Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Menjadi Kaya Malah Membuat Keluargaku Sengsara

kumparan Dipublikasikan 03.33, 11/10 • Cinta dan Rahasia
Dok. Pixabay.com

Disclaimer: Cerita ini hanyalah fiksi

Aku tidak pernah meminta dilahirkan di tengah keluarga yang sangat berantakan. Pertengkaran, perselingkuhan, ketidakjujuran, kekerasan. Kurasa semuanya ada di dalam hidup keluargaku. Aku terkadang merasa heran pada kedua kakakku yang justru terlihat sangat menikmati berdiri di tengah kehancuran, mungkin mereka sudah merasa sepertiku. Mungkin mereka hanya menutupi luka dengan berusaha menikmati sebuah petaka atau mungkin mereka memang tidak memiliki hati.

Jejeran rumah mewah di salah satu kawasan elite di Jakarta sering kali diasumsikan kehidupan mereka sangat menyenangkan dan bahagia. Bergelimang harta dan menduduki strata teratas memang terdengar sangat menggiurkan tapi tak ada satu pun yang tahu betapa merananya hidup seorang diri di dalam rumah megah nan mewah. Meski beragam fasilitas tersedia tapi tetap saja aku merasa sendirian, papa dan mama seolah memiliki kehidupan mereka masing-masing begitupun dengan kedua kakakku.

Aku yang senang diam di dalam rumah benar-benar merasa kesepian bahkan untuk memanggil teman pun aku malas. Beberapa kali aku mendengar papa memarahi kakak karena terus-menerus meminta uang, di dalam satu rumah yang sama kami memiliki dunia sendiri-sendiri. Kedua orang tuaku sudah lama menjadi anggota di sebuah partai hingga mereka menduduki sebuah jabatan tertentu. Sibuk? Sudah pasti, seakan kehidupannya hanyalah tentang partai dan politik.

“Kalian sudah besar, sudah seharusnya mengurus diri kalian masing-masing” ucap papa waktu pertama kali aku protes, saat itu kedua kakak hanya menaikkan kedua alis dan tersenyum “aku juga sudah pernah mencobanya” seolah tatapan mata mereka berbicara seperti itu. Aku tidak pernah lagi protes, pergi membawa diriku sendiri dan terkadang tenggelam dalam imajinasiku. Aku hobi sekali melukis, semua perasaan dan imajinasi hanya bisa kutuangkan ke atas kanvas putih mungkin jumlahnya sudah puluhan sekarang.

Hubunganku dengan kedua kakak masih cukup dekat, mereka memang memiliki kehidupannya, tapi mereka akan merangkulku jika aku datang pada mereka. Mungkin karena mereka adalah wanita dan masih memiliki rasa iba pada si laki-laki bungsu di rumah itu. Mungkin mereka kasihan padaku yang tak tahu arah ke mana harus melangkah. Mereka selalu mengajakku untuk pergi keluar, hang out bersama teman-teman atau pergi ke klub malam.

Mereka ingin aku bergaul. Mereka ingin aku memiliki teman atau mungkin kekasih yang selalu ada untukku. “Kamu harus punya sahabat atau mungkin yang lebih dari itu, harus ada seseorang yang bisa mendengarkan kamu setiap waktu, mengurus keperluan kamu, dan lain-lain” ucap Selena, si sulung. “Kenapa bukan Kakak aja yang melakukannya buatku?” Tanyaku, “aku tidak bisa, aku tidak sekuat itu” jawabnya. Tapi aku lebih memilih untuk menyendiri, bergelut dengan puluhan warna cat dan goresan-goresan abstrak di atas kanvas dibandingkan mengikuti saran kakakku. Pernah suatu kali kupingku mendengar pembicaraan papa dengan beberapa rekan di ruang kerjanya, mereka menyusun rencana dengan menumbalkan temannya yang bernama Mursidi.

