Bagi Conte, Formasi Adalah Omong Kosong

kumparan Dipublikasikan 11.22, 17/09/2019 • Yoga Cholandha
Pelatih Inter, Antonio Conte, dalam pertandingan menghadapi Udinese. Foto: Reuters/Daniele Mascolo

Antonio Conte menghadapi pertandingan Liga Champions perdana bersama Internazionale dengan sebuah keluhan. Katanya, orang-orang di Italia terlalu terobsesi dengan formasi. Padahal, di Inggris tak ada yang peduli soal itu.

Usai menangani Chelsea selama dua musim Conte sempat menganggur. Dia akhirnya menerima pinangan Inter menjelang musim 2019/20. Dibekali pemain-pemain baru berkualitas macam Stefano Sensi dan Romelu Lukaku, Conte mampu membawa Nerazzurri tampil brilian di Serie A.

Dalam tiga pertandingan pertama Inter selalu berhasil meraih kemenangan. Mereka pun sukses memuncaki klasemen Serie A sekaligus menggusur Juventus yang telah bertakhta selama 560 hari.

Kini, fokus Conte ada pada Liga Champions, turnamen yang baru pernah dia menangi sebagai pemain. Jelang laga melawan Slavia Praha, Conte ditanya apakah dia bakal tetap menggunakan pakem tiga bek atau melakukan perubahan. Bukannya memberi penjelasan, Conte menjawab pertanyaan itu dengan nada ketus.

"Oh, jadi ada orang yang bilang aku lebih hebat di liga dibandingkan kompetisi Eropa? Hidup kalian, kok, penuh klise?" kata Conte.

"Setiap kali ada orang yang berkata sesuatu di televisi, semua menganggapnya benar. Aku sudah menjalani tiga Liga Champions dan di setiap kesempatan aku selalu mencoba kreasi baru."

"Semua pelatih melakukan itu, bahkan dengan tim yang sudah jadi sekalipun. Inilah yang bisa kami katakan kepada para pengamat. Semua orang mengira aku bisa juara di mana pun, tetapi itu tidak benar."

"Cuma di Italia yang orang-orangnya terobsesi dengan formasi. Aku sudah melatih di Inggris dan mereka sama sekali tak peduli soal itu. Yang ingin kulihat dari timku adalah keberanian dan intensitas. Sisanya omong kosong," tambah Conte.

Pemain Inter Milan, Romelu Lukaku, berduel dengan pemain Udinese. Foto: REUTERS/Daniele Mascolo

Adapun, pertanyaan soal formasi tadi ada sangkut pautnya dengan rekam jejak Conte selama menangani Juventus dan Chelsea. Dengan pakem tiga bek, Conte berhasil membawa kedua tim itu juara di kompetisi domestik. Namun, begitu pakem itu dibawa ke Eropa, hasilnya memang kurang optimal.

Conte sendiri awalnya menyukai formasi 4-2-4 dan pernah mencoba menerapkan itu di Juventus. Akan tetapi, karena materi pemain yang ada tidak pas, Conte pun mengubah pendekatannya menjadi 3-5-2. Rupanya, apa yang dilakukannya itu sukses besar.

Dengan demikian, Conte pun menjadi identik dengan formasi 3-5-2. Bahkan, saat melatih Italia di Euro 2016 pun dia menggunakan formasi tersebut dan berhasil membuat kejutan.

Di Inter sendiri, sejauh ini, Conte masih berpegang teguh dengan pakem tiga bek. Meski begitu, dia tidak selalu saklek dengan bilangan tersebut. Dalam partai melawan Udinese, misalnya, pelatih 50 tahun itu menurunkan tim dengan balutan formasi 3-4-2-1 seperti yang dia andalkan di Chelsea.

Artikel Asli