Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Miss B: (Part 78) Kenyataan Hidup

LINE TODAY Dipublikasikan 23.00, 15/10 • Fira Basuki
Ilustrasi by Rendy Basuki
Ilustrasi by Rendy Basuki

Akhirnya Mama mau menerima kenyataan hidup, tidak ada lagi Papa di dunia. Namun itu tidak mudah untuk Mama.

 "Tante, tumben gak mau nasi goreng saya? Gak enak atau bosen, to?" ujar Bunny melihat Mama hanya duduk di meja makan hanya memangku kepalanya dengan tangan.

 Mama menggeleng, tanpa jawaban. Bunny melirik ke arahku, aku mengangkat bahu. Mama tampak menatap lurus ke depan seakan tak berkedip, menuju arah tembok. Aku jadi deg-degan, was-was. Ini mengingatkanku akan saat-saat awal Papa meninggal dunia.

 TING TONG!

 "Tolong buka, Bun. Aku awasin Mama," ujarku.

 Bunny mengangguk. Ia mengintip dulu sebelum membuka pintu. Tampak masuk ke apartemen, Mbok Nah dan Mang Dudu. Mereka masing-masing membawa rantang tumpuk tiga.

 Mama menengok ke kanan ke arah mereka. "Ngapain kowe?" tanya Mama dengan nada datar.

 "Bu. Ini dibawain makanan, semua kesukaan ibu …," kata Mbok Nah takut-takut.

 "Kesukaanku itu kesukaan Bapak juga, to?" sahut Mama.

 Mbok Nah menengok ke arah Mang Dudu dan kemudian ke arahku.

 "Mereka kangan Mama tuh, Ma," kataku.

 Mama diam saja. Aku membereskan isi rantang. "Widihhhhhh, satu rantang isi gudeg lengkap, ada ayamnya, ada telurnya, krecek, tahu tempe bacem … hebat. Terus satu lagi isinya ada urap, ada empal, perkedel. Widihhhh … ini sih warteg jalan," pujiku.

 Mbok Nah tersipu.

 "Ma, udah yuk ngambeknya. Soalnya Beauty mau makan lagi. Udah kenyang sama nasi goreng Bunny sih, tapi ini terlalu sayang untuk tidak segera disantap," ujarku.

 Mama diam saja.

 "Bu, nganu … hm … Ibu mau diantar ke maaf, makam Bapak?" tanya Mang Dudu bingung mulai dari mana.

 "Lah, ngapain, wong Bapak masih di sini-sini aja. Di sana cuma ada gundukan tanah, gak ada Bapak," jawab Mama judes.

 "MA!" ujarku setengah teriak. Aku hampir tersedak. Aku buru-buru minum air putih. Sedih banget denger Mama ngomong gitu. Aku jadi hilang selera makan dan mau nangis.

 Aku lihat Mbok Nah dan Mang Dudu berjalan mundur. Lah, mereka masih berdiri saja?

 "Gak duduk? Sini duduk sama kita di meja makan. Makan sekalian."

 Mereka menggeleng. Mang Dudu tampak melihat ke arahku. Aku ngerti, pasti ada yang mau diomongin. Aku jalan ke arah Mang Dudu.

 "Mbak B, hari ini Bapak itu empat puluh hari. Tapi tenang, uang yang Mbak B kasih sudah diserahkan ke yatim piatu dan mereka mau pengajian kok, seperti biasa selama ini. Ini lho, ibu apa gak mau ke makam Bapak?"

 Aku menitikkan air mata. Kesedihan seperti ini terus menggerogoti hari-hariku, tak terasa kini sudah empat puluh hari.

 Aku mengangguk. "Terima kasih, Mang Dudu. Iya, aku sih mau ke makam Papa. Aku bujuk Mama, ya."

 Aku duduk di samping Mama. Mengambil tangan Mama dan menciumi tangan putih yang ada beberapa kerut itu. "Ma, hari ini empat puluh hari Papa. Beauty pengen ke makam Papa, Ma. Mama ikut, ya. Soalnya konon kalau sudah empat puluh hari Papa akan pamit ke tempat istirahatnya, gak di sekitaran sini. Ya, Ma? Kasian Papa …," kataku lembut.

 Mama menitikkan air mata, masih belum menatapku. Lama-lama jadi deras, dan kemudian Mama menengok ke arahku dan memelukku erat. Mama menangis dan semakin menangis hingga air matanya membasahi bajuku dan tembus ke bahuku.

 "B … B … Mama gak mau Papa jauh …," ujar Mama terisak-isak.

 "Iya Ma. Gak kok, Papa selalu ada di hati kita. Mama juga nanti akan ketemu Papa lagi di jannah-nya Allah. Kita semua akan kumpul lagi. Untuk sekarang ‘kan ada Beauty, Ma …"

 Mama mengangguk pelan.

 "Mama mau ganti baju? Kita berangkat yuk, diantar Mang Dudu," ujarku.

 Mama mengangguk. Aku mencium kening Mama dan menuntun Mama ke kamarku. Aku memberikan jempolku ke arah Mang Dudu tanda semua baik-baik saja.

 "Beauty, Mama abis dari makam boleh balik ke rumah?" tanya Mama.

 Aku memandang Mama tak percaya. "Yakin, Ma?"

 Mama mengangguk. "Iya, kasian Papa. Mama lari dari Papa dan rumah kita. Mama mau bersihin kamar dan barang-barang Papa …," kata Mama lirih.

 Aku mengangguk. "Nanti Beauty nginep dulu di rumah ya, Ma," kataku.

 Mama mengangguk. Ketika Mama masuk kamar mandi. Aku buru-buru mengambil bantal, lalu aku lalu membekap mulutku yang berteriak, "PAPAAAAAAAAAAA!"

*****

Nantikan kisah lanjutan Miss B hanya di LINE TODAY pada tanggal 23 Oktober 2021!

***

Tentang Penulis

Fira Basuki adalah penulis senior Indonesia yang produktif (34 buku). Kisah hidupnya yang ditulis di buku “Fira dan Hafez” (Grasindo, 2013) diangkat menjadi film “Cinta Selamanya” yang diproduksi Demi Istri Production dan Kaninga Pictures (2015), disutradarai Fajar Nugros dan dibintangi Atiqah Hasiholan sebagai Fira dan Rio Dewanto sebagai Hafez, almarhum suaminya.

Fira menghidupkan kembali fiksi seri Miss B, terbitan Grasindo yang sempat populer dan menjadi best sellers beberapa tahun silam. Miss B menceritakan kisah hidup dan keseruan cewek milenial bernama Beauty Ayu Pangestu yang akrab dipanggil Miss B. Ia tinggal di apartemen bersama Bunny dan Q serta Cantik, kucingnya.