Benarkah Vape Lebih Baik Ketimbang Rokok?

kumparan Dipublikasikan 07.38, 18/11/2019 • Aulia Rahman Nugraha
Ilustrasi vape. Foto: Shutter Stock

Perdebatan mengenai apakah vape lebih sehat ketimbang rokok masih terus berlangsung di tengah perhatian publik atas kasus EVALI (e-cigaretteor vaping product use-associated lunginjury). Walaupun, jika berbicara kesehatan, tetap saja jalan yang terbaik adalah tidak mengonsumsi keduanya.

Jika merujuk pada sebuah riset terbaru, disebut bahwa vape sedikit lebih baik ketimbang rokok. Studi yang berjudul Cardiovascular Effects of Switching from Tobacco Cigarettes to Electronic Cigarettes ini pertama kali rilis November 2019 di Journal of the American College of Cardiology.

"Beralih dari rokok tembakau ke rokok elektronik meningkatkan fungsi pembuluh darah Anda dalam periode satu bulan, secara signifikan," kata Profesor Jacob George dari University of Dundee di Skotlandia, selaku penulis pertama studi tersebut.

Penelitian ini didasari oleh data dari 114 orang dewasa yang semuanya merokok minimal 15 batang sehari dalam dua tahun terakhir, namun tidak memiliki tanda-tanda penyakit jantung.

Ilustrasi vape. Foto: Shutter Stock

Para perokok tersebut kemudian dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama merupakan para perokok tembakau, sementara dua kelompok lainnya diberi perangkat vape yang mengandung nikotin, dan kelompok ketiga adalah pengguna vape tanpa nikotin. Peneliti kemudian mengukur fungsi pembuluh darah mereka pada awal penelitian dan membandingkannya setelah sebulan.

Tim peneliti menemukan bahwa mereka yang vaping, baik yang mengandung nikotin maupun tidak, memiliki peningkatan fungsi pembuluh darah 21 persen, dari skor 5,5 menjadi 6,2. Ini menunjukkan fungsi pembuluh darah mereka mendekati fungsi pembuluh darah non perokok yang berkisar di skor 7,7.

Selain itu, peneliti juga menemukan bahwa peserta yang beralih ke vaping mengalami peningkatan 1,5 persen dalam perubahan diameter arteri mereka, dibandingkan dengan kelompok yang terus merokok tembakau.

Ilustrasi liquid vape. Foto: REUTERS/Carlo Allegri

Adapun jika mereka terus tak merokok tembakau dalam jangka panjang, kata para peneliti, risiko penyakit jantung mereka akan turun hingga 13 persen.

Meski demikian, tim peneliti dari University of Dundee ini menekankan bahwa meskipun penelitian mereka menunjukkan bahwa vape kurang berbahaya daripada rokok tembakau, itu tidak membuktikan bahwa vape bakal lebih aman.

“Studi ini tidak menunjukkan bahwa vaping aman; itu menunjukkan bahwa ada efek pada sistem vaskular dalam sebulan, yang berarti bahwa kesehatan vaskular Anda meningkat jika Anda seorang perokok dan beralih ke vaping,” kata Profesor Jeremy Pearson dari British Heart Foundation, selaku pihak yang mendanai penelitian ini.

"Kami tidak akan mengadvokasi siapa pun yang melakukan vaping jika mereka tidak merokok," sambungnya, seraya menambahkan bahwa penelitian tersebut didasari oleh kalkulasi yang sederhana.

Ilustrasi vape. Foto: REUTERS/Kate Munsch

Peringatan yang dibuat oleh tim penelitian tersebut perlu dipertimbangkan. Karena, penelitian mereka hanya melihat hubungan rokok dan vape pada aspek pembuluh darah, dan tidak pada aspek lainnya.

Tim Chico, seorang profesor kedokteran kardiovaskular di University of Sheffield di Inggris, menyatakan kepadaThe Guardian bahwa diperlukan penyelidikan lebih lanjut mengenai dampak vaping pada serangan jantung, stroke, atau risiko kanker.

“Penelitian ini tidak mengukur cara-cara lain yang memungkinkan rokok dan rokok elektrik dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, seperti kecenderungan untuk membentuk gumpalan darah, yang merupakan bagian penting mengapa perokok tembakau lebih mungkin menderita serangan jantung," jelas Tim.

Oleh karenanya, diperlukan penelitian lebih lanjut terkait rokok tembakau dan vaping, terutama penelitian yang mendalam soal dampaknya pada tubuh manusia.

Artikel Asli