Belum buka fasilitas secara penuh, industri perhotelan baru tumbuh 10%

Kontan.co.id Dipublikasikan 08.44, 03/07 • Ridwan Nanda Mulyana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Jumlah pengunjung dan kinerja bisnis industri hotel belum tumbuh signifikan meski era new normal sudah diterapkan. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menyatakan, wisatawan lokal masih menjadi tumpuan.

Sekretaris Jenderal PHRI Maulana Yusran menyebut, secara rata-rata, jumlah pengunjung baru tumbuh sekitar 10% dibandingkan masa awal Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada Maret-Mei lalu.

Baca Juga: Kasus corona di negara ini melonjak pasca status darurat dicabut, Indonesia termasuk

Kata dia, masa PSBB di tengah pandemi covid-19 memang sangat memukul industri perhotelan. Pasalnya, industri hotel sangat bergantung dengan aktivitas dan pergerakan orang. Saat pegerakkan dibatasi, maka bisnis hotel pun tergerus.

"Saat ini sudah banyak daerah yang melonggarkan PSBB, tentu okupansi meningkat, tapi belum signifikan paling tinggi average 10%," ungkap Maulana saat dihubungi Kontan.co.id, Jum'at (3/7).

Pertumbuhan itu pun bukan tanpa catatan. Maulana bilang, pertumbuhan jumlah pengunjung baru terjadi di daerah-daerah yang memiliki objek wisata yang telah dibuka. Itu pun yang dekat dengan kota-kota besar atau yang masih bisa dijangkau menggunakan kendaraan pribadi.

Dia mencontohkan daerah Bogor yang sudah banyak dikunjungi wisatawan dari Jakarta. Juga beberapa daerah di Jawa Barat. Di luar Jawa, pertumbuhan jumlah pengunjung antara lain terjadi di Sumatera Barat.

Baca Juga: Fakta vaksin lokal corona: Menuju pra uji klinis dan prediksi harga Rp 75.000

"Traveller yang sudah bosan di rumah mulai melakukan perjalan, berlibur ke daerah terdekat dengan kendaraan pribadi. Karena perjalanan udara masih banyak persyaratan dan cukup mahal," terang Maulana.

Selain itu, sambungnya, pertumbuhan bisnis yang belum signifikan juga terjadi lantaran banyak hotel yang masih belum membuka kamar atau fasilitasnya secara penuh. Maulana bilang, hotel akan membuka fasilitasnya secara bertahap dengan mempertimbangkan potensi pengunjung.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah efisiensi yang masih dilakukan. Maulana mencontohkan, listrik menjadi komponen biaya yang sangat tinggi bagi industri hotel. Dengan tingkat kunjungan yang belum pulih, maka efisiensi pun terus berlangsung.

"Fasilitas dibuka bertahap melihat kondisi konsumen Hotel melakukan efisiensi besar-besaran, agar bisa survive," kata Maulana.

Baca Juga: Catat, warga Jakarta di wilayah zona merah tak dapat saksikan pemotongan hewan kurban

Hingga sekarang, dia bilang bahwa industri hotel masih bertumpu ke wisatawan lokal. Ia memprediksi, kunjungan dari wisatawan mancanegara belum akan berdatangan secara signifikan dalam waktu dekat ini.

"Dalam masa recovery ini masih fokus ke (wisatawan) lokal. Internasional belum ada ketetapan untuk dibuka," sebutnya.

Yang jelas, sekali pun nanti wisatawan mancanegara mulai berdatangan, Maulanan mengatakan bahwa industri hotel sudah bersiap. Dari sisi standar operasional prosedur (SOP), industri hotel tak kesulitan untuk menerapkan protokol pencegahan covid-19, termasuk penambahan seperti disinfektan, hand sanitizer maupun penggunaan masker.

"Hotel pada prinsipnya sudah siap," pungkasnya.

Baca Juga: Anggota DPRD DKI: Pemprov DKI wajib sosialisasi pedagang tentang protokol Covid-19

Artikel Asli