"Baru Pertama Saya Lihat, Warga Masuk Kawasan Karantina, Menjemput Keluarga Positif Covid-19"

Kompas.com Dipublikasikan 07.27, 15/08 • Pythag Kurniati
SHUTTERSTOCK/namtipStudio
Ilustrasi pasien Covid-19. Hormon kortisol atau hormon stres yang dialami pasien Covid-19 dapat meningkatkan keparahan penyakit hingga risiko kematian.

KOMPAS.com- Dokter Ary Subandrio mengabdikan dirinya merawat sejumlah pasien Covid-19 di Gedung Karantina Kampung Salak, Kota Sorong, Papua Barat.

Ari bertugas sejak awal kasus Covid-19 mulai di temukan di Kota Sorong, sekitar enam bulan lalu.

Menurut Ary, tak hanya berurusan dengan penyakit, tenaga medis juga dihadapkan pada belum matangnya pemahaman masyarakat terkait penularan Covid-19.

Ia bahkan menjadi saksi ketika belasan warga menggeruduk Gedung Karantina Kampung Salak yang digunakan sebagai lokasi isolasi.

Baca juga: Cerita Dokter di Pusat Karantina, Pernah Hadapi Belasan Warga yang Jemput Paksa Pasien Covid-19

Alasan penjemputan karena ruangan kecil dan makanan tak sesuai

Ary mengatakan, baru kali pertama menyaksikan sendiri warga menggeruduk gedung karantina yang seharusnya steril.

Apalagi, mereka datang dengan kondisi tak percaya keluarganya terpapar Covid-19.

"Selama bertugas baru pertama kali saya melihat ada sekelompok warga yang hendak masuk ke kawasan karantina Kampung Salak untuk menjemput keluarganya yang terjangkit Covid-19," kata Ary.

Keluarga pasien hendak menjemput orangtuanya yang menjalani karantina di gedung itu.

Mereka ingin memindahkan orangtuanya ke hotel.

"Alasan pihak keluaga karena kondisi ruangan terlalu kecil dan menu makanan yang disajikan tidak sesuai kondisi pasien," ujar dia.

Baca juga: Sederet Cerita Warga Takut Di-Rapid Test, Malah Tawarkan Uang Damai dan Mengungsi ke Pulau Lain

Berhasil digagalkan

Aksi menegangkan tersebut, tutur Ary, dapat dikendalikan setelah tim medis meyakinkan keluarga pasien.

Hasil tes swab pun diperlihatkan kepada warga yang menjemput.

Sedangkan aparat harus turun tangan dalam situasi itu. "Aksi mereka diadang aparat TNI-Polri," kata dia.

Beruntung penjemputan pasien Covid-19 tersebut berhasil digagalkan.

Baca juga: Kisah-kisah Penjemputan Pasien Positif Corona, Warga Dipeluk agar Tertular hingga Petak Umpet dengan Petugas

Bertaruh nyawa, tetap bergembira

Ary bercerita, dirinya dan tenaga medis lain memiliki tanggung jawab profesi.

Meski risiko tertular itu selalu ada, mereka menjalaninya dengan tulus ikhlas.

"Selaku dokter tentunya mempunyai tanggung jawab dan profesi di mana saja ia bertugas, meski harus bertaruh nyawa di tengah melayani pasien Covid-19 kita harus bertanggung jawab dan ikhlas," jelas Ary.

Kegembiraan dalam bertugas, ujar dia, diperlukan agar bisa menularkan semangat positif bagi para pasien.

Sumber: Kompas.com (Penulis : Kontributor Sorong, Maichel | Editor : Dheri Agriesta)

Editor: Pythag Kurniati

Artikel Asli