Belajar dari Cecep Reza, Kenali Gejala Penyakit Jantung Koroner

Kompas.com Dipublikasikan 15.48, 19/11/2019 • Dian Reinis Kumampung
Instagram Cecep Reza
Artis peran Cecep Reza yang dikenal dengan perannya sebagai Bombom di Sinetron Bidadari, meninggal dunia pada Selasa (19/11/2019).

KOMPAS.com -  Artis peran Cecep Reza ditemukan tak bernyawa oleh keluarganya saat sedang tidur di kediamannya.
Menurut cerita dari adik, Rizky, Cecep yang tak bisa dibangunkan oleh putrinya ternyata sudah meninggal dunia.
Diketahui, baru satu minggu yang lalu Cecep melakukan operasi pemasangan ring pada jantungnya.

Keluarga pun meyakini bahwa pemeran Bom Bom dalam sinetron Bidadari itu meninggal karena serangan jantung.
Baca juga: Cegah Penyakit Jantung Koroner dengan Gaya Hidup Sehat Sejak Dini
Pemasangan cincin (ring) atau dikenal juga dengan stent  merupakan metode pengobatan yang umum dilakukan untuk pasien jantung koroner.

Stent berfungsi untuk menopang pembuluh darah agar tetap lebar, sehingga aliran darah lancar atau tidak tersumbat.
Belajar dari Cecep Reza, yuk kenali penyakit jantung koroner yang kini bnyak menjangkiti anak muda.
Dalam dunia medis diketahui bahwa jantung memiliki beberapa jenis pembuluh, diantaranya yang paling penting adalah arteri koroner.
Pada arteri ini terdapat sirkulasi darah kaya oksigen ke semua organ dalam tubuh, termasuk jantung.

Bila arteri ini tersumbat atau menyempit, aliran darah ke jantung bisa turun secara signifikan atau berhenti sama sekali. Hal ini bisa menyebabkan serangan jantung.
Serangan jantung karena jantung koroner, kini tak hanya menyerang pada generasi usia lanjut. Penyakit ini bahkan telah menyerangm ereka yang masih berada pada usia produktif.

Baca juga: Tips Latihan yang Efektif untuk Menyehatkan Jantung
Berikut ini gejala yang muncul akibat serangan jantung:

  1. Nyeri dada. Bagian ini biasanya terasa seperti ditekan atau diremas pada dada sebelah kiri.
  2. Tidak nyaman di bagian tubuh atas. Merasakan sakit pada salah satu atau kedua lengan, punggung, bahu, leher, rahang, atau bagian atas perut (di atas pusar). Rasa tidak nyaman tersebut berlangsung lebih dari beberapa menit atau hilang dan kembali lagi. Kadang disertai dengan rasa gelisah dan detak jantung cepat.
  3. Sesak napas. Biasanya jika ini terjadi maka tubuh akan mengeluarkan keringat dingin, kepala terasa pusing, dan tubuh terasa lemas.
  4. Gejala lain. Pada beberapa orang muncul gejala lainnya seperti batuk, mual, muntah sering terjadi pada wanita.

Baca juga: Gejala Serangan Jantung Pria dan Wanita, Sama atau Beda?

Penyebab jantung koroner
Penyakit ini biasanya disebabkan karena gaya hidup yang tidak sehat. Selain itu ada juga faktor keturunan dimana keluarga ada yang menderita penyakit jantung.
Pada kondisi jantung koroner, penumpukan plak terbentuk di arteri. Kemudian pada suatu saat plak ini akan robek dan terlepas.
Bila robekan atau bongkahan plak yang terlepas ini cukup besar dan terbawa aliran darah ke arteri koroner, plak ini bisa mengakibatkan sumbatan. Arteri koroner membawa oksigen untuk otot-otot jantung.
Bila aliran arteri ini tersumbat, oksigen tidak dapat mencapai otot jantung, dan otot jantung pun dapat mati bila dibiarkan lama tanpa oksigen.

Baca juga: Jaga Kesehatan Mental demi Jantung Sehat
Mulailah gaya hidup sehat
Esti Nurjadi selaku ketua umum Yayasan Jantung Indonesia memaparkan bahwa saat ini pihaknya tengah mencoba untuk melakukan penyuluhan untuk pencegahan penyakit jantung koroner di masyarakat.
“Ada yang 40 tahun, 30 tahun. Maka dari itu, yang harus kita lakukan adalah awareness pencegahan,” Esti saat ditemui di kantor pusat Yayasan Jantung Indonesia di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.
Bahkan, penyakit jantung yang menyerang kaum muda adalah jantung koroner yang biasanya terjadi karena gaya hidup yang tidak sehat.
“Untuk itu kita berusaha memberikan awareness lifestyle yang baik pada generasi semuda mungkin. Jadi saya mencoba untuk mengganti target, saat ini sasarnya ke millenial,” kata Esti.

Baca juga: Mengapa Kebiasaan Merokok Bisa Bahayakan Jantung
Nantinya, YJI akan menyasar pada anak-anak dan remaja agar terbiasa menjalani gaya hidup sehat.
“Jadi pada waktunya nanti mereka sudah tidak perlu mengurangi minum soda misalnya, atau menghindari rokok. Mereka tidak akan sentuh itu karena sejak kecil sudah terbiasa menghindari hal hal itu, GGL - gula, garam, lemak dihindari, rajin berolahraga, rajin periksakan kesehatan ke dokter,” kata Esti lagi.
Langkah penyuluhan dan pencegahan pun telah dilakukan di sekolah-sekolah dan juga komunitas dimana terdapat kaum muda berkumpul.
“Kita tidak bisa fokus di lansia saja, atau generasi yang sudah terkena. Kita harus fokus dengan pencegahan,” ucap Esti.

Baca juga: Sering Diremehkan, 7 Hal Ini Bisa Jadi Gejala Penyakit Jantung

Penulis: Dian Reinis KumampungEditor: Bestari Kumala Dewi

Artikel Asli