BMKG soal Ribuan Ikan Mati di Pulau Ambon Jadi Pertanda Tsunami: Hoaks

kumparan Dipublikasikan 15.55, 17/09/2019 • Ambonnesia
Ribuan ikan ditemukan mati di pesisir pantai Desa Rutong, Kecamatan Leitimur Selatan, Ambon Minggu (15/9) (Foto: istimewa)

Ambonnesia.com-Ambon,- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas I Karang Panjang Ambon memastikan, kematian ribuan ikan di Pulau Ambon bukan pertanda akan terjadinya tsunami. Untuk itu, warga diminta tenang dan jangan termakan informasi hoaks.

Temuan ribuan ikan mati dan terdampar di beberapa kawasan pesisir Pulau Ambon beberapa waktu lalu menghebohkan warga. Banyak warga yang mengaitkan fenomena tersebut dengan tsunami. Hal ini menimbulkan kepanikan sebagian warga yang bermukim di daerah pesisir.

Seksi BMKG Observasi Stasiun Geofisika kelas I Karang Panjang Ambon, Lutfi Pary, membantah informasi tersebut. Dia memastikan, fenomena kematian ikan tidak ada kaitannya dengan gempa dan tsunami.

"Kematian ikan ini tidak ada kaitannya dengan akan terjadinya gempa atau tsunami. Jadi, itu isu tsunami itu hoaks,” kata Lufti, di kantor BMKG karang panjang, Selasa (17/9).

Dia menjelaskan, tsunami bisa terjadi jika ada gempa bumi dengan kekuatan besar dan lama. Juga karena letusan gunung berapi dan perubahan bebatuan di dasar laut.

"Tidak bisa dapat dibenarkan, kalau matinya ikan itu bertanda tsunami," ujarnya. Untuk itu, dirinya mengimbau kepada warga Ambon agar tetap tenang, jangan termakan berita dan isu hoaks yang tersebar luas.

"Masyarakat harus melihat informasi dari situs yang dipercaya," ungkapnya.

Diberitakan sebelumnya, ribuan ikan mati terdampar di pesisir Pantai Rutong Kecamatan Leitimur Selatan, Ambon, Minggu (15/9).

Kepala Dinas Perikanan Kota Ambon, Steiven Patty, mengatakan penyebab matinya ribuan ikan itu hingga kini belum diketahui. Pihaknya masih menunggu uji laboratorium untuk memastikan musabab kematian ribuan ikan tersebut.

"Untuk memastikannya, kita sudah mengambil sampel dari ikan tersebut," jelas Steiven.

Dia menduga, ribuan ikan yang mati disebabkan ulah manusia yang melakukan pemboman ikan. Sebab ikan-ikan tersebut merupakan jenis ikan yang hidup di karang atau dasar laut.

Pihaknya memastikan akan berkoordinasi dengan pihak terkait lainnya untuk melakukan penilitian lebih lanjut tentang peristiwa tersebut. Termasuk memberi ganjaran terhadap pelaku pemboman ikan jika hasil uji laboratorium membuktikan matinya ikan akibat ulah manusia.

Dia mengaku tak segan-segan akan memproses hukum pelaku sesuai Undang-undang (UU) nomor 45 tahun 2009 tentang Perikanan.

"Jika nantinya dari hasil penelitian ikan itu mati karena bom yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, maka akan diserahkan kepada pihak berwajib untuk diberikan ganjaran sesuai aturan yang berlaku," kata Steiven.

Kejadian Langka

Kepala Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kota Ambon, Ashari Syarief, mengatakan pihaknya baru melakukan uji sampel. Penyebabnya hingga saat ini belum diketahui.

"Baru kemarin kita ambil sampel, tetapi belum ada hasilnya karena kalau kita ambil dari satu sisi dan salah satu penyebabnya belum bisa mewakili keseluruhan penyebab utamanya," kata Ashari, Senin (16/9).

Sementara itu, Humas Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ambon, Rory Dompeipen, menambahkan kematian ikan tersebut merupakan fenomena langka. Pasalnya, ribuan ikan tersebut ditemukan mati tak hanya di satu lokasi. Ikan juga ditemukan mati di sejumlah lokasi berbeda.

"Ini merupakan fenomena yang langka karena bukan satu lokasi tapi beberapa lokasi mengalami hal yang sama. (Dari LIPI) Sementara masih analisis terkait matinya ikan tersebut,”singkatnya. (Mona/AHS)

Artikel Asli