Bayangan Gelap Di Balik Gemerlap Panggung Hiburan Korea

Femina Dipublikasikan 03.00, 06/12/2019 • NF0365

Foto: shutterstock

Pada tanggal 18 Desember 2019, vokalis boy group Korea Selatan, Shinee, Kim Jon-hyun meninggal dunia karena bunuh diri. Ia didiagnosis mengalami depresi dan mendapatkan perawatan selama beberapa tahun. Penggemar dan artis K-pop terguncang. Tak lama kemudian, Januari 2018 aktor Jun Tae-soo juga melakukan hal yang sama. 

Tahun 2019 bisa dibilang tahun yang kelam bagi dunia hiburan Korea. Selain berbagai skandal yang melibatkan artis, produser, dan agensi, kejadian bunuh diri terus terjadi. Pada Juni 2019, aktris senior, Jeon Mi-seon mengakhiri hidupnya pada usia 48. Yang membuat prihatin dalam waktu tiga bulan, Oktober hingga awal Desember, tiga selebritas berusia dua puluhan, Sulli, Go Ha-ra, dan Cha In-ha. ditemukan sudah tidak bernyawa karena bunuh diri.

Ini semakin mengundang kekhawatiran pada kondisi mental para selebritas Korea Selatan. Apalagi k-pop dan k-drama kini tengah naik daun dan populer tak hanya di Korea Selatan, tapi juga seluruh dunia. 

Menurut WHO dan worldpopulationreview, Korea Selatan berada di peringkat ke-4 tertinggi dengan angka rasio bunuh diri, di bawah Lituania, Rusia, dan Guyana. Pada tahun 2018 ada 13.765 kasus bunuh diri di Korea Selatan. Angkat rata-rata bunuh diri di Korea Selatan adalah 29,9, dengan kecenderungan terjadi pada pria lebih besar daripada wanita. 

Dikutip dari CNN, psikiater dan kepala Korea Suicide Prevention Center, Paik Jong-woo, mengatakan menurut penelitian stigma dalam masyarakat membuat jumlah masyarakat Korea Selatan yang mengalami depresi lebih sedikit yang mencari bantuan ahli lebih sedikit dibanding di negara-negara maju lain. Dan mereka yang bekerja di industri hiburan memiliki risiko yang lebih tinggi. 

Para selebritas seringkali harus menyembunyikan kondisinya karena khawatir pada pendapat publik dan juga karena ketatnya jadwal kerja mereka. Menurutnya berbagai pihak harus memberi perhatian lebih untuk mencegah bunuh diri, terutama di kalangan selebritas dan figur terkenal. Yang membuat khawatirnya khawatir, ini bisa membuat tingkat bunuh diri di masyarakat ikut meningkat. Ia memberi gambaran, setelah publikasi bunuh diri aktris yang sangat terkenal saat itu Choi Jin-sil pada tahun 2008, angka bunuh diri pada tahun itu meningkat 1000 kasus di banding tahun sebelumnya. 

Bunuh diri adalah kasus yang kompleks dengan berbagai pemicu, selain faktor beban dan kesulitan ekonomi, gangguan kesehatan mental, tekanan pekerjaan, dan tekanan sosial adalah beberapa faktor yang kerap menjadi pemicu utama.   

Pada selebitas Korea Selatan, ketenaran datang bersamaan dengan 'harga' yang tinggi. Meski mungkin memberi mereka kemapanan dalam finansial, ada konsekuensi yang harus mereka tanggung. Bekerja keras untuk latihan menari, vokal, bahasa, public speaking, sejak usia belia dan persaingan ketat di industri hiburan tak hanya membuat selebritas kelelahan secara fisik terus menerus, tapi juga secara psikologis. 

Sorotan publik yang terus menerus menuntut mereka untuk selalu tampil sempurna. Kulit berjerawat, berat badan meningkat, ucapan atau ekspresi wajah tak sesuai harapan publik membuat mereka sampai meminta maaf pada publik. 

Kehidupan pribadi dan sosial pun jadi jadi sorotan. Meski berlimpah cinta dari penggemar, mereka tak bebas menjalin hubungan cinta, bahkan bergaul dengan orang lain sesukanya.

Anggota boy group dan girl group atau sering disebut idol, juga semakin tidak bebas khawatir kehilangan penggemar atau malah didepak agensi jika ketahuan memiliki hubungan asmara.  Ini masuk dalam kontrak kerja mereka. Kalau orang biasa bisa mengungkapkan rasa bahagia, hubungan asmara selebritas harus disembunyikan rapat-rapat atau akan disebut sebagai skandal yang memengaruhi karier yang mereka bangun dengan susah payah. Kehidupan sosial yang terbatas tentu memberi efek tekanan tersendiri. 

Dan kini yang menjadi sorotan adalah cyber bullying, ujaran kebencian, yang disebut-sebut memiliki andil besar pada kondisi mental Sulli dan Go Ha-ra. 

Sulli hengkang dari f(x) group yang membesarkan namanya karena hubungan asmara terungkap publik dan dianggap sebagai skandal, lalu terus menerus menerima ucapan kebencian di media sosial. Sikapnya yang terbuka dan dianggap tak sesuai standar masyarakat konservatif membuatnya terus menerus jadi target cyber bullying.

Go Ha-ra yang juga sahabat Sulli, tak lepas dari cyber bullying setelah  baru-baru ini menghadapi pertikaian hukum dengan mantan kekasihnya.

Sementara sebagian netizen menjadi pelaku cyber bullying, sebagian yang lain berjuang membuat media sosial lebih aman dengan meminta pemerintah untuk membuat aturan hukum yang ketat untuk mencegah efek cyber bullying. Juga meminta agensi untuk lebih memperhatikan kesehatan fisik dan mental artis mereka.

Kasus Sulli dan Go Ha-ra di sisi lain juga membangkitkan keberanian selebritas untuk mengungkap masalah kesehatan mental mereka, juga tak  menutupi hubungan asmara hanya memenuhi harapan publik. 

Salah satunya yang berani mengungkapkannya adalah Kang Daniel, yang debut tahun 2017 setelah jadi pemenang acara Produce 101 dan kemudian menjadi anggota boy group Wanna One. Baru-baru ini Daniel menulis dalam website resminya bahwa ia merasa lelah menghadapi situasi yang tidak adil, segala gosip, dan ujaran kebencian yang ditujukan padanya. 

Daniel yang CEO dari agensinya sendiri, memutuskan untuk hiatus, mengambil jeda dari kegiatan di dunia hiburan. Juru bicara agensinya mengabarkan kalau Kang Daniel mengalami depresi sejak awal tahun dan menjalani perawatan sejak itu. Namun belakangan kondisinya memburuk hingga merasa perlu mengambil tindakan untuk memulihkan diri. Sebuah langkah yang tepat. 

Jika Anda merasa mengalami masalah, bicarakan dan carilah pertolongan dari ahli. (f)

Artikel Asli