Aku tidak tahu benar apa yang mereka bicarakan tetapi intinya jumlah keuntungan mereka sangat banyak. Waktu itu aku sama sekali tidak peduli, tahu apa aku soal politik? Hobiku hanya melukis di kamar dalam waktu berjam-jam. Tujuh belas tahun aku merasa kesepian dan sesekali aku mengendarai motor untuk mengecek situasi semua keluargaku di luar, mulai dari mama yang asyik dengan arisan brondong-nya sampai kedua kakakku yang sibuk minum-minum di sebuah klub malam.

Aku tahu banyak hal. Diam-diam aku mendengar semua pembicaraan saat mereka di rumah. Tak ada satu pun dari mereka yang menganggap kehadiranku, sekali dua mungkin hanya kakak-kakakku dan pembantu rumah tangga kami tapi orang tua? Tidak sama sekali. Hingga suatu malam tepatnya jam dua dini hari, rumahku didatangi oleh gerombolan orang berseragam lengkap dengan senjata tajam.

Mereka menerobos paksa dan membangunkan semua orang di rumah, menginterogasi papa-mama, kedua kakak, dan tentu saja aku. Namun aku dan kedua kakakku sangat beruntung, mereka melepaskan kami begitu saja lalu membawa papa-mama pergi entah ke mana. Dua hari kemudian semua berita di televisi dipenuhi oleh wajah kedua orang tua kami, mereka dianggap melakukan pelanggaran dengan melakukan korupsi, prostitusi, dan tentu saja kekerasan dalam rumah tangga.

Sebenarnya kekerasan dalam rumah tangga sudah diisukan jauh-jauh hari tapi aku tidak menyadari karena berusaha fokus pada diriku sendiri. Kami bertiga ketakutan di dalam rumah, takut dengan hujatan para warga dan tentu saja malu menemui semua teman-teman kami. Di hari yang sama saat berita itu tersebar, mama menghubungi kami “kemasi semua barang-barang dan pergilah ke rumah nenek untuk sementara, maafkan kami yang sudah mengecewakan kalian. Jaga diri baik-baik.”

Hanya sepatah kalimat itu yang mama sampaikan di sambungan telepon. Aku melihat kedua kakakku menangis tak karuan, ternyata apa yang kulihat selama ini hanyalah kehidupan di balik benteng besar mereka. Sebenarnya mereka tak jauh berbeda denganku, semua hanya pelarian. Mereka menangis. Hidup kami hancur begitu saja. Malamnya aku mengemasi semua baju dan mengepak semua hasil lukisanku. “Seandainya lukisan ini bisa kujual” ucapku dalam hati.

Semua kanvas yang sudah ternodai cat terkemas rapi di dalam sebuah boks besar. Pada malam terakhir aku tidur di kamarku, aku hanya bisa berharap kalau mama dan papa akan baik-baik saja di luar sana. Keesokan harinya satu mobil besar sudah terparkir rapi di depan rumah kami, satu per satu koper di masukkan ke dalamnya dan tak ada satu barang lain yang kami bawa selain barang-barang pribadi. Rumah itu resmi disita oleh negara.

Kami berjalan lengang ke luar rumah, isak tangis terdengar begitu kami harus berpisah dengan beberapa asisten rumah tangga yang sudah setia menemani puluhan tahun lamanya. “Kamu yang sabar yaa, baik-baik di rumah Nenek. Kalau ada apa-apa datang saja ke Jakarta, menginap di rumah Ibu” ucap Bu Asih, ia sudah ikut dengan mama sejak kelahiran kakak pertamaku. Tentu dia sangat tahu bagaimana perasaan kami, apa yang terjadi selama ini dan mungkin penyebab kehancuran keluarga aku.

Namun hari itu, kami hanya tenggelam dalam suasana hati masing-masing atau mungkin berpikir dari mana kami harus memulai hidup baru. Tapi yang jelas, aku akan meneruskan hobiku dalam melukis, mengasah dan mengasah terus kemampuanku agar suatu hari nanti semua lukisan itu tak hanya akan menghasilkan uang tapi juga nama yang besar buatku. Agar kelak skandal besar mama-papa akan tertutup dengan semua prestasi yang kucapai.

Artikel Asli