum mahir dalam bidang tulis-menulis, gadis ini terus berusaha mengasah kemampuannya dalam merajut cerita via sebuah platform menulis.